Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#98 Surat Undangan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makanan mereka di kantin, Lia dan Alda menemani Abie ke kamarnya untuk memindahkan semua barang-barang kepunyaan Abie sesuai permintaan Tiara. Mereka terpaksa mengikuti Abie untuk mengantisipasi agar Abie tidak di ganggu oleh ketiga teman sekamarnya. Dan pada akhirnya, kini Abie tinggal di kamar 111 dan menempati tempat tidur Cassan.


-----


Saat malam tiba, Tiara kembali fokus pada MacBook miliknya. Ia sibuk mengolahragakan jari-jari tangannya dengan cepat diatas keyboard tanpa memikirkan kedua sahabatnya yang tengah asik mengobrol bersama Abie.


"Ngomong-ngomong Tiara lagi ngapain ya?" Tanya Abie penasaran manakala matanya melihat Tiara fokus di depan laptop.


"Oh itu, kami juga tidak tahu." Jawab Lia sambil menatap kearah dimana Tiara duduk.


"Tidak tahu?" Tanyanya lagi dengan heran.


"Mm.. Tiara hanya mengetik bahasa dan kode-kode aneh yang aku dan Alda sendiri sama sekali tidak mengerti. Namun terlepas dari semua itu kami pun tidak pernah menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Tiara."


"Tidak pernah bertanya? Tapi kenapa?"


"Ya karena Tiara adalah si genius." Jawab Lia menunjukan senyum kekagumannya pada Tiara membuat Abie melotot terkejut mendengarnya.


Melihat ekspresi keterkejutan Abie, Alda tersenyum tipis. Ia berpikir Abie sangat polos untuk mengetahui tentang kebiasaan mereka dan memutuskan untuk memberinya penjelasan.


"Aku dan Lia selalu mencoba untuk memahami dan percaya pada Tiara sejak awal begitupun sebaliknya, Tiara. Oleh karena itu persahabatan kami seperti yang kamu lihat sendiri. Apa yang dilakukan oleh Tiara terkadang memang diluar dari nalar dan pengetahuan kami namun kembali lagi, kami tidak bertanya karena Tiara merupakan seorang yang genius. Levelnya untuk kami bertanya, sangat jauh terasa oleh karena itu yang hanya bisa kami lakukan adalah memahami dan mempercayainya saja." Berhenti sejenak untuk menyeruput minuman di tangannya.


"Banyak hal-hal yang sudah terjadi yang tidak bisa kami pahami dengan kemampuan kami ataupun hanya sekedar untuk memikirkannya. Seperti menemukan lokasi Lia dengan google earth, bukti rekaman yang tiba-tiba ada dan ternyata itu adalah hasil dari voice phishing, semua itu merupakan hasil nyata dari kegeniusan Tiara." Lanjut Alda menjelaskan.


"Dan yang terakhir artikel yang mengungkapkan tentang jati diri Cassan. Artikel itu di unggah menggunakan akun yang sama dimana digunakan Cassan untuk mengunggah video Tiara. Bukankah itu aneh? Dan lagi itu merupakan hasil nyata dari kegeniusan Tiara. Menurut kami, kamu tidak perlu bertanya untuk mendapatkan jawaban, cukup memahami seperti apa Tiara lalu percaya padanya. Dari sana kamu akan menemukan jawabannya." Ucapnya mendapat anggukan berkali-kali dari Lia.


Mendengar perkataan Alda, Abie akhirnya mengerti bagaimana persahabatan diantara Tiara, Lia dan Alda berjalan begitu akrab sehingga membuat semua orang merasa iri meskipun mereka belum lama mengenal satu sama lain.


Abie mulai bersemangat untuk mengikuti arahan dari Alda. Mencoba saling memahami diantara mereka dan percaya. 'Abie, kamu pasti bisa.' Batinnya dengan mata berkilauan.


-----


Keesokkan harinya di kantin sekolah, Tiara dan kedua orang sahabatnya sedang menikmati makan siang mereka tak terkecuali Abie yang mulai ikut bergabung bersama mereka.


Di pertengahan, Abie terkejut melihat Luka, Reno dan Saka menghampiri mereka dan duduk bersama di meja tersebut. Namun tidak dengan ketiga gadis cantik lainnya, mereka justru merasa itu adalah hal yang biasa saja.


"Hai semuanya." Sapa Reno dengan wajah sumringah yang kemudian di jawab oleh Lia dan Alda secara bersamaan.


"Hai Ren."

__ADS_1


Luka mengambil tempat duduk yang berhadapan langsung dengan kekasih hatinya, Tiara, sementara Saka berdiri dengan tatapan kosong melihat Abie ada bersama calon kakak iparnya.


"Ngapain ini manusia kodok ada disini?" Tanya Saka kepada mereka sambil menatap tajam pada Abie.


"Siapa yang lo sebut manusia kodok, hah?" Sahut Abie tak kalah tajam menatap Saka.


"Ya elo lah siapa lagi emangnya. Orang yang suka bawa-bawa kodok di tasnya." Balas Saka.


"Lo tuh yang,..."


"Sudah-sudah kalian berdua. Gak dulu gak sekarang sama saja, berantem terus." Lerai Reno.


Tiara dan kedua sahabatnya menatap bingung pada Saka dan Abie begitu juga terhadap tingkah laku mereka.


"Tunggu, kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Lia penasaran.


"Enggak!" Jawab Abie dan Saka menolak kenal.


Melihat tingkah mereka, ketiga sahabat itu yakin jika Abie dan Saka sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka kemudiaan mengarahkan pandangan mereka pada Reno sebagai alternatif yang memberi mereka jawaban.


Merasa dirinya ditatap seakan hendak di terkam hidup-hidup, Reno akhirnya memberikan apa yang mereka inginkan.


"Mereka berdua,.. mm.." Perkataanya tidak dilanjutkan ketika mendapat tatapan tajam datang dari Saka dan Abie secara bersamaan. "Huh, gue gak tahu. Jangan tanya gue.."


"Katakan!" Seru Tiara.


"Ca ca calon kakak ipar, aku gak bisa kasih jawaban karena mereka,.." Ucapnya dengan bahasa sopan namun terbata-bata karena takut akan Tiara.


"Katakan!" Sanggah Tiara dengan dingin dan datar membuat Reno susah untuk menelan ludahnya sendiri.


Mendapat tatapan yang sama datang dari sampingnya, Reno menyerah dan hanya bisa menangisi nasibnya. 'Sial! Naga pasti berpikir; beraninya lo menolak permintaan pacar gue.' Batin Reno merinding menebak isi pikiran Luka saat ini.


Sesaat Reno berpikir. Jika ia memilih untuk mengikuti Saka dan Abie maka dirinya harus menanggung resiko yang datang dari Luka karena mengabaikan Tiara. Sementara dirinya sendiri tahu seperti apa Luka jika sedang marah.


"Mereka, mereka adalah saudara beda ayah beda ibu." Jawab Reno dengan cepat secepat kilat.


Keheningan terjadi untuk sesaat sebelum akhirnya Lia bersuara kembali.


"Jadi kalian saudara tiri, begitu maksudnya?" Tanya Lia mencoba memproses perkataan Reno.

__ADS_1


Dengan helaan nafas panjang, Abie menuturkan bahwa, "iya. Ayahnya dan ibuku saling menikah setelah pasangan mereka masing-masing meninggal dunia."


Mendengar itu, keadaan sekali lagi kembali hening. Tiara, Lia dan Alda menatap tidak percaya pada Abie maupun Saka karena tidak disangka-sangka oleh mereka, ternyata Abie yang mereka tolong dan ajak untuk tinggal sekamar adalah saudari tiri Saka.


"Mm, ya sudah lupakan semuanya itu. Sekarang kita lanjut makan dan kalian silahkan pesan makanan kalian." Ujar Alda pada ketiga cowok tersebut. Sekaligus mencoba mengembalikan suasana canggung yang ada.


Setelah keadaan kembali normal, Reno menuturkan bahwa ia mendapat sebuah surat undangan pesta ulang tahun dari seorang teman yang ia kenal dan memintanya untuk mengajak serta para sahabat-sahabatnya.


"Surat undangan?" Tanya Alda penasaran sesaat setelah Reno selesai mengatakannya.


"Iya. Surat undangannya dikasih untuk orang yang dia kenal dekat saja. Sekaligus minta supaya kami mengajak teman atau sahabat lainnya ikut bergabung dan memeriahkan acaranya." Jelas Reno.


"Oh.. jadi kamu mau mengajak kami ke pesta itu?" Tanya Alda lagi yang kemudian di angguk setuju oleh Reno.


Alda memandang Tiara untuk mendapatkan jawaban begitu juga Lia dan Abie. Mereka tidak akan menjawab Reno sebelum Tiara memberikan jawabannya.


Merasa semua orang memandangnya untuk mendapatkan jawaban, Tiara berhenti mengunyah dan menjawab mereka, "aku akan pergi jika Luka juga berada disana."


Mendengar jawaban Tiara, kelima orang lainnya merasa heran namun dengan cepat mereka mengarahkan padangan pada Luka untuk mendapatkan jawaban darinya.


"Aku juga akan pergi jika Tiara berada disana." Jawab Luka kembali membuat keheningan terjadi di antara mereka.


"Jadi jawabannya apa? Kalian mau pergi atau tidak?" Tanya Reno dengan heran terhadap kedua pasangan dihadapannya itu.


"Pergi." Jawab Tiara dan Luka sama-sama dingin.


"Yes..." Seru Lia, Alda dan Abie bersamaan. Kebahagiaan ada diantara mereka karena mereka ingin sekali pergi berpesta setelah beberapa lama terkurung di dalam asrama.


"Oke bagus. Acaranya besok malam jam tujuh di hotel A. Dia yang akan mengirimkan mobil untuk menjemput kita." Ucap Reno, "dan untuk dress code sendiri, terserah dari kalian. Selama itu gaun atau dressnya cocok untuk kalian kenakan."


"Tunggu dulu." Sela Lia. "Maksudnya, orang yang berulang tahun akan mengirimkan mobil untuk menjemput kita di asrama, begitu?" Tanyanya memastikan pendengarannya sekali lagi.


"Iyap dan diantarkan pulang juga." Jawab Reno.


Lia dan Alda menatap tidak percaya mendengar perkataan Reno. Bagaimana tidak, jika orang tersebut memiliki banyak teman dekat lalu bagaimana dengan mobil yang disediakan?


"Gila gila, apa dia anak orang kaya?" Tanya Alda penasaran.


"Iya tentunya. Tapi tidak sekaya Luka." Jawab Reno, sekali lagi membuat Lia dan Alda terkejut. Termasuk Tiara yang mengalihkan pandangannya langsung menuju Luka.

__ADS_1


Tiara tidak terkejut dengan latar belakang Luka. Dari awal ia sudah berpikir bahwa Luka bukan orang yang berasal dari keluarga biasa saja. Namun ia tidak mencaritahunya lebih lanjut karena itu hanya akan membuat dirinya terlihat seperti mementingkan status seseorang.


Tiara berpikir akan lebih baik jika Luka secara pribadi memberitahu dirinya tentang latar belakangnya tersebut.


__ADS_2