Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#25 Bernafas Lega


__ADS_3

Tiara melihat Alda dan Lia saling berbagi coklat di tangan mereka seperti anak kecil. Ia tidak menyangka hanya memberi coklat bisa membuat mereka sesenang dan sebahagia itu.


"Kalau kalian mau aku bisa beliin lagi coklatnya." Ujar Tiara.


Tiara bukan sedang menyombongkan diri karena memiliki banyak uang, Tiara mengatakannya karena ia ingin terus melihat ekspresi bahagia di wajah kedua sahabatnya itu.


Alda dan Lia saling menatap satu sama lain mendengar perkataan Tiara. Mereka mengerti Tiara bukan sedang menyombongkan diri tapi mereka tetap menolak niatnya.


"Enggak gak usah." Alda dan Lia menggelengkan kepala bersamaan.


Sesaat Tiara merasa sedikit sedih mendapat penolakan dari orang terdekatnya.


Lagi Alda dan Lia saling bertukar tatapan. Mereka yakin Tiara pasti telah salah paham dengan penolakan mereka.


"Tiara kita berdua gak bermaksud kok menolak niat baik kamu. Masalahnya kan kamu udah kasih semua coklat kamu buat aku sama Lia jadi sekarang coba lihat ini." Alda menunjukan banyak sekali coklat di tangannya pada Tiara.


"Setelah di bagi aja aku masih punya banyak coklat ditangan dan gak mungkin kan aku bisa makan semuanya. Nanti aku diabetes gimana?" Lanjut Alda.


"Bener kata Alda. Malah aku rencananya buat dijual lagi. Kan lumayan bisa nambah uang saku hehe." Mendengar niat Lia sebenarnya, Tiara dan Alda tertawa lebar.


----


"Eh itu bukannya Tiara ya, jeniusnya Boulevar." Tanya seseorang pada teman di sampingnya.


"Iya itu Tiara si pemecah rekor diatas rekor."

__ADS_1


"Kok dia duduk bareng sama Cassan ya?"


Malam hari di kantin Tiara, Lia dan Alda sedang asik menikmati makan malam mereka. Namun kali ini ada yang berbeda dengan makan malam sebelumya.


Jika sebelumnya hanya mereka bertiga, kali ini Cassan ikut bergabung di meja yang sama dengan mereka. Tidak ada yang menyangka mereka akan berakhir di satu meja entah itu Lia, Alda maupun Tiara sendiri.


Beberapa jam sebelumnya setelah sekembalinya ketiga sahabat itu dari sekolah mereka mendapati pintu kamar mereka telah terbuka.


Lia dan alda mengira ada pencuri yang telah masuk ke dalam kamar bernomor 111 tersebut. Mereka hendak melapor kepada penjaga asrama namun dengan cepat dihentikan oleh Tiara.


Tiara berpikir berbeda dari keduanya. Jika benar ada pencuri yang masuk ke dalam kamar tidak mungkin ia membiarkan pintu terbuka lebar tanpa menutupnya.


"Tiara kenapa kamu berhentiin kami buat lapor ke penjaga asrama?" Tanya Alda yang mendapat anggukan persetujuan dari Lia.


"Lagian kita masih belum tau apa pintunya kebuka karena pencuri atau bukan. Mungkin aja kan sebelum berangkat tadi salah satu dari kita lupa mengunci pintu." Lanjut Tiara.


Lia dan Alda terdiam memikirkan perkataan Tiara. Memang benar apa yang di katakan Tiara tetapi mereka juga mengingat dengan benar sebelum berangkat ke sekolah mereka sudah memastikan pintunya terkunci.


"Tapi sebelum berangkat tadi aku udah pastiin pintunya terkunci." Imbuh Alda.


"Sama aku juga." Sambung Lia.


Mendengar sahabatnya mengatakan itu Tiara kembali berpikir. Sebelum berangkat tadi ia sendiri juga sudah memastikan pintu terkunci dengan baik lalu kenapa pintu sekarang terbuka.


"Ya udah gimana kalau sekarang kita masuk dulu aja ke dalam dan periksa semua barang-barang kita, kalau emang ada yang hilang tinggal kita lapor ke penjaga asrama."

__ADS_1


Lia dan Alda menyetujui pendapat Tiara. Akan lebih baik jika mereka memastikan barang-barang mereka terlebih dahulu. Jika seandainya mereka sudah melapor dan ternyata tidak ada barang yang dicuri mereka bisa dimarahi.


Ketiga sahabat itu akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar setelah bergelut beberapa lama di depan pintu


Diawal tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Mereka lalu membuka lemari pakaian dan sama tidak ada yang mencurigakan juga. Baju masih tersusun rapi disana dan tidak ada barang yang berpindah tempat.


Alda dan Lia sudah tersenyum lega mendapati tidak ada barang mereka yang hilang.


Tiara membuka kotak perhiasan yang di berikan oleh Key padanya ternyata gelang pemberian itu masih ada. Tiara akhirnya bernapas lega.


Tiara terkesan tidak begitu peduli jika barangnya yang lain hilang asalkan bukan gelang pemberian kakaknya, Key, karena itu adalah hadiah pertama dari Key untuknya yang dihasilkan dari jerih payah Key sendiri.


"Tiara gimana ada yang hilang gak?" Tanya Lia.


"Gak ada." Jawab Tiara.


"Syukurlah gak ada. Barang aku juga gak ada yang hilang. Dompet, atm semuanya masih ada." Ujar Alda.


"Aku juga gak ada yang hilang." Sambung Lia.


"Syukur juga kita gak lapor ke penjaga asrama tadi."


"Iya ini semua karena usul dari Tiara."


Lia dan Alda memandang Tiara dengan senyum. Seandainya tidak ada Tiara mereka mungkin sudah salah mengambil langkah.

__ADS_1


__ADS_2