Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#108 Pesta Ulang Tahun 3


__ADS_3

Satu jam telah berlalu namun Tiara pergi tak kunjung kembali juga. Lia, Alda dan Abie terlihat bingung memikirkan kemana lagi mereka harus mencari Tiara mengingat seisi aula sudah di telusuri.


"Gimana sudah ketemu belum?" Tanya Reno dengan wajah panik pada ketiga sahabat Tiara yang sudah kembali berkumpul dari pencarian mereka.


"Belum." Jawab Alda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terus bagaimana dengan kalian?" Tanya Lia pada ketiga cowok di hadapan mereka itu.


Tanpa menjawab, Reno hanya menggeleng-gelengkan kepala menandakan bahwa mereka pun belum menemukan Tiara setelah menyusuri setiap koridor hotel dan toilet yang ada.


"Sial. Pergi kemana sih dia?" Gumam Luka, khawatir dan panik secara bersamaan membuatnya terlihat seperti orang yang sudah kehilangan arah.


"Hpnya juga belum bisa di hubungi?" Tanya Abie.


"Belum." Jawab Reno.


"Kita tidak bisa hanya mencari seperti ini sementara calon kakak ipar saja perginya sama tuh cewek. Yang harus kita cariin itu dia dan tanya dimana calon kakak ipar?" Tutur Saka di tengah kepanikan semua orang.


"Iya benar, Tiara kan pergi sama Ria. Tapi,.." Ucapan Alda terhenti seiring matanya fokus mencari keberadaan Ria ditengah para tamu undangan.


"Kayanya Ria juga belum kembali deh." Lanjut Alda lagi setelah memastikan matanya tidak melihat gaun merah benderang yang dikenakan Ria.


"Perasaan aku kok tidak enak ya.." Kata Lia.


"Jangan sampai Ria berniat buruk lagi sama Tiara." Celetuk Abie.


"Sial." Luka tidak habis pikir jika Tiara terlebih dahulu masuk ke dalam jebakan mereka. Apa bila itu yang terjadi maka ia tidak akan melepaskan mereka begitu saja.


Disaat keenam orang tersebut sedang panik dan khawatir memikirkan keberadaan Tiara yang menghilang, Ria, Erni dan juga Gerald muncul dari pintu masuk aula dengan wajah sumringah.


Dengan cepat Alda menghampiri mereka dan langsung mencerca Ria dengan pertanyaan.


"Heh Ria, katakan dimana Tiara?" Tanya Alda dengan tatapan penuh kebencian.


"Iya. Katakan dimana kamu menyembunyikan Tiara?" Sambung Lia dengan suara tinggi sehingga menarik perhatian para tamu undangan.


"Kamu sembunyikan Tiara untuk balas dendam kan karena kamu sudah dipermalukan oleh Tiara di depan semua orang? Cepat jawab!" Seru Abie.


Mendengar bagaimana Lia, Alda dan Abie mencerca Ria dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan, Gerald akhirnya angkat bicara.


"Kalian pikir kalian itu siapa, berani sekali membuat keributan di acara saya dan menuduh pacar saya seenaknya tanpa bukti." Hardik Gerald pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Padahal setelah berhasil membuat Tiara pingsan dan mengamankannya di sebuah kamar, Ria menghampiri dirinya dan Erni di kamar lalu menceritakan semua kejadiannya.


"Kami tidak mungkin menuduh dia kalau bukan karena dia yang mengajak pergi Tiara sebelum Tiara menghilang." Tutur Alda dengan jelas membuat para tamu undangan mulai berbisik satu sama lain.


"Sampai sekarang Tiara belum kembali juga. Kalau bukan dia ya siapa lagi yang harus dipertanyakan?" Sambung Lia sambil menunjuk wajah Ria.


Tidak ingin dibicarakan oleh para tamu undangan, Ria pun mulai membela dirinya sendiri.


"Memang benar Tiara pergi bersama denganku tapi karena dia tidak bisa membuktikan pacarku sedang berselingkuh, dia langsung pergi begitu saja kok. Mana aku tahu kalau dia belum kembali juga sampai sekarang." Jawab Ria dengan santai.


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ria, baik Gerald maupun Erni sama-sama melotot terkejut. Mereka tidak menyangka jika Tiara mengetahui hubungan mereka apalagi membawa Ria untuk mendatangi kamar dimana mereka berada. Tetapi mereka berlega hati berkat kebodohan Ria, ia sendiri yang menghentikan Tiara untuk mengungkapkan kebenaran.


"Nah, dengar kan sekarang? Pacar aku tidak ada hubungannya dengan Tiara, memang dasarnya dia sendiri yang menghilang entah kemana." Gerald bersuara untuk membela Ria karena sedang dalam suasana hati yang baik.


Ditengah-tengah suara meninggi yang lain, tiba-tiba sebuah suara lembut menyapa telinga semua orang yang berada disana.


"Mm, se sebenarnya... Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau belum lama ini aku melihat Tiara." Ucap Erni mengalihkan pandangan mereka untuk menatap padanya. Tak terkecuali Ria dan Gerald yang bingung dengan perkataan Erni tersebut.


'Sial. Si Erni mau bongkar ke semua orang kalau aku yang menyembunyikan Tiara?' Batin Ria bertanya.


'Ya ampun Erni, apa yang sedang kamu lakukan?' Gerald membatin tidak percaya.


"Apa? Kamu lihat Tiara belum lama ini? Dimana? Cepat katakan, dimana kamu melihat Tiara?" Cerocos Alda penasaran sambil menggoyang-goyangkan badan Erni.


"Mm aku,.. aku melihatnya di koridor luar dengan seorang laki-laki. Mereka,.."


Sesaat Ria dan Gerald bernafas lega. Mereka mengira Erni akan membongkar rencana mereka di depan semua orang ternyata tidak.


"Di koridor dengan seorang laki-laki? Maksud kamu?" Alda bertanya kembali ingin mendapat jawaban dari rasa penasarannya.


"Mereka sedang berciuman dan pergi ke sebuah kamar hotel." Ucap Erni sambil menundukkan kepala untuk menyempurnakan akting keluguannya.


BANGGG


Seisi ruangan menjadi hening mendengar perkataan Erni. Karena fitnahan tersebut, para tamu undangan mulai berbisik satu sama lain membicarakan keburukan Tiara. Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mempercayai setiap perkataan yang diucapkan oleh Erni sebab mereka tahu bagaimana kepribadiannya.


Disatu sisi Ria dan Gerald tertawa puas dalam hati mereka kala Erni mencoba menjatuhkan martabat Tiara di depan semua orang. Sementara Lia, Alda dan Abie masih belum bisa memproses dengan baik perkataan Erni.


"HAHAHAHA.." Tawa Luka menggelar di seluruh ruangan membuat semua orang menutup mulut mereka dan hanya menatap padanya seorang.


Luka seorang laki-laki dingin, datar dan memiliki ketampanan bak dewa Hermes itu akhirnya tertawa lebar untuk pertama kalinya di hadapan semua orang.

__ADS_1


"Luar biasa. Alasan yang sungguh luar biasa." Luka bertepuk tangan memberi apresiasi pada Erni karena telah berkata bohong.


Sejenak Erni mengepalkan tangannya merasa Luka mengetahui kebohongan yang sudah diucapkan olehnya itu.


"Siapa nama kamu?" Tanya Luka sambil berjalan menuju tempat Erni berada.


Melihat Luka menghampirinya, Erni bergerak mundur dengan langkah kecil dari tempat ia berdiri.


"Saya tanya siapa nama kamu!? Kamu dengar tidak, hah!?" Luka menghardik Erni dengan tatapan kosong. Suara kerasnya mengagetkan Erni dan telinga orang-orang yang mendengarnya.


"Luka, sudah cukup!" Hardik Gerald kala melihat Erni bergemetar ketakutan.


"Cukup?" Luka mengalihkan pandangannya pada Gerald.


"HAHAHA.." Tawa Luka kembali menggelegar dalam satu ruangan dan dalam sekejap mata saja, tangannya sudah menarik kerah jas hitam yang di kenakan Gerald.


Semua orang terkejut melihat aksi tak kasat mata Luka tersebut. Termasuk kedua penjaga pintu yang kemudian berlari kearah mereka untuk menolong Gerald. Namun sebelum tangan mereka menyentuh Luka, Reno dan Saka berlari dari tempat mereka dan menahan keduanya.


"Kalian pikir tangan kalian pantas untuk menyentuh dia?" Saka berkata dingin sambil mencekik leher salah satu penjaga yang ada ditangannya.


Abie bergeming setelah melihat apa yang dilakukan Saka dan Reno pada penjaga pintu. Ia mengenal baik ketiga laki-laki yang sejak kecil sudah tumbuh bersama dengan dunia bela diri mereka, membuatnya tidak terkejut lagi atas apa yang terjadi saat ini.


"Ahhh.. lepaskan!!!" Jerit mereka kesakitan.


"Diam, jika tidak ingin leher kalian patah!" Seru Reno.


"Dengar aku baik-baik." Luka berkata dengan suara pelan sambil melirik pada Ria dan juga Erni, "jika sesuatu terjadi pada Tiara, kalian bertiga akan mati ditangan aku."


Setelah memberi peringatan tersebut, Luka melepaskan tangannya dari kerah jas Gerald dan menyeringai kecil pada mereka.


"Dan kau perempuan jala*g," Luka menatap dingin pada Erni. "Jangan pernah menyamakan Tiara dengan dirimu karena harga dirimu saja tidak akan pernah sepantaran dengan satu ujung kuku miliknya." Lanjut Luka, menatap jijik wajah Erni.


Sebelum Luka pergi dari hadapan ketiga orang itu, ponselnya bergetar menampilkan sebuah notifikasi email diatas layar. Sesaat ia terkejut melihat nama Tiara tertera disana. Tanpa berpikir panjang lagi, Luka langsung membuka email tersebut dan mendapati pesan yang tidak terduga.


"Jika kamu mendapat email ini artinya aku sedang dalam masalah. Tapi jangan khawatir dan percaya saja padaku, aku bisa mengatasinya sendiri. Tolong jaga Lia, Alda dan Abie dari mereka untukku. Tiara."


Sekujur tubuh Luka terasa lemas seketika. Ada rasa lega dalam dirinya setelah membaca email tersebut namun ia pun tidak bisa berbohong jikalau kekhawatiran masih saja menggerogoti hati dan pikirannya.


Sebelum kepergian mereka ke hotel, Tiara sempat memisahkan diri dari ketiga orang sahabatnya karena ia fokus mengirim email terjadwal untuk Luka. Tiara hanya ber-antisipasi jika saja ia terlibat dalam masalah dan tidak bisa menggunakan ponselnya untuk menghubungi Luka.


"Ga, lo kenapa?" Tanya Reno penasaran melihat perubahan ekspresi wajah Luka setelah menerima pesan.


"Enggak, gue mau ke toilet. Titip mereka bertiga." Ucapnya lalu pergi dari sana.


Setelah kepergian Luka dari ruangan, semua orang kembali bubar dan menikmati acara yang sempat terhenti. Akan tetapi Abie yang masih belum merasa puas sebelum menemukan Tiara itu pun menghampiri Ria, Erni dan juga Gerald.


"Sudah satu jam berlalu tapi Tiara belum kembali." Abie berkata pada mereka. "Kalian lihat sendiri kan seberapa gilanya Luka karena Tiara menghilang?" Tanyanya.


"Dengarkan aku baik-baik, jika sesuatu terjadi pada Tiara, kalian pikir masih bisa hidup senang seperti sekarang? Jangan berharap! Kalau Luka bertindak, kalian dan semua keluarga kalian akan mendapat penderitaan yang jauh melebihi apa yang sudah kalian lakukan pada Tiara." Lanjut Abie.


"Dan kalian juga tidak tahu kan latar belakang Tiara yang sebenarnya? Jika keluarganya sampai mendengar semua ini, kalian berserta semua keluarga kalian menghilang dari muka bumi tanpa meninggalkan jejak." Ujar Abie dengan dingin membuat otak Ria menjalar kemana-mana memikirkan asal-usul Tiara.


Ria dan Erni mungkin saja tidak mengetahui tentang Luka dan keluarganya tapi Gerald sangat tahu persis tentang keluarga Wangsa dan bagaimana posisi Luka dalam keluarga itu karena mereka berasal dari kota yang sama.


Meski Luka adalah putra kedua hasil dari perselingkuhan ayahnya tapi dia sangat di dewa kan melebihi putra pertama dari istri sah bahkan digadang-gadang sebagai penerus dari keluarga.


'Jika Luka bertindak maka aku dan keluargaku bisa dalam masalah besar.' Batin Gerald ketakutan. Namun setelahnya ia sadar jika tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia terlibat di dalam rencana mereka tersebut karena yang di ketahui oleh Luka adalah Tiara menghilang setelah pergi bersama Ria.


Tidak jauh berbeda dari Gerald, Erni juga berpikir hal yang sama bahwa ia tidak terlibat dalam menghilangnya Tiara karena sejak tadi ia tidak berkomunikasi secara langsung dengan Tiara dan juga semua eksekusi terhadap Tiara dilakukan oleh Ria sendiri.


Meskipun perkataannya tadi adalah kebohongannya semata tapi orang-orang percaya padanya dan tidak mungkin menuduhnya.


-----


Dilain tempat tepatnya di salah satu kamar di hotel A, Seorang gadis cantik mengenakan gaun panjang berwarna hitam, tengah terbaring tidak sadarkan diri diatas tempat tidur besar dan ditemani beberapa pria yang tak lain adalah para preman yang dimaksud oleh Ria.


"Hei bro, kenapa tidak kita tiduri saja dia sekarang," Ucap seorang pria yang duduk di tepian tempat tidur sambil menatap Tiara dengan penuh napsu.


"Udah gila ya lo? Bos bilang tunggu sampai dia sadar dulu." Jawab seorang pria yang telah diberikan kepercayaan.


"Cih, lama banget. Sudah satu jam lebih dia tidak bangun-bangun mau tahan sampai kapan?" Sambung yang lain.


"Lagian sudah ada perempuan cantik di depan mata kita, masa iya dianggurin saja. Mubasir bro." Tambah pria yang duduk di dekat jendela.


Ditengah-tengah percakapan para preman tersebut, Tiara kemudian tersadar dari pingsannya. Namun dengan mata yang masih tertutup rapat, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Selain tubuhnya terlentang diatas tempat tidur, mulutnya ditutup lakban begitu juga dengan kedua tangannya yang diikat ke depan. Bersyukur Tiara merasakan kakinya sama sekali tidak diikatkan apapun.


"Tetap saja tidak bisa. Bos bilang kita harus menunggunya sampai sadar dengan begitu,..."


"Dengan begitu apa?" Tiara menyanggah ucapan pria tersebut setelah ia melepas tempelan lakban dari mulutnya dengan tangan yang masih terikat.

__ADS_1


Melihat Tiara sudah bangun dari tempat tidurnya, wajah para pria di dalam kamar itu menjadi sumringah.


"Mm, jadi kamu sudah bangun gadis cantik?" Ucap pria itu dengan senyum lebar.


"Wow wow.. akhirnya kamu sadar juga ya dari pingsan yang sangat lama." Timpal pria yang duduk di tepian tempat tidur.


"Kalau sudah sadar begini, kita bisa melakukan aksi kita sekarang. Hehe.." Pria didekat jendela bersuara.


Mengabaikan apa yang dikatakan para pria itu padanya, Tiara bangkit berdiri dari tempat tidur lalu mengambil sedikit kuda-kuda, merentang tangannya kedepan, mengepal dan menabrakkannya ke dadanya yang membusung. Alhasil dalam sekejap ikatan lakban berwarna hitam itu terlepas dengan mudahnya dari kedua tangan Tiara.


"Ah sialan. Kalian melukai tanganku." Ucap Tiara dengan santai di tengah keterkejutan para pria itu pada aksinya.


"Ba bagaimana bisa kamu melepaskannya dengan mudah?" Tanya pria itu terbata-bata.


"Katakan, apa yang Ria perintahkan pada kalian?" Tiara bertanya datar pada mereka.


"Haha jadi gadis kecil ini tidak takut pada kita? Lihat bagaimana cara dia bertanya!" Seru salah satu dari mereka.


"Hei gadis kecil, kamu tidak tahu siapa kami?" Tanya seseorang.


"Aku tidak peduli siapa kalian. Cepat katakan apa yang diperintahkan Ria pada kalian?" Tanya Tiara lagi sambil duduk memangku kaki kanannya dengan elegan.


"Haha, seorang gadis kecil berani sekali memerintah kami."


Tiara menautkan kedua alisnya, "lalu siapa yang memberi kalian perintah?" Tanyanya penasaran mengingat Ria seumuran dengannya.


"Tentu saja bos Gerald, yang memiliki banyak uang untuk membayar kami."


"Jadi kalian menginginkan uang? Berapa yang kalian dapat dari dia, aku akan membayar dua kali lipat dari itu asalkan kalian semua keluar dari sini." Ujar Tiara.


"Haha memangnya kamu bisa bayar kami 200 juta? Karena bos Gerald membayar kami 100 juta."


"Segitu saja?" Celetuk Tiara membuat mereka terkejut.


"Aku akan mengirim kalian 200 juta sekarang ini juga. Dimana hp aku?"


"Ah ini ini, silahkan ini tas kamu dan hp kamu ada di dalamnya." Pria disamping tempat tidur mengeluarkan tas Tiara dari laci meja dan memberikan padanya.


"Tunggu, kamu serius mau membayar kami 2 kali lipat?" Seseorang menghentikan Tiara.


"Kenapa tidak? Katakan berapa nomor rekening kalian?"


Salah satu dari mereka kemudian melafalkan nomor rekening pada Tiara. Setelah Tiara mengirimkan uangnya tidak lama kemudian salah satu ponsel mereka berdering.


"2.. 200 juta?" Pekik orang itu dengan ekspresi wajah tidak percaya.


"Haha ini semua benarran uang?" Sambung yang lain.


Pria yang diberikan kepercayaan oleh Gerald itu langsung menyeringai kala mendengar uang sebesar 200 juta sudah masuk ke dalam rekening mereka.


"Hei gadis cantik, terima kasih untuk uangmu tapi kami tetap akan meniduri kamu sesuai perintah mereka bertiga." Ucapnya.


"Iya itu benar. Kami tidak sebodoh itu meninggalkan perempuan cantik begitu saja di kamar hotel tanpa melakukan apapun." Sambung yang lain.


"Kami akan meniduri kamu secara bergantian sambil melakukan siaran langsung dan orang-orang akan menonton pertunjukan luar biasa ini."


Mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka, aura gelap dan menakutkan Tiara langsung muncul seketika. Ia melepas bagian bawah gaun yang merupakan setelan terpisah dari atasannya dan meninggalkan sebuah celana panjang hitam yang melekat pas di kakinya lalu menguraikan rambut coklat panjangnya dari cepolan.


Tanpa memberi aba-aba, Tiara menarik tangan seorang pria yang berdiri di dekatnya itu dan membantingnya ke lantai dengan keras.


"Ahhh sakit." Jeritnya tidak berdaya.


Disaat para pria yang lain masih syok dengan apa yang mereka lihat, Tiara membabi buta langsung memukul, menendang, meninju dan melumpuhkan mereka dalam waktu singkat saja.


"Kalian pikir aku bodoh mengirim kalian uang sebanyak itu. Itu hanyalah sebuah pesan palsu." Ucap Tiara ditengah perkelahiannya.


Terakhir ia menginjak leher pria yang sudah diberikan kepercayaan oleh Gerald itu setelah melumpuhkan kaki dan tangannya. Dengan raut wajah dingin dan datar, Tiara menatap tajam pada pria yang terlentang dibawah kaki jenjangnya itu.


"Katakan! Siapa yang memberi kalian ide untuk melakukan hal itu padaku?" Tanya Tiara.


Pria dibawah kaki Tiara itu bergemetar ketakutan antara menahan rasa sakit dari pukulan Tiara dan atau melihat aksi membabi buta Tiara saat berkelahi.


"Cepat jawab!" Hardik Tiara.


"Ohok ohok ohok.." Pria itu membatuk kala Tiara menginjak lebih keras lagi batang lehernya.


"Er Erni. Ohok ohok,.. Dia.. dia yang memberi ide itu pada Gerald dan Ria di depan kami. Aku berani bersumpah." Ucapnya dengan nafas tersengal.


Tiara melepaskan kakinya dari leher pria itu dan tidak lama kemudian suara ponsel diatas meja samping tempat tidur berbunyi. Ponsel itu adalah milik dari salah satu pria yang kini tergeletak tak berdaya di lantai.


Tiara menerima panggilannya dan suara Ria langsung terdengar di kupingnya.

__ADS_1


"Hallo, Bagaimana? Dia sudah sadar atau belum? Kalau sudah cepat perkosa dia karena aku sudah mengurus semuanya di aula, tinggal mainkan saja dan videonya langsung di tonton.


__ADS_2