Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#74 Menampar Cassan


__ADS_3

Setelah mencari kesana dan kemari, ketika waktu sedikit lagi menunjukan pukul 6 pagi, Luka, Cassan dan Rio kembali ke titik dimana sudah di sepakati sebelumnya bersama anggota yang lain.


Lia tidak terlihat bersama pasangan siapapun itu artinya mereka sama sekali tidak menemukan keberadaannya.


Wajah Luka sedikit menunjukan kekecewaannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa jika berita ini terdengar sampai ke telinga Tiara. Tiara pasti merasa sangat sedih tentunya dan Luka tidak ingin hal itu terjadi.


Luka hanya menginginkan kebahagiaan selalu ada bersama Tiara dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan kebahagiaan itu pada Tiara sampai tua nanti.


Luka telah membuat keputusan untuk hidup selamanya bersama Tiara. Ia tidak menginginkan orang lain lagi berada disisinya karena Tiara adalah satu-satunya orang tersebut.


"Sepertinya kita semua tidak menemukan Lia." Ucap Luka dengan nada kecewa pada anggotanya.


Cassan terkejut melihat Luka kecewa hanya karena Lia menghilang. 'Apa karena Lia adalah anggota kelompoknya jadi Luka merasa bertanggung jawab? Atau Luka kecewa untuk Tiara?' Cassan bertanya dalam hatinya.


"Kami sudah mencari sebisa kami tapi sama sekali tidak menemukan jejak Lia." Jawab seorang siswi.


"Kami juga." Sambung pasangan yang lain.


"Iya iya. Saya berterima kasih sekali karena kalian semua sudah mau membantu mencari Lia." Luka mengatakannya dengan tulus.


"Bagaimanapun sekarang sudah jam 6 pagi. Matahari juga sudah naik. Sebaiknya kita kembali dulu ke tenda sesuai perintah. Mengenai menghilangnya Lia, saya yang akan melaporkannya kepada ketua OSIS." Ucap Luka.


"Kita bersembilan tidak mungkin mencari Lia sendirian. Jadi jika ketua OSIS meminta bantuan dari pekerja kebun kopi atau orang yang berkepentingan disini dan tahu sekali mengenai seluk-beluk perkebunan ini, Lia pasti bisa di temukan kembali." Lanjut Luka mengatakan solusi berikutnya untuk mencari keberadaan Lia.


Para anggota kelompok menyetujui dengan cepat usulan dari Luka lalu mereka kembali ke tenda dengan anggota yang tidak lengkap dan tidak menyelesaikan misi mencari harta karun mereka.


Sesampainya mereka disana, semua kelompok terlihat sudah berkumpul kembali di tempat semula. Mengingat mereka sudah di tegaskan untuk kembali lagi ke tenda sebelum pukul 6. Entah itu mereka menyelesaikan misi mereka atau tidak.


Kelompok Luka adalah kelompok terakhir yang datang ke tenda untuk melapor. "Kalian semua tunggu disini, biar saya yang melapor pada ketua OSIS." Luka menghentikan mereka.


"Tidak!" Seru Rio berjalan menghampiri Luka. "Kami juga ikut. Kehilangan Lia bukan tanggung jawab lo sendiri. Ini semua tanggung jawab kita sebagai satu tim." Lanjutnya.


"Iya benar. Kami semua ikut. Ini tanggung jawab kami juga." Sambung yang lain setuju dengan pendapat Rio.


"...." Cassan.

__ADS_1


Luka terkejut melihat bagaimana anggota kelompoknya memiliki tenggang rasa yang begitu kuat. Dan dengan rasa tak berdayanya, Luka pun akhirnya mengiyakan keinginan mereka.


Dari kejauhan Tiara memperhatikan Luka berserta kelompoknya berjalan menghampiri Stacy yang tengah sibuk berbicara dengan anggota OSIS lainnya.


Tiara tahu bahwa mereka akan memberikan laporannya namun melihat ekspresi wajah Luka, Tiara merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Tiara tidak menyadari jika kelompok Luka kekurangan satu anggota yaitu Lia, sahabatnya sendiri.


"Lapor! Kak, kami gagal mendapatkan harta karunnya dan kehilangan salah satu anggota kami selama perburuan berlangsung." Luka mengatakannya dengan tegas.


Sebelumnya Stacy menangkap sosok Luka berjalan menghampiri dirinya dan membuatnya tersenyum sangat senang. Namun setelah mendengar laporan Luka, Stacy terkejut bagai di sambar petir di pagi hari.


"Apa maksudnya kehilangan salah satu anggota?" Tanya Varno dengan nada sedikit berteriak mewakili Stacy yang sedang syok dan tak bisa berkata-kata.


Bagaimana tidak, Stacy memiliki tanggung jawab penuh atas semua keselamatan para murid disana karena statusnya sebagai seorang ketua OSIS. Jika sesuatu terjadi pada anggota yang menghilang tersebut, apa yang akan terjadi dirinya?


"Cepat jelaskan." Lanjut Varno marah besar.


Dikarenakan suara Varno terdengar sangat keras, para wali kelas berlari menghampiri mereka dan juga murid-murid yang beristirahat di sekitaran mendengarnya dengan jelas. Tak terkecuali Tiara, Alda, Reno dan Saka.


"Jadi gini kak, Cassan meminta anggota yang hilang itu untuk menemaninya membuang air kecil. Ketika Cassan kembali, dia sudah menghilang." Jelas Rio.


Mendengar namanya disebut ekspresi wajah Cassan langsung memucat. Kaki bahkan tangannya mulai lemas dan mengeluarkan keringat dingin yang tak biasanya.


Semua anggota dengan serempak mengalihkan padangan mereka pada Cassan yang tertunduk takut dan mulai mengeluarkan air mata buayanya.


"Aku kak." Cassan menangis kencang untuk menarik perhatian semua orang agar merasa iba padanya.


"Terus anggota yang hilang bernama siapa?" Tanya Varno mengabaikan histeris Cassan. Ia tahu Cassan hanya berpura-pura saja.


"Lia." Sebut anggota kelompok dengan kompak.


PAAKKKK


Suara telapak tangan Tiara melayang tepat di pipi Cassan. Semua orang terkejut dan melotot tidak percaya sampai-sampai mulut mereka ikut terbuka lebar namun mereka masih tidak menyadarinya.


Tidak ada yang menyangka sosok seperti Tiara bisa menampar Cassan sekencang itu. Semua orang tahu bahwa Lia adalah sahabat Tiara jadi mereka tidak berpikir lagi alasan kenapa Tiara melakukan itu pada Cassan.

__ADS_1


Disisi lain Luka pun ikut terkejut dengan perubahan Tiara. Ekspresi wajah Tiara saat ini belum pernah ia lihat sebelumnya sekalipun keluarga Tiara tidak pernah melihat Tiara semarah dan seemosional itu.


Luka langsung teringat akan perkataan Tiara saat di dalam bus. Tiara sempat mengatakan bahwa dirinya bukan lagi menjadi cewek jahat melainkan ratunya cewek jahat jika seseorang berniat buruk pada orang yang penting untuknya.


'Apa ini maksud dari perkataanya?' Luka membatin dalam diam.


Tiara mengabaikan semua tatapan mata yang tertuju padanya. Entah itu para wali kelas, anggota OSIS dan Luka sekalipun. Tiara terlihat tidak mempedulikan mereka karena amarahnya selama ini sudah tak bisa tertahan lagi.


Cassan sama sekali tidak membela dirinya di hadapan Tiara dan semua orang yang sedang melihat kejadian itu karena ia harus tetap menjaga aktingnya agar semakin mendapat banyak iba dari orang-orang.


'Hehe tampar aku lagi Tiara. Bila perlu sampai pipiku membengkak. Dengan begitu semua orang akan merasa kasihan padaku dan percaya bahwa aku tidak bersalah atas kehilangan Lia. Dan kamu, kamu akan aku tuntut secara hukum dengan begitu pihak sekolah akan mengeluarkanmu dari sekolah dan Luka akan menjadi milikku seutuhnya.' Cassan memprofokasi Tiara dalam batinnya.


"Katakan dimana kamu meninggalkan Lia sendirian?" Tiara bertanya pada Cassan yang masih berderai air mata sambil menarik kerah jaketnya.


Sesaat Cassan melotot kaget begitu juga semua orang yang berada disana.


'Bagaimana Tiara tahu ia sengaja meninggalkan Lia?' Cassan bertanya dalam hatinya.


Karena pertanyaan Tiara diatas, orang-orang mulai berasumsi kalau Cassan sengaja meninggalkan Lia sendirian di hutan kopi. Mereka berbisik satu sama lain membicarakan nama Cassan dan menatap tajam padanya seolah-olah semua rencana busuknya sudah di ketahui.


"Huh tidak. Aku tidak meninggalkan Lia sendirian." Jawab Cassan dengan miris. Ia kemudian melap air mata yang membasahi pipinya dengan kedua tangannya.


"Kalau kamu tidak meninggalkannya sendirian lalu bagaimana Lia bisa menghilang?" Tanya Tiara lagi semakin merasa kesal.


Pertanyaan Tiara cukup membuat para murid dan wali kelas merasa masuk akal begitu juga dengan semua anggota OSIS. Menurut mereka Lia tidak mungkin menghilang jika Cassan tidak meninggalkannya sendirian saja.


"Aku hanya memintanya menungguku membuang air kecil." Jawab Cassan lagi.


"Itu artinya kamu yang berjalan menjauh dari Lia." Sambung Alda yang berdiri di samping Tiara dengan ekspresi yang sama.


"I iya. Tapi jarak diantara kami hanya dua sampai tiga meter saja."


"Kalau kayak gitu lo masih bisa lihat dong Lia pergi kemana sebelum dia menghilang." Saka berkomentar.


"Sudah cukup. Semuanya tidak akan pernah selesai jika kalian terus berdiri seperti ini. Tolong lakukan sesuatu sebelum saya menelfon kepala sekolah." Ucap wali kelas Lia. Ia juga merasa bertanggung jawab karena Lia adalah muridnya. Jika sesuatu terjadi pada Lia, bagaimana dia akan berurusan dengan orang tua murid.

__ADS_1


Mendengar nama kepala sekolah, Stacy langsung tersadar dari syoknya. "Bu tolong jangan dulu memberitahu kepala sekolah. Keselamatan para murid disini merupakan tanggung jawab saya juga. Jadi saya akan mencari cara agar Lia segera di temukan." Stacy memohon padanya.


Winwin dan para wali kelas lain pun ikut menyetujui perkataan Stacy. Sebaiknya mereka mencari dulu Lia sendirian. Jika memang masih belum di ketemukan maka tidak ada cara lain selain meminta bantuan kepada kepala sekolah Boulevar.


__ADS_2