Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#65 Hukuman


__ADS_3

Dari kejauhan Luka yang berada dalam rombongan berbeda, memandang Tiara penuh dengan rasa khawatir. Ia tidak tahu apakah Tiara mampu meminum jus pare tersebut sebagai hukuman atas keterlambatannya atau tidak.


Luka ingin sekali menggantikan posisi cewek yang sudah resmi menjadi pacarnya itu jika memang di perbolehkan. Ia akan menerima sepahit apapun jus tersebut asalkan Tiara baik-baik saja.


Namun sayang ia tidak bisa berbuat banyak. Selain tidak di perbolehkan untuk mengganti orang, Luka juga tidak bisa asal menggantikan Tiara begitu saja mengingat keduanya sedang dalam tahap merahasiakan hubungan mereka.


Tiara menyanggul rambutnya secara sembarangan setelah di biarkannya terurai sepanjang tidurnya tadi. Ia lalu mencari keberadaan sosok Luka. Entah karena sudah terhubung oleh insting keduanya, mata Tiara langsung menemukan Luka diantara banyaknya murid.


Tiara merasa lega karena Luka tidak terlambat seperti dirinya. Namun mata Tiara malah mendapati kekhawatiran datang dari wajah Luka. Tiara tersenyum senang dalam hatinya. Ia tidak menyangka Luka akan mengkhawatirkannya hanya karena segelas jus pare.


Bagi Tiara jus pare bukanlah sesuatu yang menakutkan. Tiara sudah pernah merasakan seperti apa pahitnya jus tersebut karena sebelumnya ia pernah meminumnya sebagai hukuman atas kekalahannya dalam permainan bersama Rey, sang kakak.


Tiara menganggukkan kepalanya kepada Luka sambil tersenyum menandakan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Dan meminta agar Luka tidak mengkhawatirkannya.


Mendapat isyarat dari Tiara, Luka akhirnya bernapas lega meskipun tidak sepenuhnya. Masih ada sedikit kekhawatiran jauh di dalam hatinya yang hanya ia sendiri ketahui.


Tiara bersama para murid yang terlambat pun berbaris berjejer sambil memegang segelas jus berwarna hijau di tangan mereka masing-masing dan siap untuk di santap.


Beberapa murid sudah mulai merasa pusing hanya dengan mencium baunya saja. Ada murid yang memandang dengan rasa jijik bahkan ada juga murid yang sama sekali tidak mau melihat wujud dari jus di tangan mereka tersebut agar tidak menakuti mereka saat meminumnya.


Dari berbagai respon yang ditunjukan oleh para murid hanya Tiara seorang yang tetap dengan sikap tenangnya. Wajah cantik miliknya tidak menunjukan ekspresi apa pun selain ekspresi datar khasnya.


"Oke siap semuanya?" Stacy berteriak di balik pengeras suara.


"SIAPPPPP.." Balasan teriakan kompak terdengar dari murid di sebelah kanannya.


"Dalam hitungan ke tiga, jusnya harap untuk diminum. Jika tidak maka hukumannya akan bertambah menjadi dua kali lipat." Stacy mengatakan peraturannya.


"Dan bagi yang dengan sengaja atau tidak menumpahkan jus langsung dari tangannya ataupun dari mulutnya tetap mendapatkan hukuman tambahan."


Perkataan tegas Stacy otomatis langsung membuat para murid yang sebelumnya sudah memiliki rencana sendiri dalam pikiran mereka menjadi tersadar. Mereka tidak memiliki keberanian untuk menjalankan rencana tersebut karena tidak ingin mendapatkan hukuman yang sama lagi.


"Paham?" Tanya Stacy.

__ADS_1


"PAHAMMM.." Jawab kompak murid di


sisi kanan Stacy lagi.


Jangankan mereka yang


mendapatkan hukuman saja yang merasa dag dig dug, namun murid yang datang tepat waktu pun ikut-ikutan merasakannya. Seolah-olah mereka bisa merasakan jus yang sama akan membasahi kerongkongan mereka.


"Kita mulai. 1..." Stacy mulai berhitung.


"2 3..."


Pada hitungan terakhir, Tiara bersama rombongannya langsung meminum jus pahit tersebut beramai-ramai.


Ekspresi lucu di wajah mereka mendapat tawaan tak kuat dari murid yang menonton bahkan para wali kelas mereka pun ikut bergabung dalam tawaan itu.


Tiara meminum jus pare dalam sekali teguk. Meskipun rasanya sangat pahit, ia tidak lagi merasa terkejut karena pernah meminumnya sekali.


Tanpa di sadari olehnya, dari kejauhan Luka diam-diam mengambil gambar Tiara menggunakan ponsel miliknya. Ia ingin mengambilnya untuk kenang-kenangan mereka. Meskipun dilakukan tanpa sepengetahuan Tiara, gambar yang di hasilkan sangatlah mengagumkan.


Namun semuanya itu justru tidak menghilangkan kesan cantik yang sudah dimilikinya malah semakin menambah kecantikannya.


Setelah meminum jus, Tiara diberikan segelas air mineral untuk menetralkan rasa di mulutnya oleh seorang anggota OSIS. Dimana anggota tersebut adalah Varno, cowok yang di jumpai oleh Cassan sebelumnya.


Varno sesaat merasa kagum dengan Tiara. Berdasarkan apa yang sudah ia dengar dari orang-orang mengenai Tiara, cukup untuk membangun rasa penasaran dalam dirinya.


Saat ini Tiara menerima segelas air dari tangannya dan ia ingin sekali mengajaknya berbicara. Namun Varno masih menyadarinya jika saat ini bukanlah saat yang tepat untuknya.


Tiara akhirnya merasa baik-baik saja setelah meminum air tersebut. "Terimakasih kak." Ucapnya.


"Sama-sama." Jawab Varno sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong kamu baru bangun tidur ya?" Varno asal bertanya.


"Iya kak makanya terlambat." Jawab Tiara.

__ADS_1


"Oh gitu. Kalau lagi dalam kegiatan seperti ini, jangan sekali-kali mencoba untuk tidur nyenyak." Varno memperingati Tiara karena ia pernah mengalaminya dulu.


Tiara tersipu malu mendengar bagaimana Varno menasehatinya apa lagi mendengar kata 'nyenyak' yang terucap dari mulut Varno.


"Iya kak." Jawabnya malu.


Melihat reaksi Tiara atas perkataannya, Varno tertawa kecil karena menurutnya Tiara sangat manis dan juga menggemaskan.


Dari kejauhan aura membunuh Luka bangkit setelah melihat Varno yang mencoba menggoda Tiara, pacarnya. Ingin sekali ia menghampiri Varno dan memukulnya namun hal itu hanya akan membuat orang mempertanyakan apa hubungan mereka.


Merasa ada yang berbeda datang dari sahabat mereka, bulu kuduk Reno dan Saka merinding. Reno maupun Saka pernah merasakan aura itu sebelumnya dimana Luka memukul Saka karena memperkenalkannya dengan gadis-gadis cantik. Bahkan mencoba merayunya, mengira dirinya adalah seorang gay.


"Ga, udah santai aja. Gue yakin calon kakak ipar gak bakalan suka sama dia." Reno berkata dengan hati-hati pada Luka mencoba menenangkan amarahnya. Ia dan Saka masih belum mengetahuinya jika Tiara bukan lagi calon kakak ipar mereka melainkan sudah resmi menjadi kakak ipar.


Melihat Luka belum merespon dirinya, Reno memicingkan matanya pada Saka untuk mendapatkan bantuan. Berulang-ulang kali Reno melakukan hal yang sama akan tetapi Saka tetap saja tidak mengerti maksudnya.


Reno menghembus nafas panjang tidak berdayanya. Kemudian dengan setengah kekuatannya ia menendang kaki jenjang milik Saka yang sangat di kagumi oleh para cewek-cewek di luaran sana selain wajah tampan dan latar belakang keluarganya.


"Aduh, apa sih?" Jerit Saka kesakitan sambil mengelus bagian kakinya yang tertendang sepatu Reno.


"Cepatan ngomong sesuatu. Lo gak lihat ekspresi dia?" Reno berbisik pada Saka yang kebingungan.


"Ngomongin soal apa?" Saka balik berbisik.


"Apa aja terserah lo. Yang penting dia enggak kesana dan habok tuh orang." Bisik Reno lagi.


Saka akhirnya mengerti apa maksud Reno dan melirik pada Luka.


"Ga, sebagai seorang playboy gue tau kalau tipe-tipe cewek kayak calon kakak ipar tuh, mereka hanya akan suka sama satu orang doang. Jadi kalau kakak ipar udah bilang dia suka sama lo, gue yakin gak ada cowok lain lagi di hatinya." Ucap Saka yakin seratus persen dengan analisanya.


Reno tersenyum pada Saka, menyetujui apa yang dikatakannya pada Luka. Tak lupa ia juga memberikan jempol pada Saka.


Mendengar perkataan kedua sahabatnya itu, Luka teringat akan candaannya saat itu pada Tiara, dimana Tiara sempat mengiyakan perkataannya bahwa dia hanya boleh menyukai dirinya saja.

__ADS_1


Senyum tipis nan manis pun muncul menghiasi wajah tampan Luka. Ia menjadi percaya diri dan yakin jika Tiara tidak akan menyukai cowok lain selain dirinya.


Setelah melihat Luka sudah meredahkan amarahnya, Reno dan Saka saling melempar kedipan. 'Dasar pencemburu' batin keduanya secara bersamaan mengejek Luka.


__ADS_2