
Keesokan harinya Tiara, Lia dan Alda berangkat ke sekolah seperti hari kemarin. Cassan tidak ikut bersama mereka. Ia membaca novel hingga larut malam mengakibatkan dirinya kesiangan.
Meski lonceng asrama telah berbunyi membangunkan mereka dari mimpi indah, Cassan tetap memilih untuk melanjutkan tidurnya.
Tiara dan kedua sahabatnya tidak ingin merepotkan diri membangunkan Cassan berulang-ulang kali mengingat sebelumnya Lia sempat membangunkannya sekali namun tidak di respon.
"Sampai ketemu lagi di jam istirahat ya." Lia melambaikan tangannya pada Tiara dan Alda lalu masuk ke dalam kelas.
Sesaat setelah ia masuk para siswa yang kemarin menitipkan coklat untuk Tiara berlarian menghampirinya tak terkecuali Rangga, cowok yang lebih dahulu menitipkan coklatnya.
"Hai. Gimana, Tiara terima gak coklat dari gue?" Tanya Rangga penasaran.
"Dari gue juga." Jawab yang lain.
"Gue juga." Sambung yang lain lagi.
Lia bingung bagaimana ia harus menjawab semua pertanyaan itu. Tiara sudah memberikan coklat itu padanya juga Alda namun ia sama sekali tidak mengatakan ia menerima coklat-coklat tersebut.
Setelah berpikir sesaat Lia akhirnya mengatakan bahwa Tiara telah menerima coklat mereka. "Iya Tiara udah terima coklat kalian hehe." Lalu memberi mereka senyum tergaring dari lubuk hatinya yang terdalam.
Tidak ada yang salah dari perkataanya pikir Lia. Tiara sudah memberikan coklat-coklat tersebut untuknya dan Alda artinya Tiara sudah menerima pemberian mereka.
"Seriusan?"
"Hmm." Lia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baguslah. Kalo gitu entar gue titip lagi ya." Ujar Rangga.
"Hah? Lagi?"
Lia tidak percaya mereka akan memberikan coklat lagi untuk Tiara. 'Bisa-bisa aku jadi juragan coklat.' Lia membatin.
----
Tiara dan Alda masuk ke dalam kelas dan mengambil tempat duduk mereka. Hampir semua murid cewek sudah memasuki ruangan sedangkan murid cowok banyak yang masih berada di luar termasuk Luka.
Tiara dan Alda saling mengobrol satu sama lain tanpa memikirkan pandangan orang-orang di dalam kelas pada mereka sampai bel sekolah berbunyi.
Murid-murid cowok yang tadi berada di luar ruangan, satu persatu mulai masuk setelah mendengar bunyi bel.
"Aww..." Jerit Cassan kesakitan.
Semua pasang mata di dalam kelas tidak mungkin mengabaikan kejadian tersebut. Termasuk sepasang mata indah milik Tiara.
"Ya ampun bisa gak sih jalan pake mata." Teriak Cassan sebelum akhirnya matanya menatap wajah tampan dan dingin Luka.
Luka sama sekali tidak mengatakan apapun. Setelah melirik sesaat pada Cassan, Luka mengabaikannya dan menuju tempat duduknya di ujung belakang dekat jendela.
BRRUUKKK...
Sebuah tas belakang tepat mengenai punggung Luka membuatnya mengehentikan langkah kakinya dalam sekejap. Jelas Cassan melempar Luka dengan tas sekolah miliknya.
__ADS_1
Semua murid di dalam kelas terperangah melihat tingkah Cassan pada Luka namun tak ada yang berani berkomentar.
Mereka tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi diantara kedua orang tersebut. Cassan dan Luka sama-sama mencetak rekor tes masuk dengan nilai mendekati sempurna.
"Minta maaf." Ujar Cassan pada Luka dengan suara yang cukup keras.
"....." Luka.
"Aku bilang minta maaf." Seru Cassan lagi.
"....."
Lagi Luka mengabaikan Cassan. Jangankan mengabaikannya menoleh padanya saja Luka tidak mau melakukannya.
Dengan wajah dinginnya Luka melangkahkan kaki kembali berjalan menuju tempat duduknya.
Semua murid memandang Cassan yang diabaikan penuh oleh Luka dengan rasa khawatir, kasihan semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Setelah kejadian tersebut, tak lama seorang guru pria memasuki kelas mereka. Ia sedikit terkejut dengan pemandangan yang sedang terjadi di dalam kelas.
Cassan berdiri dekat dengan pintu masuk. Melihat penampilan Cassan yang berantakan dan tasnya yang terjatuh di lantai tak jauh dari tempat ia berdiri, sang guru tidak tau apa yang sedang terjadi.
'Apa ini pembulian?' Guru pria itu membatin.
Cassan dengan cepat mengambil tas miliknya dan pergi ke tempat duduknya setelah menyadari kedatangan guru. Namun sebelum ia duduk, ia menyempatkan diri melirik pada Luka yang memandang ke arah Tiara.
__ADS_1