Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#69 Kucing dan Tikus


__ADS_3

"Ayo semuanya. Kenapa kalian semua berkumpul disitu?" Tanya Stacy bingung setelah melihat semua murid tidak lagi berdiri pada tempat mereka.


Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi setelah ia meninggalkan mereka dan menerima telfon dari kepala sekolah.


"Cepat semuanya kembali ke tempat kalian masing-masing. Bagi murid yang mendapat hukuman tadi tidak ada yang berani bertukar tempat." Tegasnya.


Para murid tidak berani membantah Stacy setelah mendengar apa yang di katakan olehnya apa lagi ekspresi yang ditunjukan oleh Stacy. Mereka memilih kembali kepada posisi mereka masing-masing.


"Yuk kita kesana." Cassan mengajak Lia.


"Hayu.."


Lia dan Cassan kembali ke kerumunan begitu juga dengan Tiara dan Alda. Alda malu tak ingin mengangkat wajahnya karena pipinya membengkak dan matanya begitu sembab. Ia juga mengabaikan Reno yang bertanya tentang keadaannya.


"Al, gak apa-apa gak usah khawatir. Kamu kan lagi sama aku jadi gak ada orang yang berani ngatain kamu." Ucap Tiara menyakinkan sahabatnya yang kehilangan semangatnya itu.


"Kamu lagi ngehibur aku ya?" Tanya Alda pada Tiara.


"Enggak ah kata siapa? Aku hanya bicara kenyataannya saja. Kalau kamu jalan sama aku yang ada orang hanya akan memandang iri sama kamu. Secara aku kan terkenal di Boulevar." Tiara menggoda Alda dengan sedikit menyombongkan dirinya berharap sahabatnya itu terhibur.


"Haha iya juga ya. Tiara nya kami kan terkenal sekali se Boulevar High School." Sambung Alda tertawa lepas melepas semua kesedihan dalam dirinya membuat Tiara ikut tertawa.


Tiara merasa senang. Kebahagiaan yang di rasakan oleh sahabatnya itu telah memberinya kekuatan baru untuk mendapatkan informasi mengenai Cassan.


Selama para murid berkumpul kembali, Stacy terlihat memarahi para anggota OSIS karena tidak becus dalam menjalankan tugas mereka masing-masing. Tidak lupa ia juga memperingati mereka untuk tidak mengulanginya lagi.


Stacy menunjukan sikap profesionalnya di depan semua orang sebagai seorang ketua OSIS sehingga mendapat banyak pujian dari para murid baru. Begitu juga para penggemarnya menjadi bertambah dari hari ke hari.


"Baik semuanya silahkan kembali ke tugas kalian masing-masing." Stacy berkata pada anggota OSIS.


"Siap laksanakan." Jawab mereka kompak.


"Terima kasih kalian semua sudah mendengarkan saya. Sore ini kita akan melakukan sedikit kegiatan olah raga yaitu senam bersama." Ucap Stacy dibalik pengeras suara.

__ADS_1


Di sore hari itu semua murid bersemangat mengikuti senam yang di pimpin oleh Winwin. Lekukan tubuh seksinya yang di balut dengan pakaian ketat membuat para siswa menjadi berapi-api. Tidak ada yang mengerti betul bagaimana indahnya surga yang sedang mereka nikmati itu.


Disisi lain tatapan tidak suka datang dari seorang wali kelas. Dia adalah Irma, wali kelas B. Dari dulu ia begitu tidak menyukai Winwin karena Winwin selalu lebih di bandingkan dengan dirinya.


Karena Winwin mengetahui hal itu dengan baik, ia justru semakin menunjukan kelebihan yang dimilikinya di depan Irma membuat Irma terkadang begitu jengkel dan membenci sosok Winwin.


Setiap kali melihat Irma kesal padanya, Winwin merasa hal itu merupakan hiburan baginya. 'Ketika musuhmu bisa menjadi hiburan bagimu kenapa tidak kamu nikmati saja.' Begitulah isi pemikiran yang selalu Winwin tanamkan dalam benaknya.


-----


Setelah menyelesaikan kegiatan olah raga di sore itu, semua murid di bebaskan untuk beberapa jam kedepan sebelum makan malam tiba.


Tiara dan teman setendanya terlihat sedang mengantri untuk mandi. Kamar mandi yang di sediakan tidak cukup untuk menampung begitu banyak murid. Dan terpaksa yang lain harus mengantri sesuai waktu kedatangan mereka.


"Kira-kira sebentar habis makan malam ada kegiatan apa lagi ya?" Tanya Fiona membuka percakapan diantara mereka.


"Aku harap sih gak ada lagi biar kita bisa bebas bercerita sampe larut malam." Jawab Billa sambil membayangkan seperti tidur bersama di rumah sahabat dan bercerita sampai larut malam.


"Iya kali bebas bercerita. Yang ada di tengah malam pun mereka bisa saja membangunkan kita untuk kegiatan." Sambung Teresia mendapat anggukan persetujuan dari Dea.


"Aduh berisik deh. Biasa aja dong. Lihat tuh yang lain pada ngelihatin kesini." Tegur Dea yang menutup kedua kupingnya dengan tangannya.


"Ya ma maaf, gak bermaksud." Sesal Fiona setelah tersadar telah membuat keributan.


"Emang benar ya kalau tengah malam mereka bisa saja bangunkan kita untuk kegiatan?" Tanya Billa penasaran.


"Itu yang biasa terjadi. Tapi berdoa saja yang banyak semoga enggak." Jawab Teresia.


"Ya Alloh semoga jangan ya. Aku pengen banget tidur nyenyak dan tepat waktu kalau tidak kulit aku bisa rusak." Fiona langsung memohon pada Tuhan dengan ekspresi berlebihan.


"Ih enggak banget deh. Tunggu beginian dulu baru kamu berdoa minta sama Tuhan." Billa mengejek Fiona.


"Apaan sih kamu, repot amat." Jawabnya.

__ADS_1


"Udah udah kalian berdua kayak kucing sama tikus aja deh." Dea berkomentar.


"Aku kucing." Fiona langsung menyambar.


"Enak aja. Aku yang kucing kamu tikus." Jawab Billa tak setuju Fiona menjadi kucingnya.


"Apa? Gak mau!! Intinya aku kucing dan kamu tikus titik gak pake koma."


"Ih gak mau gak mau. Aku yang kucing. Dasar tikus! Ih jijik tikus kan adanya di got ya." Billa kembali mengejek Fiona.


"Apa kamu bilang?"


"Ya ampun udah, berhenti, kenapa sih kalian berdua?" Teresia dan Dea dengan sigap langsung memisahkan keduanya sebelum menimbulkan pertengkaran hanya karena seekor kucing dan tikus yang wujudnya pun tak kelihatan berada sana.


Namun tidak di sangka-sangka, seiring berjalannya waktu Teresia dan Dea yang berniat mengeleraikan mereka pun justru ikut-ikutan dalam perkelahian itu.


Tiara dan Dewi hanya bisa menghela nafas panjang melihat bagaimana keempat orang di hadapan mereka saling mengeleraikan diri dari cakaran maut dan jambakan rambut andalan para wanita saat bertengkar itu.


Para siswi yang mengantri untuk mandi terpaksa harus menonton pertunjukan tersebut. Mereka melempar tawa melihat bagaimana kelucuan yang terjadi. Meskipun terlihat seperti pertengkaran namun kesan yang diberikan adalah pertengkaran persahabatan yang lucu dan menggemaskan.


Tak menjelang lama suara lembut Tiara terdengar. "Udah cukup." Ucapnya dengan santai mengehentikan mereka.


Dalam sekejap keempat orang tersebut berhenti dari olah raga tambahan mereka. Mereka lalu merapikan penampilan dan menata kembali rambut mereka.


Para siswi yang menonton kejadian tersebut merasa terkejut karena dua kata saja yang keluar dari mulut Tiara, keempat orang itu langsung menghentikan pertengkaran mereka.


Dimana menurut penglihatan mereka pertengkaran antara wanita seperti itu tidak bisa di selesaikan hanya dengan dua kata saja. Namun Tiara bisa melakukan bahkan tanpa menggerakkan tangannya sendiri.


Rasa kagum para siswi kepada Tiara semakin tak terbatas. Apa lagi para penggemarnya yang diam-diam memperhatikan semua tingkah lakunya.


Mereka merasa bahwa mereka tidak salah memilih Tiara sebagai idola mereka dan mendukungnya dengan penuh.


Jangankan para siswi disana saja yang terkejut, Dewi sendiri pun merasakan keterkejutan yang sama. Ia pun tidak menyangka Fiona, Billa, Teresia dan Dea akan mematuhi perkataan Tiara.

__ADS_1


Usut punya usut ternyata keempat orang tersebut merupakan penggemar Tiara sendiri. Tidak ada yang menyadari itu bahkan Tiara sekalipun.


Karena selama ini keempat orang tersebut selalu aktif di dalam grup kubu Tiara dengan menggunakan identitas samaran untuk menutupi identitas asli mereka.


__ADS_2