
Cassan, Tiara dan yang lainnya menyelesaikan makan siang mereka dan kembali ke kelasnya masing-masing. Namun sebelum memasuki ruangan Cassan menghentikan langkah kakinya. Ia memutuskan untuk ke kamar kecil terlebih dahulu.
"Tiara aku ke toilet dulu ya soalnya udah gak bisa di tahan lagi nih." Cassan mengatakannya sambil menepuk pelan perutnya.
Ekspresi wajahnya berubah kembali seperti biasa padahal sejak tadi di kantin ia sama sekali tidak mengatakan apapun. Makan siang pun tidak di habiskan olehnya. Bagaimana Cassan masih memiliki mood untuk menikmati makan siang jika rahasia besar tentang dirinya perlahan mulai tercium.
Mendengar Cassan mengatakan itu Tiara mengiyakan dan membiarkan gadis itu pergi. "Oke hati-hati." Jawab Tiara.
"Iyap makasih." Jawab Cassan sambil melirik pada Luka yang berdiri di belakang Tiara seperti bodyguardnya.
Cassan ingin sekali berbicara pada Luka tapi cowok tampan itu sangat dingin dan susah untuk digapai. Jangankan untuk di gapai, Luka bahkan sama sekali tidak pernah menatap padanya.
Dimata Luka hanya ada Tiara. Luka tidak pernah memandang cewek lain lebih dari beberapa detik namun pada Tiara ia bahkan bisa menghabiskan satu hari penuh hanya dengan menatap wajah cantiknya.
Untuk mendapat perhatian dari Luka juga, Cassan pernah dengan sengaja menabrakkan dirinya pada Luka di pintu kelas. Ia juga melempar Luka dengan tasnya tapi hasilnya nihil. Luka tidak mengindahkannya sama sekali.
Hari ini pun Cassan mencoba lagi mendekati Tiara dan yang lainnya untuk bisa bersama dengan Luka. Oleh karena itu dengan sengaja juga ia menggoda Lia lalu memintanya untuk mengajak Saka makan bersama mereka. Pikirannya mengatakan dimana ada Saka disitu ada Luka begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Saat mengetahui bahwa mereka tidak memiliki hubungan akrab untuk saling mengajak satu sama lain makan bersama, Cassan sedikit kecewa tapi siapa yang menyangka Tiara pergi dan membawa Luka serta Saka kembali bersamanya.
Hati Cassan sangat senang saat itu ia juga merasa gugup tapi mencoba menutupinya. Ketika ia berpikir keinginannya sudah terpenuhi, Saka datang membawa bencana untuknya.
"Lo percaya sama dia?" Luka mengangetkan Tiara dari lamunan sementaranya setelah kepergian Cassan. Tiara tersadar ia lupa jika Luka masih bersama dengan mereka sejak tadi.
"Jangan pernah percaya pada siapapun. Hidup ini penuh dengan orang palsu." Tiara menjawab tenang tetapi Luka mengerti dengan baik maksud perkataannya.
"Jadi lo gak percaya sama dia?"
"...." Tiara hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan itu.
Di dalam kamar kecil siswi, Cassan menyalakan keran wastafel dan mulai mencuci wajahnya yang masih sedikit memucat. Ia lalu menatap pada pantulan yang dihasilkan oleh cermin tersebut.
Wajah mulus tanpa ditumbuhi jerawat, hidung meruncing tinggi dan dagu membentuk V line. Cassan mengingatkan pada dirinya berulang-ulang kali bahwa itu adalah dirinya dan bukan orang lain.
"Kamu adalah Cassan. Cassan cucu dan pewaris dari Baskara Grup selanjutnya. Kamu memiliki nama Baskara di belakangmu jadi untuk apa takut?" Cassan mengatakan pada dirinya dengan tegas namun tentu saja ia sudah memeriksa semua kamar kecil dan memastikan tidak ada orang lain disana.
__ADS_1
Tak lama Cassan di kaget kan dengan getaran dari ponselnya. Ia kemudian mengambil ponsel tersebut dari saku blazer sekolahnya yang berwana navy senada dengan detail pada kerah kemeja putihnya dan juga pola kotak-kotak roknya.
"Kebetulan sekali." Ucap Cassan setelah melihat nama pemanggilnya. Cassan juga hendak berpikir untuk menghubungi orang tersebut.
Tanpa menunggu lama lagi Cassan mengangkat telfon tersebut.
"Baju yang anda inginkan sudah ada. Saya akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke kota H secepatnya." Suara pria terdengar dingin dari balik ponsel Cassan tanpa menyapanya terlebih dahulu.
Cassan lalu teringat akan permintaannya pada sang kakek. Ia meminta untuk di belikan baju dari bran Lavida yang sangat terkenal di kalangan para remaja seperti dirinya sebagai hadiah ia memecahkan rekor Stacy.
Sebuah senyum lebar muncul di bibir tipisnya. Cassan sangat senang mendengar perkataan dari pria bernama Leo tersebut sampai-sampai ia lupa pada niatnya dimana ia juga ingin menelfon Leo untuk mengatakan sesuatu.
"Baiklah. Pastikan jangan sampai bajunya kenapa-napa selama pengiriman. Suruh mereka untuk tidak menyentuh bajuku." Jawab Cassan memerintah seperti seorang bos pada bawahannya.
Leo yang pada saat itu tengah berada di ruangan kerjanya memejam mata menahan emosi mendengar bagaimana gadis kecil itu sesuka hati memerintah padanya. Namun kemudian ia kembali redam setelah wajah kakek Baskara datang dalam benaknya.
Leo teringat kembali jika apa yang sedang ia lakukan saat ini untuk kebaikan kakek Baskara yang sudah mengadopsinya dari panti asuhan sebagai bagian dari keluarga Baskara sejak ia masih kecil.
__ADS_1
Leo harus menahan semua rasa ketidak sukaannya pada Cassan demi orang tua itu.