Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#101 Stacy Marah


__ADS_3

Sehabis menantang Tiara dan bertaruh dengannya, Lydia berjalan dengan angkuh diantara kedua sahabatnya, Monica dan Susi, menuju asrama. Ia mengeluarkan ponsel dari saku blazer lalu mematikan alat perekam suara yang masih menyala.


Tiba-tiba terbesit dibenak Lydia dari mana Tiara mengetahui bahwa dirinya sedang merekam percakapan diantara mereka. Karena sebelum melakukan rekaman, ia sudah memastikan dengan baik jika tidak ada seorang pun yang berada disana mengetahui rencananya itu sekalipun Monica dan Susi.


Meski banyak pertanyaan datang silih berganti, Lydia mencoba untuk menepisnya. Bagaimanapun juga saat ini Tiara sudah berada di dalam genggaman tangannya. Ia tidak sabar menunggu satu minggu berlalu dengan cepat untuk menyaksikan bagaimana Tiara akan bersuka rela mengundurkan diri dari Boulevar.


Lydia memutuskan untuk menyimpan baik-baik rekaman suara dimana dirinya menantang Tiara tersebut. Karena dengan rekaman itu, ia bisa menjadikannya alat bukti jika suatu waktu Tiara menolak mengakuinya.


"Lydia, kamu yakin mau tantang si Tiara itu?" Tanya Monica masih belum yakin.


"Iyalah." Jawab Lydia sombong. "Memangnya kamu tidak mau melihat dia menghilang dari Boulevar? Bukannya kamu juga membenci dia?" Lanjutnya bertanya.


"Aku memang benci sama dia tapi bagaimana kalau kamu kalah dari Tiara? Yang ada kamu harus keluar dari Boulevar." Ucap Monica.


"Monica benar, kami tidak mau kamu keluar dari Boulevar. Apa lagi Stacy sampai mendengar ini." Sambung Susi merinding kala memikirkan kemarahan Stacy.


"Kalian menganggap remeh aku ya? Aku ini juara dua umum di Boulevar High School. Nilai milikku saja hanya berbeda sedikit dari Stacy dan kalian beranggapan kalau aku tidak bisa mengalahkan si Tiara itu? Mustahil." Ujar Lydia.


Monica tahu persis bagaimana Lydia dan Stacy saling bersaing untuk mendapatkan juara umum meskipun mereka saling bersahabat. Tapi Tiara menantang Lydia dengan menjadikan pelajaran kelas dua sebagai kompetisinya, apa lagi dia begitu yakin hanya membutuhkan waktu satu minggu saja untuk mempelajari semuanya. Bukankah artinya Tiara benar-benar genius? Pikir Monica.


"Dia itu hanyalah seorang anak baru, masih bau kencur. Dan kalian dengan mudahnya terpengaruh oleh kata-kata sok jagonya itu? Mana bisa dia menguasai semua pelajaran kelas dua hanya dalam satu minggu. Pakai logika kalian." Lanjut Lydia.


"Lydia ada benarnya juga. Dia kan pakai uang keluarganya untuk membayar orang saat tes masuk, jadi sudah pasti dia itu bukanlah siapa-siapa." Susi ikut membenarkan.


Pada akhirnya Monica menyerah untuk mempertahankan pikirannya. Ia terpaksa mengikuti perkataan Lydia juga Susi dan mulai beranggapan bahwa Tiara akan segera menemukan ajalnya.


"Nah karena sekarang dia sudah terima tantangan dari aku, Monica sebarkan pengumuman ini di forum chat sekolah. Dengan begitu para murid menjadi heboh sehingga mengundang guru-guru untuk segera menyusun soal-soalnya." Perintah Lydia.


Malam harinya, berita mengenai tantangan dan taruhan itu pun langsung beredar ramai di forum chat sekolah sehingga menjadikan pengumuman tersebut sebagai unggahan yang paling banyak dibicarakan.


Sementara di kamar 111, Tiara fokus dengan MacBook miliknya sebelum akhirnya Abie menghebohkan seisi kamar.


"Gila gila gila, ini seriusan? Pengumuman tentang kompetisi antara Tiara dan Lydia sudah beredar di forum sekolah. Dan unggahannya menjadi tranding topik."


"Apa!!" Seru Lia dan Alda, langsung berlari menuju Abie.


Tiara pun terpaksa menghentikan aktivitasnya kala mendengar Abie mengatakan tentang hal tersebut. Ia lalu membalikan kursi belajarnya dan menatap pada ketiga sahabatnya yang kini tengah serius membaca pengumuman di forum chat sekolah.


"Tiara menantang Lydia untuk berkompetisi?" Baca Alda pada sebuah tulisan yang berada disana. "Wah gila si tiga betina ini. Mereka mengumumkan bawah Tiara yang menantang Lydia dan bukan sebaliknya?"


"Menurut aku, mereka sengaja melakukan itu karena tidak ingin Lydia dinilai orang-orang menantang seorang junior." Ucap Lia.


"Tiara, menurut kamu bagaimana?" Tanya Abie penasaran.


"Apa yang dikatakan oleh Lia itu benar. Mereka ingin agar namaku menjadi bahan perbincangan para murid dan bukan Lydia. Tapi itu tidak masalah, karena aku yang akan memenangkan kompetisinya." Jawab Tiara santai.


Perkataan Tiara tersebut lantas membuat ketiga sahabatnya saling bertukar senyuman. Bagaimanapun mereka percaya pada kegeniusan Tiara.


"Tapi kamu hanya punya satu minggu untuk mempelajari semua mata pelajaran kelas dua, mana mungkin kamu bisa memahami semuanya dalam waktu sesingkat itu?" Abie bertanya.


"Iya Tiara, lagian kita harus meminjam buku di perpustakaan dan catatan para senior. Apa waktunya cukup untuk kamu mempelajari semuanya?" Sambung Alda.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita pinjam catatan kak Michelle yang pernah menolong kamu dari Monica?" Usul Lia.


Melihat bagaimana para sahabatnya mengkhawatirkan dirinya, Tiara hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Haha, kalian ini. Aku tidak mungkin memberi waktu diriku sendiri hanya seminggu saja jika aku belum mempelajari semua pelajaran tersebut." Ucap Tiara yang kemudian membuat ketiga sahabatnya tertegun.


"Ma ma maksudnya, kamu sudah pelajari semua pelajaran kelas dua?" Tanya Alda terbata-bata.


"Mm.." Angguk Tiara mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu.


"Apa!!?" Teriak ketiganya bersamaan.


"Bukan hanya kelas dua saja, semua pelajaran SMA sudah ada di luar kepalaku." Lanjut Tiara.


"APA!!?" Ketiganya semakin terkejut dengan perkataan Tiara.


"Maka dari itu kamu tantang Lydia dengan pelajaran kelas dua?" Tanya Alda sekali lagi.


"Iya, karena dengan begitu aku tidak dirugikan sama sekali." Jawab Tiara.


"Berarti kalau seandainya kamu menang yang di permalukan disini adalah Lydia karena dia sudah kelas tiga." Seru Abie.


"Dan kalaupun kamu kalah, kamu tidak di permalukan oleh para murid karena kamu masih kelas satu?" Lia melanjutkan Abie menganalisa maksud Tiara.


"Iya seperti itu." Ucapnya setuju.


Rasa kagum ketiga orang tersebut pada Tiara semakin menjadi-jadi. Mereka tidak bisa berpikir jernih sejauh apa kegeniusan otak Tiara.


"Terus kenapa kamu minta waktu satu minggu untuk belajar? Kenapa tidak langsung berkompetisi saja?" Tanya Alda.


"Oh.." Jawab mereka serempak.


"Besok kita akan menghadiri acara ulang tahun teman Reno, kalian sudah menyiapkan gaun atau dress?" Tanya Tiara pada sahabat-sahabatnya menutup pembahasan mereka sebelumnya.


"Oh iya hampir saja lupa. Aku belum punya gaun." Jawab Alda.


"Aku juga." Lanjut Lia.


"Sama." Tambah Abie.


Melihat ekspresi wajah ketiga orang dihadapannya itu Tiara akhirnya memiliki ide untuk mengajak mereka berbelanja di mall. Dengan begitu ia berkesempatan untuk mencaritahu dengan siapa sosok perempuan siang tadi itu bertemu.


"Besok kan akhir pekan, bagaimana kalau kita pergi ke mall untuk mencari gaunnya sehabis sekolah?" Ajak Tiara pada mereka.


"Setuju." Ketiganya berteriak kompak dengan senyum sumringah.


-----


Dikamar 303 Stacy terlihat sangat marah setelah membaca pengumuman yang beredar di forum chat sekolah, sementara Lydia, Monica dan Susi hanya terdiam mendengarkan dirinya.


"Katakan sebenarnya, siapa yang membuat taruhan ini?" Tanya Stacy sedikit membentak.

__ADS_1


Monica dan Susi saling bertukar tatapan lalu melirik pada Lydia yang tertunduk diam sedari tadi.


"Lydia, kamu yang membuat taruhannya?" Tanya Stacy sekali lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


Lagi Lydia hanya terdiam dan tidak menjawab.


"Kamu tahu kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?" Stacy menatap tajam padanya. "Kamu sudah salah menilai Tiara." Lanjutnya dengan sangat dingin membuat Lydia langsung mengangkat kepalanya.


"Aku tidak salah menilai Tiara. Dia bukanlah siapa-siapa kalau tidak bermain curang menggunakan uang keluarganya." Sahut Lydia dengan kesal karena Stacy menyalahkan dirinya.


"Aku hanya tidak suka orang seperti dia karena menggunakan cara mudah untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh orang yang bersusah payah. Aku,.."


"Sudah cukup!" Sanggah Stacy membentaknya. "Kamu berani membantah perkataanku, hah?"


"....." Lydia.


"Lydia, Lydia.. aku tidak habis pikir kamu memiliki tempramen buruk seperti Monica." Ucap Stacy membuat pandangan Monica langsung tertuju padanya.


'Apa aku memiliki tempramen buruk dimatanya?' Monica membatin tanya dengan polos.


"Sejak kapan kamu jadi bersikap gegabah seperti itu? Sejak kapan?" Tanya Stacy dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.


"Kamu dengar baik-baik rekaman ini." Ucapnya lalu membuka rekaman percakapan antara Cassan dan Adit untuk di perdengarkan kepada Lydia.


Sesaat mata Lydia terbuka lebar begitu juga dengan Monica dan Susi. Mereka tidak pernah tahu ada rekaman yang membuktikan tentang kebenaran di balik video yang beredar.


"Bagaimana? Sekarang kamu mau berkata apa?" Tanya Stacy lagi pada Lydia setelah mematikan rekamannya.


"Ba bagaimana bisa?" Tanya Lydia belum percaya sepenuhnya.


"Bagaimana bisa? Kamu tahu sekarang kalau kamu sudah masuk ke dalam jebakan Tiara?"


"Aku, aku.."


"Rekaman ini di kirim ke semua murid Boulevar kecuali kita. Jadi kamu bisa berpikir kan alasan di balik semua itu?"


Lydia, Monica dan Susi terdiam mendengar perkataan Stacy.


"Semuanya itu karena Tiara sudah merencanakannya untuk menyambut datangnya hari ini. Kamu paham maksud aku?"


Lydia syok tidak menyangka dirinya bisa masuk ke dalam jebakan seorang junior seperti Tiara. Ia merasa tidak terima dan ingin menghancurkan Tiara secepatnya.


"Bagaimanapun juga dia hanyalah murid kelas satu dan aku yakin jika aku bisa mengalahkannya." Ucap Lydia.


Stacy kembali menatap wajah Lydia. Kali ini tatapannya sedikit teduh setelah mencoba untuk mengendalikan emosinya.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Stacy dengan lembut.


"Satu minggu adalah waktu yang terlalu singkat bagi Tiara untuk mempelajari semua mata pelajaran kelas dua. Aku yakin ia hanya akan mempermalukan dirinya saja nanti. Jadi aku,.." Jawab Lydia yang kemudian disanggah oleh Stacy.


"Bagaimana kalau Tiara menang dan kamu di harus keluar dari Boulevar?" Stacy kembali memberinya pertanyaan.

__ADS_1


"Aku,.. aku akan menolak taruhannya. Lagian dia tidak punya bukti akan perkataan aku tadi." Jawab Lydia. Ia yakin Tiara tidak merekam perkataannya dan justru sebaliknya, dia yang merekam percakapan mereka.


"Mm, semoga saja itu benar." Celetuk Stacy.


__ADS_2