
"Tolong seseorang percaya padaku. Rekaman tersebut hanyalah jebakan mereka semata karena mereka tidak menyukai diriku." Teriak Cassan dalam tangisannya.
"Kalian semua tahu kan siapa keluargaku? Aku adalah Cassan Putriani Baskara, anak dari pewaris Baskara Grup, keluarga terkaya raya di kota J. Oleh karena itu mereka iri padaku dan mau menjebak diriku." Lanjut Cassan menangis tersedu-sedu ingin mendapatkan simpati. Ia berharap dengan membawa nama Baskara orang-orang akan takut dan percaya padanya.
Ucapan Cassan tersebut langsung disambar Tiara dengan tawaan tak biasanya. 'Lelucon macam apa ini?' Tiara membatin lucu. Ia tidak pernah menyaksikan lelucon seperti itu seumur hidupnya.
Semua orang memandang Tiara penuh dengan tanda tanya termasuk Cassan yang langsung menghentikan tangisannya kala melihat Tiara menertawakan dirinya. Entah kenapa Cassan merasa seperti tidak dianggap oleh Tiara tiap kali ia menyebut nama keluarganya.
"Haha Cassan, Cassan. Kamu lupa ya dengan perkataan aku sebelumnya?" Tiara bertanya padanya. Ia lalu berjalan mendekati Cassan dan berbisik, "Aku sudah bilang, aku bisa saja menghancurkan Baskara Grup jika aku mau." Ucap Tiara kembali mengingatkan Cassan.
"Kamu mau tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menghancurkan perusahaan tersebut?" Tiara bertanya lagi pada Cassan. "Hanya dalam semalam. SEMALAM saja! Jadi pikirkan itu baik-baik." Tiara memperingatkan Cassan lagi agar tidak mengundang badai dikala musim panas.
"Tapi jika kamu tidak percaya pada kata-kataku, silahkan. Lakukan apa saja yang kamu inginkan. Membalaskan dendammu, melukai teman-temanku itu pun jika kamu masih berani melakukannya." Lanjut Tiara.
"Jangan pernah berpikir bahwa aku hanya bermain-main saja dengan perkataanku. Baskara Grup tidak akan terdengar lagi di masa mendatang."
Bisikan dingin Tiara tersebut menusuk dalam-dalam batin Cassan membuat seluruh tubuhnya bergemetar ketakutan.
Tiara bukan hanya memperingatkan Cassan begitu saja. Apa pun yang dikatakannya pada Cassan akan ia lakukan jika Cassan masih saja terus mengganggu ketenangan hidupnya dan kedua sahabat lainnya.
Tiara hanya berpatok pada kepribadiannya. Ia tidak akan menggunakan nama besar keluarganya, Alexander, untuk memenuhi tujuan hidupnya. Maka dari itu Tiara berjanji ia akan menggunakan kemampuannya sendiri untuk menghancurkan Cassan.
Semua orang merasa penasaran ingin mendengar apa yang dibisikkan oleh Tiara pada Cassan sampai-sampai membuat Cassan ketakutan seperti baru saja melihat hantu di pagi hari.
"Gimana Cassan? Kamu masih mau mengelak jika suara yang terdengar di rekaman ini bukan milikmu?" Tiara bertanya pada Cassan mencoba mengalihkan kembali pandangan semua orang agar tertuju pada bukti rekaman ditangannya.
Cassan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Tiara. Pikirannya masih terfokus memikirkan peringatan Tiara padanya. 'Apa benar dia bisa menghancurkan Baskara Grup hanya dalam semalam?' Cassan membatin tanya. 'Memangnya siapa Tiara sebenarnya?'
Cassan kembali tersadar dari lamunan pendeknya. Ia ingin menelfon Leo, memintanya mencaritahu tentang latar belakang dari Tiara. Jika ia sudah mendapatkan informasi mengenai Tiara maka sangat mudah baginya untuk memegang ekor Tiara dan membalikan keadaan.
Namun sebelum mencapai semua itu, Cassan berpikir ia harus bisa melepaskan dirinya terlebih dahulu dari genggaman Tiara saat ini. Ia berusaha berpikir keras untuk menemukan cara sendiri karena Varno sama sekali tidak berguna baginya.
Setelah berpikir untuk beberapa saat, Cassan akhirnya memutuskan bahwa hanya ada satu cara yang tersisa. Dan satu-satunya cara tersebut ialah dengan mengorbankan dirinya sendiri.
"Cassan kamu mau mengakuinya atau tidak jika suara di dalam rekaman ini adalah suara kamu?" Tiara bertanya lagi.
Cassan akhirya menyerah lalu menjawab pertanyaan Tiara tanpa air mata buaya lagi. "Iya itu adalah suaraku dan aku jugalah yang meninggalkan Lia sendirian di hutan."
Semua orang terkaget-kaget mendengar pengakuan Cassan ak terkecuali Alda dan Lia. Mereka tidak menyangka pada akhirnya Cassan mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Namun mereka juga tidak berpikir jika pengakuan tersebut hanyalah sebuah cara dari Cassan untuk melepaskan dirinya dari belenggu Tiara.
Cassan dengan terpaksa harus mengakui kesalahannya. Namun ketika nanti ia sudah mendapatkan informasi mengenai Tiara, ia akan menyusun kembali strateginya dan membalaskan dendamnya pada Tiara.
__ADS_1
"Aku melakukannya karena aku membenci Alda." Ucap Cassan tanpa rasa malu membuat Alda melotot tak percaya padanya. Menurut Cassan, Alda sangat menyebalkan karena selalu saja menghalangi rencananya. "Namun alasan utama dari semuanya ini adalah karena persahabatan mereka."
Mendengar hal itu Tiara dan semua orang yang berada disana tercengang dengan kejujuran Cassan. Sekalipun sudah banyak kasus seperti itu terjadi tetapi rata-rata kebanyakan dari kasus tersebut hanyalah sebatas membuat kesalahpahaman diantara para sahabat saja. Tidak seperti Cassan yang sampai mengancam keselamatan seseorang.
"Saat itu aku terlambat masuk asrama karena sedang berlibur dengan kakekku di Singapura. Dan ketika aku tiba di asrama, aku akhirnya mengetahui bahwa mereka adalah teman sekamarku. Aku senang namun sekaligus terkejut karena mereka sudah saling mengakrabkan diri satu sama lain seperti orang yang sudah lama berkenalan tanpa melibatkan diriku." Lanjut Cassan.
"Ketika aku ingin bergabung dengan mereka dengan cara mendekati mereka dan mentraktir mereka makanan, Alda justru menuding diriku memiliki niat buruk terhadap mereka. Dan kemarin adalah batas akhir kesabaran diriku."
Pengakuan Cassan mendapat banyak perhatian dari semua orang. Mereka terlihat mendengar ceritanya dengan baik dan saksama. Ada yang mulai merasa simpati namun ada juga yang merasa konyol.
Disisi lain Alda terlihat emosi dan hendak menghentikan omongan Cassan. Namun sebelum dirinya melakukan itu, Tiara sudah terlebih dahulu menahannya.
"Alda mencoba mempermalukan diriku di depan semua orang namun tidak berhasil. Dan malam harinya ia menuding diriku lagi bahwa nilai tes masukku ke Boulevar adalah hasil dari aku membayar orang lain untuk mengerjakannya karena keluargaku memiliki uang untuk melakukan itu."
Kali ini semua murid menatap Alda dengan tatapan aneh. Bagi mereka yang bersimpati pada cerita Cassan, merasa tidak percaya jika Alda sekeji itu menuduh Cassan.
Alda sendiri tidak kuat lagi menahan emosinya. Memang benar dirinya sempat mengatakan hal tersebut pada Cassan namun itu bukanlah tudingan. Ia hanya mempertanyakan kebenarannya saja.
"Padahal seperti yang semua orang ketahui, pada saat melakukan tes online, kamera laptop kita dipastikan harus menyala sepanjang waktu. Lalu bagaimana bisa ia membuktikan bahwa tesku dikerjakan oleh orang lain?" Ucap Cassan.
Semua orang mengangguk setuju dengan perkataan Cassan. Mereka sendiri pun mengalami hal yang sama. Sangat sulit meminta ataupun sekedar membayar orang-orang ber-IQ tinggi untuk mengerjakan tes mereka dengan pengawasan melalui kamera yang begitu ketat.
Sama halnya dengan yang lain, Tiara pun ikut terkejut mendengar pengakuan Cassan. Ia tidak tahu dari mana Cassan mendapatkan keberanian seperti itu. Namun Tiara tidaklah bodoh untuk mengerti sebuah trik kecil dari Cassan. Ia tahu persis seperti apa keinginan Cassan dibalik semua pengakuannya.
Cassan tidak ingin jatuh kedalam jurang sendirian saja. Ia ingin Alda ikut bersama dengannya. Oleh sebab itu hal pertama yang harus Cassan lakukan adalah menggiring opini orang-orang disana untuk berpikir bahwa semua perbuatannya itu dilakukan bukan tanpa sebab. Alda-lah orang yang memaksanya untuk melakukan itu karena ia selalu menuduh dan mempertanyakan niat baik Cassan.
Selanjutnya setelah memastikan semua orang sudah kembali percaya padanya, Cassan tinggal memetik buah dari apa yang sudah ditanamnya. Meskipun dirinya mendapat penilaian buruk dari orang-orang, ia tidak sendirian saja karena Alda ikut bersama dengannya.
"Dasar cewek rubah. Aku gak mungkin nuduh kamu kalau dari awal niat kamu baik. Kamu iri sama persahabatan kami karena memang kamu itu mental illness, suka irian sama orang. Dasar rubah betina gila." Alda berteriak histeris pada Cassan.
Tadinya Alda ingin berlari kearah Cassan dan merobek mulut busuknya namun Tiara sekali lagi dengan cepat menahannya dan menyerahkannya pada Reno, Luka dan Saka.
"Ya ampun ini cewek tenaganya gede amat kayak kuda." Saka mengomentari aksi Alda yang meronta-ronta ingin melepaskan diri dari cengkraman ketiga cowok tampan tersebut.
"Ren, gak nyangka gue ternyata lo suka sama cewek yang kekuatannya kayak kuda." Lanjut Saka mengomentari standar Reno.
"Diam lo playboy." Jawab Reno berusaha kuat untuk menahan kekuatan Alda.
"Sudah diam semuanya." Varno bersuara menghentikan semua keributan yang terjadi. "Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku akan bertindak adil sesuai bukti. Sekarang buktinya sudah ada dan Cassan pun telah mengakui kesalahannya. Saya akan melaporkan kejadian ini kepada pihak sekolah sekembalinya kita ke kota H."
Ucapan Varno mengakhiri semua drama hari itu. Para murid dibubarkan kembali ke tenda mereka masing-masing dan menunggu sarapan disiapkan.
__ADS_1
"Tiara, sekarang juga jawab pertanyaan aku. Darimana kamu mendapat bukti rekaman tersebut?" Alda bertanya mewakili semua rasa penasaran keempat orang lainnya.
Tiara mengehentikan langkahnya dan menatap mereka secara bergantian. "Apa kalian sepenasaran itu?" Tanyanya.
Alda, Lia dan ketiga cowok lainnya menganggukkan kepala mereka secara kompak. Bagaimana mungkin mereka tidak penasaran jika Tiara selalu saja memberi mereka kejutan.
Tiara menghela nafas panjang dengan berat hati. Bagaimanapun ia harus menjawab rasa penasaran mereka. Jika tidak dirinya akan terus dihantui oleh kelima dari mereka secara bergantian.
"Baiklah. Jadi bukti rekaman tersebut adalah palsu." Jawab Tiara.
"APAAAAA!?" Teriak mereka serempak mendengar jawaban Tiara.
"Ba.. bagaimana bisa rekamannya palsu. Jelas-jelas tadi itu suara aku dan juga Cassan." Lia berkomentar. Ia sama sekali tidak mempercayai perkataan Tiara.
Alda dan yang lainnya ikut mengangguk setuju dengan komentar Lia. Mereka pun mendengarnya sendiri suara keduanya begitu mirip jadi tidak mungkin rekaman tersebut palsu.
"Tentu saja itu suara kamu dan Cassan tetapi semuanya hanya kemiripan semata." Jawab Tiara lagi.
"Maksudnya?" Tanya mereka serempak lagi.
"Kalian pernah dengar tentang voice phishing?" Tanya Tiara.
Kelima dari mereka ada yang menjawab ya dan ada juga yang menjawab tidak. Tiara akhirnya menjelaskan kepada mereka bahwa voice phishing adalah sebuah tindakan kriminal dalam bentuk penipuan melalui telepon.
Biasanya sang pelaku akan memancing korbannya untuk memberikan informasi yang mereka inginkan tergantung penipuan jenis apa yang mereka lakukan. Kebanyakan yang terjadi adalah informasi tentang keuangan, kata sandi dan kartu kredit.
Tidak hanya itu. Pelaku Voice phishing juga biasannya adalah orang-orang yang bisa menirukan banyak macam suara dari orang-orang terdekatnya para korban. "Kalian bisa membayangkannya bukan jika mereka menipu korban menggunakan suara kerabat dekat korban?" Tanya Tiara lagi dan mendapat anggukan dari mereka.
"Aku punya seorang kenalan yang bisa menirukan suara seseorang dengan sangat baik." Ucap Tiara. "Sesaat sebelum kita mencari Lia aku sempat berbicara dengan Cassan bukan? Sebenarnya aku sedang merekam suara Cassan. Dan setelah bertemu Lia aku juga merekam cerita Lia dan mengirimkannya pada temanku itu agar dia menirukan suara mereka. Dengan begitu kita memiliki bukti rekaman tadi."
"Gila. Tiara kamu hebat banget." Alda memberi acungan jempol padanya.
"Iya Tiara. Makasih ya kalau gak ada kamu, aku,.." Lia menitikan air mata.
"Teman kamu tuh pasti hebat banget. Soalnya suara tiruannya mirip banget." Sambung Saka.
Tiara tersenyum kepada mereka setelah mendapat pujian. Namun kenyataannya semua ceritanya tersebut hanyalah kebohongan semata untuk menutupi kebenarannya.
-----
NB: kebenarannya ada di episode berikutnya guys!!
__ADS_1