Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#89 Rencana Cassan 2


__ADS_3

"Membuat video pengakuan!?" Ucap Adit dengan ekspresi terkejut saat mengulangi perkataan Cassan.


"Iya. Aku mau kamu membuat video pengakuan tersebut agar aku bisa mempostingnya di forum chat sekolah dengan begitu pihak sekolah mengetahuinya dan mengeluarkan dia dari sekolah." Ucap Cassan memberi pengertian pada Adit tentang rencana tersembunyi miliknya.


Mendengar Adit belum menjawabnya juga, Cassan menggunakan kesempatannya lagi untuk membuat Adit semakin jatuh kedalam jebakannya.


"Aku mohon, lakukan ini demi aku." Cassan mencoba membujuk Adit dengan membawa-bawa dirinya berharap Adit berhenti berpikir dan langsung menyetujui permintaannya.


Lagi, Adit masih belum bersuara dan Cassan tidak kehabisan caranya.


"Adit, aku juga merindukanmu." Ucap Cassan mencoba keberuntungan terakhirnya. Bagaimanapun tidak ada cara lain lagi yang harus ia lakukan selain mengatakan dengan terpaksa apa yang tidak diinginkan oleh hati kecilnya.


"Baiklah." Jawab Adit setuju karena mendengar bahwa Cassan juga merindukan dirinya.


Adit tidak berpikir hal yang lain lagi. Ia hanya memikirkan bagaimana perasaan Hera padanya. Jika Hera terus menyatakan perasaannya padanya seperti tadi, ia siap melakukan apa saja untuk Hera.


"Benarkah? Terimakasih Adit. Emang hanya Adit yang terbaik di dunia ini." Seru Cassan dengan bahagia.


Mendengar bagaimana Cassan memuji dirinya, Adit semakin percaya diri ingin membantu wanita yang disukainya itu. "Lalu apa lagi yang harus aku lakukan?" Tanya Adit penasaran.


"Kamu membuat pengakuan bahwa kamu sudah diancam dan dibayar oleh orang tua Tiara untuk mengerjakan tes miliknya. Dan katakan juga bahwa mereka memaksa kamu untuk di makeup oleh penata rias profesional dengan sedemikian rupa agar terlihat mirip dengan Tiara sekaligus untuk menghindari kecurigaan pengawas." Cassan menjelaskannya.


Cassan teringat akan saat dimana ia memaksakan kehendaknya pada Leo untuk membiarkannya bersekolah di Boulevar High School. Saat itu Leo menolaknya dengan tegas karena Leo mengetahui dengan baik sebatas mana tingkat kepintaran Hera dari laporan tiap semesternya.


Namun karena Hera dan ke angkuhan hatinya itu tidak mau mendengarkan Leo, Hera melaporkan Leo pada kakek Baskara karena tidak memenuhi keinginannnya. Alhasil Leo mendapati kondisi kesehatan kakek Baskara menurun. Pasalnya sebelum itu dokter telah memberitahu dirinya agar tidak membiarkan kakek Baskara merasakan tekanan.


Pada akhirnya Leo mengikuti permintaan Hera dan membayar seseorang dengan IQ tinggi untuk mengerjakan semua tes Hera. Orang tersebut kemudian di makeup sedemikan rupa oleh penata rias agar terlihat mirip dengan Cassan.


Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kecurigaan dari pengawas tes, melalui kamera laptop yang menyala selama waktu tes.


"Baiklah. Aku akan segera merekam videonya dan mengirimkannya padamu." Ujar Adit.


"Terimakasih Adit. Nanti aku telfon kamu lagi." Ucap Cassan langsung mematikan panggilannya.


Adit yang mendengar bahwa dirinya akan dihubungi lagi itu pun mendapatkan semangat yang berapi-api. Ia menyiapkan semua perlengkapannya dengan dibantu kamera ponsel miliknya, Adit mulai merekam video pengakuan yang diminta Cassan tersebut.


Cassan merasa sangat puas dengan ide brilian miliknya itu. Karena dengan membuat video pengakuan tersebut, orang-orang akan mempertanyakan tentang nilai sempurna milik Tiara dan kegeniusan yang disandangnya saat ini.


Selain itu juga pihak sekolah akan mengeluarkan Tiara dari sekolah karena telah terbukti melakukan kecurangan dan ia tidak akan diterima di sekolah manapun. Dan lagi Tiara akan kehilangan pamornya begitupun Luka berpaling darinya.


"Isseki nichou." Ucap Cassan lalu bangkit dari tempat duduknya. Cassan tidak menghabiskan makan siangnya lalu pergi karena sedang dalam mood yang baik.


Sayang seribu sayang dibalik mood Cassan yang sedang berada diatas ayunan, tanpa ia sadari jika sebenarnya di lantai tiga bangunan Boulevar, Tiara sedang mendengar semua percakapan mereka sejak awal hingga akhir bahkan merekamnya.


Hal itu dikarenakan Cassan sama sekali tidak tahu-menahu jika ponsel miliknya yang digunakan untuk menelfon Adit, sedang di sadap oleh Tiara.


"Haha.." Tiara tertawa lucu setelah berhasil menyimpan file rekaman percakapan antara Cassan dan Adit.


Seisi ruangan menatap bingung pada Tiara. Sedari tadi mereka memperhatikan Tiara yang terlihat fokus mendengarkan sesuatu di ponselnya. Pikiran mereka berkata, mungkin saja Tiara sedang menerima telfon. Namun anehnya Tiara sama sekali tidak berbicara dan hanya mendengarkan saja.


"Tiara ada apa?" Tanya Alda mewakili rasa penasaran keempat orang lainnya.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya sesuatu yang lucu saja." Jawab Tiara masih menahan sedikit tawanya.


"Apanya yang lucu?" Giliran Lia yang bertanya mewakili keempat lainnya.


"Ada yang sedang belajar jadi kancil." Ucap Tiara dengan senyum.


"Siapa, calon kakak ipar?" Tanya Reno.


"Tikus kecil." Jawab Tiara menganggap Cassan seperti seekor tikus kecil.


Lia, Alda, Reno dan Saka sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Tiara tetapi Luka bisa langsung menebaknya jika Tiara sedang mendeskripsikan Cassan sebagai tikus kecil.


"Yuk, kalau udah selesai kita turun." Ucap Tiara lalu bangkit dari tempat duduknya dan diikuti oleh yang lainnya.


Sebelum menuju lift, Tiara berjalan ke kasir untuk membayar semua makanan yang mereka makan tadi. Di sana tanpa sengaja Tiara bertemu dengan Michelle Alexander, bibinya.


"Tiara." Sapa Michelle terkejut melihat Tiara berada di kantin lantai tiga.


"Aunt,.." Tiara tidak menyelesaikan perkataannya karena menyadari ada teman Michelle yang sedang berdiri bersama Michelle.


Menyadari Tiara tidak melanjutkan perkataannya, Michelle melirik pada kedua temannya yang sama sekali tidak tahu menahu tentang Tiara.


"Jangan khawatir, mereka berdua adalah sahabat dekat auntie." Ucap Michelle sambil menyenggol lengan kedua temannya.


"Auntie!?" Tanya kedua teman Michelle secara bersamaan.


"Jadi keponakan kamu yang biasa kamu ceritain itu dia?" Tanya Silvia mendapat anggukkan dari Michelle.


Tiara yang melotot kaget pun hanya bisa menerima sodoran tangan Sonia dan ikut memperkenalkan dirinya. "Hallo kak Sonia, aku Tiara."


"Kenalin juga, aku Silvia sahabat karibnya Michelle dan juga Sonia." Ucap Silvia dengan hangat lalu melakukan hal yang sama dengan Sonia.


"Hallo kak Silvia, aku Tiara."


Tiara tidak tahu jika Michelle sudah menceritakan tentang dirinya pada kedua sahabatnya. Ia juga tidak tahu kenapa gadis yang disapanya bibi itu sangat mempercayai kedua sahabatnya


tapi yang pasti Tiara percaya pada keputusan bibinya.


"Tiara, kok kamu bisa ada disini?" Tanya Michelle penasaran.


"Iya auntie Michelle. Aku sama teman-temanku sedang membahas sesuatu jadi kami butuh ruangan private." Jawab Tiara sambil melihat kearah Luka dan yang lainnya. Begitupun Michelle dan keduanya sahabatnya.


"Oh begitu. Terus sekarang kalian mau turun?" Tanya Michelle lagi.


"Iya tapi aku harus bayar dulu makanannya."


"Tidak perlu, biar auntie saja yang bayarin." Ucap Michelle yang kebetulan juga ingin membayar makanannya. "Kamu pulang saja. Teman-teman kamu sudah pada tungguin tuh."


"Oke deh. Bye auntie Michelle."


"Eh eh tunggu dulu." Sonia menghentikan langkah kaki Tiara.

__ADS_1


"Iya kak Sonia, ada apa?" Tanya Tiara penasaran kenapa Sonia menghentikannya.


"Kemarin aku sempat lihat kamu adu argumen sama Monica di kantin asrama. Kamu hati-hati sama mereka. Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk minta tolong sama Michelle dan aku begitu juga Silvia." Ucap Sonia memberi peringatan pada Tiara.


"Baiklah. Makasih kak Sonia, bye auntie Michelle, bye kak Silvia." Tiara berpamitan sambil berlari menuju teman-temannya yang sudah menunggunya di pintu lift.


"Bye Tiara." Jawab mereka kompak sambil tersenyum kearahnya.


"Michelle, keponakan kamu Tiara cantik banget." Komentar Silvia paska Tiara pergi dari hadapan mereka.


"Iya aku sempat terkejut kemarin saat melihat bagaimana seorang junior cantik mempermalukan seniornya di depan semua orang." Sambung Sonia.


"Memangnya bagaimana dia mempermalukan Monica?" Tanya Michelle penasaran. Kemarin ia dan Silvia berada di kamar mereka dan meminta Sonia turun untuk membelikan makanan di kantin jadi mereka tidak tahu apa yang terjadi antara Tiara dan Monica.


Sonia berakhir dengan menceritakan kepada Michelle dan Silvia bagaimana Tiara mengira Monica adalah penjual di kantin dan mereka tertawa bersama.


-----


"Tiara, kamu kenal sama senior tiga orang tadi?" Tanya Lia penasaran setelah melihat Tiara mengobrol akrab dengan mereka.


"Iya. Salah satunya adalah kak Michelle. Dia sempat menolongku dari Monica di hari pertama masuk asrama." Jawab Tiara berbohong lagi dan lagi.


"Sepertinya mereka orang baik-baik. Kalau kita berteman sama mereka, Monica dan teman-temannya tidak akan menggangu kita lagi." Ujar Alda mencoba memberikan saran.


"Iya Alda benar. Bagaimana kalau kita coba mendekati mereka?" Lia menyambung, sepemikiran dengan Alda.


"Boleh." Jawab Tiara. Meskipun ia merasa bisa melawan Monica dan gengnya sendirian tapi tidak ada salahnya jika ia bergabung bersama bibinya, Michelle. Dengan begitu ia bisa mendapatkan banyak informasi tentang geng anak orang kaya dan suka menguasa itu.


"Asik akhirnya kita punya backing-an." Ucap Alda bergembira.


"Yep." Sambung Lia dengan semangat.


"Ternyata kalian di asrama punya banyak musuh juga ya? Mana kakak-kakak senior pula." Saka berkata pada ketiga cewek yang berada di dalam satu lift dengan mereka itu.


"Kita gak pernah cari masalah sama mereka, merekanya saja yang selalu menggangu kami." Jawab Lia.


"Itu artinya mereka pada iri sama kalian." Reno bersuara.


"Mungkin." Jawab ketiga cewek dengan serempak.


-----


Catatan Author :


Isseki nichou adalah salah satu Kotowaza atau dalam bahasa Indonesia di kenal dengan sebutan peribahasa.


Yang artinya : sekali mendayung dua tiga pulau terlewatkan. Atau bisa juga sekali melempar batu, mendapat dua ekor burung.


Author pake peribahasa Jepang biar gaulan dikit tapi kayaknya bahasa Jepangnya ini kurang cocok jika di ucapkan oleh Cassan alias Hera mengingat Hera bukan karakter yang pintar.


Tapi ya sudahlah biarkan Cassan palsu bersenang-senang sedikit sebelum dia di karantina.

__ADS_1


Komentar dibawa sini kalian mau Cassan di karantinakan dimana!!


__ADS_2