Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#37 Aku Merindukanmu


__ADS_3

Reno menatap mata belo milik Alda yang menolak melihat dirinya. Beberapa kali ia mencoba membuat Alda menatap padanya tetap saja Alda tidak mau melakukannya.


Reno akhirnya menyerah. Mungkin ini adalah bayaran untuk kesalahannya karena membuat gadis cantik di hadapannya itu menitikan air mata pikir Reno.


"Gue bilang ayah gue nama Roberto dan ibu gue nama Martha." Reno mengulang perkataannya lagi berharap Alda mau mengatakan sesuatu karena sebelumnya Alda tidak berkomentar dan pergi begitu saja.


"Terus kenapa kalau emang ayah kamu nama Roberto dan ibu kamu nama Martha?" Alda berteriak kesal.


Kali ini mata belo nan indah milik Alda menatap langsung wajah Reno akan tetapi air matanya yang mengalir keluar masih belum bisa ia hindari.


Reno melotot tak percaya dengan pendengarannya. Ia berpikir apa Alda semarah itu sampai-sampai ia berkata seperti itu padanya.


"Lu marah sama gue?" Tanya Reno serius.


"Enggak! Untuk apa aku marah? Emangnya siapa aku buat kamu?" Jawab Alda ketus.


"Terus kenapa lu nangis?"


"Gak tahu." Alda memalingkan wajahnya dari Reno.


Keduanya lalu terdiam beberapa saat. Mata Reno terus menatap Alda yang tak mau melihatnya.


"Vio." Suara lembut Reno langsung mengenai hati Alda membuat kedua kaki dan tangannya lemas seketika.


Alda memalingkan kembali wajahnya dan menatap Reno. "Barusan kamu bilang apa?"


"Vio." Ulang Reno.

__ADS_1


Alda tersenyum lebar mendengar Reno menyebut nama panggilan kesayangannya yang biasa Reno gunakan saat dulu mereka masih kecil.


Melihat Alda tersenyum, Reno kembali memiliki ide untuk menjahilinya. "Bukannya nama lu Alda Violetta? Gak ada salahnya kan gue panggil lu Vio biar akrab."


Seketika senyum Alda pudar. Ia berpikir Reno memanggilnya Vio karena ia mengenalnya sebagai teman dari masa kecilnya ternyata tidak.


"Dasar bodoh! Reno bodoh! Bodoh bodoh bodoh." Teriak Alda kesal. Kali ini ia tidak bisa mengendalikan lagi kekesalannya pada Reno.


Melihat cara Alda mengutuknya, Reno tertawa terbahak-bahak. Ia berpikir Alda sama sekali tidak berubah. Masih dengan kebiasaannya dulu.


Alda yang tadinya merasa kesal ketika melihat Reno tertawa tanpa sebab ia menjadi bingung sendiri.


Reno lalu sedikit menunduk dan memeluk erat tubuh Alda membuat Alda melotot tak percaya.


"Aku merindukanmu sangat merindukanmu." Reno menyatakan perasaannya tepat di telinga Alda. Kali ini ia tidak mau menggunakan bahasa 'lu gue' lagi karena tidak ingin hubungan keduanya menjadi jarak.


"Jadi jadi kamu ingat siapa aku? Kamu tahu siapa aku?" Tanya Alda penasaran.


Alda tak mampu untuk berkata-kata lagi. Ia lalu membalas pelukan Reno dan menangis sekencang kencangnya membuat beberapa murid cowok yang lewat disitu menatap aneh pada keduanya.


-----


Tiara mengembalikan formulir pencairannya pada Herlin sesaat setelah ia selesai mengisinya. "Ini bu formulirnya."


Herlin menerima formulir tersebut dari Tiara. Ia menurunkan sedikit kacamata keujung hidung miliknya untuk melakukan pengecekan.


"Kamu yakin nomor rekeningnya sudah benar?" Tanya Herlin padanya.

__ADS_1


Tiara menganggukkan kepalanya sambil melafalkan kembali nomor rekening yang sudah ia tuliskan. Herlin mengangkat sedikit alisnya. Ia jarang menemukan orang yang mau menghafal nomor rekeningnya sendiri.


"Baiklah untuk pencairannya sendiri tidak bisa diselesaikan hari ini juga karena kami harus mengajukan formulirnya kepada kepala sekolah terlebih dahulu." Herlin menjelaskan proses pencairannya pada Tiara.


"Setelah itu formulir tersebut di ajukan kembali ke atasan selaku pemilik Boulevar High School untuk mendapatkan tanda tangan persetujuan." Lanjut Herlin.


Tiara mengangguk mengerti dengan penjelasan Herlin. Ia tentu sudah mengerti tentang hal seperti itu artinya ia harus menunggu selama beberapa hari untuk mendapatkan uang tersebut.


"Kira-kira butuh berapa hari untuk proses pencairannya sendiri?" Tanya Tiara.


"Paling lama empat sampai Lima hari." Jawab Herlin.


'Seperti yang ku duga.' Tiara membatin. "Bu maaf tapi apa boleh saya minta tolong sesuatu?" Tanya Alda lagi setelah mengingat sesuatu.


"Boleh. Minta tolong apa?"


"Hmm apa ibu bisa membantu saya mencarikan beberapa panti asuhan di kota H?"


Herlin terkejut mendengar permintaan Tiara. Ia penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh gadis kecil di hadapannya itu.


Melihat Herlin yang tidak merespon pertanyaannya, Tiara mencoba menjelaskan sedikit tujuannya.


"Jadi gini bu, saya mau uang beasiswanya nanti di berikan ke beberapa panti asuhan disini. Karena saya baru di kota H, saya kurang mengetahui daerah sini." Tiara menjelaskan tujuannya.


Tiara ingin menggunakan pihak sekolah untuk membantunya mendapatkan informasi tentang panti asuhan yang sedang sangat membutuhkan bantuan.


Herlin tersadar dari kekagetannya. Ia lalu mengatakan pada Tiara bahwa ada beberapa panti asuhan yang masih berada di bawah satu yayasan dengan BHS.

__ADS_1


Tiara berpikir sesaat. Jika panti asuhannya masih berada di bawah yayasan yang sama dengan BHS artinya mereka sudah cukup mendapatkan bantuan dari pihak lain mengingat nama besar yayasan juga BHS sendiri.


"Bisa ibu bantu saya untuk mencarikan panti asuhan yang lain? Saya ingin uangnya bisa membantu orang yang lebih membutuhkannya."


__ADS_2