
Semua murid kembali turun dari bus mereka setelah mendapatkan protokol dari pemandu mereka masing-masing.
Alda tidak sabar untuk bertemu dengan Tiara secepatnya karena ada banyak hal yang ingin ia di ceritakan padanya. Namun ketika dirinya hendak melangkah pergi dari sana, Cassan menghentikannya dengan tiba-tiba.
"Alda, kamu sengaja kan muntahin aku kayak gini, iya kan? Jawab jujur aja!" Cassan sedikit berteriak secara langsung pada Alda sehingga mengundang murid-murid di sekitar mereka saling menatap penuh tanya.
"Apa sih kamu. Lepasin tangan aku. Sakit tau." Tangan Alda memerah karena genggaman erat penuh emosi dari Cassan yang tertuju padanya.
"Emangnya ada ya orang muntah pakai di sengaja?" Lanjut Alda dengan nada menekan.
Mendengar perkataan Alda, murid-murid yang berada disana mengangguk setuju tak terkecuali Arif. Arif bersyukur karena Alda tidak jadi duduk bersamanya. Jika tidak mungkin saja nasibnya akan sama dengan Cassan saat ini dimana ia terlihat begitu menjijikan.
"Iya Alda betul. Mana mungkin ada orang muntah pake di sengaja kayak gitu." Ujar seorang siswi dan mendapat banyak persetujuan dari murid lainnya.
"Iya kalau emang Alda sengaja mana mungkin juga sekarang dia terlihat seperti orang yang lemas begitu. Iya gak?" Sambung yang lain.
Semua pasang mata tertuju langsung pada Alda kala dirinya dikatakan lemas setelah memuntahkan makanan dari dalam perutnya.
Tanpa berpikir panjang Alda menyentuh wajahnya memastikan apa benar dirinya terlihat seperti yang di katakan oleh orang-orang. Namun Alda juga tidak bisa mempungkiri jika dirinya memang benar-benar lemas saat ini apalagi tenaganya seperti telah terkuras habis.
"Udah yuk pergi aja. Nagapain kita disini. Mau cium bau muntah?" Kata seorang siswi sambil melirik tidak suka pada Cassan.
"Yuk ah, bau disini. Alda kamu juga mending ikut kami."
Mendengar dirinya diajak pergi, Alda langsung melangkahkan kaki meninggalkan Cassan sendirian tanpa menoleh padanya sedikitpun.
Cassan merasa sangat di permalukan melihat bagaimana orang-orang memandangi dirinya dengan tatapan menjijikkan. Hal itu jelas terbukti dimana ia mengigit bibir bagian bawahnya hingga berdarah.
__ADS_1
"Alda lihat aja nanti. Aku akan ngebalas kamu melebihi apa yang udah kamu lakuin ke aku." Ucap Cassan menatap tajam pada sosok Alda yang semakin menjauh dari pandangannya.
Cassan berjanji dalam hatinya untuk tidak melepaskan Alda begitu saja. Mengingat orang yang dipermalukan olehnya adalah pewaris dari Baskara Grup, keluarga paling berpengaruh di kota J.
"Kenapa kamu masih ada disini?"
Cassan meloncat terkejut mendengar sebuah suara datang dari belakangnya. Ketika membalikan badannya, mata Cassan menangkap keberadaan Winwin yang berdiri tegak tanpa ekspresi menghadap dirinya.
Cassan grogi, ketakutan apakah Winwin mendengar atau tidak perkataannya tentang membalaskan dendam pada Alda. "Aku.. aku, ibu sendiri kenapa masih ada disini?" Tanya Cassan.
Pertanyaannya Alda membuat tatapan Winwin berubah. "Saya yang harus bertanya kenapa kamu masih ada disini? Bukannya semua teman-teman kamu udah pergi dengan pemandu dari anggota OSIS?"
Cassan merasa posisinya memang benar salah. Seharusnya ia tidak perlu bertanya seperti itu pada Winwin karena sekarang ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan kembali dari wali kelasnya itu.
"Aku, aku.."
Cassan menaikan alisnya tidak menyangka Winwin dengan mudah melepaskannya. Namun tetap saja dalam hatinya, ia merasa belum tenang sebelum mengetahui apakah Winwin mendengar perkataan sebelumnya atau tidak.
Disisi lain Alda berlari menuju Tiara setelah melihat sosoknya di kerumuni oleh banyak murid.
"Tiara.."
"Al.." Tiara terkejut melihat wajah Alda yang pucat. "Kamu gak apa-apa?" Tanyanya penuh khawatir.
"Iya aku gak apa-apa kok hehe." Alda menjawabnya dengan senyum.
"Gak apa-apa gimana, muka kamu pucat loh."
__ADS_1
"Iya sih tapi bentar lagi udah baean. Aku agak lemas tapi tadi di bus bu Winwin udah kasih aku bekalnya."
Lagi Tiara terkejut. Ia paham kenapa Alda terlihat pucat. Yang pasti itu karena idennya meminta Alda memuntahkan makanan pada Cassan.
Ide itu muncul karena Tiara sempat melihat Alda membawa serta obat anti mabuk dalam tasnya. Dari sanalah Tiara langsung mengetahuinya kalau Alda pasti mabuk menaiki bus tanpa obat tersebut.
Oleh karena itu Tiara berbisik pada Alda agar tidak meminum obat miliknya dan membiarkan dirinya muntah dengan cara seperti tadi.
Tiara jadi merasa bersalah pada Alda. Karena keegoisan dirinya, sahabatnya itu menjadi kesusahan.
"Al, maaffin aku ya. Karena ide aku kamu jadi kayak gini." Ucap Tiara.
"Kamu ngomong apa sih. Aku gak suka kalau kamu sebut kata itu lagi." Alda menganggap Tiara menyebalkan karena mengatakan permintaan maaf. Bagi Alda diantara persahabatan mereka tidak perlu ada kata maaf.
Tiara menghela nafas panjangnya setelah merasa tidak berdaya. Dia lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. "Nih isap vitamin nya."
Alda menerimanya saat mengetahui yang di berikan oleh Tiara padanya adalah vitamin C. "Kamu sahabat yang terbaik." Alda memeluknya dengan hangat.
Luka tersenyum melihat kedua sahabat itu saling berpelukan. Dan tanpa disadarinya para penggemarnya sudah berteriak histeris karena sebuah senyum darinya.
"Naga, gimana kalau kita juga berpelukan." Reno merentangkan kedua tangannya untuk membiarkan Luka memeluknya erat tubuhnya.
"Dengan pohon sana." Jawab Luka dingin langsung memalingkan wajahnya dari Reno.
"...." Reno
"Haha.." Saka tertawa puas mendengar jawaban Luka. Ia tersadar jika Luka sama sekali tidak berubah. Ia hanya bersikap hangat dan ramah pada Tiara namun ke sahabatnya ia tetap dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
Setidaknya Saka juga merasa tenang karena Luka jatuh cinta tanpa merubah sikapnya pada mereka. Justru mereka dapat melihat sisi lain dari Luka yang hangat dan manis meskipun tidak tertuju untuk mereka.