
Alasan utama para wanita saling merasa iri adalah karena penampilan mereka. Kecantikan, uang, kecerdasan, pekerjaan dan lain sebagainya merupakan alasan yang kesekian untuk seorang wanita merasa iri pada wanita lainnya.
Rasa iri ada dimana-mana dan datang dari mana saja bahkan diantara para sahabat dekat sekalipun. Meskipun terlihat dekat, bukan berarti para sahabat tidak saling menyimpan rasa iri satu sama lain.
Saat Ria menatap Tiara dengan kesal, ia terkejut melihat kecantikan milik Tiara. Matanya perlahan-lahan mulai menatap Tiara dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dan rasa iri itu pun muncul di dalam hatinya.
Sejak dulu, Ria ingin memiliki penampilan sempurna yang bisa membuat siapa saja memuji kecantikannya, seperti dirinya yang saat ini berdiri di hadapan semua orang. Namun pemikiran tersebut sepertinya harus berubah lantaran Ria melihat penampilan Tiara yang jauh lebih sempurna darinya sendiri. Apa lagi penampilan sempurna tersebut sangat di idam-idamkan olehnya selama ini.
Sejenak Ria terhanyut dalam lamunannya namun kemudian lamunan tersebut dibuyarkan oleh suara sahabatnya sendiri.
"Ria, kamu gak apa-apa?" Tanya Erni dalam ketakutan karena memikirkan amarah Ria yang kapan saja bisa meledak.
Menyadari situasinya, Ria tidak ingin terlihat rendah dan hina terutama di hadapan seorang Tiara. Ia akhirnya memikirkan ide untuk mengembalikan keadaan dan mencoba mempermalukan Tiara di depan semua orang.
"Siapa sih dia?" Tanya Ria dengan suara meninggi, bersikap pura-pura tidak mengenal Tiara.
Satu pertanyaan singkat dari Ria tersebut langsung menghentikan tawa semua orang yang berada disana, tidak terkecuali Lia dan Alda yang begitu menggelegar tadi. Mereka tidak percaya jika Ria tidak mengenal siapa Tiara.
Bagaimana tidak, satu sekolahan Boulevar High School mengenal Tiara dengan gelar the next genius Boulevar. Tidak ada seorang pun dari para muridnya yang tidak mengenali gadis berparas cantik itu.
Entah itu murid dari program umum maupun program kejuruan, Tiara begitu populer disana. Lalu kenapa Ria tidak mengenal Tiara? Sebuah pertanyaan besar muncul dalam benak orang-orang disana dan mereka mulai berbisik satu sama lain.
Untuk sesaat Ria merasa puas dengan apa yang sudah dilakukannya. Menurut Ria, orang-orang populer biasanya akan merasa terhina jika ada orang lain yang tidak mengenal mereka di tengah-tengah kepopuleran mereka, salah satunya adalah dirinya sendiri.
Ria berpikir Tiara pun menjadi bagian dari orang-orang tersebut mengingat kepopuleran Tiara jauh melebihi dirinya. Oleh karena itu Ria menyerang Tiara dengan bersikap seolah-olah ia tidak mengenal siapa Tiara. Sayangnya semua pemikiran Ria tersebut salah besar dimata Tiara karena Tiara sama sekali tidak terobsesi pada kepopulerannya seperti mereka.
"Hei, pantat jelek." Panggil Alda setelah merasa Ria hanya berpura-pura tidak mengenal Tiara, membuat orang-orang kembali menahan tawa mereka pada Ria.
Mendengar Alda memanggilnya dengan sebutan tersebut, Ria merasa marah dan kesal namun berusaha untuk menahan amarahnya.
"Apaan sih kamu." Jawabnya dengan sebal.
"Kayaknya kamu salah tempat tinggal deh." Ucap Alda dihadapan Ria yang disambut bingung oleh semua orang.
"Salah tempat apaan sih, dasar tidak jelas." Jawabnya lagi sambil memutarkan bola matanya.
__ADS_1
"Kamu yakin tidak kenal siapa Tiara?"
"Tidak." Sahut Ria secepat kilat. "Memangnya harus ya aku kenal siapa dia?" Lanjutnya membalikan pertanyaan dengan sombong sambil melirik kearah Tiara yang hanya terdiam saja.
"Tidak harus sih, hanya saja setelah dipikir-pikir saya rasa dugaan saya benar kalau kamu itu salah tempat tinggal." Ucap Alda dengan santai.
"Maksud kamu apa?" Tanya Ria bingung. Entah Tiara maupun Alda, keduanya telah memberinya rasa emosional yang menumpuk.
"Iya salah tempat tinggal, kamu tidak mengerti? Kamu itu tidak cocok tinggal di Boulevar karena tempat yang cocok buat kamu itu adanya di zaman batu."
Bagaikan ditampar dengan keras di hadapan semua orang, Ria terlihat membeku tanpa berkata-kata. Wajahnya berubah jelek seketika membuat Erni yang sudah mengenal baik sifat Ria bergemetar ketakutan.
Disatu sisi, orang-orang yang berada disana tidak mampu lagi menahan tawa mereka dan terpaksa mengeluarkan suara secara bebas kala mendengar Alda sekali lagi mempermalukan Ria di hadapan mereka.
"Haha, masa prasejarah dong." Tawa seorang siswi dari meja seberang dengan tidak tanggung-tanggung.
"Megalitikum haha.."
"Bukan tapi palaeolitikum hehe.." Sambung yang lain.
Melihat bagaimana orang-orang menertawakannya bahkan Tiara ikut mengejek dirinya, Ria tidak mampu lagi menahan amarahnya. Ia kemudian menarik lengan Alda yang hendak membalikan badan dan mendaratkan sebuah tamparan di pipinya. Namun sayang, sebelum tamparan itu benar-benar terjadi, Tiara sudah terlebih dahulu menyanggah tangan Ria.
"Ahhh.." Teriak Ria kesakitan. "Lepasin, lepasin tangan aku. Ahhh sakit, sialan."
Tiara bergeming seketika, mendegar Ria mengucapkan kata 'sialan' padanya. Ia lalu mengencangkan lagi genggaman tangannya sampai Ria benar-benar merasakan kesakitan yang berkali-kali lipat dari sebelumnya.
"Ahhh, sakit sakit sakit." Ria menjerit semakin keras.
"Tolong lepasin tangan teman saya." Ucap Erni dengan lembut namun tak bisa menutupi rasa khawatirnya.
Melihat ekspresi memohon datang dari sahabat Ria, membuat Tiara terpaksa melepaskan genggaman tangannya.
Alda yang masih memejamkan mata karena berpikir akan mendapatkan tamparan dari Ria pun dengan perlahan membuka sebelah matanya seiring mendengar teriakan. Ia mendapati Ria merengek kesakitan dan menyadari jika Tiara yang sudah menyebabkan semuanya itu terjadi.
"Kamu pikir kamu itu siapa, hah?" Ujar Ria pada Tiara penuh amarah.
__ADS_1
Kali ini kemarahan Ria mengheningkan seisi kantin. Erni yang sedari tadi menahan takut jika Ria akan melepaskan amarahnya kini tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengambil langkah mundur perlahan-lahan dari sana.
"Kenapa? Merasa tidak terima?" Ucap Tiara dengan dingin sambil menatap tajam padanya.
Jantung Ria sesaat berhenti berdenyut. Tiara memberinya aura yang berbeda dari sebelumnya membuat tubuh Ria sedikit bergemetar ketakutan. Namun Ria tidak ingin menyerah begitu saja apa lagi mengakui dan membiarkan semua orang tahu bahwa ia takut pada Tiara.
"Iya." Jawabnya, berusaha kembali menstabilkan tubuhnya dan menguasai keadaan. "Aku sama sekali tidak terima karena ini sebuah penghinaan." Lanjutnya lagi.
"Penghinaan? Kamu tidak suka penghinaan?" Tiara bertanya padanya dengan dingin dan datar.
"Iya, aku tidak suka penghinaan. Puas?" Jawabnya lagi dengan emosi.
Mendengar jawaban Ria, Tiara tertawa kecil sehingga mengundang semua orang merasa heran padanya begitu pun Ria sendiri.
'Kenapa dia tertawa? Apa ada yang salah dengan jawabanku?' Ria membatin.
"Haha, kamu bilang tidak suka penghinaan tapi kamu sendiri melakukan penghinaan pada orang lain." Ucap Tiara.
Ria melotot terkejut mendengar perkataan Tiara. Ia akhirnya menyadari jika dirinya telah terjebak oleh kata-kata Tiara. Tiara sedang melakukan permainan kata padanya. Bagaimana tidak, pertanyaan yang Tiara lontarkan padanya adalah 'kamu tidak suka penghinaan' dan bukan 'kamu tidak suka dihina.'
Merasa telah di permainkan oleh Tiara, lagi-lagi Ria merasa kesal namun apa yang bisa ia lakukan selain berdalil dan terus berdalil.
"Itu bukan urusan kamu. Dia pantas untuk diperlakukan seperti itu karena dia sudah merusak baju mahal ku." Ucap Ria sambil menunjuk-nujuk Abie.
"Benarkah baju mahal?" Tanya Tiara kembali.
"Iya, kenapa? Kamu iri karena tidak punya baju mahal, hah?" Jawab Ria dengan sombong karena melihat Tiara tidak memakai baju dari brand ternama. Namun lagi-lagi ia salah besar karena baju Tiara hanya dibuat khusus untuknya saja dari Lavida.
"Mm mahal ya, tapi sepertinya baju dia lebih mahal dari punya kamu." Tiara menatapnya tajam.
Seketika semua orang terkejut mendengar perkataan Tiara. Mereka sama sekali tidak menyangka jika baju yang di kenakan oleh Abie jauh lebih mahal dari baju milik Ria.
"Baju yang dia kenakan adalah season terbaru dari LV. Sedangkan milikmu dari Lavida dua season yang lalu." Lanjut Tiara.
Lagi dan lagi semua orang terkejut mendengar perkataan Tiara dan menatap pada Abie yang tertunduk malu. Teman-teman Abie pun tidak menyangka jika baju yang dikenakan Abie berasal dari brand ternama dunia bahkan harganya jauh lebih mahal.
__ADS_1