Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#23 Dua Kubu Terbentuk


__ADS_3

Stacy mengernyitkan dahinya tak tahu apa yang harus dilakukan. Dia merasa seperti masker yang iya kenakan selama ini dengan baik perlahan mulai retak.


"Bapak bisa memanggil saya dengan sebutan Tiara." Ucap Tiara mengabaikan Stacy yang mematung.


"Tiara. Semuanya ayo beri tepukan tangan yang meriah untuk Tiara si pemilik nilai sempurna." Lanjut Doris memulai tepukan tangannya.


Murid-murid mulai mengikuti langkah Doris begitupun para guru, Luka, Cassan dan juga Stacy. Jelas Stacy terpaksa melakukannya karena tak ingin orang mencurigai dirinya menjatuhkan mic dengan sengaja.


Tiara merasa sangat senang mendapat apresiasi dari semua orang namun ekspresinya tetap sama datar juga dingin. Ia membungkuk terima kasih ke berbagai sisi tempat dimana orang-orang berada.


Ketika matanya menangkap keberadaan Lia dan Alda, Tiara semakin senang karena kedua sahabatnya tersebut paling bersemangat menepuk tangan untuknya.


Lia dan Alda lalu membuat gerakan menarik ujung bibir masing-masing dengan kedua jari telunjuk mereka. Tiara mengerti maksud keduanya. Mereka ingin Tiara tersenyum di momen seperti ini.


Melihat tingkah kedua sahabatnya itu tanpa sadar Tiara mengeluarkan senyum lebarnya. Kehangatan terpancar sangat jelas dari senyumnya membuat Luka yang melihatnya saat itu berdebar.


"Ah jantung gue..." Keluh seorang siswa sambil memegang dadanya.


"Lu kenapa woy, jantungan?" Tanya siswa lain khawatir.


"Iya gue kayaknya kena serangan jantung." Jawabnya.


"Apa!? Lu punya riwayat penyakit jantung?"

__ADS_1


"Enggak." Dia menggelengkan kepala. "Tapi mulai hari ini dan seterusnya gue bakalan kena serangan jantung kalo lihat senyum Tiara."


"..."


'Geblek gue kirain dia beneran serangan jantung ternyata bukan.. gue doain semoga kena serangan jantung beneran lu.' Siswa lain tersebut mengutuknya dalam batin.


Doris kemudian meminta Tiara untuk menyampaikan beberapa kata dalam acara tersebut. Entah itu rasa terima kasihnya atau apapun, ia bebas mengatakannya.


"Hallo semuanya, nama saya Tiara. Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada bapak kepala sekolah Boulevar High School yang sudah memberikan saya kesempatan untuk berbicara diatas panggung ini." Ucap Tiara mendapat anggukan dari Doris.


"Saya tidak mengira akan mendapat nilai sempurna dalam tes masuk Boulevar apa lagi memecahkan rekor sebelumnya." Tiara melirik dingin pada Stacy.


"Karena saya tahu kita semua telah bersama-sama berjuang keras mengikuti tes untuk menjadi bagian dari Boulevar High School sendiri." Tiara berhenti sejenak memandang ke sekelilingnya.


"Tidak peduli berapa nilai yang saya peroleh, tidak peduli berapa nilai yang kalian peroleh karena kita semua telah diterima di sekolah ini. Terima kasih." Lanjutnya.


Tak sedikit murid terharu mendengarnya. Kalimat terakhir Tiara membuat mereka tersadar kembali bahwa tidak masalah berapa nilai yang mereka peroleh karena tujuan awal mereka adalah untuk di terima di Boulevar High School bukan untuk memecahkan rekor.


"Hei guys coba kalian lihat. Ternyata Tiara tuh cantik banget ya." Kata seorang siswi.


"Iya tadi pas dia tersenyum aja, aku lihat banyak cowok yang kesambet sama senyum dia." Jawab yang lain.


"Coba deh kalian bandingin Tiara sama kak Stacy. Ya awalnya aku pikir kak Stacy juga cantik tapi setelah lihat Tiara, kak Stacy tuh kayak gak ada apa-apanya iya gak sih?"

__ADS_1


"Menurut aku juga gitu. Kak Stacy cantik karena dandanannya tapi Tiara cantiknya natural."


Para siswi membentuk kelompok dan mulai bergosip. Akhirnya dari acara penyambutan tersebut ada dua kubu yang terbentuk. Ada tim Stacy dan ada tim Tiara.


----


Acara penyambutan berakhir begitu saja. Setelah keluar dari dalam aula, murid beramai ramai memenuhi papan pengumuman yang terpasang di beberapa sudut sekolah untuk melihat nama juga nilai mereka sekaligus pembagian kelas.


Murid dari program umum memiliki bangunan yang berbeda dengan murid dari program kejuruan namun masih dalam satu lingkungan sekolah.


"Kya Tiara kita satu kelas." Teriak Alda memeluk Tiara.


Lia terdiam sedih mengetahui namanya berada di kelas C bukan A seperti Tiara dan Alda.


"Lia kamu gak usah sedih karena kita gak sekelas. Kan kita bisa ketemu lagi saat jam istirahat." Alda mencoba menguatkan Lia yang sedang murung.


"Iya Lia. Kalo jam istirahat kamu bisa samperin aku sama Alda di kelas atau kami yang samperin kamu, kita sama-sama ke kantin." Tiara ikut membantu Alda meyakinkan Lia.


Lia akhirnya tersenyum kembali setelah mendengar Tiara ikut meyakinkannya. "Aku bakalan berusaha belajar lebih keras lagi biar bisa sekelas sama kalian." Ungkap Lia semangat meyakinkan dirinya sendiri.


"Semoga aja saat itu kami gak turun jadi murid kelas C." Alda bergumam keras.


Tiara maupun Lia mengerti maksud perkataan Alda karena sistem yang di berlakukan oleh BHS. BHS membagi kelas para muridnya berdasarkan nilai akumulasi mereka.

__ADS_1


Murid dengan akumulasi nilai akhir tahun dari 60-69 berada di kelas D, 70-79 di kelas C, 80-89 di B dan murid dengan nilai akumulasi diatas 90 berada di kelas A.


Sistem tersebut belum di berlakukan untuk murid baru karena berdasarkan akumulasi tahunan. Saat ini pembagian kelas murid baru masih di acak.


__ADS_2