
Cassan menganggukkan kepalanya. "Lia menghilang." Sambil menangis tersedu-sedu.
Semua anggota kelompok terkejut mendengar perkataan Cassan. "Gimana bisa Lia menghilang? Bukannya dia yang temenin kamu buang air kecil?" Seorang anggota perempuan bertanya.
"Iya seharusnya dia ada di sekitar kamu kan waktu itu?" Sambung yang lain mempertanyakan kehilangan Lia.
Cassan memilih untuk terus berpura-pura menangis mengabaikan pertanyaan mereka. Karena jika ia menjawab mereka kemungkinan besar ia akan salah berkata dan orang-orang akan mengetahuinya jika ia yang sengaja meninggalkan Lia.
"Terus kenapa kamu datang dari arah yang berbeda dengan kepergian kalian tadi?" Tanya seorang anggota laki-laki.
Cassan langsung berhenti menangis mendengar pertanyaan cowok tersebut. Begitu juga para anggota lainnya tak terkecuali Luka yang baru menyadarinya jika Cassan datang dari arah yang berbeda dengan kepergian mereka.
Luka merasakan ada kejanggalan datang dari Cassan. Ia juga mencurigainya jika kehilangan Lia pasti berhubungan dengan Cassan yang tidak memiliki kecocokan dengan Alda. Namun Luka tidak bisa menuduh Cassan begitu saja mengingat ia tidak memiliki bukti.
"Huh aku, aku datang dari arah sana karena aku berkeliling mencari Lia tadi." Jawab Cassan masih dengan air mata buayanya.
Jawaban Cassan cukup membuat mereka mempercayainya. Cassan datang dari arah yang berbeda karena ia mencari keberadaan Lia yang sudah menghilang.
"Sudah sebaiknya kita menghentikan perburuan kita dan mencari Lia terlebih dahulu. Bagaimana pun Lia merupakan salah satu anggota kelompok kita." Ucap Luka membuat keputusan setelah dirinya di pilih menjadi ketua kelompok.
"Tapi gimana dengan harta karun kita? Gue gak mau kalah." Protes seorang siswa. Ia tidak ingin kalah dari permainan itu dan mendapatkan hukuman karena harus mencari keberadaan Lia terlebih dahulu.
"Disaat seperti ini kamu masih pikirin tentang potongan kertas tidak berguna itu?" Seorang siswi terlihat memarahi siswa tersebut. "Ini menyangkut hidup seseorang." Lanjutnya lagi.
"Bayangkan saja kamu sekarang berada di posisinya Lia dan gak ada yang datang cariin kamu." Sambung yang lain juga merasa kesal pada siswa tersebut.
"Ya udah biasa aja kali gak usah pake urat. Paling entar matahari naik dia juga bisa pulang sendiri. Udah bisa lihat jalan iya kan?" Jawab siswa tersebut tanpa ada rasa iba sedikitpun.
"Enggak gak bisa. Pokoknya kita harus cari Lia sampai ketemu."
"Iya betul. Kalau lo tetap mau pergi cari harta karunnya, ya udah pergi sono sendirian. Biar di temenin tuh sama luwak."
"Iya setuju. Pergi aja sendirian sana." Jawab yang lain kompak.
Melihat hampir semua anggota bersetuju dengan pendapatnya mencari keberadaan Lia, Luka akhirnya membagi kelompok mereka menjadi dua-dua orang.
"Kita akan bagi kelompok kita menjadi dua-dua orang, silahkan kalian pilih dengan siapa kalian berpasangan." Ucap Luka. Ia lalu melihat jam yang menggulung sempurna di tangannya. "Tepat jam enam, semuanya kembali lagi berkumpul di titik ini oke?"
__ADS_1
"Oke." Jawab mereka kompak.
Ketika semua anggota sudah menyetujui perkataan Luka, Cassan tiba-tiba menghentikan mereka. "Tunggu." Serunya.
Para anggota memandang Cassan dengan tanda tanya. Kenapa Cassan menghentikan mereka?
"Menurut saya sebaiknya dua orang tersebut laki-laki dan perempuan. Biar aman semuanya. Lagian kita pas delapan orang." Ucap Cassan mengecualikan siswa yang menolak keputusan Luka tadi.
"Iya itu lebih baik." Seorang siswi menyetujui perkataan Cassan. "Ini semua demi keamanan kita. Akan sangat berbahaya jika sesama perempuan berjalan bersama tanpa adanya laki-laki yang menjaga mereka."
Cassan tersenyum puas karena pendapatnya di setujui oleh para anggota. Ia sengaja mengatakan hal itu untuk memastikan agar dirinya bisa berduaan saja dengan Luka.
Setelah para anggota saling memilih pasangan mereka, yang tersisa tinggallah Cassan dan Luka. Luka tidak ingin berduaan saja dengan Cassan karena ia sama sekali tidak menyukainya.
Namun setelah berpikir sesaat Luka terpaksa menyetujuinya. Bukan tanpa alasan, Cassan adalah orang yang paling mengetahui bagaimana Lia bisa menghilang. Jika ia pergi mencari Lia dengan membawa Cassan otomatis ia lebih banyak mendapat informasi seperti dimana tempat terakhir Lia menunggu dan sebagainya.
Luka dan Cassan beserta pasangan anggota lainnya akhirnya berpisah di titik dimana mereka berdiri. Mereka berpencar dan pergi meninggalkan siswa yang menolak mencari keberadaan Lia disana sendirian.
Merasa ketakutan karena dirinya di tinggalkan sendirian saja, siswa tersebut kemudian memutuskan untuk melupakan egonya dan mengikuti anggota lain mencari Lia.
Akhirnya Rio, nama sapaan siswa tersebut membuat keputusan untuk mengikuti Luka dan Cassan.
"Luka tungguin gue." Teriaknya sambil berlari kearah mereka.
Luka menoleh kebelakang dan mendapati Rio berlari kearahnya. Ia merasa terselamatkan dengan adanya Rio diantara dirinya dan Cassan.
"Gue ikut kalian ya." Ucap Rio pada Luka dan Cassan.
Tanpa berpikir panjang lagi Luka langsung mengangguk setuju dengan permintaan Rio. Namun hal berbeda datang dari Cassan. Wajahnya berubah jelek. Rencananya ingin berduaan saja dengan Luka menjadi gagal karena kehadiran orang ketiga.
"Kamu gak bisa ya ikut yang lain saja?" Tanya Cassan frontal terkesan tidak suka.
"Terserah gue dong mau ikut siapa aja. Kenapa juga lo yang repot." Jawab Rio dengan nada menyebalkan.
Mendengar bagaimana Rio menjawab pertanyaannya, wajah Cassan langsung berubah merah bagaikan di tampar tepat di pipinya.
Luka tersenyum puas dalam hatinya. Menurutnya, Rio memang tipe orang yang menyebalkan dan egois. Luka sendiri tidak begitu menyukai tipe orang seperti itu namun disaat seperti ini Rio sangat membantu dirinya.
__ADS_1
"Dimana tempat terakhir Lia berdiri dan tungguin elo tadi." Tanya Luka tanpa menatap wajah Cassan. Jangankan untuk menatap, melirik kearahnya saja Luka tidak mau melakukannya.
Melihat cara Luka memperlakukan dirinya, Cassan sadar bahwa penyebab utama dari semuanya adalah Tiara. Seandainya Tiara tidak ada di Boulevar, ia tidak perlu bersusah-susah memikirkan cara untuk mendapatkan perhatian dari Luka.
"Woy budek ya lo?" Rio meneriaki Cassan. "Ditanya tuh jawab, bukannya malah bengong."
Cassan terkejut karena Rio meneriakinya langsung di kupingnya membuat gendang telinganya berdengung. "Ih apa sih. Nyebelin banget." Cassan mengekorkan mata sambil mengerutkan kening tidak suka pada Rio.
"Itu aku sama Lia tadi berjalan ke arah sini." Cassan menunjukkan arah dimana tempat ia dan Lia berhenti sebelum ia membuang air kecil.
Akan tetapi Cassan tidaklah bodoh. Ia tidak mungkin membiarkan orang-orang mengetahui bahwa dirinyalah yang meninggalkan Lia dan bukan Lia yang menghilang dengan sendiri. Oleh sebab itu Cassan menunjukan tempat yang berbeda dari tempat kejadian pada Luka dan Rio.
Tempat yang ditunjukan oleh Cassan tidak jauh dari titik Luka dan anggota kelompok lainnya menunggu mereka. Padahal kenyataannya ia membawa Lia berjalan cukup jauh lagi dari sana. Tempatnya bukan lagi di tengah-tengah perkebunan kopi melainkan hampir diluar dari perkebunan.
"Terus setelah itu aku meminta Lia untuk menungguku membuang air kecil di sini." Cassan mengatakan kejadiannya pada Luka. Tak lupa ia juga berpura-pura memilih satu spot dimana Lia berdiri sebelum menghilang. Bagaimana pun caranya Cassan berpikir bahwa ia harus meyakinkan mereka jika Lia menghilang dengan sendirinya.
"Setelah kamu habis buang air kecil dan kembali kesini, Lia udah gak ada?" Tanya Rio mulai penasaran juga.
"Iya." Jawab Cassan sambil menganggukan kepalanya.
Luka mulai menganalisa ada kemungkinan jika Lia masih berada seputaran sini. Karena pagi belum menunjukkan terangnya, Lia tidak mungkin berjalan sendirian mencari jalan pulang.
"Gue yakin Lia masih ada di sekitar sini." Ucap Luka mendapat anggukan persetujuan dari Rio.
"Gue juga. Kita cari yuk." Ujar Rio.
"...." Cassan.
Kedua orang tersebut akhirnya mencari keberadaan Lia disekitaran situ. Mereka berteriak memanggil-manggil nama Lia berharap Lia mendengarnya dan merespon.
'Percuma mau cari sampe mana juga Lia gak akan ketemu. Paling dia udah dimakan binatang buas di luar sana.' Cassan membatin sambil tersenyum licik.
"Teriak juga dong kamu. Diam-diam bae." Rio memarahi Cassan.
"Iya iya ini juga mau teriak." Jawabnya.
'Ini cowok nyebelin banget. Apa aku hilangin dia juga ya.' Batin Cassan kesal pada Rio.
__ADS_1