
Bel berbunyi dan proses belajar mengajar pun berakhir hari itu. Semua murid mengakhiri mata pelajaran terakhir mereka dengan semangat yang menyala.
Alda melirik pada Tiara ketika murid-murid yang lain mulai berhamburan keluar kelas sementara Tiara terlihat membenahi buku-buku miliknya ke dalam tas sekolah berharga fantastis di tangannya itu.
Tidak ada orang yang menyadari bahwa tas milik Tiara tersebut merupakan tas buatan salah satu brand lokal yang mendunia, Lavida dan tidak ada orang juga yang mengetahui tentang keberadaan tas ini.
Jelas mengapa mereka tidak mengetahuinya karena tas tersebut tidak pernah di jual ke pasaran. Dimana hanya ada satu buah saja di seluruh belahan dunia yang mengenal brand Lavida.
Lavida telah memfokuskan dirinya menciptakan fashion khusus untuk kalangan remaja saja. Entah itu desain atasan, terusan, celana, jaket, dan lain sebagainya sangat memenuhi karakter anak remaja membuat Lavida menjadi banyak disukai.
Artinya dari anak-anak remaja tersebut mereka mengetahui dengan baik kapan Lavida mengeluarkan produk terbarunya.
Akan tetapi berbeda dengan tas Tiara, mereka tidak pernah melihat Lavida mengeluarkan produk berupa tas tersebut. Seandainya mereka mengetahui Tiara memiliki tas yang tersedia satu buah saja di dunia dan dibuat khusus hanya untuknya saja oleh Lavida, tidakkah rasa iri mereka pada Tiara semakin menjadi?
"Al kamu masih..." Tiara membuka percakapan diantara mereka tapi kemudian menghentikannya.
Tiara berpikir ia tidak perlu bertanya pada Alda apakah Alda masih marah padanya atau tidak karena dilihat dari Alda yang tidak pernah menegurnya selama jam pelajaran terakhir berlangsung jelas membuktikan bahwa Alda masih marah padanya.
Mendengar Tiara mengehentikan perkataannya, Alda paham Tiara sedang memikirkan apakah dirinya masih marah atau tidak.
__ADS_1
"Tiara aku udah gak marah lagi kok." Ucap Alda sembari merangkul hangat lengan Tiara.
Tiara melotot tidak menyangka. "Serius kamu udah gak marah lagi sama aku?" Ia tidak tahu apa alasannya Alda mau memaafkannya namun dirinya juga tidak terlalu mempedulikan soal itu. Tiara sudah merasa sangat senang untuk tidak memikirkan hal seperti itu.
Alda mengangguk senyum padanya. "Iya aku gak marah lagi karena..." Alda berhenti dan tidak mau melanjutkan perkataannya membuat Tiara merasa penasaran.
"Karena apa?"
"Karena... Mmm karena apa ya?" Alda berhenti sejenak dan menggoda Tiara. Ia lalu melirik padanya dan memutar kedua bola matanya sambil tersenyum ia menjawab "Ya karena aku gak bisa lama-lama marah sama kamu haha.."
Sebenarnya Alda memang tidak ingin berseteru dengan tiara berlarut-larut karena seorang Cassan. Alda ingin terus mempertahankan persahabatannya bersama tiara dan Lia.
Alda merasa sangat yakin dengan kata hatinya itu. Entah apa yang membuatnya begitu mempercayai hati kecilnya tapi Alda hanya bisa mengatakan bahwa kata hatinya tidak mungkin pernah meleset karena ia sendiri sudah berulang-ulang kali mengalaminya.
Merasa digoda oleh Alda, Tiara tertawa geli begitu juga Alda. Kedua sahabat tersebut akhirnya memutuskan untuk menjemput Lia di kelasnya dan kembali ke asrama bersama. Namun disaat yang bersamaan Cassan menghentikan langkah kakinya setelah melihat mereka.
Awalnya Cassan hendak menghampiri Tiara dan mengajaknya untuk pulang bersama namun dirinya tidak menyangka melihat pemandangan berbeda datang dari Alda dan Tiara.
Sesaat Cassan terlihat tidak menyukai kebersamaan antara Tiara dan Alda. Ia ingin mereka terus bersalah paham satu sama lain agar hubungan persahabatan mereka hancur.
__ADS_1
"Cassan kamu masih belum pulang?" Tanya Tiara setelah melihat keberadaan Cassan disana.
Jelas Alda juga melihat keberadaan Cassan tapi sudah pasti ia tidak akan menegurnya. Ketika Alda melihat perbedaan di raut wajah Cassan membuatnya semakin yakin bahwa Cassan tidak ingin dirinya dan juga Tiara berbaikan seperti biasanya.
Akhirnya Alda memiliki ide untuk mengikuti permainan Cassan. Alda merangkul erat lengan Tiara dan tersenyum pada Cassan. "Iya Cassan kamu kok masih disini ya? Kalau gitu kita pulang bareng aja yuk." Ajakan Alda membuat Tiara dan Cassan terkejut secara bersamaan.
Tiara melotot pada Alda seolah bertanya padanya ada apa? Bukannya kamu tidak menyukai Cassan? Tiara sengaja bertanya pada Cassan tanpa mengajaknya pulang bersama karena tidak ingin Alda menjadi marah lagi padanya namun ia juga tidak menyangka jika Alda sendirilah yang memintanya pada Cassan.
Alda tersenyum pada Tiara dan berkata, "Aku gak masalah kok kalau kita pulang barengan. Lagian aku udah mikir kalau aku seharusnya gak bersikap kayak gitu ke Cassan." Alda melirik pada Cassan setelah mengatakan itu. "Iya gak Cassan?"
Cassan tersadar dari lamunannya dan karena tidak ingin perasaan sesungguhnya di ketahui oleh kedua sahabat itu ia menganggukkan kepala dan tersenyum. "Iya gak apa-apa kok. Aku ngerti perasaan kamu. Alda, kamu pasti gak mau kan kalau Tiara lebih ngebela aku dari pada kamu sahabatnya."
Mendengar bagaimana Cassan mengulang perkataannya bahwa Tiara lebih membelanya dibandingkan dirinya, Alda berpikir Cassan melakukannya dengan sengaja. Ia ingin Alda mengingat kembali kejadian itu agar pikirannya terganggu dan menjauh dari Tiara.
Alda tidaklah bodoh untuk mengerti perkataan Cassan. "Iya tentu saja. Tapi aku yakin Tiara lagi gak ngebela siapa-siapa sih saat itu. Sekalipun ngebela, Tiara pasti ngebela aku tadi. Karena Tiara gak mau orang-orang ngegosip soal aku yang menuduh kamu tanpa bukti." Alda menjawab Cassan dengan telak.
Wajah Cassan berubah jelek. Apa iya yang di katakan Alda itu benar? Tiara sedang tidak membela dirinya namun membela Alda?
'TIDAK MUNGKIN.' Cassan membatin tak percaya dan pikirannya mulai melayang memikirkan perkataan Alda.
__ADS_1