
Tiara berdiri di samping Luka dan memberitahunya bahwa ia bisa menemukan dimana posisi keberadaan Lia menggunakan GPS.
"GPS? Tapi kan,.." Luka menghentikan perkataannya.
Menurut Luka ada cara untuk menemukan seseorang menggunakan GPS seperti memasang GPS tracker di sebuah benda seperti kendaraan dan sebagainya untuk mengetahui lokasi dari kendaraan tersebut dalam bentuk titik koordinat yang kemudian di implementasikan ke dalam bentuk peta digital, sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh penggunanya.
Namun yang membuat Luka bingung adalah bagaimana Tiara bisa melacak keberadaan Lia. 'Apa Tiara sudah memasang GPS tracker di tubuh Lia?' Luka membatin.
Luka menatap wajah cantik Tiara dan mencoba untuk mengerti isi pikiran cewek yang disukainya itu. Namun sayang ia tidak berhasil melakukannya.
Tiara terlihat fokus dengan pikirannya. Sebelumnya Tiara sudah memikirkan berbagai cara untuk melacak lokasi keberadaan Lia seperti melacak nomor Lia menggunakan Google Map dan lain sebagainya namun ia selalu menemukan beberapa kendala.
"Ada cara lain juga untuk mengetahui keberadaan Lia. Seperti mengirim pesan singkat padanya lalu melacak posisinya menggunakan GPS. Tapi seperti yang kita semua tahu kalau Lia sama sekali tidak mengangkat telfonnya." Tiara menjelaskannya pada Luka.
"Menurutku Lia pergi tanpa membawa ponselnya. Jika tidak, secara logika Lia pasti sudah menghubungiku dan Alda sejak tadi. Atau menghubungi Cassan misalnya setelah menyadari Cassan meninggalkannya." Lanjut Tiara menjelaskan.
Tiara tetap percaya bahwa Cassan-lah yang telah meninggalkan Lia. Karena menurutnya penjelasan Cassan sangat tidak masuk akal. Dan untuk membuktikan itu Tiara akan menemukan bukti tapi sebelumnya ia harus menemukan sahabatnya tersebut terlebih dahulu.
Luka terus menatap wajah cantik Tiara. Ia tidak menyangka pengetahuan Tiara begitu luas mengenai hal-hal seperti itu. Luka merasa bangga memiliki Tiara dalam hidupnya. Ia juga bersyukur dan berterima kasih pada dirinya sendiri karena telah jatuh cinta pada orang yang tepat.
'Setidaknya aku sekarang bisa tenang karena dia udah jadi milikku. Kalau enggak aku pasti udah kehilangan permata paling berharga di dunia ini.' Luka membatin dalam senyum.
Wajah Luka memancarkan aura seperti orang yang sedang dilanda kasmaran dan tanpa disadarinya orang-orang disekitar mereka tengah memandang penuh kagum pada keduanya.
Kecocokan diantara keduanya benar-benar terlihat sempurna dan nyata. Tiara yang memiliki kecantikan yang luar biasa dipasangkan dengan Luka yang memiliki ketampanan bagaikan lukisan pahat. Selain itu keduanya sama-sama memiliki kepintaran diatas rata-rata.
"Sial jika mereka bersama, kira-kira seperti apa ya gen yang di hasilkan?" Seorang berkomentar dengan rasa kagum yang meluap-luap.
"Mereka tuh egois banget. Seharusnya mereka ditakdirkan dengan orang-orang seperti kita supaya bisa mengurangi keturunan kita yang standar ini." Lanjut yang lain.
Melihat bagaimana orang-orang berkomentar tentang Luka dan Tiara, kuping Cassan memanas. Ingin sekali ia memberi mereka pelajaran dan merobek mulut mereka agar tidak lagi menyandingkan Luka dan Tiara.
Bagi Cassan hanya dirinya seorang yang cocok untuk bersanding dengan Luka yang tampan, pintar dan terlihat seperti berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya.
"Terus bagaimana cara kamu untuk menemukan Lia sekarang?" Tanya Luka.
Mendengar pertanyaan Luka, Tiara tersenyum manis padanya, "Topi yang dikenakan oleh Lia adalah topi milikku. Di topi tersebut sudah terpasang sebuah alat pelacak." Ucap Tiara. "Aku akan melacak keberadaan alat tersebut menggunakan GPS sehingga Lia bisa ditemukan."
Luka kaget mendengar perkataan Tiara. Bagaimana tidak, GPS, alat pelacak dan melacak, ia mengetahui mengenai semua hal tersebut tapi untuk anak seusia mereka menurutnya tidak ada yang menekuni hal seperti itu.
"Alat pelacak? Di pasang di topi?" Tanya Luka merasa penasaran.
__ADS_1
Tiara menganggukkan kepalanya, "Iya bukan hanya di topi saja. Semua benda yang aku kenakan mulai dari pakaian, sepatu, perhiasan dan juga peralatan elektronik milikku sudah terpasang dengan alat pelacak." Tiara menjawab rasa penasaran Luka.
Pada dasarnya sangatlah tabu bagi Tiara untuk mengatakan tentang semua hal itu kepada orang asing. Karena hal tersebut hanya akan membuka pintu bagi para musuh-musuh keluarganya untuk bertindak jahat kepadanya.
Namun Tiara berkata terbuka pada Luka karena ia mempercayainya. Ia yakin bahwa Luka bisa menjaga rahasianya dan Luka juga bukan musuh keluarga Alexander.
Lagi Luka kembali terkejut dengan perkataan Tiara. Ia sama sekali tidak menyangka jika kehidupan Tiara selalu di selimuti dengan benda-benda seperti. Akan tetapi untuk apa semua barang tersebut dipasang padanya? Pikiran Luka lagi-lagi dibuat pusing memikirkan tentang sisi lain dari Tiara.
"Jangan khawatir. Alat pelacaknya tidak dipasang untuk memata-matai diriku. Alat itu sengaja di pasang agar keamananku terjaga." Tiara memberikan penjelasan pada Luka agar Luka tidak berpikir yang bukan-bukan mengenai kehidupannya.
Seperti yang di jelaskan oleh Tiara pada Luka, alat pelacak tersebut tidak di pasang hanya padanya saja melainkan ke seluruh anggota keluarga Alexander.
Mengingat keluarga Alexander adalah keluar kaya raya dan berpengaruh nomor satu di negeri ini maka sangat rentan bagi mereka untuk di jadikan target kejahatan.
Oleh sebab itu segala benda yang mereka gunakan akan diberikan alat pelacak khusus yang hanya di ciptakan untuk keamanan keluarga mereka saja. Dan orang yang menciptakan alat tersebut adalah si jenius sesungguhnya, Key, kakak Tiara.
'Bagaimana bisa?' Tanya Luka dalam hatinya. Otaknya masih belum bisa memproses semua perkataan Tiara.
Tiara tersenyum melihat ekspresi campur aduk datang dari wajah Luka. Menurut Tiara, Luka sangat menggemaskan dan juga manis seperti anak anjing.
"Aku tahu kamu pasti bingung mikirin semuanya ini. Tapi seiring berjalannya waktu ketika kamu masih berada disisi aku, aku yakin kamu pasti akan mengerti seperti apa aku dan seperti apa latar belakangku." Ucap Tiara sambil tersenyum.
Luka menganggukkan kepalanya mencoba untuk membuang rasa penasarannya dan memahami Tiara. "Aku akan bersama kamu sampai tua nanti jadi selama waktu itu akan akan terus mengenal siapa kamu."
"Bukan gimbal tapi gombal." Luka membenarkan plesetan kata Tiara. Alhasil keduanya tertawa bersama menghilangkan sejenak kepanikan mereka.
----
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk melacak keberadaan Lia?" Tanya Luka pada Tiara.
Tiara melihat jam yang melekat di tangannya kemudian menjawab Luka, "15-20 menit. Tapi,..."
"Ada apa?" Tanya Luka penasaran setelah Tiara menghentikan perkataannya. "Kamu ingin mengatakan sesuatu?"
Tiara menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Luka. "Aku membutuh sebuah laptop untuk mengaktifkan alat pelacak tersebut."
"Laptop?"
Lagi Tiara menganggukkan kepalanya. "Iya. Itu adalah topi baru dan aku belum pernah memakainya sebelumnya sehingga alat pelacak tersebut belum diaktifkan." Ucap Tiara.
Luka paham maksud Tiara. Ia lalu melihat ke arah posko penjagaan para anggota OSIS dan menemukan sebuah laptop berada diatas meja di tengah-tengah tumpukan peralatan lainnya.
__ADS_1
"Disana ada laptop." Luka menunjuk kearah laptop berada dan mata Tiara mengikuti arahan tangannya.
Ada sebuah senyum kelegaan muncul di balik wajah cantik Tiara. Ia merasa semakin dekat untuk menemukan keberadaan Lia dan membongkar kebusukan Cassan.
"Aku minta ke anggota OSIS supaya meminjamkan laptopnya padamu." Ungkap Luka.
Mendengar Luka mengatakan itu, dengan cepat Tiara langsung menghentikannya. "No. Gak boleh."
"Kenapa? Bukannya kamu butuh laptop itu untuk melacak keberadaan Tiara? Mereka pasti kasih kalau kita memintanya. Apa lagi untuk menemukan Lia." Jawab Luka bingung kenapa Tiara menghentikannya.
Tiara menghela nafas panjangnya lalu menjelaskan pada Luka bahwa ia ingin usahanya untuk melacak keberadaan Lia di rahasiakan dari semua orang.
Ia tidak ingin orang-orang mengetahui jika ia memiliki kemampuan untuk melacak lokasi seseorang dan lagi mengenai alat pelacak yang terpasang di semua benda milikinya. Ia ingin tidak ada orang yang mengetahuinya sekalipun Alda dan Lia sahabatnya.
Lagi-lagi Luka dibuat terkejut dengan sisi lain dari Tiara. Tiara memiliki kepintaran dan juga kemampuan yang tidak dimiliki oleh anak seusia mereka namun ia tidak pernah menyombongkannya malah ingin merahasiakannya dari semua orang.
"Baiklah." Luka tersenyum pada Tiara.
Tiara senang karena Luka mengerti dirinya. Akhirnya Luka dan Tiara membuat sebuah ide dimana mereka membakar sesuatu di belakang tenda dan membuat seolah-olah telah terjadi kebakaran untuk mengalihkan perhatian Stacy dan Varno. Tak terkecuali semua orang yang berada disana.
Ketika kebakaran terjadi dan semua orang terlihat berlari kearah dimana api berasal, Tiara dan Luka berlari ke meja dimana laptop tadi berada.
Tiara kemudian mencari sebuah aplikasi pemrograman di laptop tersebut. Bersyukur laptop tersebut sudah terpasang dengan aplikasi yang ia butuhkan sehingga tidak memaksanya untuk meng-install terlebih dahulu. Karena itu hanya akan memakan waktu yang cukup lama.
Kemudian Tiara membuka aplikasi tersebut dan mulai menggerakkan kesepuluh jarinya diatas keyboard laptop dengan cepat secepat kilat.
Mata Luka terbuka lebar melihat bagaimana Tiara mengetik bahasa pemrograman yang masih asing di mata dan pengetahuannya itu.
Luka memang sedang mempelajari bahasa pemrograman tingkat awal namun yang dilihatnya dari Tiara saat ini bukan lagi bahasa pemrograman yang ia ketahui melainkan bahasa pemrograman seorang programmer handal di tingkat atas.
Beberapa menit berlalu Tiara akhirnya menyelesaikan misinya. "Yes, Berhasil." Ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya dan tersenyum lebar.
Luka masih saja membeku melihat aksi Tiara, pacarnya itu. Sampai-sampai ia juga tidak menyadarinya jika Tiara sudah berhasil mengaktifkan alat pelacak di topi yang dipakai oleh Lia.
Tiara membuka aplikasi Google Map di ponselnya dan disana terlihat jelas posisi dimana alat pelacak tersebut terdeteksi. "Ini dia. Lia ada disini." Seru Tiara kembali menyadarkan Luka.
"Barusan kamu ngapain?" Tanya Luka sedikit penasaran namun ekspresi kaget di wajah tampannya masih terlihat jelas.
"Hmm?" Tiara mengangkat alisnya menanyakan maksud Luka. Lalu tersadar, "Oh haha.. aku meng-hack sedikit sistem kakakku untuk mengaktifkan alat pelacaknya."
"What? Meng-hack? Tadi itu kamu lagi nge-hack sistem?" Tanya Luka tidak percaya pada pendengarannya.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Luka, lagi-lagi Tiara tertawa lucu padanya.