
Seketika tubuh Tiara menjadi lemas kala mendengar setiap kata yang terucap keluar bagai air mengalir dari mulut Ria. Matanya menatap kosong pada dinding tembok di hadapannya dan tubuhnya bergemetar ketakutan memikirkan bagaimana nasib dirinya andai kata semua rencana Ria, Erni dan Gerald berhasil.
Tiara sama sekali tidak menyangka jika ketiga orang itu telah menyiapkan rencana yang sangat keji dan menakutkan di belakangnya. Meskipun begitu, ia tidak menyalahkan mereka karena semua berawal dari keteledoran dirinya yang menganggap kemenangan sudah pasti berpihak padanya tanpa memikirkan rencana lawan.
Tiara akhirnya mencoba untuk menguatkan dirinya kembali. Bagaimanapun juga ia harus membalas semua perbuatan mereka padanya. Jika sebelumnya ia berencana mengajak Ria ke kamar dimana Erni dan Gerald berada untuk membuktikan kebenaran, sekaligus membungkam Ria agar tidak bersikap sombong pada orang lain maka tidak dengan saat ini. Tiara sudah membuat keputusan untuk membalas mereka menggunakan cara mereka sendiri.
"Hallo, hallo..." Ria menyapa kesekian kalinya membuat Tiara tersadar dari lamunan.
"Hallo, kamu dengar perkataan aku tidak?" Hardik Ria pada sang pemilik ponsel.
"1 2 3 4 5 6 7" Tiara mengabaikan pertanyaan Ria dan menghitung jumlah para preman yang tergeletak tidak berdaya diatas lantai.
"Tujuh lawan satu. Apa kalian sering menonton video XXX sampai memiliki ide untuk membuat tontonan gratis?" Tanya Tiara pada Ria.
Mendengar bahwa yang menerima panggilannya bukanlah orang yang dimaksud melainkan Tiara, Ria terkejut bukan main.
"Ba.. Ba.. Bagaimana mungkin!! Tiara!? Lalu dimana para premannya!?" Seru Ria terbata-bata.
"Kenapa? terkejut?" Tanya Tiara santai.
"Ria.. Ria, aku sudah berbaik hati ingin membantu dirimu mengetahui kebenaran yang tidak kamu ketahui. Tetapi kamu justru menolak kebaikan dari aku dan malah mengirimku ke para banjing*n tidak berguna ini. Kamu sudah membuat kesalahan yang teramat besar." Ucap Tiara.
"Tapi sudalah mari kita lupakan semuanya itu. Anggap saja aku sudah memberi kamu kesempatan meskipun pada akhirnya kamu sendiri memilih untuk menolaknya. Mulai sekarang semua rencana kalian sudah berakhir disini dan saranku sebaiknya nikmati saja permainan dariku." Lanjutnya dengan dingin lalu mengakhiri panggilan.
Setelah mematikan panggilan dari Ria, Tiara langsung menyuruh para preman itu pergi dari hadapannya. Namun sebelumnya, ia menggunakan salah satu identitas dari mereka untuk melakukan check in dan memesan sebuah kamar baru untuknya mengingat dirinya yang masih berada dibawah umur.
Tiara harus melakukan itu karena ia merasa Ria, Erni dan Gerald akan segera mendatanginya kembali ke kamar dimana ia disembunyikan untuk menghentikan semua rencananya.
Untuk mengantisipasi hal itu terjadi, Tiara akhirnya berpikir untuk memesan salah satu kamar hotel yang tidak bisa di jangkau dengan kekuatan uang milik Gerald. Yaitu dengan memesan kamar tipe presidential atau penthouse.
Kamar tipe tersebut biasanya berada di lantai teratas dari hotel A. Selain memiliki kamar yang sangat luas dan pemandangan yang begitu indah, perlengkapan terbaik pun disiapkan disana. Pastinya hal ini lebih memudahkan Tiara untuk melancarkan rencana pembalasannya.
Tiara tidak lagi memikirkan bagaimana Ria, Erni maupun Gerald akan mencari dirinya, karena yang pasti jika ia sudah menjadi tamu penthouse room maka secara otomatis informasi tentang dirinya akan di rahasiakan dari siapa pun yang bertanya.
Berada di dalam kamar berharga mahal itu, Tiara akhirnya mulai memfokuskan dirinya pada sebuah laptop yang ia minta kepada staf hotel untuk dipersiapkan. Jari-jemari tangannya mulai menari-nari diatas keyboard dengan cepat seperti halnya ia meretas suatu sistem pada umumnya.
Ya, Tiara berencana untuk membobol ponsel milik Ria melalui nomor yang digunakan untuk menelfon para preman tadi dan mencari informasi apa pun yang mencurigakan di dalamnya. Ia sangat yakin Ria pasti memiliki sebuah rahasia yang di sembunyikannya dengan baik selama ini.
Jika ia berhasil menemukan rahasia itu maka rencana pembalasan pun akan jauh lebih menarik dari rencana awalnya.
Setelah beberapa lama kemudian, Tiara akhirnya berhasil menembus sistem dan melihat log panggilan keluar maupun masuk yang ada di ponsel Ria. Dari sekian banyaknya panggilan yang dilakukan, ada salah satu nomor yang akhirnya menarik perhatian Tiara. Nomor tersebut tidak tersimpan dengan nama apapun namun sangat sering melakukan panggilan dengannya bahkan hingga larut malam sekalipun.
Selain dari panggilan itu, Tiara mencoba menelusuri nomor yang sama dalam pesan singkat juga aplikasi chat yang biasa digunakan oleh Ria. Sayang, setelah mengecek semuanya, ia tidak menemukan apapun disana. Akan tetapi hal tersebut lantas tidak membuat Tiara menyerah. Ia tetap yakin jika Ria dan sang pemilik nomor tanpa nama itu saling bertukaran pesan, namun ada kemungkinan besar pesannya langsung di hapus oleh Ria.
Tiara akhirnya memutuskan untuk melakukan restore data atau pengembalian semua pesan-pesan yang sudah dihapus. Meski membutuhkan sedikit waktu lebih lama namun tidak menyurut rasa penasaran Tiara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
-----
Disisi lain, Ria yang menyadari bahwa Tiara sudah mematikan panggilan secara sepihak itu pun mulai merasa tidak tenang. Ia lalu berjalan menghampiri Erni dan Gerald yang tengah asik berbincang dengan para tamu undangan.
"Ada yang ingin aku katakan." Bisik Ria ke telinga Gerald, tanpa ia sadari Erni sedang menatap dingin padanya.
"Ada apa sih?" Jawab Gerald risih, tidak suka jika dirinya di ganggu saat sedang asik mengobrol.
"Ini tentang Tiara." Ucap Ria.
Seketika Gerald berubah ekspresi kala mendengar bahwa Ria ingin membicarakan tentang Tiara. Ia kemudian berpamitan dengan tamu undangan yang berbincang dengannya tadi dan mengikuti kemana Ria membawanya pergi. Tak terkecuali Erni yang juga diajak serta oleh Ria.
"Ri, ada apa sih sampai kamu membawa kami kesini?" Tanya Erni penasaran.
"Iya. Cepat katakan ada apa dengan Tiara? Apa dia sudah sadar?" Sambung Gerald tak kalah penasaran.
"Iya, Tiara sudah sadar." Ria menjawab rasa penasaran mereka.
Mendengar jawaban yang diberikan Ria, baik Erni maupun Gerald sama-sama menyeringai senang. Keduanya mulai berpikir bahwa mereka akhirnya bisa memulai rencana keji mereka terhadap Tiara setelah menunggu lama.
"Kalau begitu bagus dong, kita bisa memulai rencananya sekarang." Ujar Erni semringah.
"Aku sependapat sama Erni. Sebaiknya kita mulai sekarang agar semua orang bisa menontonnya." Sambung Gerald membuat Erni tersenyum senang dalam hatinya.
Tanpa mencurigai apapun diantara mereka, Ria hanya bisa menghela nafas panjangnya melihat bagaimana sang sahabat dan kekasih hatinya itu sangat bersemangat untuk menyaksikan kehancuran Tiara, sama seperti dirinya.
"Itu adalah inti permasalahnya kenapa aku memanggil kalian kesini." Ujar Ria, mendapat tatapan bingung dari keduanya.
"Aku baru saja menelfon salah seorang preman itu untuk menanyakan keadaan Tiara, ternyata orang yang mengangkat telfonnya bukanlah dia melainkan Tiara sendiri." Lanjut Ria dengan serius.
"APA!?" Seru Erni dan Gerald bersamaan.
"Iya." Ria menganggukkan kepalanya mengiyakan keterkejutan mereka. "Aku tidak tahu apa yang sudah Tiara lakukan ke preman-preman itu tapi yang pasti, dia sempat mengancam aku kalau rencana kita sudah berakhir dan sekarang giliran dia untuk bermain."
__ADS_1
Perkataan Ria tersebut sontak saja membuat Erni dan Gerald semakin terkejut.
"Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia meloloskan diri dari para preman itu?" Ucap Gerald di tengah keterkejutannya.
"Iya. Ada sekitar tujuh orang preman yang di bayar untuk memperkosa dia, lalu bagaimana bisa dia menerima telfon kamu dan mengancam kita seperti itu?" Sambung Erni, masih belum mempercayai pendengarannya sendiri.
"Aku juga tidak tahu tentang itu. Tapi aku yakin Tiara pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membalas semua perbuatan kita padanya." Ria berpendapat. Ia masih merasa tidak tenang mendengar ancaman Tiara yang terus saja mengiang di telinganya.
Mendengar pendapat Ria tersebut, Erni dan Gerald pun menyetujuinya. Karena menurut mereka, Tiara tidak mungkin membiarkan mereka lepas begitu saja setelah mengetahui semua rencana buruk mereka padanya.
Sesuai dugaan Tiara, Gerald membuat keputusan agar mereka pergi ke kamar dimana Tiara berada dan menghentikan semua rencananya sebelum terlambat. Keputusan itu pun langsung mendapat anggukan persetujuan dari kedua orang kekasihnya itu.
Ria, Erni dan Gerald akhirnya bergegas dari aula menuju kamar dimana Tiara dan para preman itu berada. Namun setibanya mereka disana, keterkejutan pun meliputi ketiganya. Mata mereka sama sekali tidak mendapati siapapun ada di dalam kamar tersebut. Entah itu Tiara maupun para preman yang sudah mereka bayar.
"Sial, kemana perginya mereka?" Hardik Gerald kesal.
"Jangan-jangan para preman itu sudah membawa Tiara pergi dari sini." Celetuk Erni.
"Membawanya pergi? Sepertinya tidak mungkin. Tiara sudah pasti berhasil berbuat sesuatu terhadap para preman itu sehingga tidak ada yang berani menghentikannya saat menerima panggilan." Ucap Ria tidak setuju.
"Tapi Ria, Tiara itu hanya seorang anak perempuan biasa seperti kita. Tidak mungkin dia berbuat sesuatu pada 7 orang preman itu apa lagi sampai mereka takluk padanya. Saya sendiri, ketika pertama kali melihat wajah mereka saja sudah ketakutan, apa lagi seorang Tiara?" Tutur Erni tak mau kalah dari Ria.
"Tapi kamu itu bukan Tiara. Kamu tidak bisa menyamakan diri kamu dengan Tiara. Kita harus bisa berpikir dari kemungkinan terburuk sekalipun." Balas Ria mempertahankan pendapatnya.
"Sudah cukup!" Hardik Gerald menghentikan mereka.
"Sekarang bukan waktunya kita untuk berdebat mempertahankan pendapat masing-masing. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar kita menemukan Tiara." Lanjut Gerald.
Dengan terpaksa, Ria dan Erni pun menutup mulut mereka setelah mendapatkan hardikan dari Gerald. Keduanya sama-sama tidak berani membantah perkataan laki-laki yang berdiri di hadapan mereka itu.
"Sekarang kalian ikut aku. Kita temui manajer hotel dan minta agar dia menunjukan rekaman CCTV padanya kita." Ucap Gerald lalu melangkah keluar dari kamar.
"Rekaman CCTV? Tapi mereka tidak bisa menunjukannya begitu saja hanya karena kita memintanya." Ujar Ria sambil mengikuti langkah kaki Gerald dari belakang.
"Tinggal bilang saja kita telah kehilangan seseorang dan ingin mengecek dimana terakhir kalinya dia terlihat." Balas Gerald yang kemudian membuat Ria berhenti berargumen dengannya.
-----
Kembali lagi di penthouse room, wajah tiara terlihat sangat berseri setelah berhasil menemukan apa yang diinginkan olehnya. Dugaannya sangat tepat mengenai Ria yang memiliki rahasia tersembunyi. Bagaimana tidak, seperti nomor ponsel yang ditemukannya dalam log panggilan Ria, setelah ditelusuri lebih jauh, Tiara akhirnya menemukan sesuatu yang cukup membuat dirinya terkejut.
Nomor tersebut adalah milik dari kakak laki-laki Gerald yang diketahui bernama Gevan. Gevan bertemu Ria satu tahun yang lalu di kota S saat sedang melakukan perjalanan bisnis dan hubungan keduanya berlanjut setelah mereka saling bertukaran nomor telfon.
Dari pesan-pesan yang sudah di hapus oleh Ria, setelah melakukan restore, Tiara menemukan beberapa isi pesan singkat dimana Ria dan Gevan setiap bulannya bepergian ke kota K untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka. Kira-kira 3 sampai 4 hari dalam sekali bepergian.
Tiara tidak tahu bagaimana Ria bisa bertemu dengan Gerald dan menjalin hubungan dengannya namun yang pasti, Tiara yakin jika Ria memacari Gerald untuk menutupi hubungannya bersama Gevan. Dan lagi Ria melakukannya karena ingin menjadi bagian dari keluarga Gerald agar bisa terus bersama Gevan.
Tiara bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju balkon kamar. Ia memandangi pemandangan kota H di malam hari dan menghirup udara dingin yang menyejukkan tubuh. Kini gilirannya untuk membalas semua perbuatan Ria, Erni dan Gerald padanya. Namun sebelum itu ia ingin menghubungi Luka terlebih dahulu untuk memberitahu tentang keberadaan dirinya.
Tiara yakin Luka pasti sedang mengkhawatirkan dirinya. Ia tidak ingin membuat kekasihnya itu lebih khawatir lagi meskipun ia tahu Luka pasti sudah membaca email darinya.
Tiara berjalan masuk kembali ke kamar dan mengambil ponsel untuk menghubungi Luka. Sebelum ia sempat melakukannya, ponsel miliknya itu berdering menampilkan nama Luka disana.
'Cih, kebetulan kah?' Tiara membatin senyum lalu menggeser layar ponsel tersebut untuk menerima panggilannya.
"Ha..."
"Hallo, Tiara, Kamu dimana? Kamu tidak apa-apa kan? Apa kamu terluka? Apa mereka menyakitimu? Apa mereka melukaimu? Apa mereka..." Luka menyanggah perkataan Tiara dan langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan.
Mendengar bagaimana Luka begitu khawatir padanya, Tiara merasa terharu dan menitikan air mata. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membuat kekasihnya itu khawatir bahkan para sahabatnya yang sampai sekarang belum berhenti mencari keberadaan dirinya.
"Aku tidak apa-apa. Aku merindukanmu." Tangis Tiara pecah seketika. Entah kenapa ia merasakan dadanya terasa sakit kala mengetahui Luka begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Aku juga merindukanmu. Kamu dimana sekarang? Cepat beritahu aku!" Seru pria tampan berkemeja hitam itu di balik matanya yang berkaca-kaca. Mendengar suara tangisan Tiara hanya akan membuat hatinya semakin terluka.
"Aku di kamar 2096." Jawab Tiara.
"Penthouse? Oke, tunggu aku disitu." Ucap Luka langsung berlari menuju lift tanpa mematikan panggilan.
Setibanya Luka di lantai atas dimana kamar Tiara berada, tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu dan berlari memeluk erat tubuh Tiara yang memunggungnya setelah melihatnya berdiri di dekat jendela.
Tiara sama sekali tidak merasa terkejut karena ia tahu kehangatan yang dirasakan olehnya itu datang dari laki-laki yang sangat ia sukai. Ia kemudian membalikan badannya menghadap Luka dan membalas pelukan hangat tersebut sambil menangis sedu.
"Maafkan aku, aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu." Keluh Luka.
"Tidak, ini bukan salah kamu. Aku yang bersalah karena membuat kamu khawatir." Ujar Tiara tidak ingin Luka menyalahkan dirinya. Bagaimanapun juga, di matanya Luka adalah sosok yang sudah sempurna untuk melengkapi dirinya.
"Mengkhawatirkan kamu adalah tugas aku sebagai seorang pacar. Jadi kamu tidak bersalah disini. Aku yang bersalah karena belum bisa menjamin keselamatan kamu."
Perkataan Luka sontak membuat Tiara tersenyum malu dan menelungkup wajahnya di dada bidang Luka. Ia tidak menyangka Luka akan mengatakan hal yang mampu membuat hatinya berdebar tak menentu.
__ADS_1
Melihat bagaimana aksi Tiara menyembunyikan wajahnya, Luka tersenyum senang. Ia mengelus lembut rambut panjang Tiara dan sekali lagi mengeratkan pelukannya seakan ingin mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan Tiara menghilang lagi dari hidupnya.
Setelah keduanya merasa sudah cukup untuk melepaskan semua kekhawatiran dan kerinduan yang ada di dalam hati mereka, Luka akhirnya bertanya pada Tiara apa yang sudah terjadi selama beberapa jam terakhir.
Tiara pun kemudian menceritakan semua yang terjadi tanpa melewatkan apapun. Mulai dari seseorang yang memukul tengkuknya dari belakang lalu membawanya kesebuah kamar dan ditemani para preman bayaran untuk memperkosa dirinya.
Disaat menceritakan semua rencana Ria, Erni dan Gerald pada Luka, Tiara tidak bisa membohongi dirinya jika ia masih merasakan sedikit ketakutan andai saja semua rencana mereka berhasil.
Aura gelap Luka seketika terasa di seluruh ruangan manakala sepasang telinganya mendengar bagaimana ketiga orang itu berencana untuk menghancurkan kehidupan Tiara. Ia berjanji pada Tiara untuk membalas semua perbuatan mereka namun sebelum ia melakukan itu Tiara menghentikannya.
"Kenapa kamu menghentikan aku?" Tanya Luka sesaat setelah Tiara mengambil ponsel miliknya ketika ia hendak melakukan panggilan.
"Kamu tidak perlu melakukan itu karena aku sendirilah yang akan membalas perbuatan mereka." Jawab Tiara.
"Tapi aku ingin membantumu." Ujar Luka.
"Kamu sudah membantu aku. Kamu lupa, bagaimana susahnya kamu berlari menaiki anak tangga menuju lantai 4 dan turun lagi menuju lantai 1?" Ucap Tiara sambil melempar senyum ejekan.
Mendengar itu, wajah Luka berubah merah. "Itu kan hanya,.."
"Intinya kamu sudah membantu aku. Sekarang kita jadi punya tiga bukti untuk menghancurkan mereka." Sanggah Tiara pada perkataan Luka.
"Tiga?" Tanya Luka penasaran. Seingat dirinya bukti yang mereka miliki hanya ada satu dimana sebuah video yang mereka di ambil mereka di hotel Kristal. Lalu kedua bukti lainnya apa? Luka bertanya penasaran dalam hatinya.
"Iya tiga. Salah satunya adalah video mengenai Gerald dan Erni yang berselingkuh di belakang Ria dan kedua tentang Ria yang merupakan selingkuhan dari kakak laki-laki Gerald, Gevan."
Seketika Luka terdiam seribu bahasa karena terkejut. Ia tidak tahu dari mana Tiara mendapatkan dua bukti lainnya tapi mengenai Gevan yang berselingkuh dengan Ria membuatnya berpikir bahwa ia tidak perlu lagi turun tangan untuk menghancurkan keluarga Gerald karena kehancuran datang akibat perbuatan kakaknya sendiri.
"Gevan berselingkuh dengan Ria?" Tanya Luka penasaran.
"Iya. Kamu kenal Gevan?" Tiara balik bertanya.
"Aku tidak mengenalnya. Hanya sekedar tahu bahwa dia menikahi putri dari pengusaha kaya dua tahun yang lalu untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut." Jawab Luka.
"Pernikahan politik?"
"Yah, bisa jadi seperti itu." Jawabnya lagi.
"Kalau begitu habis sudah keluarga Gerald jika keluarga wanita itu mengetahui Gevan berselingkuh di belakang putri mereka." Ucap Tiara.
"Iya itu benar." Sambung Luka.
Wajah Tiara kembali menampakan kebinaran. Meskipun ia tahu bukti miliknya sudah cukup untuk menghancurkan Ria, Erni dan Gerald dimata orang-orang yang mengenal mereka tapi tidak di sangka jika efeknya akan sangat buruk untuk keluarga Gerald.
"Itu setimpal dengan perbuatan Gerald. Rencananya untuk menyakiti kamu sangat membuatku ingin menghancurkannya lebih dari itu." Ucap Luka sambil menatap tajam wajah Tiara.
"Oke, kalau begitu mari kita mulai sekarang." Tiara berkata.
"Ayo kita turun." Luka menarik tangan Tiara.
"Aku tidak akan turun. Yang turun adalah kamu." Tiara menghentikan langkahnya.
"Aku? Terus kamu?" Tanya Luka bingung.
"Iya kamu. Aku akan melakukan pembalasannya dari sini. Aku membalas mereka dengan cara yang sudah mereka rencanakan untukku."
"Maksud kamu dengan melakukan siaran langsung?" Tanya Luka lagi.
"Iya. Karena itu aku ingin meminta bantuanmu lagi." Ucap Tiara dengan senyuman manis.
Sejenak Luka terdiam memandang wajah Tiara begitu juga Tiara yang terus memandangnya menantikan jawaban. Luka berharap Tiara tidak memintanya melakukan hal gila lainnya lagi.
"Baiklah. Apa yang kamu ingin aku lakukan?" Luka menyerah kedua kalinya sambil menghela nafas panjang.
"Aku ingin kamu turun ke aula dan pergi menemui operator. Lakukan apa saja padanya agar tidak menghalangi aku menayangkan videonya. Aku yakin Gerald pasti sudah membayarnya untuk menayangkan video rencana mereka padaku tadi." Tutur Tiara.
"Oke." Jawab Luka lalu mendaratkan sebuah kecupan di kening Tiara dan berlalu pergi.
"Dasar swiper!" Ledek Tiara pada Luka yang sudah dua kali mencuri ciuman darinya.
Sesampainya Luka di aula, ia mulai menemui operator acara dan mengancamnya. Setelah memastikan semuanya aman, Luka akhirnya mengabari Tiara kembali untuk segera melakukan rencananya. Namun sayang sebelum ia sempat melakukan itu, sebuah kehebohan lain terjadi di dalam aula dan menghentikan rencana mereka.
-----
Catatan Author :
Sebelumnya author mau mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin dan Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk para readers Tiara : Queen of Boulevar yang merayakan.
Maaf juga harus menunggu lama. Author baru bisa up hari ini karena HP author rusak total semalam sebelum lebaran. Jujur nangis dua hari berturut-turut bukan karena hp-nya tapi karena author tidak bisa ngerjain novel.
__ADS_1
Sebenarnya bisa aja sih author lanjutin ngerjain novelnya pake hp yang lain kayak sekarang, tapi sumpah ngeblank total otaknya. Mungkin karena semua ide tentang novel ini sudah author tuangkan di hp itu jadi kalau ganti hp lain rasanya tidak sama.
Tapi sudahlah apa mau dikata, mungkin hp-nya minta diganti sama yang baru hehe. Selamat membaca semuanya. Maaf kalau ceritanya tidak sesuai harapan karena author masih mencoba menyesuaikan.