
Keesokan harinya kabar mengenai Cassan yang dikeluarkan dari sekolah merajalela di Boulevar High School. Semua orang membicarakan nama Cassan dimana-mana. Entah itu di grup chat kelas, grup chat pribadi bahkan di forum chat populer sekolah.
Dari ribuan murid Boulevar, tidak ada seorang pun yang terlihat sedih atau sekedar kecewa dengan keperian Cassan. Mereka justru bersenang hati membicarakan namanya, mencorat-coret gambar wajahnya bahkan menjadikan Cassan bahan lelucon di keseharian mereka.
Setelah kepergian Cassan, beberapa hari berlalu begitu saja dengan tenangnya. Kamar tidur bernomor 111 kini hanya berisikan Tiara, Lia dan Alda. Sedangkan suasananya sendiri pun terasa sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
"Kalian merasakannya tidak kalau suasana akhir-akhir ini sangat tenang tanpa Cassan?" Tanya Lia yang terbaring malas diatas tempat tidurnya.
"Iya. Orang-orang juga mulai melupakan tentangnya." Jawab Alda di seberang tempat tidur Tiara.
Tiara hanya terdiam mendengar pembicaraan kedua sahabatnya itu dan dari pada ikut bergabung dengan keduanya Tiara lebih memilih untuk memfokuskan dirinya pada MacBook yang ada di hadapannya.
"Apa kalian sudah sampai?" Ketik Tiara pada sebuah aplikasi obrolan lalu mengirimnya ke pengguna lain yang diketahui bernama Ansel.
"Iya, kami sudah sampai dan saya sudah mengantarnya ke paviliun sesuai perintah." Jawab Ansel sopan.
"Bagus. Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Tiara.
"Sejak bertemu dengannya sampai hari ini, dia sama sekali belum berbicara."
"Hm, saya sudah mengulurkan tangan padanya jadi mulai sekarang saya adalah rumah tempat ia tinggal." Ucap Tiara lalu melanjutkannya lagi. "Tolong lakukan apa saja agar dia bisa kembali seperti dirinya yang dulu."
"Baiklah, saya akan memikirkan cara untuk itu." Jawab Ansel.
"Terimakasih." Balas Tiara lalu mematikan obrolan pesan mereka.
Tiara kemudian bangkit dari kursi menuju tempat tidur. Ia ingin tidur dan menikmati waktu luangnya namun sebelum ia berhasil merebahkan tubuhnya diatas kasur berlapis busa itu, Lia langsung menarik tangannya dari sana.
"Jangan tidur dong, please." Seru Lia.
"Ada apa La?" Tanya Tiara penasaran kenapa Lia menarik tangannya.
"Aku bosan, kita ke kantin yuk." Lia mengajak Tiara juga Alda yang mengangguk memandangi mereka dari atas tempat tidurnya.
Merasa tidak tega melihat kebosanan yang melanda kedua sahabat baiknya itu, Tiara terpaksa menyetujuinya.
"Ya udah ayo." Jawab Tiara disela hembusan nafasnya yang berat.
Ketiga orang sahabat itu pun akhirnya pergi ke kantin sesuai permintaan Lia.
__ADS_1
-----
Ditengah perbincangan ringan ketiga sahabat sambil menunggu pesanan, mereka dikagetkan oleh sebuah suara pecahan yang terdengar cukup keras tepat di samping meja yang mereka duduki.
Suara itu lantas membuat ketiga dari mereka terkejut bodoh dan mungkin seisi ruangan pun merasakan hal yang sama.
Pecahan piring kaca yang berisikan nasi sebelumnya, kini berserakan begitu saja di lantai dan seorang gadis telah tersungkur tidak berdaya diantaranya.
"Kamu buta ya, hah?" Seseorang berteriak pada gadis itu sehingga menarik semua pasang mata tertuju padanya. Tak terkecuali Tiara, Lia dan Alda yang sedari tadi duduk disana.
Tiara mengenali gadis yang tersungkur di lantai itu karena sebelumnya, di kejauhan Tiara sempat melihatnya sedang bercanda gurau bersama ketiga orang temannya yang lain.
"Maaf, saya tidak sengaja." Kata gadis itu bersalah lalu bangkit dari sana.
Dia dan teman-temannya baru saja memesan makanan dan hendak mencari tempat duduk. Namun karena sedang bergurau, salah seorang temannya mendorongnya mengakibatkan makanannya tertumpah. Dan orang yang terkena tumpahan tersebut mendorongnya terjatuh ke lantai.
"Maaf maaf. Emang kamu pikir dengan kata maaf, kamu bisa gantiin baju mahal aku?" Tanyanya dengan penuh emosi.
Mendengar perkataan itu, semua orang menjadi mengerti atas apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.
"Yah, habis tuh cewek. Berani banget dia cari masalah sama Ria." Bisik seorang siswi dari meja belakang Tiara, membuat Tiara dan kedua sahabatnya tidak bisa mengabaikan pendengar mereka.
Kedua orang tersebut sengaja berkomentar dengan berbisik karena tidak ingin terdengar sedang menggosipkan nama Ria.
"Maaf, biar saya ganti rugi bajunya." Ucap gadis bernama Abie itu dengan tenang. Abie berpikir dari pada mencari masalah dengan Ria, sebaiknya ia langsung menghentikannya karena ujung dari perkataan Ria adalah menginginkannya untuk mengganti rugi baju tersebut.
"Apa!? ganti rugi!?" Ria melotot kaget.
"Emang mau ganti rugi pakai apa? Uang? Sorry ya, kayaknya aku lebih kaya dari kamu tuh." Ucap Ria dengan sombong membuat orang-orang menertawakan Abie dari kejauhan.
Disamping ketegangan itu, ketiga orang teman Abie termasuk salah seorang yang telah mendorongnya tadi, terlihat enggan untuk menolong Abie. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan Ria yang notabenenya adalah salah satu siswi populer dari program kejuruan.
Sehingga mereka lebih memilih diam dan membiarkan Abie menangani masalahnya sendiri.
"Terus kamu maunya apa?" Tanya Abie dingin.
"Aku mau kamu tetap ganti rugi tapi,.." Ria menghentikan perkataannya sambil berjalan mengitari Abie. "Tapi aku mau kamu ganti rugi dengan baju yang sama dan masih baru, sekarang juga." Lanjutnya.
Perkataan Ria itu lantas membuat seisi ruangan terkejut. Bagaimana tidak, hampir sebagian orang tahu persis jika baju yang dikenakan oleh Ria adalah baju dari Lavida brand yang sudah laku terjual sejak dua musim yang lalu dan kini tidak di produksi lagi. Untuk mendapatkan baju yang masih baru sama saja dengan membunuhmu.
__ADS_1
"Tapi kalau kamu tidak bisa menggantikan bajunya sekarang juga maka tidak ada pilihan lain lagi selain jilat makanan yang sudah kamu tumpahkan ke lantai." Ucap Ria, menggemparkan seisi kantin.
Orang-orang mulai berbisik satu sama lain dan membicarakan bagaimana nasib Abie selanjutnya. Namun hal berbeda datang dari Lia dan Alda. Mereka tidak habis pikir sekaligus merasa kesal mendengar permintaan tidak masuk akal, Ria.
"Apa-apaan kamu, kamu pikir kamu siapa berbuat seenaknya pada orang lain?" Komentar Alda dengan kesal pada Ria.
"Iya dasar aneh. Sudah baik dia berniat untuk mengganti rugi baju kamu tapi malah di perlakukan seperti itu." Lia menyambung Alda sementara Tiara sama sekali tidak bergeming dan hanya menatap datar pada Ria dan Abie.
Komentar Lia dan Alda ini langsung membuat orang-orang di sekitar mereka tak terkecuali kedua siswi yang duduk di meja belakang Tiara, menatap terkejut pada keduanya. Mereka tidak percaya ada orang yang berani berkomentar tentang Ria, si murid populer program kejuruan secara gamblang.
Tidak berbeda jauh dari mereka semua, Ria mengernyitkan dahinya tak percaya juga pada pendengarannya. Ia tidak menyangka ada orang yang berani mengomentari apa yang dilakukannya. Namun terlepas dari semua itu, menurut Ria, hidupnya akan lebih menarik lagi jika orang seperti Abie, Lia dan Alda mengganggunya.
Ria lalu tersenyum dan menatap sinis pada Lia dan Alda kemudian berkata, "ini bukan urusan kalian." Ucapnya mengabaikan mereka dan kembali fokus pada Abie.
Ketika Lia dan Alda ingin menjawabnya, Tiara dengan cepat menghentikan keduanya.
"Kenapa diam saja? Tidak bisa ganti rugi? Kalau gitu jilat makanannya di lantai. Jangan lupa, sampai bersih." Ucap Ria lagi pada Abie.
"Tapi,.." Abie tak bisa berkutik. Niat awalnya untuk mengganti rugi hanya agar masalahnya cepat terselesaikan justru membuatnya semakin dalam kesulitan.
"Tapi apa? Cepat lakukan." Perintah Ria dengan angkuh. "Di mulai dari sepatuku yang terkena remahan murahanmu itu." Lanjutnya mengambil ahli tempat duduk kosong di samping Tiara dan menyodorkan kakinya yang mengenakan sepatu pada Abie dengan elegan.
Melihat apa yang dilakukan Ria padanya, Abie yang awalnya tenang menjadi murka. "Bukannya kamu sudah kelewatan?" Bentaknya.
"Haha, kelewatan? Bukannya kamu yang kelewatan karena tidak bisa mengganti rugi bajuku?" Ucap Ria kembali membuat Abie tidak bisa berkutik.
"Cepat jilat. Saya hitung sampai tiga. Jika kamu masih tidak mau melakukannya, lihat saja nan,.." Ucap Ria dengan dingin yang kemudian disanggah oleh telak oleh Tiara.
"Berisik. Angkat pantat jelek mu itu dari sana. Kamu menduduki dompetku." Ucap Tiara tak kalah dingin dan datar.
Mendengar perkataan Tiara, Lia dan Alda tertawa lebar setelahnya. Sedangkan yang lainnya yang berada disana, hanya bisa menahan tawa mereka pada Ria itu pun dilakukan dengan sembunyi karena takut Ria akan mendengarnya.
"Haha, pantat jelek." Alda mengulangi perkataan Tiara sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Tiara, gimana kalau pantat punya aku. Terlihat bagus atau jelek? Haha." Tanya Lia sambil menunjukkan pantatnya pada Tiara.
"...." Tiara.
Melihat bagaimana Tiara mempermalukan dirinya, Ria bangkit dari sana dengan wajah memerah dan menatap kesal pada Tiara.
__ADS_1