
Tiara dan yang lain terpaksa harus kembali ke tenda mereka masing-masing setelah mendapat teguran dari anggota OSIS. Sebelum benar-benar terpisah Luka berhenti sejenak untuk mengatakan sesuatu pada Tiara, "Jangan lupa makan yang banyak ya."
Mendengar itu Tiara tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya seperti seorang anak kecil lalu pergi dari sana.
----
Alda tidak tahu bagaimana ia harus bersikap sekembalinya ia ke tenda dan mendapati Cassan sedang menikmati sarapan paginya. Masih ada rasa kesal bercampur benci terselip di dalam dirinya ketika melihat wajah Cassan.
Ahli-ahli membuat keributan, Alda memilih untuk mengabaikan cassan. Ia mengambil kotak sarapannya kemudian menghampiri keempat teman setenda lainnya yang sejak awal terlihat tidak ingin duduk berdekatan dengan Cassan.
"Alda kamu gak apa-apa?" Tanya salah seorang dari keempatnya.
Mereka sudah menyaksikan semua kejadian tadi dan memutuskan untuk mendukung Alda, Tiara dan Lia.
"Iya aku gak apa-apa kok." Jawab Alda dengan hangat.
"Kamu gak usah khawatir, kami berempat akan selalu ngedukung kalian." Ucap seorang lagi.
"Iya dan persahabatan kalian menjadi inspirasi bagi kami. Jarang-jarang kan ada orang baru ketemu sudah langsung klop satu sama lain." Sambung yang lain.
"Betul itu. Lagian membangun sebuah persahabatan itu gak bisa pakai di paksakan. Kalau yang lain merasa enggak klop sama kita, masa iya kita pakai cara ninggalin orang di hutan sendirian." Ucap seorang, menyindir pedas Cassan.
Sesaat Alda melirik pada Cassan dan mendapati ekspresi diwajahnya berubah jelek kala mendengar sindiran tersebut. Namun lagi, Alda hanya menikmatinya lalu mengabaikannya.
"Makasih ya guys, kalian udah baik banget mau ngedukung kami." Ungkap Alda sedikit merasa terharu. Meskipun tadi Cassan sempat menarik dirinya masuk ke dalam jurang yang sama, masih ada orang baik yang mau mendukungnya dan kedua sahabatnya.
"Sama-sama Al." Jawab mereka.
"Oh iya, ngomong-ngomong bukannya kita disuruh kumpulin suratnya habis ini?" Seseorang tiba-tiba teringat akan misi mereka dari Stacy semalam. Entah karena drama yang terjadi pagi tadi, orang-orang terlihat lupa akan surat cinta yang harus mereka kumpulkan sebelum jam sarapan.
"Iya ih hampir aja lupa." Jawab yang lain.
----
Setelah menyelesaikan sarapan, para murid mengumpulkan selembaran kertas putih yang sudah dibubuhkan tinta hitam bertuliskan isi hati mereka diatasnya. Kertas tersebut dilipat mereka lalu dimasukan ke dalam kotak transparan berukuran cukup besar.
Malam pun kembali hadir seiring meredupnya cahaya matahari setelah berpindah tempat dan menggantikan rembulan yang bersinar terang.
Dibawa terangnya sinar rembulan, para murid duduk melingkar di tengah lapangan dan lidah-lidah api unggun memberikan kehangatan bagi tubuh mereka.
Kebahagiaan, kegembiraan, kehangatan sangat terasa dalam perkumpulan tersebut. Satu demi satu permainan mereka lakukan hanya sekedar untuk mengakrabkan kebersamaan mereka.
Kini tiba di penghujung acara sebelum akhirnya para murid kembali bertemu dengan mimpi mereka. Entah itu mimpi indah ataupun mimpi buruk yang sedang menanti mereka, tak ada satu orangpun mengetahuinya dengan pasti.
Stacy berjalan ke tengah lingkaran mendekati api unggun yang sudah mulai kehilangan keganasannya. Di samping tempat Stacy berdiri, sebuah kotak transparan berukuran besar sudah siap untuk di buka.
"Malam ini adalah malam terakhir kegiatan keakraban kita." Ucap Stacy, mengehentikan sejenak perkataannya dan memandang ke sekelilingnya.
Dari sekian banyak wajah yang ia pandang sejauh memorinya mengingat, hanya ada satu wajah saja yang membuatnya memprioritaskan nya. Dia adalah Luka.
Mata Stacy berakhir dengan memandang Luka lalu tersenyum malu.
Menyadari bahwa ia harus melanjutkan perkataannya, Stacy kemudian kembali fokus. "Untuk itu kita harus membuat malam ini penuh dengan momen-momen berkesan yang tidak akan pernah kita lupakan sampai kita menua nanti." Lanjutnya lagi.
Para murid bersorak-sorai mendengar perkataan Stacy. Ada rasa yang menggebu-gebu dalam diri mereka masing-masing kala mendengar mereka harus membuat banyak momen yang berkesan.
__ADS_1
"Surat yang berada di dalam kotak ini adalah surat-surat milik kalian yang akan kita baca satu persatu." Ucap Stacy lagi. "Bagi yang merasa bahwa surat yang di bacakan adalah milikinya dan perlu untuknya maju ke depan maka kami akan mempersilahkannya."
Stacy dan para anggota OSIS memutuskan untuk tidak memaksakan para murid mengakui isi surat yang mereka tulis. Karena ini hanyalah sebuah permainan semata maka semuanya di kembalikan kepada para pemainnya.
Jika para pemainnya ingin menyampaikan secara langsung isi surat tersebut kepada yang tertuju maka mereka akan mempersilahkannya untuk maju ke depan.
"Mengerti semuanya?" Tanya Stacy dengan semangat yang tidak kalah dari para murid sendiri.
"IYAAAAAAA." Jawab mereka kompak.
"Baiklah, kita mulai."
Dibantu oleh beberapa anggota OSIS, Stacy pun mulai membuka kotak transparan tersebut. Ia kemudian mengaduk-aduk lipatan kertas di dalam kotak menggunakan sebelah tangannya, sebelum akhirnya mengambil surat yang pertama dan membacanya.
Para murid berdebar-debar di dada kala melihat Stacy membuka surat pertama yang diambilnya dari kotak berukuran besar itu. Mereka bertanya-tanya dalam hati, surat siapakah itu?
"Entah luapan rasa apa yang harus kutulis di secarik kertas ini, diriku tak bisa menuangkannya walaupun hanya setetes rasa hati." Stacy tersenyum malu sambil membaca isi surat pertama. Sementara para murid saling memandang satu sama lain, ingin tahu siapa pemilik surat tersebut.
"Tiada yang bisa mewakili diri yang sedang gundah dengan cinta ini." Lanjut Stacy membaca. Lalu diakhir surat tertulis dengan jelas, "teruntukmu Sofia yang cantik."
"Siapa yang nama Sofia?" Para murid bertanya-tanya.
"Sofia, itu nama kamu kan?" Seorang siswi bertanya pada temannya.
"I iya. Tapi mungkin saja hanya mirip." Jawab siswi bernama Sofia tersebut dengan wajah yang memerah. Ia tidak tahu apakah surat tersebut diperuntukkan baginya, mengingat nama Sofia bukanlah nama yang unik.
Stacy kemudian bertanya kepada para murid siapa pemilik dari surat tersebut dan mengejutkan, seorang siswa maju ke depan dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Semua orang memandang padanya dan berteriak semangat untuk dirinya. Siswa tersebut mengenakan jaket tebal dengan kupluk rajut berwarna senada, merah.
"Apa kamu yang pemilik dari surat ini?" Tanya Stacy padanya.
"Kalau boleh tahu Sofia yang ada tertulis disini, yang manakah orangnya?" Tanya Stacy lagi mewakili semua rasa penasaran para murid.
Mendengar pertanyaan Stacy, sang siswa merasa gugup lalu menunjuk ke arah dimana Sofia berada.
"Benarkan Sofia, suratnya buat kamu." Siswi tadi kembali bersuara.
"Ih tapi aku gak kenal sama dia." Jawab Sofia.
"Justru karena itu kita disuruh tulis surat." Kata siswi tersebut.
"Terus aku harus gimana dong?" Tanya Sofia bingung sekaligus grogi karena banyak murid kini menatap padanya.
"Ya udah maju aja."
Sofia akhirnya maju dan menghampiri tempat dimana siswa yang menulis surat untuknya itu berdiri.
"Jadi ini Sofia? Ya udah silahkan katakan kepada Sofia apa yang ingin kamu sampaikan." Stacy menyerahkan mic kepada sang siswa dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Dengan rasa gugup, siswa tersebut menerima mic dari Stacy dan mengutarakan perasaannya. "Sofia, kenalin aku Arya." Ucapnya berusaha mengembalikan rasa percaya dirinya.
"Kamu mungkin belum mengenal siapa aku atau mungkin tidak pernah melihat aku sebelumnya, tapi aku diam-diam selalu memperhatikan dirimu." Lanjutnya lagi kemudian langsung mendapat sorakan dari para murid.
"Seperti isi suratku tadi, itulah ungkapan kebenaran dari rasa yang aku miliki untuk kamu, Sofia."
__ADS_1
"Haha gila, itu orang pede banget ya." Komentar seorang siswa di tengah-tengah kebisingan.
"Haha semoga saja cintanya di terima." Jawab yang lain memberikan dukungan.
"Sofia, maukah kamu menjadi pacarku?"
Sorakan para murid pun berubah kala Arya meminta Sofia menjadi pacarnya. Mereka berteriak kata 'Mau' berulang-ulang kali agar Sofia menerima Arya.
Setelah berpikir sesaat, Sofia mengabaikan teriakan para murid dan dengan rasa malu-malu ia memandang wajah Arya.
'Tampan juga dia.' Batinnya berseru. Sofia akhirnya menganggukkan kepala dan mengiyakan permintaan Arya. "Iya aku mau." Jawabnya.
Semua murid bertepuk tangan merayakan kebahagiaan untuk pasangan baru tersebut. Mereka sama sekali tidak menyangka momen malam terakhir mereka berakhir dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
Surat berikutnya pun dibaca oleh Stacy. Yang mengejutkan adalah kebanyakan surat-surat tersebut ditulis dan ditujukan untuk Tiara.
Beberapa murid terlihat maju kedepan mencoba keberuntungan mereka, mana kala Tiara mau menerima perasaan mereka. Sayang semua dari mereka mendapat penolakan secara langsung oleh Tiara.
Cassan merasa iri melihat Tiara mendapat begitu banyak surat dari para siswa apa lagi mengetahui Tiara menolak semua dari mereka. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu surat yang diperuntukkan bagi dirinya. Namun sayang tak ada satupun dari sekian banyaknya surat ditulis untuknya sampai akhir acara.
Selain Cassan, Stacy juga merasa iri pada Tiara. Bagaimana tidak, Stacy hanya mendapat puluhan surat saja sementara Tiara mendapat berkali-kali lipat dari miliknya.
Disisi lain Luka merasa cemburu setiap kali mendengar surat cinta dari para siswa dibacakan untuk Tiara, kekasih hatinya. Dan yang lebih membuatnya hampir menggila adalah ketika mereka mengutarakan langsung perasaan mereka pada Tiara.
Akan tetapi setiap kata penolakan yang keluar dari mulut Tiara membuat Luka merasa sangat berbahagia.
"Permata hatiku. Terima kasih sudah menjadi milikku. Aku akan menunggu waktu dimana semua orang mengetahui bahwa kamu adalah milikku." Stacy membaca surat kedua dari terakhir.
Tak ada satu orangpun yang terlihat mengakui isi dari surat singkat tersebut namun meninggalkan banyak komentar diantara para murid.
"Ada yang udah jadian tapi hubungannya masih di rahasiakan?" Komentar seorang siswa.
"Kira-kira siapa ya?" Tanya yang lain penasaran.
"Siapa sih yang sudah jadian? Jadi penasaran gue." Sambung yang lain.
Ditengah-tengah rasa penasaran para murid, Tiara menyadari jika surat tersebut milik Luka yang dituliskan untuknya. Tiara tidak menyangka Luka begitu menginginkan agar hubungan mereka di publikasikan.
"Surat terakhir." Ucap Stacy sambil menghela nafas panjang. Ia merasa capek karena harus membaca surat yang begitu banyak meskipun dilakukan secara bergantian dengan para anggota OSIS lainnya.
"Tetaplah di sisiku sampai saat itu tiba."
Begitulah isi surat terakhir yang dibaca Stacy. Surat tersebut adalah milik Tiara.
"Apa? Hanya segitu doang isi suratnya?"
"Tapi menurut kalian kedua surat terakhir itu ada hubungannya gak sih?" Seorang memberikan pendapatnya setelah menyadari sesuatu.
"Iya yah, kayak saling nyambung gitu isi suratnya." Jawab yang lain.
"Iya makanya."
"Entah kenapa gue ngerasa kayak orang **** disini setelah dengar isi surat itu."
"Kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Karena disuruh tulis surat gue nulisnya selembar penuh. Sampai-sampai makan waktu berjam-jam baru selesai karena mikirin kata-kata puitis. Padahal ada orang yang nulis satu kalimat doang tapi bikin semua orang jadi kepo." Ucap orang tersebut. "Mana gue langsung ditolak lagi tanpa mikir-mikir dulu." Lanjutnya dengan miris.
Mendengar itu para murid disekitar menertawakan kemalangannya.