Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#78 Menemukan Lia


__ADS_3

Tiara membungkukkan badannya lalu berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Cassan yang tergeletak di tanah seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya.


"Aku tidak meninggalkan Lia." Gumam Cassan dengan kalimat yang masih sama.


Tiara tidak menyangka jika teknik memberi tekanan pada emosional seseorang yang di pelajari-nya dari kelas mingguan keluarga Alexander membuahkan hasil pada Cassan.


Selama ini ia tidak pernah mempraktekannya pada siapapun sekalipun kepada para teman-temannya semasa SMP yang memperlakukan dirinya seperti ATM berjalan.


"Dengarkan ini baik-baik." Tiara berbisik pada Cassan. "Jika sesuatu terjadi pada Lia, aku akan menghancurkan mu dan seluruh keluargamu."


Alda, Luka, Reno dan Saka sama sekali tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh Tiara ke telinga Cassan. Mereka hanya bisa bertanya-tanya dalam pikiran mereka setelah melihat wajah syok Cassan saat ini.


"Baskara Grup kan?" Tanya Tiara. "Orang-orang tidak akan mendengar nama itu lagi dimasa mendatang. Jadi berdoa saja supaya tidak terjadi sesuatu pada Lia." Bisikkan dingin Tiara mengiang jelas di kedua telinga Cassan.


Ekspresi wajahnya saat ini tidak bisa di deskripsikan lagi dengan kata-kata. Hanya bisa menjelaskan bahwa Cassan syok dengan perkataan Tiara.


"Yuk pergi. Kita harus segera menemukan Lia." Ucap Tiara hangat berbanding terbalik dengan apa yang dikatakannya sebelumnya pada Cassan.


Kelima orang tersebut akhirnya pergi dari sana dan meninggalkan Cassan yang masih tergeletak syok di tanah. Tidak ada satupun dari mereka yang terlihat iba padanya. Sekalipun beberapa murid yang melihat kejadian tersebut.


'Dia bisa menghancurkan Baskara Grup?' Cassan membatin ketakutan. Seluruh badannya bergetar lemas seperti baru habis saja melakukan aktivitas yang menguras banyak tenaga.


'Memangnya siapa dia? Siapa dia yang bisa menghancurkan Baskara Grup?" Teriak Cassan tanpa mengeluarkan suara. Namun air mata tidak bisa membohongi perasaan ketakutan yang dimilikinya.


"Sebaiknya kita berlima saja yang pergi mencari Lia. Jika kita menunggu kekacauan ini selesai, aku yakin itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama." Ucap Tiara memberikan sarannya setelah melihat situasi di tempat kejadian.


"Iya aku khawatir Lia akan menunggu terlalu lama." Sambung Alda.


Perkataan kedua sahabat tersebut mendapat anggukan persetujuan dari Luka, Reno dan Saka. Mereka akhirnya pergi ke lokasi dimana Lia berada dengan bantuan Google Map dari ponsel Tiara tanpa sepengetahuan Stacy, Varno dan semua anggota OSIS lainnya tak terkecuali wali kelas mereka masing-masing.


"Tiara, kalau boleh tahu apa yang kamu bisikin pada Cassan tadi?" Tanya Alda penasaran selama perjalanan.


"Aku hanya memperingatkannya untuk berhati-hati jika sesuatu terjadi pada Lia." Jawab Tiara.


Tiara tidak mengatakan kebenarannya pada Alda karena belum saatnya bagi dirinya untuk mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya kepada sahabatnya itu.


"Apa sesuatu telah terjadi pada Lia?" Seketika Alda bertanya khawatir. Pikirannya mulai memikirkan hal yang bukan-bukan tentang Lia.


"Aku harap tidak." Tiara menjawabnya. Ia terlihat sedikit was-was mengingat sedari tadi titik lokasi yang menunjukan keberadaan Lia sama sekali tidak bergerak atau berpindah-pindah tempat.


Tiara khawatir jika mereka tiba dan hanya menemukan topi juga alat pelacak saja sedangkan Lia tidak berada disana.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa jauh mengikuti arahan Google Map, sampailah kelima orang tersebut di lokasi yang dimaksud. Mata mereka menangkap sosok Lia yang duduk sendirian dalam ketakutan sambil menitikan air mata.


Ada sakit di dada Tiara dan Alda melihat kondisi sahabat mereka itu. 'Syukurlah dia gak kenapa-kenapa' Tiara membatin lega setelah melihat Lia dari kejauhan.


"LIA." Alda berteriak kencang. Ia berlari kearahnya dan langsung memeluk erat Lia tanpa memikirkan hal lainnya lagi.


"Ya Tuhan terimakasih. Lia kamu gak apa-apa kan sayang." Alda menangis haru seperti seorang ibu yang menemukan kembali anaknya yang menghilang.


Lia kaget melihat Alda dan Tiara berada di depan matanya. "Alda, Tiara. Kalian,... Huaaaa.." Lia menangis kencang.


"Ini benar kalian? Aku gak mimpikan?" Lia langsung bangkit dari tanah diikuti oleh Alda dan keduanya saling berbagi pelukan bersama Tiara.


Berbeda dengan Lia dan Alda yang menangis dengan kencang, Tiara hanya bisa menitikan air mata harunya. Ia tidak terbiasa menangis seperti yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu karena ia mendapat pengajaran untuk menjadi perempuan kuat seperti seorang ratu layaknya nama 'Queen' yang di sematkan pada namanya.


Setelah melepaskan semua kekhawatiran dan rasa rindu mereka selama beberapa jam terpisah, Lia meminta mereka untuk segera kembali ke tenda. "Kita pulang yuk." Ucap Lia.


"Tunggu." Luka menghentikan niat Lia. "Ngomong-ngomong gimana kamu bisa sampe hilang kayak gini?" Tanya Luka penasaran setelah merasakan ada sesuatu yang menjanggal pikirannya.


"Iya Lia. Gimana ceritanya?" Sambung Tiara juga merasa penasaran.


Alda dan yang lain pun ikut menganggukkan kepala mereka. "Karena saat ini di tenda sedang sangat heboh membicarakan tentang kehilangan kamu." Alda berkata, menjelaskan kondisi sebenarnya paska menghilangnya Lia.


Lia terkejut mendengar perkataan Alda. Ia sempat berpikir bahwa orang-orang akan melupakannya, namun siapa sangka mereka semua justru menjadi sangat heboh dan ingin turun mencari keberadaan dirinya.


"Apa? Kamu masih mikir kalau Cassan lupa jalan? Lia, Cassan yang ninggalin kamu sendirian disini." Alda meninggikan suaranya, tidak menyangka dengan kepolosan Lia.


"Al, kamu gak boleh menuduh Cassan seperti itu." Lia membela Cassan.


Alda tercengang tidak mempercayai pendengarannya. 'Apa segitu percayanya Lia sama Cassan?' Alda membatin kesal.


"Alda tidak asal menuduh Cassan. Yang dikatakan Alda itu benar." Luka memotong dari samping. "Kalau misalkan Cassan melupakan jalan ke tempat dimana kamu menunggunya maka tidak mungkin dia menunjukan tempat yang berbeda pada saat kami mencarimu tadi." Luka berkata setelah mendengar cerita Lia.


Lia bercerita bahwa setelah Cassan menghilang ia sama sekali tidak berpindah dari tempatnya menunggu Cassan karena buruknya ingatannya dalam menghafal jalan. Ia takut jika ia mencoba mencari jalan pulang justru hanya akan membuatnya semakin tersesat. Jalan satu-satunya adalah Lia diam di tempatnya sampai Cassan membawa orang-orang datang untuk mencarinya.


Namun sayang pemikiran Lia tersebut justru membuatnya hampir tidak bisa ditemukan jika bukan karena Tiara dan alat pelacak yang terpasang di topinya.


"Apa maksud kamu Cassan menunjukan tempat yang berbeda?" Lia bertanya penasaran namun tidak bisa menutupi rasa kagetnya. Sedangkan disisi lain Tiara, Alda dan yang lain pun ikut merasa penasaran mendengar perkataan Luka. Mereka belum mendengar Luka menceritakan itu sebelumnya.


Luka akhirnya menjawab rasa penasaran Lia dan menceritakan semua kejadian dimana Cassan berlari dengan terengah-engah sambil berteriak memanggil nama Lia. Setelah mengatakan bahwa Lia menghilang, mereka memutuskan untuk membagi kelompok dan mencari keberadaannya.


Cassan menunjukkan pada Luka dan Rio tempat berbeda yang tidak berada jauh dari titik dimana mereka menunggu keduanya, "Pantas saja kami tidak bisa menemukanmu ternyata kamu berada disini. Disisi luar perkebunan dan bukan di tengah-tengah perkebunan." Luka mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


Tiara, Alda, Reno dan Saka kaget mendengar cerita tersebut. Terutama Lia yang begitu terpukul mengetahui kenyataan sebenarnya.


Lia hampir tertumbang dari pijakannya akan tetapi Tiara dan Alda dengan sigap langsung menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. "Bagaimana bisa?" Ucap Lia.


Air mata berderai membasahi kedua pipinya. "Bagaimana bisa Cassan melakukan itu padaku?" Ucap Alda lagi. "Apa selama ini semua kebaikannya hanyalah kepura-puraan semata? Aku pikir dia orang baik-baik dan menganggapnya sebagai temanku. Lalu, lalu kenapa,.." Lia mengehentikan perkataannya. Tak tahu harus mengatakan apa lagi.


Alda tidak mampu menahan lagi emosinya kala melihat kondisi Lia yang begitu terpukul. "Bukannya aku udah bilang dari awal kalau Cassan memiliki niat buruk pada kita? Dan sekarang kamu bisa lihat sendiri kan bagaimana dia memperlakukan kamu yang begitu baik dan begitu percaya sama dia." Ujar Alda melepaskan semua amarahnya yang terpendam.


Lia tersadar mendengar perkataan Alda. Karena kebodohan dirinya ia mengabaikan semua peringatan sahabatnya tersebut bahkan sampai menamparnya di depan semua orang.


"Al, maaffin aku. Aku menyesal karena tidak mendengarkan kamu sebelumnya." Lia kembali memeluk Alda masih dengan deraian air mata.


"Iya gak apa-apa. Intinya sekarang kamu udah tahu semua kebenarannya. Aku hanya bisa menyerahkan keputusannya padamu."


Lia menganggukkan kepala mengerti akan maksud dari perkataan Alda. Alda menyuruhnya untuk mengambil keputusan pada Cassan setelah apa yang sudah lakukannya. Mereka akhirnya kembali ke tenda.


Dan sesampainya disana mereka mendapati Stacy dan Varno sudah menggerakkan semua orang untuk mencari Lia. "Hei itu bukannya Lia?" Seorang berteriak setelah melihat sosok Lia diantara Tiara lainnya.


"Iya benar, itu Lia. Jadi dia sudah di temukan?" Sambung yang lain.


Semakin banyak para murid yang membicarakan tentang kembalinya Lia sehingga pembicaraan mereka terdengar sampai ke telinga Stacy dan Varno. Mereka tidak mengenal yang mana Lia dan hanya bisa memandang kearah dimana keenam orang tersebut berdiri.


PAAKKKK


Bunyian keras yang menjatuhkan Cassan ke tanah membuat semua orang memandang kaget dengan apa yang terjadi.


Tatapan mata penuh kebencian yang di tunjukan oleh Lia membuat Cassan meringkuk tak berdaya. "Li Lia..." Ucapnya terbata-bata sambil meneteskan air mata.


"Apa? Kamu kaget karena aku bisa ditemukan?" Lia menarik jaket Cassan agar ia berdiri.


"Aku senang,.."


PAAKKKK


Bunyian keras kedua kembali terdengar di semua telinga para murid. Dan lagi Cassan tersungkur kembali ke tanah. Lagi Lia menarik jaket Cassan dan membuatnya berdiri tegak di hadapannya.


"Kamu senang aku bisa ditemukan? Iya begitu?" Tanya Lia lagi, merasa muak melihat akting Cassan. Ia masih belum menyangka Cassan sejahat itu padanya.


"Semuanya lihat orang ini." Teriak Lia. "Dia yang sengaja ninggalin aku di tengah hutan."


Sudah terjatuh tertimpa tangga pula. Sudah di permalukan dibeberkan juga kebusukannya. Itulah nasib Cassan sekarang.

__ADS_1


Semua orang memandang hina pada Cassan yang terlihat berantakan setalah mendapat tamparan di kedua pipinya.


__ADS_2