
Sekembalinya Tiara dari kantin menuju kelas, ia di kejutkan dengan kedatangan Adrian yang sebelumnya pernah memanggilnya ke ruang tata usaha untuk menghadap Herlin. Tiara langsung teringat akan permintaannya kepada pihak sekolah untuk mencairkan beasiswa miliknya.
'Mungkinkah sudah dicairkan? Tapi aku belum mendapat pesan dari M-banking." Tiara membatin tanya.
"Tiara, kamu dipanggil lagi tuh sama bu Herlin." Ucap Adrian sambil menebarkan senyum manisnya pada gadis cantik itu karena merasa sudah lama tidak bertemu dengan Tiara.
Mendengar itu, Tiara berpikir untuk menemui Herlin terlebih dahulu sebelum dirinya kembali ke kelas. "Al, kamu ikut Luka kembali duluan ya ke kelas. Aku masih ada urusan." Tuturnya dengan hangat.
"Iya, kamu hati-hati ya." Jawab Alda.
Alda langsung menyetujui permintaan Tiara tanpa basa-basi mengingat hal itu adalah privasi Tiara. Dan lagi meskipun mereka adalah sahabat dekat, dirinya tidak akan ikut campur jika Tiara tidak memperbolehkannya.
Saat ingin pergi dari sana dan mengikuti Adrian, langkah kaki Tiara di hentikan oleh sebuah suara yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang tanpa sebab. Siap lagi kalau bukan suara kekasih hatinya, Luka Naga Wangsa.
"Aku ikut kamu." Ucapnya sedikit memaksa lalu menarik tangan Tiara menyusuri koridor menuju ruangan tata usaha.
Sejenak Alda membeku melihat aksi Luka menarik-narik tangan Tiara dengan lembut. Ia tahu Luka melakukannya karena tidak rela melihat Tiara pergi bersama cowok lain, membuatnya menggelengkan kepala tak percaya tetapi tidak bisa menutupi kelucuan yang dirasakannya saat melihat pasangan tersebut.
Alda akhirnya memutuskan untuk berjalan kembali ke kelasnya, namun matanya secara tidak sengaja mendapati Adrian memaku syok akan hal yang sama. Ekspresi wajahnya sudah cukup membuat Alda menebak apa yang sedang dirasakan oleh seniornya itu. 'Yah, cinta layu sebelum bersemi.' Batinnya kasihan, lalu pergi dari sana.
"Ka, ada apa dengan kamu?" Tanya Tiara bingung dengan perubahan sikap Luka yang tiba-tiba. "Kalau dilihat orang-orang gimana?" Lanjutnya sambil memantau keadaan sekitar.
Luka menghentikan langkah kakinya setelah mendengar pertanyaan Tiara. Ia lalu membalikan badannya dan menatap mata coklat indah milik Tiara untuk waktu yang cukup lama.
"Ada apa?" Tanya Tiara lagi, datar namun diikuti dengan kelembutan.
"Aku cemburu." Jawabnya dengan wajah memerah.
"Hahahaha..."
Seketika hanya terdengar suara tawaan Tiara diantara keduanya. Tiara sama sekali tidak menyangka Luka bersikap seperti itu hanya karena merasa cemburu. Ia kemudian berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan cowok tampan di hadapannya itu lalu meletakan tangannya diatas kepala Luka dan mengacak lembut rambutnya, sambil berkata;
"Tcih, aku senang kamu cemburu tapi aku hanya menyukai satu cowok yang ada didepan mataku ini. Sekalipun dewa ketampanan turun dari atas langit, aku tetap menyukainya."
Melihat bagaimana Tiara menggoda dirinya, wajah tampan Luka semakin memerah. Ia kemudian mencubit kedua pipi Tiara dengan gemas, "kamu pikir aku bakalan tergoda dengan kata-kata rayuan mu itu, hah?" Ucap Luka sambil tertawa melihat ekspresi lucu wajah Tiara.
"Aduh,.. lepasin pipi aku."
"Gak mau."
"Lepasin ih.."
"Gak mau, pipi kamu lembut soalnya haha..."
"Aku hitung sampai tiga, lepasin. Kalau enggak aku gelitik, mau?"
__ADS_1
"Coba saja kalau berani haha.."
Beberapa lama saling bercanda gurau, tiba-tiba Tiara melihat sesosok yang ia kenal berdiri membelakangi mereka di pojok bangunan sambil menerima telfon. Orang itu menerima telfonnya secara rahasia tanpa menyadari keberadaan Tiara dan Luka disana. Hal ini pun kemudian membuat rasa penasaran Tiara muncul.
"Ka, berhenti dulu sebentar." Ucap Tiara pada Luka dengan berbisik.
"Ada apa?" Tanya Luka bingung lalu mengikuti kemana arahan mata Tiara tertuju.
"Kamu kenal sama dia?" Tanya Luka lagi setelah matanya mendapati sosok perempuan berambut hitam dan panjang itu.
"Iya, pelan-pelan. Ikut aku kesini. Aku ingin dengar apa yang sedang dibicarakannya di telfon." Bisik Tiara lagi lalu menarik tangan Luka mengikutinya mendekat pada sosok perempuan tersebut.
Luka yang tidak memiliki ide kenapa Tiara begitu penasaran dengan perempuan yang berseragam sama dengan mereka itu, terpaksa berkerja sama dan ikut mengendap-endap bersama Tiara.
"Hallo om.." Sapa perempuan itu dengan manja.
Tiara dan Luka tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh orang dibalik telfon itu, namun mereka memilih fokus pada sosok perempuan tersebut. Dari sapaannya, Tiara dan luka sudah bisa menebak jika orang yang menelfon itu adalah seorang pria paruh baya mengingat perempuan itu memanggilnya dengan sebutan om.
Selain itu hal yang membuat Tiara dan Luka bertanya-tanya adalah nada bicaranya sang perempuan. Entah kenapa semuanya terkesan seperti mereka sedang memiliki hubungan spesial namun disembunyikan dari semua orang.
Luka melihat senyum menakutkan Tiara muncul saat itu juga kala mendengar perempuan tersebut menyapa manja seorang pria paruh baya. Luka yakin Tiara sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.
"Om, besok malam adalah hari ulang tahun temanku. Aku harus tampil cantik dengan gaun pesta. Tapi,..." Perempuan itu tidak melanjutkannya.
Tiara dan Luka langsung melotot manakala mendengar perempuan itu berkata akan mengikuti pesta ulang tahun. Mereka pun teringat akan surat undangan yang dituturkan oleh Reno tadi.
"Bisa? Aaa...Makasih ya om."
"Apa? Besok siang om datang sendiri ke kota H?" Tanyanya lagi setelah mendapat jawaban.
"Tidak tidak tidak, tentu aku juga kangen sama om. Sudah lama aku gak lihat om pastinya aku kangen dong."
"Di hotel A?" Tanyanya kaget. "Itu tempat acara ulang tahun temanku. Bagaimana kalau kita ke hotel lain saja." Ujarnya dengan suara seksi sambil memainkan kuku tangannya.
"Oke, hotel kristal. Jam 3 setelah aku pulang sekolah."
"Oke sayang, mmuaahh." Ucapnya langsung mematikan panggilannya lalu pergi.
Luka akhirnya bernafas lega setelah kepergian perempuan itu. Bukan karena ia takut ketahuan melainkan ia harus menahan bunyi detakkan jantungnya agar tidak terdengar oleh Tiara yang berada beberapa sentimeter di depannya.
"Kamu kenal siapa perempuan tadi?" Tanya luka kembali.
"Iya." Jawab Tiara.
Luka tidak menanyakan kelanjutannya pada Tiara meskipun ia memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Seperti tentang siapa perempuan tersebut dan kenapa Tiara begitu ingin tahu apa yang sedang dibicarakan olehnya dan lain sebagainya.
__ADS_1
Luka percaya bahwa Tiara tidak mungkin bersikap sejauh itu hanya karena alasan penasaran saja. Pasti sesuatu sudah terjadi diantara mereka dan Tiara sedang mencari cela diantara lawannya.
"Yuk kita ke ruangan tata usaha." Ajak Tiara pada Luka yang tidak henti-henti menatap wajahnya.
"Jangan bilang besok kamu ke hotel itu?" Tanya Luka mengikuti langkah kaki Tiara dari belakang.
"Iya aku harus melakukannya." Jawab Tiara.
"Aku ikut." Ujar Luka dengan cepat.
"Kenapa kamu selalu bilang, aku ikut aku ikut?"
"Ya karena aku pacar kamu dan aku mengkhawatirkan kamu, okey."
"Mm, apa aku selemah itu? Aku punya banyak suruhan diluar sana. Tinggal aku menggerakkan mereka, semuanya beres."
"Suruhan? Kamu kayak bos mafia saja."
"Haha.. Bagaimana kalau aku jadi bos mafia?"
"Aku tetap menyukaimu."
"Aku tidak akan menjadikan diriku seperti itu. Orang-orang suruhanku adalah korban-korban dari tindakan mereka sendiri. Aku hanya memiliki sedikit kelemahan mereka yang membuat mereka mengikuti perkataanku."
"Tidak masalah dengan itu. Aku sudah jatuh hati padamu jadi aku akan menyukai semua tentang dirimu."
"Alah, gimbal."
"Gombal bukan gimbal."
"Oh sudah berubah ya?"
"Kamu yang merubahnya barusan."
Tiara menghentikan percakapannya dengan Luka ketika mereka sampai di ruangan yang dimaksud. Sebelum dirinya masuk, Tiara menatap wajah Luka sesaat.
"Ada apa?" Tanya Luka heran melihat Tiara tiba-tiba menatapnya.
"Apa kamu juga ingin masuk?" Tiara memberinya pertanyaan.
"Iya. Aku akan menunggumu di dalam. Jika aku berdiri diluar mungkin kamu tidak akan bisa melihatku lagi setelah keluar." Jawabnya.
"Kenapa?" Tanya Tiara tidak mengerti maksud perkataan Luka.
"Karena aku diculik sama para penggemarku."
__ADS_1
"Haha, kalau begitu ikut aku masuk."