
#77
Tiara dan Luka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan posko penjagaan para anggota OSIS paska menyelesaikan misi mereka sebelum mereka ketahuan.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Tiara dan Luka berjalan menghampiri kerumunan orang banyak yang sedang terlihat berusaha memadamkan nyala api yang disebabkan oleh ide mereka tersebut.
Namun disisi lain Luka dan Tiara malah sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatan mereka. Justru mereka terlihat menikmati kemesraan mereka karena tak ada mata yang memandang keduanya.
Luka masih menatap wajah Tiara penuh tanda tanya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada cewek cantik di sampingnya itu hanya sekedar untuk mewakili rasa penasarannya.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" Tanya Tiara setelah menyadari Luka belum mengalihkan pandangannya darinya.
"Kamu dan kakak kamu, siapa yang paling genius?" Tanya Luka penasaran.
"Kenapa kamu bertanya tentang itu?" Tiara mengembalikan pertanyaan baru pada Luka.
"Karena kamu bilang tadi kamu meng-hack sistem kakakmu otomatis yang membuat alat pelacak tersebut adalah kakakmu bukan?" Luka bertanya lagi. Kali ini ia mencoba menebaknya.
Bagaimana tidak, jika Key adalah genius sesungguhnya yang bisa menciptakan alat pelacak seperti itu, lalu bagaimana dengan Tiara yang bisa menembus sistem kakaknya sendiri? Pikiran Luka bertanya-tanya.
Tiara menghentikan langkah kakinya sejenak lalu menatap wajah Luka. "Iya memang benar kakakku yang menciptakan alat pelacak tersebut." Jawab Tiara.
"Tapi untuk mengatakan siapa genius sesungguhnya maka aku akan menjawab, kakakku." Lanjut Tiara menjawab rasa penasaran Luka.
"Kenapa?" Tanya Luka lagi. Menurut Luka, Tiara lah yang paling genius disini karena berhasil menembus sistem kakaknya yang terbilang sudah berada di level expert. Apa lagi menembusnya hanya dalam beberapa menit saja.
"Karena dialah yang menemukan ide brilian tersebut dan merancang alat pelacaknya untuk melindungi keluarga kami." Tiara tersenyum manja pada Luka sambil mengedipkan sebelah matanya.
Luka tercengang mendengar jawaban Tiara sekaligus aksinya yang begitu menggoda dirinya. 'Sial, cantik banget nih cewek!' Luka membatin dalam debaran jantungnya.
Sesaat Luka terjatuh dalam lamunannya karena kecantikan Tiara telah menghipnotis pandangannya. Dan ketika menyadari bahwa Tiara telah berjalan beberapa meter meninggalkan dirinya, Luka kemudian berlari menghampirinya sambil berteriak "Tapi di hati aku kamulah genius sesungguhnya."
"Apa kamu bilang? Aku gak dengar." Tiara meneriaki Luka kembali sembari berlari cepat agar Luka tidak bisa mengejarnya.
"Kamulah genius sesungguhnya di hati aku." Teriak Luka lagi dan masih terus mengejar Tiara yang semakin menjauh.
"Haha, tuan Luka kata-katamu itu manis sekali." Tiara melepaskan semua tawanya pada Luka.
"Benarkah, nyonya Luka?"
Seketika Tiara langsung berhenti berlari. "Nyonya Luka?" ia mengulang kembali perkataan Luka barusan. Wajah Tiara langsung memerah dan jantungnya seperti ingin berpindah tempat.
"Luka memanggilku dengan sebutan 'Nyonya Luka'?" Tiara berkata sambil meletakkan tangannya di jantungnya dan merasakan bagaimana tidak beraturan debaran jantungnya itu.
"Ketemu kamu haha." Luka melingkarkan tangan kanannya di leher Tiara dan tangan kirinya di sematkan di perut Tiara agar Tiara tidak kabur lagi darinya. Namun kenyataan yang terlihat adalah Luka seperti sedang memeluk Tiara dari belakang.
"Kamu gak bisa kabur lagi dari aku." Bisik Luka tepat di kuping Tiara membuat Tiara membeku karena merasa seperti ada sengatan tegangan listrik mengalir ke seluruh tubuhnya.
Tiara syok melihat apa yang di lakukan Luka padanya. Meskipun ia takut orang-orang akan melihat mereka namun jauh di dalam hatinya, Tiara merasa sangat bahagia.
"Lepasin aku. Gimana kalau orang-orang lihat." Tiara berkata pada Luka.
Mendengar permintaan Tiara, Luka tersenyum lebar. "Benar nih kamu pengen aku lepasin?" Luka menggodanya.
Bukan tanpa alasan Luka berkata seperti itu. Pasalnya Tiara meminta Luka untuk melepaskannya namun Tiara sendiri justru terdiam dan tidak berusaha untuk melepaskan diri. Jadi Luka berpikir Tiara tidak ingin ia melepaskan pelukannya.
"Kamu,.." Tiara kehabisan kata-katanya setelah merasa digoda oleh Luka. Ia tidak ingin menyangkalnya juga karena apa yang dikatakan oleh Luka benar adanya.
__ADS_1
"Tiga menit saja." Ucap Luka sambil menyenderkan dagunya di pundak Tiara. Suaranya kali ini terdengar serius. "Biarkan aku memelukmu selama tiga menit." Lanjutnya lagi lalu memejamkan matanya.
Tiara terdiam untuk sesaat dan membiarkan Luka memeluknya. Ia memandang ke sekeliling mereka dan tidak melihat siapa pun disana. 'Sigh, syukurlah.' Tiara membatin lega.
"Apa kamu takut ketahuan?" Luka bertanya pada Tiara karena mendengarnya menghembuskan nafas panjangnya.
"Hmm? Enggak kok hehe." Tiara menggelengkan kepalanya.
Luka kemudian mengangkat dagunya dari pundak Tiara dan melepaskan pelukannya. Ia lalu memutar badan Tiara menghadap padanya.
"Aku gak masalah entah sampai kapan kamu mau ngerahasiain hubungan kita. Tapi disaat ada orang yang bilang suka sama kamu, jangan marah kalau aku bakalan ngomong kamu adalah pacar aku." Ucap Luka dengan gentle.
Tiara merasakan ketulusan datang dari setiap kata-kata yang Luka ucapkan. Dan tatapan tajam yang diberikan Luka padanya serasa menusuk hingga ke relung hatinya.
"Iya. Aku,.."
"TIARA." Suara Alda terdengar sampai ke telinga Tiara sehingga menghentikan semua perkataannya.
Melihat Alda berjalan menghampiri mereka, Luka dengan cepat melepaskan tangannya dari lengan Tiara dan menatap kearah datangnya Alda.
"Al, Alda.." Tiara menyapanya dengan grogi. Ia tidak tahu seberapa jauh Alda melihat dirinya dan Luka bersama.
Alda yang melihat wajah gugup Tiara hanya bisa menghela nafas panjang tak berdaya. Tiara pasti memikirkan bagaimana caranya ia harus memberikan penjelasan pada Alda.
Sementara di satu sisi, Luka terlihat santai dan tenang. Ia sudah bisa menebak jika Reno telah memberitahu Alda tentang dirinya yang menaruh hati pada Tiara.
"Kenapa gugup begitu?" Tanya Alda.
"...." Tiara.
Tiara terkejut mendengar perkataan Alda. Ia melirik pada Luka kemudian Alda. Tiara tidak tahu sejak kapan Alda mengetahui tentang semuanya itu. Dan apa katanya barusan? 'Luka sedang mengungkapkan perasaannya?' Tiara membatin sambil menahan tawa.
'Alda tidak salah menebak. Bukankah benar, baru saja Luka mengatakan perasaannya?' Tiara berpikir kembali.
"Udah udah lupakan juga tentang itu. Aku masih khawatir dengan kondisi Lia. Gimana kalau sesuatu terjadi padanya?" Ekspresi wajah Alda terlihat panik. Ia merasa belum tenang sebelum menemukan Lia.
Tiara tersenyum pada Alda mengetahui betapa baiknya hati sahabatnya itu. Meskipun Lia sudah menampar Alda kemarin, hal tersebut tidak menghilangkan rasa persahabatan yang Alda miliki untuk Lia.
"Jangan khawatir. Aku dan Luka sudah menemukan lokasi keberadaan Lia." Ucap Tiara memberikan kejutan pada Alda.
"Apa? Serius? Beneran? Sumpah? Gak bohong kan kalian?" Teriak Alda kegirangan.
Tiara tertawa lucu melihat reaksi Alda. Ia lalu menganggukkan kepalanya mengiyakan semua perkataan Alda.
Tanpa berpikir panjang, Alda langsung memeluk Tiara dan Luka sekaligus dengan kedua tangannya yang terbuka lebar. "Kyaa Tiara, Luka makasih ya."
Tiara dan Luka saling melempar tatapan atas aksi Alda yang memeluk keduanya. "Vio, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memeluk Luka?" Suara Reno terdengar tepat dibelakang Alda.
Dengan cepat Alda melepaskan peluknya. Saat matanya menangkap keberadaan Reno, Alda lalu memeluk Reno dengan kuat seperti saat mereka masih kecil. "Ren, Lia udah ditemukan." Serunya dengan bahagia.
"Apa?" Reno dan Saka menyahut dengan kompak.
"Luka dan Tiara yang menemukannya." Lanjut Alda.
Reno dan Saka kemudian menatap pada pasangan kekasih tersebut. Mereka meminta penjelasan dari keduanya dan akhirnya Luka menceritakannya.
Sesuai keinginan Tiara, Luka tidak menceritakan kepada ketiga orang tersebut bahwa Tiara yang melacak, meng-hack sistem dan mengaktifkan alat pelacak di topi yang dikenakan Lia.
__ADS_1
Ia hanya menceritakannya bahwa mereka terpaksa membuat kebakaran tersebut untuk mengalihkan perhatian Stacy dan semua orang agar menggunakan laptop di meja posko.
Laptop tersebut digunakan untuk membuka google earth dan mencari keberadaan Lia. Alhasil usaha mereka tersebut berhasil.
"Apa? Jadi kalian berdua yang menyebabkan kebakaran tersebut?" Alda, Reno dan Saka bertanya dengan serempak. Mereka tidak menyangka jika kebakaran tersebut ulah dari Tiara dan Luka.
"Kalian bikin semua keributan ini dan malah enak-enakan ber-lovely dovey disini?" Alda menggoda pasangan yang terlihat serasi satu sama lain itu sehingga mengundang tawa pecah dari keempatnya.
Dari kejauhan Tiara melihat Cassan berjalan mondar-mandir kesana dan kemari seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tiara lalu berjalan menghampirinya diikuti oleh Alda disampingnya dan ketiga cowok tampan tersebut di belakang mereka.
Berhenti tepat di depan Cassan, Tiara langsung melempar pertanyaan tanpa basa-basi. "Ada apa? Kamu jadi tidak tenang sekarang?"
Mendengar suara tidak akrab menyapa dirinya, Cassan mengangkat pandangannya dari sepatu Tiara dan menatap wajah cantiknya. Wajah cantik Tiara adalah salah satu alasan yang membuat Cassan sangat membencinya. Pasalnya semua cowok jadi lebih memperhatikan Tiara dari pada dirinya. Termasuk Luka yang ikut terpesona.
"Apa maksud kamu?" Tanya Cassan berpura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan Tiara.
"Gak usah sok polos deh. Kamu kan yang sengaja ninggalin Lia sendirian di hutan?" Alda langsung meninggikan suaranya karena merasa sangat muak dengan akting Cassan.
"Mana buktinya aku ninggalin Lia sendirian?" Cassan mencoba membela diri dengan menanyakan bukti atas tuduhan Tiara dan Alda.
"Kamu nanyain bukti? Yakin?" Tiara menatap dingin pada Cassan.
Nyali Cassan seketika menghilang setelah mendapat tekanan dari tatapan dingin milik Tiara. Jangankan Cassan, Alda dan ketiga cowok yang berdiri disana pun bisa merasakannya hanya dengan mendengar suara Tiara.
"Tenang aja, gak usah khawatir. Aku akan kasih apa yang kamu minta. Tapi akan lebih seru lagi kalau buktinya adalah bukti hidup iya gak sih?." Ucap Tiara.
Cassan berubah pucat seketika. 'Apa maksud Tiara dengan bukti hidup?' Tanyanya dalam hati. 'Jangan bilang,..'
"Iya tepat sekali Cassan." Tiara mengangkat dagu Cassan menggunakan jari telunjuknya. "Kami sudah menemukan keberadaan Lia." Ejanya dengan jelas.
DUARRRR
Cassan hampir terjatuh mengetahui bagaimana Tiara bisa membaca isi pikirannya. Dan kakinya terasa tidak mampu lagi untuk menopang berat badannya.
Semua gerak-gerik dan olah tubuh Tiara bagaikan sebuah tekanan yang mampu menekan emosional seseorang sampai ke titik paling terendah dan Cassan mengalaminya saat ini.
"Aku, aku tidak meninggalkan Lia. Aku tidak meninggalkan Lia." Cassan menggumam kata-kata yang sama berulang-ulang kali setelah mendapat tatapan dingin dari Tiara.
Sementara tatapan mata Cassan sendiri terlihat kosong dan telah kehilangan semua kefokusan.
BRUKKK
Cassan terjatuh ke tanah. "Aku tidak meninggalkan Lia. Aku tidak meninggalkan Lia." Ucapannya lagi.
Tiara tersadar setelah mendengar suara jatuhnya Cassan. Ia sempat terhanyut dalam dunianya sendiri dan tidak menyadari jika ia telah membuat Cassan hampir kehilangan akal.
"Ada apa dengan dia?" Saka bertanya setelah melihat tingkah aneh Cassan.
"Gak tau. Kayaknya dia jadi gila." Jawab Alda tidak peduli.
"Dia ketakutan sampe segitunya?" Sambung Reno.
"...." Luka.
Luka tidak mengatakan apapun tapi ia yakin tingkah aneh Cassan berhubungan dengan tekanan yang diberikan oleh Tiara.
__ADS_1