Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#97 Tinggal Sekamar


__ADS_3

Setelah kejadian di kantin tersebut, Ria tidak mengatakan apapun lalu pergi dari sana bersama sahabatnya, Erni, dengan menanggung rasa malu yang tak bisa ia terima dan lupakan begitu saja.


Sesampainya mereka di kamar bernomor 135, Ria dengan amarah yang masih meluap langsung membanting daun pintu sesaat setelah tangannya membuka handle pintu kamar tersebut.


BRAKKK


Ria masuk tanpa memikirkan hal lain lagi selain rasa malu yang di berikan oleh Tiara dan Alda padanya.


Mendengar dentuman keras pintu kamar menyambut kedua gendang telinganya, Erni terkejut bukan main. Dirinya yang masih terkunci diluar itu pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menghela nafas panjang. Bagaimanapun juga aksi Ria tersebut sudah merupakan aksi yang ke seribu kalinya ia alami.


Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Erni untuk mengenal baik watak dari sahabatnya itu ketika sedang marah. Namun dirinya yang hanyalah seorang sahabat tidak memiliki hak untuk bisa mengubah perilaku Ria.


Erni akhirnya masuk ke dalam kamar setelah beberapa menit berdiam diri di depan pintu. Sesaat matanya langsung mendapati Ria sedang duduk kesal di tepian tempat tidur. Ia lalu berjalan dengan hati-hati dan menghampiri Ria tanpa bersuara.


Erni ingin menanyakan bagaimana keadaan Ria karena merasa khawatir. Akan tetapi dirinya pun menjadi enggan untuk bertanya jika saja amarah itu belum sepenuhnya reda. Hal inipun menimbulkan keheningan terjadi cukup lama di antara keduanya.


"Ri Ria, kamu gak apa-apa?" Suara Erni terdengar lembut namun penuh kekhawatiran.


Mendengar pertanyaan tersebut, Ria menjadi sangat marah. Ia mengartikan bahwa kekhawatiran Erni padanya itu hanyalah sebuah sindiran karena ia di permalukan di hadapan semua orang.


"Gak apa-apa? Hah, yang benar saja kamu kalau nanya." Bentak Ria padanya membuat Erni bergetar ketakutan.


"Kamu sendiri lihat kan bagaimana mereka mempermalukan aku di depan semua orang? Asal kamu tahu saja ya, seumur-umur aku tidak pernah dipermalukan seperti itu." Ucapnya dengan menghunuskan tatapan tajam pada Erni.


"Ri,..." Seru Erni yang disanggah langsung oleh Ria.


"Bahkan tidak seorangpun yang mengenal aku berani memperlakukan diriku seperti itu." Tutur Ria dengan kesal.


"Aku membenci Tiara. Aku tidak akan tinggal diam saja dan aku akan membalaskan semua perbuatan mereka padaku hari ini." Ucapnya mengakhiri kekesalannya.


Erni terdiam untuk sesaat. Ia sudah bisa menebaknya jika Ria tidak akan menerima semuanya begitu saja apa lagi dirinya sudah dipermalukan di depan khalayak ramai.


Namun terlepas dari itu, Erni bisa merasakannya jika Tiara bukanlah seseorang yang mudah untuk diabaikan. Ia harus memberi peringatan pada Ria agar tidak bertindak bodoh tanpa memikirkan resiko yang menantinya didepan mata.


"Ria, sebaiknya lupakan saja apa yang terjadi hari ini, yah? Dia adalah Tiara, kamu mengerti kan maksud perkataan aku?" Ucap Erni memperingati Ria.


"Tidak mau! Memangnya kenapa kalau dia itu Tiara? Dia menjadi populer karena mendapat nilai sempurna selain dari pada itu dia bukanlah siapa-siapa." Ujar Ria menolak peringatan tersebut.


"Ri, aku mohon. Sebaiknya dengar perkataan aku ini." Bujuk Erni yang sudah jelas-jelas tidak di terima oleh Ria.


"Tidak mau! Sekali aku bilang tidak ya tidak!" Bentak Ria sekali lagi.


"Kamu tidak perlu memikirkan aku. Jika aku meminta bantuan pada Gerald, aku yakin Tiara bisa aku atasi dengan mudah." Ujar Ria cukup yakin dengan keputusannya mempercayai orang bernama Gerald tersebut.


Mendengar perkataan Ria, Erni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba memahami hasrat dari sahabatnya itu.


"Kamu mau meminta bantuan pada Gerald?" Tanya Erni. "Ri, sebenarnya ini masalah mudah jika kamu mau melupakan apa yang sudah terjadi. Kamu tidak perlu melibatkan Gerald dalam setiap masalah yang kamu lakukan." Lanjut Erni mencoba memberi pengertian.

__ADS_1


"Memangnya kenapa aku tidak bisa melibatkan Gerald dalam setiap permasalahan ku? Lagi pula aku kan pacar Gerald dan sudah sewajarnya aku meminta bantuan padanya." Ucap Ria mempertanyakan maksud dari perkataan Erni.


"Bukan begitu Ri. Aku hanya tidak ingin kamu berpangku tangan pada Gerald. Memang benar Gerald adalah pacar kamu tapi kamu juga harus bisa belajar mandiri." Jelasnya. "Atasi semua masalah kamu secara sendiri. Jika memang kamu sudah tidak bisa mengatasinya lagi, silahkan minta bantuan pada Gerald termasuk ayahmu."


"Sudahlah simpan saja kata-katamu itu. Aku mau ganti baju." Jawab Ria tidak suka setiap kali Erni membawa-bawa nama ayahnya.


Melihat bagaimana sikap Ria merespon dirinya, lagi Erni hanya bisa menghembus nafas panjangnya.


"Iya iya maaf. Ya sudah silah,.."


Perkataan Erni harus terhenti karena deringan benda kecil maha tahu milik Ria terdengar di segala sisi ruangan.


Mendapati siapa yang menelfon dirinya, wajah Ria yang sebelumnya kusut kembali normal dalam sekejap. Sebuah senyuman manis langsung muncul dengan sendirinya dari bibir berwarna merah rose miliknya.


"Hallo sayang..." Ucap Ria dengan manja pada kekasih hatinya. Gerald menelfon dirinya disaat yang tepat dimana ia benar-benar sedang membutuhkannya.


Ria akhirnya terhanyut dalam obrolannya tanpa memikirkan keberadaan Erni yang sedang menatap dingin padanya tanpa bersuara.


-----


Kembali ke kantin dimana setelah kejadian tadi, teman-teman Abie menghampiri dirinya untuk menanyakan keadaannya. Ketiga dari mereka menunjukan wajah kekhawatiran mereka seolah-olah mereka benar-benar mengkhawatirkan Abie.


"Bie, kamu gak apa-apa kan?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Maaf ya Bie, ini semua salah aku. Seandainya tadi aku gak ngedorong kamu dengan keras, semuanya ini gak bakalan mungkin terjadi." Tambah yang lain


Melihat bagaimana ketiga orang itu bersikap sok peduli pada Abie, Alda merasa jijik dan ingin memuntahkan wajah mereka dengan makanan yang sudah dimakannya.


Bagaimana tidak, Alda sempat merasa heran sebelumya karena melihat mereka hanya terdiam tanpa melakukan apapun untuk menolong Abie dari Ria. Jika mereka benar-benar peduli, seharusnya merekalah orang pertama yang menolong Abie dan bukan Tiara.


"Bie, yuk kita pesan makanan kamu lagi." Ajaknya yang mendorong Abie tadi.


Tidak memberikan jawaban apapun pada mereka, Abie memilih untuk mengabaikan ketiga teman sekamarnya tersebut.


"Bie, kamu marah sama kita ya?"


"Kalau kamu marah bilang saja. Tidak perlu kamu mendiamkan kami seperti ini."


"Iya. Kami ini temanmu. Apa karena Tiara dan Alda sudah menolong kamu dari Ria, kamu jadi tidak menganggap kami teman lagi?"


Teman? Abie membatin miris mendengar kata tersebut. Ia tidak menyangka orang-orang yang dianggapnya teman justru sama sekali tidak menolong dirinya sebagaimana gunanya seorang teman. Mereka membiarkan dirinya di permalukan dan ditolong oleh orang lain. Lalu untuk apa ia masih menganggap mereka teman?


"Tiara, Alda, makasih ya sudah mau tolongin saya tadi." Ucap Abie mengabaikan ketiga orang tadi.


"Kalau bukan karena kalian, aku tidak tahu bagaimana nasibku setelahnya." Lanjutnya lagi seraya melepaskan nafas yang sudah tertahan di dadanya.


Melihat bagaimana Abie mengabaikan mereka, ketiga orang tersebut akhirnya pergi dari sana dengan rasa kesal.

__ADS_1


"Sama-sama." Jawab Alda yang juga mewakili Tiara karena ia tahu Tiara tidak akan menjawab hal seperti itu dari orang lain.


"Ngomong-ngomong tadi itu teman-teman sekamar kamu?" Tanya Lia penasaran karena ia merasa sedikit kesal pada sikap mereka.


"Iya." Jawab Abie dengan kecewa.


"Kamu kok mau berteman dengan orang seperti mereka?" Tanya Alda.


"Iya. Teman macam apa mereka, membiarkan temannya sendiri dalam masalah tanpa menolong." Sambung Lia.


Abie menghela nafas panjangnya kala mengetahui jika Lia dan Alda pun merasa kesal pada ketiga orang yang dianggapnya teman itu.


"Aku harus berteman dengan mereka karena selain mereka aku tidak memiliki teman lagi." Ucap Abie dengan pasrah.


"What? Meskipun kamu sudah tahu mereka seperti itu tapi masih tetap mau berteman? Ucap Alda melotot tidak percaya.


"Iya, kamu bisa cari teman yang lain. Terlalu banyak murid Boulevar disini. Seperti aku, Alda juga Tiara." Jawab Lia.


Perkataan Lia seketika mengheningkan suasana satu meja tersebut. Abie menatap pada Lia dan Alda kemudian mengikuti mereka menatap Tiara yang duduk diam sambil memainkan ponselnya.


"Ada apa?" Tanya Tiara pada kedua sahabatnya.


"Bagaimana kalau Abie tinggal sekamar dengan kita?" Pinta Alda membuat Abie terkejut mendengarnya.


"Iya. Mau ya Tiara, please!!" Sambung Lia sambil memohon. Sekali lagi membuat Abie terkejut.


"Abie kamu mau kan tinggal sekamar sama kita?" Alda melempar pertanyaan pada Abie yang kemudian pun membuat Abie kembali terkejut.


"A a Aku?" Tanya Abie terbata-bata.


"Iya kamu. Mau ya, ya ya." Lia memohon dengan sangat imut membuat Abie tidak bisa mengabaikan pesonanya.


'Ya ampun, tolong jangan tanya aku tentang itu. Tentu saja aku mau tinggal sekamar sama idola sendiri, tapi aku takut sama Tiara. Wuaaa...' Abie menjerit dalam hatinya.


"I i iya." Jawab Abie menyerah.


"Tuh Abie saja mau. Ayolah. Kasihan kan sebentar dia pulang ke kamarnya, anak kuntil tiga orang tadi bakalan beraksi." Bujuk Alda pada Tiara membuat Lia dan Abie menahan tawa karena mendengarnya menghina ketiga orang tadi.


"Baiklah, pindahkan barang-barang mu sekarang." Jawab Tiara.


"Yes..." Lia dan Alda.


"Ma makasih Tiara." Ucap Abie gugup.


Sebenarnya tanpa Alda maupun Lia meminta, Tiara sudah berniat untuk membujuk Abie tinggal di kamar 111. Mengingat dari pemantauannya tadi, salah seorang teman Abie yang mendorongnya pada Ria melakukan hal tersebut dengan sengaja.


Tiara juga mendapati ketiga dari mereka tertawa dengan licik selama Ria mencoba untuk mempermalukan Abie. Hanya saja Tiara masih menunggu waktu yang tepat untuk dirinya meminta Abie tinggal bersama mereka. Namun karena Lia dan Alda menyetujui lebih awal, terpaksa Tiara mengikuti kemauan mereka.

__ADS_1


__ADS_2