
Keheningan terjadi sesaat setelah suara sepatu hak terdengar dari pintu masuk kelas A. Mata Tiara langsung mengenal wanita pemilik dari sepatu dengan tinggi lima centi meter tersebut. Dia adalah guru yang memberinya sebuket bunga di acara penyambutan murid baru.
Tidak ada satu murid kelas A pun yang mengetahui bahwa wanita yang saat ini berdiri tegak di hadapan mereka adalah wali kelas mereka.
"Hallo semuanya selamat pagi." Suara wanita berusia tiga puluhan tahun itu menggema di seluruh ruangan.
"Selamat pagi bu." Jawab murid serempak.
"Perkenalkan nama saya Winwin dan saya wali kelas kalian." Tanpa basa-basi ia memperkenalkan dirinya dengan menuliskan namanya di white board yang berada tepat di belakangnya.
Semua murid terkejut mendengar nama wali kelas mereka. Menurut mereka nama Winwin sangatlah tidak cocok untuk wanita yang mengatakan bahwa dirinya adalah wali kelas mereka tersebut.
Wanita yang ada di hadapan mereka ini memiliki postur postur tubuh tinggi dan juga sexi dengan raut wajah dewasa tanpa ada sisi menggemaskan. Sedangkan nama Winwin terdengar cukup menggemaskan jika diucap atau di perdengarkan.
Tentu ini sama sekali bertolak belakang. Selain itu aura tegasnya membuat murid-murid menjadi segan padanya.
"Sama halnya dengan nama saya Winwin, saya tidak suka kalah. Jika saya kalah maka saya akan berusaha untuk tidak kalah. Jika saya masih tetap kalah setelah berusaha maka saya akan berusaha lagi sampai saya menang." Lanjut Winwin mengundang kembali rasa terkejut para murid mendengar moto hidupnya.
"Saya ingin kalian seperti itu. Berusaha dan berusaha lagi sampai kalian menang dalam hal apapun. Paham?" Tanya Winwin.
"Paham bu.." Jawab murid semangat karena mendapat dorongan dari wali kelas mereka.
"Baiklah sebelum lanjut ke pelajaran kita, saya ingin menyampaikan satu hal lagi." Ucap Winwin dengan nada serius.
__ADS_1
Murid-murid menjadi berdebar tanpa sebab. Mereka saling bertukar tatapan penasaran atas apa yang ingin di sampaikan Winwin, wali kelas mereka tersebut.
"Saya tidak suka murid yang bermain curang untuk mendapatkan nilai yang bagus."
DUARRRR
Suara dingin dan tatapan tajam Winwin membuat seisi ruangan membeku.
"Jika kalian ingin melakukan itu maka jangan pernah berani mencoba melakukannya di kelas saya. Jika saya bertemu ada orang yang melakukan itu maka dengan kedua tangan ini, saya akan membuangnya keluar dari Boulevar." Tegas Winwin memperingati para muridnya.
Winwin mengatakannya tanpa ampun sampai-sampai para murid merasa seperti sedang bermimpi buruk di siang hari tak terkecuali Cassan.
Cassan mengerutkan keningnya lalu memandang Tiara dari kejauhan. Ia melihat Tiara tidak bereaksi seperti yang lainnya. Ia tetap tenang seperti dirinya yang biasa.
-----
Bel istirahat berbunyi. Cassan bangkit dari tempat duduknya dan menuju meja Tiara dan Alda untuk mengajak mereka makan siang bersama.
"Tiara, Alda, yuk ke kantin aku traktir. Aku udah chat Lia sebentar lagi dia kesini." Ucap Cassan akrab seolah ia sudah melupakan dan memaafkan tuduhan Alda tadi padanya.
Mendengar ajakan Cassan, Tiara dan Alda dibuat kaget.
Alda mengangkat pandangannya pada Tiara menunggu jawaban darinya. Jika Tiara menolak ajakan Cassan maka Alda akan melupakan kejadian dimana Tiara lebih membela Cassan dari padanya.
__ADS_1
Namun jika Tiara menerima ajakan tersebut maka lupakan saja Alda tidak akan ikut bergabung dengan mereka.
"Baiklah." Jawab Tiara setuju lagian Tiara tidak memiliki alasan untuk menolak ajakannya.
Alda lagi lagi dibuat sesak oleh Tiara. Apa Tiara sudah melupakannya dan ingin menggantinya dengan Cassan? Apa Tiara juga lebih menginginkan makanan mahal dari pada persahabatan mereka?
Kekecewaan terlihat jelas di wajah Alda. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi.
Tiara yang melihat kepergian Alda mencoba untuk menghentikannya namun Alda terus melangkah tanpa mempedulikan Tiara.
Beberapa murid melihat kejadian tersebut tak terkecuali Luka. Luka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan mengirim pesan pada seseorang.
Tak menunggu lama Lia datang menghampiri Tiara yang duduk di bangkunya tanpa Alda sementara Cassan duduk di bangku Alda.
Lia sama sekali tidak memiliki ide apa yang sedang terjadi karena perdebatan antara Alda dan Cassan terjadi setelah mereka berpisah.
"Tiara dimana Alda?" Tanya Lia penasaran dengan keberadaan sahabatnya itu. Tak lupa Lia juga menyapa Cassan dengan senyuman manisnya.
Tiara hanya terdiam tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Lia dan menjelaskan semuanya.
Melihat Tiara tidak menjawab pertanyaan Lia, Cassan akhirnya mengambil ahli.
"Alda pergi gitu aja gak tau kemana. Dia dan Tiara lagi marahan." Cassan menjawab pertanyaan Lia dengan sengaja menyebut ketegangan yang sedang terjadi antara Alda dan Tiara.
__ADS_1
"Marahan?" Lia terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak menduga kedua sahabatnya tersebut memiliki ketegangan di belakangnya. Memangnya apa yang sudah ia lewatkan pikir Lia.