
Aura hitam telah memenuhi seluruh wajah Stacy apa lagi saat Cassan menatap padanya. Ia merasakan adanya penghinaan di balik tatapan mata Cassan.
Namun sesungguhnya Stacy tidak begitu peduli dengan Cassan karena menurutnya Cassan hanya sedang beruntung saja mendapatkan satu nilai lebih diatasnya dan bukan jenius Boulevar sesungguhnya.
Stacy mengembalikan tatapan Cassan dan tersenyum sinis padanya. Tentu senyuman itu tidak membuat seorang Cassan bodoh dalam mengartikannya.
Stacy pasti sedang mengejeknya karena hanya mendapat satu nilai lebih diatas nilainya. Kalau bukan keberuntungan sedang memihak padanya ia tidak mungkin mencetak rekor menggantikan nama Stacy.
Cassan mengembalikan pandangannya pada para murid. Ia tersenyum manis pada mereka sekaligus ingin mengetahui siapa yang berdiri dari tempat duduk itu dan menyusulnya ke atas panggung.
"Murid dengan nama Luka Naga Wangsa..," Doris menyebut kembali nama Luka.
Sekilas Cassan melihat ekspresi Stacy langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ia mengarahkan pandangannya kearah Stacy memandang.
Tak lama seorang siswa bangkit dari tempat duduknya. Semua mata memandanginya penuh kagum. Terutama kaum siswi yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Luka memiliki tinggi badan mencapai 180 cm dengan wajah sempurna bagaikan lukisan pahat.
Para siswi seketika merasa menyesal dan menyalakan diri sendiri karena tidak menyadari ada cowok setampan Luka di dalam ruangan sejak tadi dan menghirup udara yang sama.
"Ganteng bangettttt..." Kaum siswi menjerit-jerit seperti cacing kepanasan.
Luka keluar dari barisan tempat duduknya dan menuruni anak tangga menuju panggung.
Melihat luka turun dari sana Stacy menepuk kedua tangannya dengan keras tanpa melepas tatapannya dari Luka kemudian diikuti oleh keseluruhan orang dalam ruangan dengan meriah.
Cassan mengerti tatapan Stacy pada Luka berbeda dengan yang lain, penuh dengan ketulusan. 'Apa mereka pasangan kekasih?' Batinnya bertanya.
"Ganteng banget ya kayak oppa Korea." Seru Lia.
"Kamu suka oppa juga ya?" Tanya Alda pada Lia kemudian di jawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Sama dong aku juga. Aku suka Kim Woo Bin oppa." Alda memberitahu Lia dengan penuh semangat.
"Aku suka Lee Min Ho oppa." Lia kembali memberitahu Alda.
"Jangan bilang kita jatuh cinta sama mereka karena nonton..,"
"Drama yang sama." Lia memotong pembicaraan Alda.
"The Heirs." Ucap keduanya secara bersamaan lalu tertawa.
"Udah girls cukup. Song Joong Ki oppa ku lebih keren dari mereka." Tiara menghentikan keduanya.
"What!! Kamu suka oppa juga?" Tanya keduanya. Mereka tidak menyangka jika Tiara yang lebih banyak menunjukan ekspresi datar dan dingin pada orang-orang ini ternyata seorang fan girl seperti mereka.
"Ayo fokus, sekarang bukan waktunya kita omongin oppa." Sekali lagi Tiara menghentikan kedua sahabatnya itu. Kali ini mereka kembali memfokuskan diri.
Luka menaiki panggung dan berdiri jauh beberapa meter dari Cassan setelah membungkuk hormat kepada Doris dan guru-guru. Cassan melirik Luka dari samping namun Luka hanya menatap dingin kedepan.
Guru itu berjalan menuju Luka diikuti oleh seorang siswi berseragam detail hitam sambil membawa dua buket bunga.
Siswi itu menyerahkan buket bunga pada sang guru untuk di berikan pada Luka. Luka kemudian menerima buket tersebut dan mereka bersalaman. Ia berpindah menuju Cassan dan melakukan hal yang sama.
Ketika guru itu kembali ke tempat duduknya, Stacy berjalan mendekati mimbar. Ia berpikir pengumuman telah usai dan kini waktunya dia untuk kembali berdiri di atas mimbar dan menutup acara menyebalkan di matanya itu. Namun langkah juga niatnya dihentikan oleh Doris.
Stacy bingung dan malu secara bersamaan. Bingung kenapa Doris menghentikannya untuk menutup acara dan malu karena banyak pasang mata sudah melihatnya berjalan menuju mimbar.
'Bukannya pengumuman udah selesai?' Stacy bertanya dalam hatinya.
"Oke anak-anak, saya masih mempunyai satu pengumuman penting. Lebih penting dari yang sudah saya sampaikan." Ucap Doris melalui mic.
'Si kepala botak ini dia mau mempermalukan aku di depan semua orang ya?' Stacy bertanya lagi dalam batinnya.
__ADS_1
"Haha lihat kak Stacy. Dia kira pengumumannya udah selesai jadi dia mau tutup acaranya eh malah di hentikan sama kepsek." Alda tertawa girang melihat ekspresi Stacy.
"Haha ssstt.. Al, dosa tahu ngetawain orang terus." Ujar Lia sambil tertawa geli.
"Pengumuman berikut adalah PEMECAH REKOR di atas REKOR." Teriak Doris keras membuat geger satu ruangan.
DUARRRR
Semua orang terdiam mencoba memproses ucapan Doris.
"Pemecah rekor di atas rekor?" Seorang siswa bersuara cukup lantang.
"Berarti ada orang yang nilainya di atas 98 dong?" Sambung yang lain.
"Ada lagi yang pecahin rekor?" Tanya Alda.
"Iya sepertinya begitu. Kok jadi serem ya." Lia menyambung.
"...." Tiara.
"Iya ada lagi pemecah rekor yang sekarang. Seseorang dengan nilai di atas 98." Lanjut Doris mengabaikan keributan yang ada.
Para guru ikut bertanya-tanya penasaran siapa murid yang memiliki nilai diatas 98 tak terkecuali Cassan, Luka dan Stacy.
"Jantung saya berdetak cukup kencang saat ini. Saya tidak tahu sampai kapan saya bisa bertahan hidup karena merahasiakan ini selama beberapa hari terakhir." Curhat Doris sambil mengelus perlahan dadanya.
Seisi ruangan tertawa mendengar Doris melucu. Tak disangka-sangka kepala sekolah sepertinya melawak di hadapan para murid dan guru-gurunya.
Doris memberi kode lagi kepada operator dan JRENGGG sebuah nama baru muncul dari layar berukuran besar tersebut.
Nama : Tiara Queen A
__ADS_1
Nilai : 100