
Herlin mengembalikan kesadarannya. Ia berpikir mungkin Tiara hanya bertanya saja padanya jadi ia mencoba memberi sedikit penjelasan pada Tiara.
"Iya beasiswanya bisa dicairkan dalam bentuk uang sesuai berapa biaya pendidikan BHS selama satu semester." Jelas Herlin lalu mengambil brosur BHS dari kotak diatas meja dan memberikannya pada Tiara.
"Karena kamu mendapat beasiswa penuh artinya pencairan akan menjadi dua kali lipat." Lanjut Herlin lagi.
Tiara membuka brosur tersebut dan melihat rincian mengenai biaya pendidikan Boulevar selama satu semester.
Rincian pembiayaan di bagi menjadi dua bagian dimana tercetak jelas disana pembiayaan untuk program umum dan kejuruan.
"Disitu dikatakan kalau biaya selama satu semester sebesar 29.779.000." Herlin memberitahu Tiara.
Tiara berpikir saat ini ia sedang tidak membutuhkan beasiswa tersebut jadi ia bertanya apakah beasiswanya bisa di cairkan atau tidak dan ternyata bisa.
"Saya mau beasiswa saya di cairkan."
"Apa?" Herlin melotot tak percaya.
Tiara tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu dari Herlin. "Bukannya tadi ibu bilang beasiswanya bisa dicairkan?"
"I i Iya memang bisa tapi apa kamu yakin mau dicairkan saja beasiswanya?" Tanya Herlin lagi berharap pertanyaannya membuat Tiara berubah pikiran.
Tiara menatap pada Herlin dan menganggukkan kepalanya. "Saya sedang tidak membutuhkan beasiswanya sekarang."
__ADS_1
"Kamu bisa menggunakan beasiswanya nanti saat kamu naik ke kelas dua atau tiga kalau memang kamu tidak membutuhkannya sekarang." Jelas Herlin lagi dan tetap berharap kali ini Tiara mau merubah pikirannya.
Kenyataan Boulevar memang tidak memberi batasan waktu untuk beasiswa muridnya selama yang mendapatkan beasiswa masih berstatus murid dari Boulevar.
"Tidak. Saya tetap mau beasiswa saya dicairkan."
Melihat Tiara yang tetap kukuh dalam keputusannya Herlin hanya menghela nafas panjang. Ia menyerah pada Tiara.
"Baiklah kalau memang kamu mau beasiswanya dicairkan." Herlin mengeluarkan sebuah formulir dan memberikannya pada Tiara. "Sekarang isi formulir pencairannya jangan lupa diisi juga kolom nomor rekeningnya."
Tiara menerima formulir tersebut dari Herlin lalu mulai mengisi formulirnya.
-----
Sepasang mata Alda mencari sesosok cowok yang ingin ia jumpai. Alda tidak tahu apakah keputusannya untuk menunggu Reno di depan gerbang tersebut benar atau salah.
Sebelumnya Alda sempat berpikir bagaimana caranya ia menghubungi Reno dan mengajaknya bertemu. Pertama Alda tidak tahu kelas Reno. Kedua Alda sama sekali tidak memiliki nomor ponsel Reno dan ketiga Alda malu bertanya pada Luka.
Akhirnya Alda memutuskan untuk menunggu Reno di gerbang menuju asrama cowok.
Tidak disangka banyak pasang mata cowok-cowok disana menatap Alda bagaikan kehausan darah. Namun Alda sama sekali tidak menghiraukan keberadaan mereka.
Setelah menunggu beberapa lama, mata Alda akhirnya menangkap sosok Reno dari kejauhan. Alda langsung berlari ke arah Reno.
__ADS_1
Reno terkejut melihat keberadaan Alda. Ketika ia ingin menanyakan pada Alda apa yang sedang ia lakukan disini, Alda menghentikannya terlebih dahulu.
"Reno Oktavian kamu,.." Alda menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali. "Siapa nama ayah dan ibu kamu?" Tanya Alda to the point.
Lagi Reno dibuat terkejut oleh Alda. Mendengar pertanyaan Alda, Reno akhirnya menyadari bahwa Alda bertanya padanya karena ingin memastikan siapa dirinya.
'Hmm gadis kecilku, kenapa gak dari tadi kamu tanya.' Reno membatin.
"Ayah gue namanya Edward Oktavian dan ibu gue namanya..." Jawab Reno. Namun sebelum ia menyelesaikan perkataannya Alda membalikan badannya dan berjalan pulang.
Saat Alda mendengar nama ayah Reno, ia kecewa karena Reno di hadapannya sekarang bukanlah Reno Oktavian teman semasa kecilnya dulu. Ayah mereka memiliki nama yang berbeda.
Melihat Alda yang membalikan badannya dan pergi begitu saja, Reno tersenyum geli sekaligus merasa bersalah karena telah mengerjai Alda.
"Nama ayah gue Roberto terus nama ibu gue Martha." Keseriusan terdengar sampai ke telinga Alda.
Alda menghentikan langkahnya dan sesaat air mata jatuh membasahi kedua pipinya. 'Dasar penipu! Dia bilang dia adalah orang pertama yang lebih dulu mengenal aku. Kenyataannya dia bahkan gak kenal aku sama sekali.' Lia membatin pilu.
Alda kemudian kembali melangkahkan kaki dan tidak mengindahkan Reno sedikitpun.
Melihat Alda pergi tanpa mengatakan apapun, Reno tidak habis pikir. Ia tidak ingin semuanya berakhir begitu saja lalu berlari mengejar Alda.
Tangan Reno menarik dengan kuat lengan Alda saat jarak diantara keduanya tinggal selangkah mengakibatkan wajah Alda membentur dada bidang milik Reno.
__ADS_1
Ketika Reno melihat air mata yang membasahi pipi Alda, hatinya terasa sakit. Ia tidak mengira karena keusilannya berakhir membuat Alda menangis.