
Tiara memasang wajah cemberut karena Luka mempermainkannya. Namun setelah itu Tiara teringat akan hal lain.
"Kenapa kamu ketawa? Bukannya kamu juga suka sama aku?" Tiara bertanya pada Luka. Kemarin di telfon Luka mengatakan bahwa dia menyukai Tiara bahkan hari ini pun Luka mengatakannya lagi.
"Iya aku juga suka sama kamu. Suka banget malah."
"Apaan sih gombal banget." Tiara mengejeknya disambut tawa kecil dari Luka.
-----
Bus mulai berjalan keluar dari daerah perkotaan dengan kecepatan maksimal. Setiap bus di dalamnya di pandu oleh anggota OSIS yang sudah dibagi tugaskan masing-masing.
Kebetulan di dalam bus yang di tumpangi oleh Tiara dan Luka, di pandu oleh dua orang anggota OSIS yang berjiwa humoris sehingga mereka semua merasa terhibur satu sama lain.
Semakin jauh perjalanan, canda dan tawa yang awalnya terdengar begitu ramai kini perlahan mulai menghilang. Hampir semua murid yang menumpangi bus tersebut berada dalam mimpi mereka masing-masing.
Mata Tiara terus memandang keluar jendela, merasa terkesima oleh pemandangan tepi jalan di kota H. Melihat itu Luka tersenyum dalam hatinya membayangkan isi pikiran Tiara.
"Kamu suka pemandangan kota H?" Luka bertanya sedikit berbisik di tengah-tengah keheningan.
Tiara menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Luka. "Aku suka soalnya disini masih banyak hutan yang sangat dilindungi sementara di kota L, hampir semua lahan hijau udah gak ada." Keluh Tiara mengenai kondisi kota tempatnya berasal.
"Kalau kamu mau aku bisa ajak kamu keliling kota H." Ucap Luka hangat tak pernah melepaskan senyumnya di depan Tiara.
"Emangnya kamu hafal daerah sini? Bukannya kamu dari kota C?" Tiara bertanya karena merasa penasaran. Sepengetahuan Tiara, Luka berasal dari kota C karena Reno dan Saka pun berasal dari sana.
"Aku udah anggap kota H sebagai rumah kedua aku, jadi otomatis aku tahu banget daerah sini. Karena ibuku juga berasal dari kota kecil ini."
Mendengar bahwa ibu Luka berasal dari kota H, Tiara semakin merasa penasaran. Ia ingin sekali bertemu dengan ibu Luka karena menurutnya ibu Luka pasti sangatlah cantik mengingat Luka begitu tampan.
Pipi Tiara kembali merona membicarakan wajah tampan Luka. Tiara tidak menyangka ia begitu mudah jatuh hati pada ketampanan cowok berhati dingin di mata semua orang itu. Bahkan dengan mudahnya juga ia menyerahkan hatinya secara penuh.
__ADS_1
Meskipun di usia seperti Tiara dan Luka sangat sulit mengatakan bahwa perasaan diantara mereka disebut dengan jatuh cinta, namun Tiara yakin ia tidak akan menyukai cowok lain lagi selain Luka.
Disisi lain Tiara berharap ia tidak salah memberikan sepenuh hatinya pada Luka karena sejak kecil Tiara selalu bermimpi memiliki hubungan yang romantis seperti halnya Jonathan dan Viviane.
Jonathan dan Viviane saling di jodohkan oleh kedua orang tua mereka namun mereka juga saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
Meskipun Tiara menyadari bahwa dirinya dan Luka bukan di jodohkan seperti kedua orangtuanya tapi Tiara yakin pada perasaannya. Dirinya dan Luka sama-sama jatuh cinta pandangan pertama.
"Oh kalau gitu kapan kamu mau ajak aku keliling kota H?" Tanya Tiara lagi.
"Hmm kapan ya?" Luka pura-pura tengah berpikir namun kenyataannya ia sedang menggoda Tiara.
Tiara menatap Luka penasaran ingin mendengar jawaban darinya jadi ia sama sekali tidak memiliki ide jika Luka sedang menggoda dirinya.
Menyadari Tiara menatap dalam padanya, Luka merasa gugup namun dengan cepat ia membuang jauh-jauh rasa tersebut.
"Kapan? Kapan kamu mau ajak aku keliling kota H?" Tanya Tiara sekali lagi karena ia tak kunjung mendapat jawaban dari Luka.
"Aku mau ajak kamu keliling kota H kalau kamu udah jadi pacar aku."
-----
Melewati dua bus di depan bus yang ditumpangi Tiara dan Luka, Alda terlihat tidak tenang. Perutnya mulai terasa mual dan ingin muntah namun ia tidak mengatakan apapun pada anggota OSIS yang memandu mereka maupun Winwin yang berada di tempat duduk paling depan di samping supir.
Cassan mulai merasa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya namun ia tidak mengetahui apa itu.
Tidak lama kemudian sesuatu yang hangat terasa di sekujur tubuh Cassan. Alda memuntahkan semua makanan dalam perutnya ke badan Cassan membuat Cassan membeku tak percaya.
Baru saja Cassan merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya dan ternyata sesuatu tersebut adalah muntahan makanan Alda.
Suara muntahan Alda terdengar sangat menjijikkan sehingga menarik semua pasang mata para murid di dalam bus tertuju padanya dan Cassan tak terkecuali Winwin yang berada di depan.
__ADS_1
Winwin akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat duduk Alda dan Cassan. "Alda kamu muntah ya?" Tanya Winwin khawatir. Namun setelahnya ia terkejut melihat bagaimana tubuh Cassan di penuhi dengan muntahan.
Semua orang memandang jijik pada Cassan. Tidak ada yang menyalahkan Alda karena Alda terlihat begitu lemas setelah muntah.
Winwin kemudian menarik Alda dari tempat duduknya dan membawanya ke tempat duduk di samping pak supir. Winwin berpikir jika ia tidak memindahkan Alda kedepan, ada kemungkinan Alda akan muntah kembali.
Sebelum bangun, Alda melirik pada Cassan lalu memberinya senyuman licik sempurna. Dan Lagi Cassan terkejut. Ia akhirnya menyadari jika alda memuntahi dirinya dengan sengaja. Akan tetapi apa yang bisa dilakukan lagi olehnya sementara Alda tidak duduk bersamanya lagi.
Alda mengeluarkan ponselnya setelah mendapat sedikit perawatan dari Winwin. Alda mengetik pesan dan mengirimkannya pada Tiara.
Tiara yang sedang asik mengobrol dengan Luka tiba-tiba menghentikan pembicaraannya karena mendapat notifikasi dari Alda.
"Lapor! Mission complete.!" Tulis Alda.
Tiara tersenyum lebar membayangkan ekspresi wajah Cassan saat ini. Ia pasti dipandang jijik oleh seisi bus tapi apa yang bisa di lakukan olehnya.
Cassan tidak mungkin mengganti pakaiannya di dalam bus maupun menghentikan bus untuk sekedar membersihkan badannya di toilet umum. Terpaksa Cassan membiarkan badannya dalam kondisi bau hingga mereka benar-benar tiba di tempat tujuan.
Luka melihat Alda tersenyum setelah membaca pesan, membuat Luka merasa sedikit cemburu karena Tiara bertukar pesan dengan seseorang yang tidak ia ketahui sambil tersenyum lebar.
Merasa sesuatu yang berbeda datang dari Luka, Tiara langsung menyadari jika ia telah membuat Luka salah paham.
"Aku chattingan sama Alda." Ucap Tiara, melirik Luka yang memasang wajah cemberut disampingnya.
Luka langsung tertawa setelah mendengar perkataan Tiara. "Haha kenapa ngomongnya ke aku?"
Kini giliran Tiara yang cemberut. Ia berpikir Luka salah paham karena melihatnya chatting bersama orang lain sambil tersenyum, ternyata tidak.
'Apa cuma aku doang yang berharap lebih?' Tiara bertanya dalam dirinya.
Melihat Tiara cemberut Luka merasa bersalah. Luka malu karena Tiara bisa membaca isi pikirannya namun disisi lain ia juga merasa senang karena dengan begitu ia sudah menemukan seseorang yang cocok dengannya dan mengerti baik dirinya.
__ADS_1
"Maaf jangan cemberut lagi dong. Aku hanya malu karena kamu selalu bisa membaca isi pikiran aku. Dimana sisi kurang aku kayak aku cemburu kamu chat sama orang sambil tersenyum, khawatir kamu suka sama orang lain, bagi aku itu semua sisi memalukan dari diri aku." Jelas Luka pada Tiara.
Tiara mengerti perkataan Luka. Selama ini tidak ada orang yang bisa membaca isi pikiran Luka karena ia menyembunyikannya dengan baik di balik hati dinginnya. Namun siapa sangka ketika Luka bertemu Tiara, cewek yang disukainya, justru Tiara malah memahaminya dan mampu membaca isi pikirannya dengan tepat. Apalagi hal itu adalah sisi memalukan darinya.