Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#38 Tumbuhnya Keatas Gak Kesamping


__ADS_3

Alda dan Reno saling melepaskan pelukan setelah beberapa lama. Wajah Alda memerah ia tidak menyangka semuanya berakhir dengan Reno yang memeluknya terlebih dahulu.


Sebaliknya Reno pun sama. Wajah dan telinganya memerah. Bagaimanapun juga sejak dulu ia sudah menyukai Alda bahkan setelah bertemu dengannya kembali ia jatuh cinta lagi padanya.


"Gimana kabar kamu selama delapan tahun?" Reno bertanya tak ingin keduanya menjadi canggung setelah berpelukan.


"Aku baik-baik aja seperti yang kamu lihat." Jawab Alda santai.


"Kayaknya enggak deh. Buktinya kamu pendek. Pasti pertumbuhan kamu gak gak bagus selama ini." Goda Reno sambil menebar senyum tipis.


"Jadi maksud kamu aku tumbuhnya gak keatas tapi ke samping gitu?" Alda memutarkan kedua bola matanya.


Reno tertawa lebar mendengar ucapan Alda. Entah kenapa dan mengapa ia suka sekali menggoda Alda ataupun membuatnya kesal.


Alda mengangkat wajahnya melihat Reno. Ia sedikit kaget mendapati tinggi Reno yang hampir mencapai 180 cm. 'Sejak kapan dia menjadi setinggi ini?' Lia membatin.


Dulu saat mereka masih bersama, tinggi Reno bahkan tidak mencapai telinga Alda. Sekarang Alda harus mendongak untuk bisa melihat wajahnya.


"Kamu tumbuh dengan sangat baik." Ucap Alda.


"Jelas dong. Secara aku kan tumbuhnya keatas gak kayak seseorang, gak keatas gak kesamping juga." Jawabnya sambil melirik pada Alda. Reno ingin melihat reaksi Alda jika ia terus menggodanya seperti ini.


Mendengar jawaban menyebalkan dari Reno, Alda tidak mau bertanya apa-apa lagi. "Dasar nyebelin. Lebih baik aku pulang dari pada naik darah. Bye.." Alda berlari meninggalkan Reno yang tertawa puas padanya.


-----

__ADS_1


Di asrama cowok di dalam kamar bernomor 109, Saka terbaring malas diatas tempat tidurnya. Saat ia membalikkan badan ke sisi kanan ia tidak melihat Luka disana. Begitupun sebaliknya. Saat membalikkan badan ke sisi kiri ia juga tidak melihat Reno disana.


Saka sama sekali tidak memiliki ide kemana perginya kedua sahabatnya itu. Mereka tidak memberitahu ataupun hanya sekedar menelfon dirinya sebelum menghilang.


Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka dan Luka masuk kedalamnya. Dengan cepat Saka berlari menuju Luka. "Lu habis dari mana sih?" Tanyanya.


"Dari sekolah." Jawab Luka dingin seperti biasa tapi itu terjadi jika orang yang mendengarnya adalah orang yang belum mengenal baik Luka.


Bagi Saka yang sejak kecil tumbuh bersama Luka, ia tahu persis ada yang berbeda dari sohibnya itu. Luka terlihat sedang senang.


"Lu sama Tiara..." Perkataan saka terhenti setelah bunyi pintu kamar terbuka lagi.


Luka dan Saka menatap pada Reno yang masuk dari pintu dengan wajah penuh bahagia. Saka bingung apa yang sedang terjadi pada Reno dan Luka. Selain keduanya terlambat kembali ke asrama mereka juga kembali dengan mood yang bagus.


"Jawab jujur apa? Sembunyiin apa? Gue gak sembunyiin apa-apa dari lo." Jawab Reno.


"Bohong. Terus kenapa lo berdua pulang terlambat. Pake gak ngasitau lagi."


Reno memandang Luka yang masih berseragam lengkap sama sepertinya. Ia tidak menyangka Luka akan terlambat pulang. Biasanya Luka tidak suka berkeliaran diluar.


"Gue ketemu Alda dulu tadi." Jawab Reno tidak mau berbohong pada Saka maupun Luka.


Saka kaget mendengar jawaban Reno begitu juga Luka namun ekspresinya tetap saja tidak ada yang berubah.


"Lo ketemu Alda Violetta?" Tanya Saka.

__ADS_1


Mendengar bagaimana Saka menyebut nama Alda, Reno terlihat tidak begitu menyukainya. "Mulai dari sekarang lo berhenti panggil Alda dengan nama panjangnya. Cukup panggil dia Alda."


Setelah mengatakan itu pada Saka, Reno berjalan menuju lemarinya dan mengganti pakaiannya.


Lagi Saka dibuat terkejut oleh Reno. "What?" Ia tidak tahu kenapa Reno melarangnya memanggil Alda dengan nama panjang.


Saka menatap Luka seolah menanyakan padanya ada apa dengan Reno namun yang mengejutkannya lagi Luka malah menertawakan dirinya.


-----


Tiara berjalan pulang ke asrama setelah berbicara panjang lebar dengan Herlin. Ia bersyukur Herlin bersetuju membantunya mencari beberapa panti asuhan di kota H.


Tiara merasa sangat terbantu dengan begini ia tidak perlu meminta bantuan pada keluarganya, Alexander.


Ketika tiba di lobi asrama Tiara tidak sengaja bertemu dengan Michelle adik tiri ayahnya, Jonathan Alexander.


Michelle yang melihat Tiara masih mengenakan seragam sekolah itu lalu berjalan menghampirinya. "Tiara kamu kok baru pulang jam segini?"


Tiara mengabaikan pertanyaan Michelle dan melihat ke sekelilingnya. Ia memastikan tidak ada orang yang melihatnya sedang mengobrol dengan bibinya.


"Udah gak usah khawatir. Di jam begini kebanyakan mereka ada di kamarnya masing-masing." Ucap Michelle menghilangkan kekhawatiran Tiara.


"Oh gitu ya. Auntie aku kangen sama auntie." Tiara memeluk erat Michelle. Ia merindukan sekali bibinya itu. Meski sudah beberapa hari ia berada di asrama tetap saja ia jarang bertemu Michelle.


Michelle tersenyum senang melihat bagaimana imutnya sikap Tiara saat mereka sendirian dan tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana ia begitu merindukan Tiara.

__ADS_1


__ADS_2