Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#54 Segera Bertindak


__ADS_3

"Cassan ini semua.."


"Oh ini semua buat kamu sama aku." Jawab Cassan melihat wajah bingung milik Lia.


"Maksudnya ini semua kamu pesen buat aku juga?" Tanya Lia kembali menyakinkan dirinya.


Cassan menganggukkan kepalanya. "Iya. Tadi aku mau bilang sama kamu buat pesen perlengkapan untuk makrab besok. Tapi setelah lihat kamu keasikan baca komik, aku pikir biar aku saja yang pesan karena aku gak mau ngeganggu kamu."


Lia tersenyum senang dan langsung memeluk Cassan. "Makasih yah Cassan. Kamu baik banget."


Sesaat Cassan terkejut dengan aksi Lia, dan dengan cepat ia membalas pelukan Lia tersebut. "Sama-sama kita kan temen." Jawabnya sambil melirik pada Alda dan juga Tiara.


Lia benar-benar seutuhnya berada di bawah pengaruh Cassan. Tiara berpikir akan sedikit sulit bagi Lia jika suatu saat dirinya dan Alda membongkar kedok Cassan.


Tiara tidak ingin Lia menjadi sedih dan kecewa mengetahui semua yang dilakukan oleh Cassan bukanlah karena Cassan benar-benar menganggapnya sebagai teman tetapi karena hal lain yang mereka sendiri bahkan belum mengetahuinya.


Tiara mengalihkan pandangannya pada Alda yang saat ini sedang berdiri mematung. Ada rasa dalam diri Tiara seperti ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menghancurkan Cassan dan mengembalikan persahabatan mereka seperti semula.


Rasa sakit dalam hati Tiara melihat bagaimana persahabatan mereka sekarang memaksanya untuk segera bertindak.


Tiara lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak seseorang. Ketika kontak tersebut menunjukan nama 'Daddy', Tiara menghentikan pencariannya. Tiara ingin meminta pertolongan pada ayahnya, Jonathan. Namun beberapa saat kemudian Tiara tidak mau melakukan panggilan.

__ADS_1


Tiara sudah berjanji bahwa ia tidak akan menggunakan nama besar keluarganya, Alexander. Otomatis ia juga tidak ingin meminta bantuan dari ayahnya. Tiara ingin menyelesaikan semuanya sendirian.


Setelah berpikir selama beberapa waktu, Tiara akhirnya teringat akan perkataan Saka di kantin. Saat itu Saka mengatakan bahwa pewaris Baskara grup meninggal bersama istri dan anaknya dalam kecelakaan maut membuat Tiara juga sempat mencurigai siapa Cassan sebenarnya.


Tiara berpikir untuk menghubungi Saka dan mencari tahu tentang hal tersebut namun sayang ia tidak memiliki kontak Saka.


Secara tiba-tiba wajah Luka muncul dalam benak Tiara. Jantungnya mulai berdetak cepat tak tahu kenapa. Tiara dan Luka sudah saling bertukar nomor ponsel mereka. Jadi jika Tiara ingin mendapat nomor Saka setidaknya ia harus menghubungi Luka terlebih dahulu.


Tiara mengangkat pandangannya dari ponsel miliknya dan melihat situasi sekelilingnya. Lia dan Cassan terlihat membongkar barang-barang pesanan sementara Alda kembali membenahi barang-barangnya.


Tiara tidak mungkin melakukan panggilan disana dan terpaksa ia berjalan keluar kamar dan menelfon Luka di koridor. Sebelum mengalikan panggilan Tiara menarik nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdetak semakin cepat itu.


Panggilan pun tersambung dan tak butuh waktu lama suara dingin Luka terdengar sampai ke telinga Tiara. "Hallo..."


Disisi lain Luka tertawa geli dalam hatinya mendengar suara gugup Tiara. Sebelum Tiara menelfonnya, Luka sedang bimbang melihat kontak Tiara di ponselnya. Ia ingin menghubungi Tiara namun tidak tahu apa yang akan ia katakan setelah Tiara mengangkat telfonnya.


Selama hampir satu jam Luka bergulat dengan pikirannya untuk menghubungi Tiara. Bahkan Reno dan Saka sampai bertanya-tanya satu sama lain melihat keanehan yang terjadi pada Luka. Namun siapa sangka setelah itu Luka terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai ketika mendapati Tiara duluan menelfon dirinya.


Ada rasa senang dan bergairah dalam hati Luka tetapi tidak bisa ia pungkiri juga kenyataan bahwa dirinya pun gugup seperti halnya Tiara.


"Maaf ini dengan siapa?" Goda Luka padanya membuat Tiara terkejut dan kecewa sekaligus.

__ADS_1


"Maaf salah nomor." Ucap Tiara langsung mematikan sambungan.


'Maaf ini dengan siapa? Hah menyebalkan. Bukannya dia sendiri yang menyimpan nomornya di ponsel aku? Terus bukannya dia juga udah simpan nomor aku?' Tiara membatin kesal.


Luka melotot tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka jika caranya untuk menggoda Tiara sama sekali tidak berpengaruh di hadapan Tiara.


Tidak ingin melewatkan kesempatan yang sudah datang padanya, Luka berinisiatif menelfon Tiara kembali. Kali ini Tiara yang terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya. Tiara berfikir Luka tidak akan menelfonnya lagi mengingat Luka bukan tipe orang seperti itu jika tiara tidak salah menebak.


"Hallo, Maaf ini dengan siapa?" Tiara berpikir untuk membalas Luka dengan melakukan hal yang sama.


Luka tercengang menatap ponselnya. Ia sempat berpikir salah melakukan panggilan ternyata tidak. Luka akhirnya tertawa lucu karena merasa Tiara membalaskan dendamnya.


Mendengar luka menertawakannya, wajah Tiara berubah merah seperti buah tomat dan jantungnya semakin dan semakin berdebar kencang.


"Gue minta maaf karena ngerjain lo." Ujar Luka dari balik ponsel.


"Hmm nyebelin." Jawab Tiara merasa sedikit kesal.


"Nyebelin tapi lo suka kan?" Luka tak sengaja melontarkan kalimat tersebut dari mulutnya. Saat menyadari itu telah terucap, Luka memukul perlahan mulutnya. Namun apa yang bisa dilakukannya lagi selain menunggu respon Tiara.


"Apa?" Tiara tak percaya dengan pendengarannya. Bagaimana bisa seorang Luka mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


"Gue bilang gue nyebelin tapi lo suka kan?" Luka sengaja mengeja kembali perkataannya satu persatu dengan sangat jelas membuat Tiara merasa udara di sekitarnya memanas menyebabkan wajahnya memerah.


Sesaat kemudian Tiara membalasnya "gue gak suka cowok nyebelin." Itu pun dilakukanya dengan ejaan yang jelas.


__ADS_2