Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#106 Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Setengah jam sebelum pukul 7 malam dimana acara ulang tahun akan dimulai, Tiara dan ketiga orang sahabatnya sudah selesai bersiap-siap. Mereka terlihat sangat cantik juga mempesona dengan gaun dan make-up sederhana yang dikenakan.


Kebiasaan saling memuji kecantikan satu sama lain pun sudah mereka lakukan dan kini sambil menunggu kabar dari Luka dan kawan-kawan, mereka memilih memenuhi memori ponsel dengan mengambil gambar kebersamaan.


Tiara memisahkan diri dari ketiga sahabatnya itu setelah ikut mengambil beberapa gambar lalu fokus mengetik sesuatu di ponsel miliknya. Saat sedang sibuk mengirim pesan, tiba-tiba saja ponsel Tiara berdering mengundang ketiga orang lainnya menatap padanya penuh tanda tanya.


"Hallo." Sapa Reno dari seberang sana setelah Tiara menerima panggilannya. "Calon kakak ipar, kalian ada dimana? Kami sudah di depan pintu gerbang asrama kalian nih. Kita berangkat."


"Hallo.. hallo, calon kakak ipar!" Serunya yang tidak kunjung mendapat jawaban dari Tiara.


Menyadari bahwa panggilannya sudah dimatikan secara sepihak, Reno berdiri dengan cengang menatap ponselnya. 'Calon kakak ipar, apa salahnya tinggal jawab, "iya Ren, tunggu disitu kami segera turun" ini malah langsung dimatikan. Aku juga laki-laki punya perasaan. Kenapa cuma Naga doang yang lo baikkin?' Keluhnya.


"Gimana Ren, calon kakak ipar ngomong apa sama lo?" Tanya Saka penasaran.


'Ngomong? Yang benar saja lo kalo tanya!? Jawab satu kata saja enggak.' Batinnya menghardik Saka.


"Kenapa ekspresi lo begitu? Kesambet setan ya lo kelamaan berdiri di luar." Ejek Saka dari dalam mobil.


'Berisik lo.' Hardiknya lagi dalam hati.


Tidak menunggu waktu lama, dari kejauhan mata Reno menangkap keberadaan empat sosok perempuan di tengah remang-remang. "Itu mereka sudah datang." Ucapnya membuat Luka dan Saka segera keluar dari dalam mobil.


"Hai semuanya, kita berangkat sekarang?" Tanya Alda setelah tiba di sana.


"Iya kita berangkat sekarang. Kalian bertiga cantik banget." Puji Reno sambil tersipu malu.


"Makasih Ren." Jawab Lia, Alda dan Abie bersamaan.


"Kalian bertiga juga tampan sekali malam ini." Lanjut Alda.


"Makasih. Calon kakak ipar man,.." Reno membeku menghentikan pertanyaannya manakala sepasang matanya menangkap sosok Tiara berdiri dengan anggun di belakang ketiga sahabatnya.


"Ca ca calon kakak ipar, ini seriusan kamu? Gila cantik banget." Celetuknya.


"Sayang sekali udah punya sahabat gue, kalau enggak udah gue jadikan milik." Gumam Saka yang tidak lolos dari pendengaran Luka membuatnya mendapat tatapan tajam dan dingin menusuk kulit.


"Haha biasa saja dong reaksinya. Tapi tadi kami juga tidak kalah heboh sih dari kamu, Ren." Ujar Lia sambil menatap hangat Tiara.


Tiara mengenakan gaun Lavida berwarna hitam yang dibuat khusus untuknya dengan rambut dicepol rapi membingkai wajahnya yang sempurna. Beberapa helai permata asli menjuntai ke bawah menghiasi gaun panjangnya.


Tidak seorang pun yang tahu alasan kenapa Tiara memilih untuk mengenakan gaun berwarna hitam di acara ulang tahun namun yang pasti gaun yang dikenakannya itu sangat menonjolkan sisi dingin dan datar dari Tiara sendiri.


Melihat bagaimana Reno dan Saka memuji kecantikan Tiara, Luka langsung menarik lembut tangan kekasihnya itu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Hal ini pun tidak terlepas dari pandangan kelima orang lainnya yang berada disana membuat mereka menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Luka.


Ketujuh orang sahabat itu akhirnya pergi meninggalkan asrama menuju tempat acara. Setibanya mereka di hotel A, ada beberapa jejeran mobil didepan mereka melaju dengan perlahan di jalur yang sama membuat mobil yang mereka tumpangi pun terpaksa menyesuaikan kecepatan yang ada.


Melihat apa yang terjadi, seisi mobil menjadi penasaran tak terkecuali Tiara dan Luka yang duduk berdampingan di bangku penumpang belakang.


"Pak, ada apa ya di depan kok pada pelan-pelan jalannya?" Tanya Reno pada supir.


"Itu dek, tunggu mobil yang lainnya menurunkan tamu soalnya ada pemeriksaan dulu sebelum masuk." Jawabnya.


"Oh begitu." Seru mereka kompak.


Setelah mobil yang lain pergi, kini giliran Tiara dan kawan-kawan harus turun dari mobil yang di tumpangi. Mereka pun melakukan hal sama, berdiam diri sejenak di dalam mobil sebelum tamu yang berada diluar di pastikan aman setelah melakukan pemeriksaan.


"Gila sumpah, ini acara ulang tahun atau acara apaan sampai segitunya." Komentar Alda melihat apa yang ada di depan matanya.


"Namanya juga sweet seventeen anak orang kaya." Timpal Reno.


"Pantas saja. Tapi seriusan kita disuruh jalan diatas red carpet itu? Ya elaaaa sudah kayak artis saja kita." Cerocos Alda.

__ADS_1


"Kok aku merasa tegang ya?" Ucap Lia sambil sesekali mencoba menstabilkan nafas tidak teraturnya.


"Sudah santai, jangan tegang. Anggap saja kita lagi belajar menjadi model, berjalan diatas catwalk." Ujar Abie yang duduk disampingnya.


"Kalau belajar menjadi model tanpa dilihat orang-orang sih aku sudah biasa. Tapi masalahnya lihat tuh, penjaga pintunya, buset seram amat mukanya."


"Haha, sudah kalau begitu anggap saja lagi jalan santai diantara kawanan domba-domba."


"Haha, jadi model iklan domba dong?" Tawa Lia mendengar perkataan Abie.


"Aku tidak ikut-ikutan deh kalau soal itu hehe." Balas Abie lagi.


"Iyalah elo gak ikut-ikutan, orang elo kodok masa jadi model domba." Ledek Saka pada Abie.


"Apa lo bilang barusan? Dasar playboy kuda."


"Kodok. Jadi model kodok saja lo lebih cocok."


"Kamu tuh yang mirip kuda,.."


"Sudah hentikan kalian berdua." Bentak Lia pada kedua saudara itu. Jika biasanya Reno yang menghentikan mereka maka malam ini Lia yang mengambil alih karena duduk diantara keduanya.


Di tempat duduk belakang, Tiara terlihat melepaskan sesuatu dari gaun yang dikenakannya dan memasukannya ke dalam tas tangan miliknya.


"Kenapa kamu lepas benda itu dari sana?" Tanya Luka penasaran. Ia tidak tahu benda apa itu namun terlihat cantik dan cocok di gaun Tiara.


"Ini adalah salah satu alat pelacak yang terbuat dari logam. Aku harus melepasnya karena para tamu diluar diperiksa menggunakan metal detector." Jawab Tiara.


"Oh begitu."


Luka pikir alat pelacak Tiara hanya memiliki satu bentuk saja seperti yang digunakan olehnya saat menjalankan misi tadi namun siapa sangka ada alat pelacak dari bahan lain dengan bentuk yang berbeda lagi. Terlihat seperti aksesoris.


"Justru itu aku mau minta bantuan kamu." Ucap Tiara sambil melempar senyum manisnya.


Melihat bagaimana Tiara bersikap manis di depannya, Luka mulai berpikir, hal gila apa lagi yang Tiara minta ia lakukan kali ini?


"Okey, apa yang harus aku lakukan nyonya muda?" Luka bertanya pasrah. Kali ini ia benar-benar pasrah menyerahkan diri sepenuhnya pada Tiara untuk melakukan apa saja padanya.


"Haha kamu meledek aku ya?" Tiara membalas Luka.


"Tidaklah. Memang benar kan kamu nyonya mudanya tuan muda Luka?" Perjelas Luka.


"What? Jangan bercanda aku serius."


"Oke oke. Katakan apa yang harus aku lakukan?" Tanya Luka kembali dengan nada serius.


"Kamu tahu ini apa?" Tiara menunjukan sebuah benda tajam berukuran sangat kecil yang sudah sengaja ia siapkan dari asrama.


"Tahulah, Paku tekan." Luka heran Tiara bertanya padanya tentang nama dari benda kecil tersebut. "Lagian kenapa kamu bawa-bawa benda tajam itu di tas kamu?" Lanjutnya bertanya.


"Aku sengaja bawa ini karena aku yakin akan ada pemeriksaan seperti itu sebelum masuk ke dalam hotel." Jawab Tiara membuat Luka terkejut membayangkan sejauh apa otak Tiara memikirkan semuanya ini.


"Nah sekarang kamu injak paku tekannya supaya tertempel di sepatu kamu. Turun dari mobil kita pasti jalan bergandengan dan aku mau kamu pegang tas aku." Tutur Tiara menjelaskan sedikit rencana untuk lolos dari metal detector.


"Aku akan menyerahkan diri untuk di periksa terlebih dahulu oleh penjaga. Setelah lolos, giliran kamu yang akan di periksa. Pastikan dia mengarahkan metal detector nya ke sepatu kamu lebih dulu sebelum ke tas aku. Saat metal detector berbunyi karena paku tekannya, kamu langsung serahkan tasnya kembali ke aku karena,.."


"Karena perhatian mereka sudah terarah kan ke sepatu aku?" Luka menyanggah perkataan Tiara.


"Yap benar." Ucap Tiara sambil menjentikkan jarinya.


"Siap laksanakan komandan." Seru Luka membuat keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


Setelah memastikan semuanya, Tiara, Luka dan kawan-kawan pun dibukakan pintu oleh seorang pria berseragam hitam dengan tanda pengenal bernama Sunar Sunardi. Dia adalah supir yang menjemput mereka.


Reno berpasangan dengan Vio jalan mendahului kelima orang lainnya setelah turun dari mobil, disusul Saka yang menggandeng Lia dan Abie mengikuti mereka dari belakang.


Pasangan Terakhir adalah Luka dan Tiara. Luka turun terlebih dahulu dari mobil lalu mengulurkan tangan kanannya pada Tiara untuk membantunya turun dari atas sana.


Melihat Luka dan Tiara turun dengan cara yang berbeda dari kelima temannya, Sunar merasa terkesima pada mereka dan hanya tersenyum simpul tanpa mengatakan apapun.


Sesuai rencana yang sudah siapkan, Luka maupun Tiara kompak melakukannya tanpa ada kesalahan sehingga mereka lolos begitu saja dari pemeriksaan.


Namun mata Tiara menatap tajam pada kedua penjaga itu dan memastikan untuk menghafal setiap detail ciri-ciri mereka hanya untuk berjaga-jaga. Hal ini Tiara lakukan karena ia baru saja memasuki sarang lawannya yang sudah pasti memiliki rencana buruk terhadapnya.


Setelah memasuki bangunan, Tiara mengeluarkan alat pelacak dari dalam tas dan memasang kembali ke gaunnya. Ia dan Luka kemudian bergabung bersama kelima orang lainnya yang sedang menunggu mereka di lobi sebelum menaiki lift menuju aula hotel dimana acara akan diadakan.


Setibanya mereka di aula, Tiara dan kawan-kawan dibukakan pintu oleh dua orang penjaga berseragam hitam, berperawakan tinggi, kekar juga memiliki wajah seram seperti anggota mafia membuat Lia, Alda dan yang lainnya takut untuk menelan ludah mereka sendiri.


Berbeda dengan dua orang penjaga yang melakukan pemeriksaan dibawah, penjaga pintu aula langsung menatap tajam pada Tiara dengan gerak-gerik mencurigakan membuat Tiara langsung mewaspadai keduanya. Namun hal tersebut tidak lantas membuat Tiara merasa takut dan melemahkan pertahanan dirinya. Ia justru mengembalikan tatapan yang jauh lebih tajam dan dingin pada kedua orang itu sambil menghafal setiap detail ciri-ciri mereka.


Sesaat suara pintu dibuka, semua pasang mata para tamu undangan di dalam ruangan tertuju pada ketujuh orang itu.


Luka, Reno dan Saka yang memiliki visual masing-masing sudah bisa dipastikan langsung menjadi momok pembicaraan para tamu undangan perempuan namun tidak dengan Tiara dan ketiga sahabatnya yang mendapat tatapan tidak suka dari mereka.


Bisikan demi bisikan pun terjadi dalam sesaat. Ada yang memuji penampilan mereka ada juga yang mempertanyakan gaun yang di kenakan oleh Tiara.


"Kenapa kok perempuan itu pakai gaun warna hitam sih? Memangnya dia lagi berduka?" Bisik seorang perempuan pada temannya.


"Gak tahu tuh, gak sopan banget. Ini kan acara sweet seventeen masa iya pake gaun begituan?" Jawan temannya.


"Tapi gaunnya cantik banget sumpah." Sambung yang lain.


"Cantik sih cantik tapi lihat sikon juga dong. Ini kan hari bahagia seseorang masa dia datang bawa kedukaan dengan gaun hitam itu?" Tambah yang lainnya lagi.


Memilih untuk mengabaikan bisikan orang-orang itu, Tiara memantau ke sekelilingnya dengan saksama sebelum akhirnya Master of Ceremony bersuara di balik pengeras suara ketika waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.


Setelah memberikan sedikit kata pembukaan, tiba saatnya acara dimana Gerald naik keatas panggung untuk memotong kue ulang tahunnya. Suatu pemandangan yang membuat Alda, Lia dan Abie terkejut adalah Ria yang digandeng oleh seorang laki-laki tampan menaiki panggung menuju tempat kue ulang tahun berada.


"Ria!? Kok bisa dia ada disitu?" Seru Alda pada Reno.


"Jangan bilang ini acara ulang tahun pacar Ria?" Tanya Abie pada Reno.


"Iya." Jawab Reno heran melihat reaksi terkejut mereka.


"Kenapa tidak bilang dari awal. Tahu begini kami tidak sudih datang kesini." Lia menatap kesal pada Reno.


Reno, Saka dan Luka yang tidak tahu menahu kebenaran di balik reaksi sahabat Tiara itu saling melempar tatapan bingung.


"Tiara, kok kamu diam saja? Ini acara pacarnya si perempuan gila itu. Mending kita keluar saja dari sini." Alda berkata.


"Iya betul itu, ayo keluar." Sambung Lia dan Abie.


Melihat reaksi ketiga sahabatnya, Tiara berpikir itu adalah hal yang wajar karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Namun karena ia sudah menyetujui permintaan Reno, tidak mungkin baginya untuk membatalkan semuanya begitu saja. Apa lagi setelah tahu bahwa Reno dilibatkan hanya karena Ria ingin membalaskan rasa malu yang ia dapat, terlepas dari Reno adalah kenalan Gerald.


"Guys, sebenarnya aku sudah tahu semua ini siang tadi setelah aku pastikan lagi sama Reno. Tapi maaf aku tidak bisa kasitahu kalian bertiga karena aku merasa kita sudah terlanjur mengiyakan permintaan Reno. Anggap saja kita hadir disini karena Reno bukan pacarnya Ria ataupun Ria sendiri."


Mendengar penjelasan Tiara, Lia, Alda dan Abie teringat akan persetujuan mereka kala itu pada Reno. Akhirnya dengan berat hati mereka memutuskan untuk melupakan sesaat ego mereka dan menikmati acaranya demi Reno.


-----


Catatan Author :


Maaf teman-teman menunggu lama🙏

__ADS_1


__ADS_2