
Keesokan harinya sebelum matahari benar-benar terbit, ketika waktu menunjukan pukul 4 pagi, Stacy dan para anggota OSIS yang membaluti diri mereka dengan jaket tebal mulai membangunkan para murid di tengah-tengah mimpi indah mereka.
Stacy kembali berkoar di balik alat pengeras suara yang selalu di bawa olehnya, "bangun bangun bangun" teriaknya sedikit bersemangat. Karena suhu yang begitu dingin di lereng gunung, kabut putih terlihat menyembur keluar setiap kali Stacy membuka mulutnya.
Tiara terpaksa bangun dari mimpi panjangnya setelah teriakan suara Stacy terdengar di kupingnya ditambah dinginnya suhu udara di pagi itu menusuk hingga ke tulang belulang miliknya.
Meskipun matanya masih berat untuk dibuka namun hal tersebut tidaklah mampu untuk melawan dingin yang dirasakan oleh tubuhnya.
Begitu juga dengan Dewi dan ketiga teman setendanya. Saat tertidur mereka sama sekali tidak merasakan dingin namun ketika kesadaran mereka kembali hadir, rasa dingin pun langsung menyerang mereka tanpa memberi aba-aba.
"Aduh dingin banget. Jam berapa sih ini? Aku masih pengen tidur." Ucap Billa dengan mata yang masih tertutup rapat sambil membungkuk kedinginan.
Tiara melihat jam ditangannya setelah mendengar Billa bertanya. Namun karena di sebabkan oleh kantuk yang masih berada di level membutuhkan waktu tambahan untuk tidur, mata Tiara susah menangkap jarum jam dengan pasti.
"Ih mulut kamu keluar asap." Fiona mengagetkan kelima orang di dalam tenda dengan perkataannya.
Ketika melihat Fiona berkata seperti itu, Billa dan yang lainnya ikut terkejut mendapati kabut putih keluar dari mulutnya. Mata mereka seketika terbuka lebar karena belum pernah mengalaminya secara langsung.
Berbeda dari kelima temannya, Tiara sama sekali tidak merasa kaget. Menurutnya itu bukanlah sesuatu yang perlu ia 'wah' kan karena dirinya sudah sering berpergian ke negara-negara dengan suhu yang lebih dingin dari dataran rendah kota H.
"Bangun semuanya. Dalam hitungan ke sepuluh semua murid sudah harus berada di tengah lapangan." Ucap Stacy memberi mereka waktu sepuluh detik untuk melepas semua mimpi-mimpi mereka.
Mendengar bagaimana Stacy terlihat tidak peduli apakah mereka masih mengantuk atau tidak, para murid langsung bergegas bangun dari sleeping bag mereka dan berlari keluar tenda secara beramai-ramai. Mereka berkumpul tepat pada hitungan ke sepuluh karena telah mempelajari pengalaman mereka sebelumnya.
"Ya ampun gila dingin banget. Mulut kita juga keluar asap." Para murid mulai mengomentari hal yang sama.
Setelah memastikan semua murid sudah berkumpul, Stacy meminta Varno mengambil ahli dirinya berbicara di khalayak ramai.
Para siswi berteriak histeris dalam hati mereka melihat ketampanan hakiki milik Varno. Mereka tidak menyangka jika Boulevar memiliki begitu banyak siswa dengan wajah di atas standar seperti para idol K-Pop.
"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Varno." Suara husky Varno terdengar di tengah-tengah mereka.
"Di pagi yang dingin ini mari kita mengawalinya dengan kegiatan yang menarik yaitu MENCARI HARTA KARUN." Lanjutnya lagi.
Mendengar Varno mengatakan nama permainannya, para murid menjadi bersemangat. Banyak dari mereka sudah mengetahui jenis permainan yang satu ini sehingga mereka mulai berpikir harta karun apa yang harus mereka cari untuk memenangkan permainan.
"Sebelumnya kalian semua akan di bagi ke dalam beberapa kelompok. Saya akan membacakan nama-nama kalian dan bagi yang merasa namanya di sebut silahkan maju kedepan."
Semua murid mengangguk setuju dengan perkataan Varno. Varno juga menjelaskan cara bermainnya permainan tersebut meskipun ia tahu sudah banyak orang yang mengetahuinya.
"Kami para anggota OSIS sekaligus sebagai pemandu kalian sudah menyembunyikan potongan-potongan kertas di pepohonan kopi. Dan sebelum mencari potongan kertas tersebut, setiap kelompok akan diberikan kertas berisi sebuah kalimat. Disitulah tugas kalian dimulai."
__ADS_1
"Oh jadi yang disuruh cari adalah potongan kertas yang berisikan kata-kata dari kalimat yang di berikan kepada masing-masing kelompok?" Seorang siswa mengatakan analisanya.
"Iya sepertinya begitu." Teman di sampingnya menjawab.
Varno mulai membaca satu persatu nama para murid yang sudah ia kelompokkan sejak kemarin tiba di sana.
Kebahagiaan datang dari wajah Cassan. Seperti ekspetasinya ia berada dalam satu kelompok yang sama dengan Luka begitu juga Dewi. Namun Cassan tidak begitu mempedulikan keberadaan Dewi.
Varno masih membaca nama murid yang akan bergabung dengan ketiga orang diatas dan yang mengejutkan Cassan adalah Lia ikut andil di dalam kelompoknya.
"Asik. Cassan kita satu kelompok." Lia memeluk erat tubuh Cassan yang sedang tercengang.
Cassan sama sekali tidak memiliki ide mengenai Lia yang bergabung bersamanya. Karena pada waktu itu ia pergi sebelum menyelesaikan pengelompokan bersama Varno.
"Cassan kamu kenapa? Kita sekelompok loh." Ucap Lia, bingung dengan ekspresi wajah Cassan.
"Oh haha baguslah kalau kita sekelompok. Pasti seru." Jawab Cassan. Ia akhirnya berpikir jernih. Menurut isi pikirannya tidak ada salahnya jika Lia berada di kelompok yang sama dengannya karena masih ada banyak cara agar dirinya bisa dekat dengan Luka.
Disisi lain setelah kelompok Cassan dibentuk, kini giliran kelompok Tiara. Tiara sedikit merasa kecewa karena tidak berada di kelompok yang sama dengan Luka. Namun ia segera melupakannya karena pembagiannya sudah merupakan wewenang para anggota OSIS.
Luka tersenyum senang mengetahui kekecewaan terlihat jelas diwajah Tiara. Jangankan Tiara, ia sendiri pun merasakan hal yang sama. Namun apa boleh dikata jika mereka harus berada di kelompok yang berbeda.
Masing-masing kelompok yang sudah di bagi, satu persatu mulai berjalan mencari harta karun mereka mengikuti gambaran peta yang juga sudah di bekali untuk mereka.
"Iya syukur kita udah di kasih peta. Kalau nggak bisa nyasar terus gak tau jalan pulang." Sambung yang lain.
Tiara hanya terdiam. Ia memperhatikan pohon-pohon kopi di sekitarnya untuk mendapatkan potongan kertas bagi kelompok mereka. Namun kemudian konsentrasinya terhenti ketika memikirkan bagaimana Luka berada dalam kelompok yang sama dengan Cassan.
Rasa cemburu pun datang menghampirinya. Isi kepala Tiara mulai memikirkan kira-kira apa yang dilakukan oleh Luka jika Cassan berpura-pura mendekatinya seperti hari kemarin.
'Apakah Luka akan menjauhi Cassan atau malah membiarkannya mendekatinya?' Tiara membatin.
"Tiara hebat. Kamu udah nemuin satu kata buat kita." Siswi bernama Santi bersuara dengan nyaring menyadarkan Tiara dari lamunannya.
Ketika tersadar, semua anggota kelompoknya telah mengerumuni dirinya. "Ada apa?" Tanyanya bingung.
"Ada apa? Lihat nih, kamu udah nemuin satu kata." Ucap Santi. "Tadi kamu berdiri lihatin pohon kopi terus gak gerak-gerak jadi aku samperin deh. Eh pas lihatin gini ternyata kamu lagi lihat kertas ngegantung di sana. Ya udah aku bukain dan ternyata katanya cocok untuk kalimat kita."
Santi bersemangat menjelaskan bagaimana ia mengira Tiara mendapatkan potongan kertas yang ada di tangannya itu. Sementara Tiara sama sekali tidak mengetahuinya. Ia hanya sedang terbengong memikirkan Luka namun siapa sangka kebengongannya malah menguntungkan kelompoknya.
"Haha emang ya seperti yang diharapkan dari seorang geniusnya Boulevar." Yang lain ikut berkomentar.
__ADS_1
"Iya hehe. Tiara emang luar biasa." Sambung yang lain sambil memberikan jempol pada Tiara.
Tiara hanya tersenyum mendengar pujian melimpah datang dari teman sekelompoknya. Meskipun ia tahu bahwa semuanya itu hanya kebetulan semata, ia juga tidak menolaknya jika memang mereka menganggap dirinya yang menemukan potongan kertas tersebut.
"Ya udah yuk kita cari lagi. Semoga kita berhasil." Ucap Tiara mendapat anggukan persetujuan dari anggota kelompok lainnya.
Disisi lain, kelompok Luka, Cassan dan Lia sudah berjalan mendahului kelompok Tiara. Mereka sudah menemukan dua potongan kertas yang cocok dengan kalimat mereka.
Dibawah pimpinan Luka semuanya berjalan dengan lancar dan para anggota begitu kompak satu sama lain. Hingga pada akhirnya sesuatu terjadi di dalam kelompok mereka.
Cassan tiba-tiba merasa ingin membuang air kecil. Ia meminta pada Lia untuk menemaninya mencari sebuah tempat yang aman. Awalnya Lia sempat menolak meminta Cassan untuk menahan hingga pencarian harta karun mereka berakhir. Namun karena sudah tidak mampu menahannya lagi Cassan terus memaksa Lia dan akhirnya Lia pun menyetujuinya.
Keduanya mendapat ijin dari Luka untuk mencari tempat aman yang di maksud oleh Cassan. Mereka kemudian berjalan menjauh dari kelompok mereka, sementara Luka dan anggota lain terpaksa menunggu sampai kedatangan mereka kembali.
"Cassan disini aja yuk, aman kok. Jangan jauh-jauh aku udah lupa sama jalannya." Lia berkata pada Cassan. Dari dulu Lia sangat buruk dalam mengingat jalan sehingga sangat tabu baginya berjalan sendirian di tempat asing.
"Udah jangan takut kan ada aku." Ujar Cassan.
"Ih gimana kalau kita tersesat? Jalan disini semuanya sama mana pohon kopinya juga sama semua lagi." Lia memandang ke sekelilingnya dan tidak mendapati perbedaan apa pun disana.
'Dasar ****. Dimana-mana kalau namanya pohon kopi ya jelas sama semua.' Cassan membatin menghina Lia.
"Lia, kamu tunggu disini aja. Aku pipis dulu." Ucap Cassan setelah merasa tempat disana sudah aman untuknya.
Lia menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin berjalan lebih jauh lagi jadi ia menyetujuinya "iya cepetan."
Cassan berjalan beberapa meter menjauh dari Lia. Namun anehnya ia tidak kunjung membuang air kecil seperti yang dikatakannya sebelumnya. Ia terus berjalan dan berjalan menjauh dari Lia lalu berputar mengikuti jalan lain.
"Cassan udah belum, lama banget deh." Teriak Lia. Sayang Cassan tidak menjawabnya sama sekali.
Beberapa menit berlalu tetap saja Cassan tidak bersuara maupun datang menghampirinya. Lia mulai merasa ada yang aneh. Ketakutan perlahan demi perlahan mulai menggerogoti pikirannya dan air mata pun jatuh membasahi pipinya.
Cassan berlari terengah-engah menghampiri Luka dan anggota kelompok lainnya. Ia berpura-pura menangis sambil meneriaki nama Lia.
"Lia.. Lia kamu dimana?" Teriak Cassan penuh ketakutan.
Luka yang mendengar teriakan Cassan tersebut mulai merasa sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
"Cassan ada apa? Dimana Lia?" Tanya seorang anggota kelompok.
"Aku.. aku." Cassan berusaha berakting semampunya. kemampuannya bisa dikatakan cukup untuk menjadikannya seorang artis sinetron. Begitu juga air mata buayanya yang terlihat nyata.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Jangan bilang,.."
Cassan menganggukkan kepalanya. "Lia menghilang."