
Tiara terkejut hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai setelah matanya menangkap sesosok yang tak asing lagi.
Tiara melihat Luka masih berada di dalam kelas bersamanya. Tiara sempat berpikir bahwa semua murid telah keluar meninggalkan dirinya seorang di dalam kelas. Namun siapa sangka Luka Naga Wangsa, cowok tampan berhati dingin itu masih ada disana dan sedang menatap tajam padanya.
Tiara mengambil tasnya dan pergi dari sana mencoba mengabaikan Luka. Namun ketika langkah kaki Tiara sampai di depan pintu, tangan Luka menariknya masuk kembali ke dalam kelas.
Lagi-lagi Tiara terkejut untuk kesekian kalinya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Luka melakukan itu padanya.
Tiara menatap mata Luka yang juga kembali menatap padanya. Posisi mereka sangatlah berdekatan satu sama lain membuat Tiara sedikit menahan nafas di depannya.
"Minta hp lu." Luka membuka percakapan terlebih dahulu.
Ini pertama kalinya Tiara mendengar suara Luka. Ia tidak menyangka jika suara Luka terdengar begitu indah dan gentle di kedua telinganya.
Tiara terdiam saja dan tidak merespon perkataan Luka. Ia terus dan terus menatap mata Luka dan sesaat terlarut dalam keindahan iris berwarna hitam itu.
Luka tersenyum lebar melihat bagaimana Tiara menatap padanya. Ia berpikir apa ia setampan itu sampai membuat seorang Tiara menatap lama padanya.
Melihat senyum Luka yang juga baru pertama kali ia lihat, lagi Tiara larut ke dalamnya. Namun setelah jantungnya berdegup kencang akhirnya Tiara kembali tersadar dari lamunannya.
"Huh..." Tiara menghembus nafas panjangnya setelah menahan selama beberapa waktu. "Lepasin tangan gue" Ucap Tiara yang melihat tangannya masih di genggam erat oleh Luka.
"Kasih dulu hp elu baru gue lepasin." Jawab Luka yang tak mau mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Tiara.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Tiara simpel. Ia bingung kenapa Luka sampai menarik tangannya hanya untuk meminta ponselnya.
"Kasih dulu." Luka sedikit menegas.
"Hp gue ada di saku tas belakang. Kalau elu terusan pegang tangan gue kayak gini gimana gue mau ngambilnya coba?"
Mendengar perkataan Tiara, Luka melepaskan genggamannya dari tangan Tiara. Sesaat setelah ia melepaskan tangannya Tiara berlari keluar ruangan dengan cepat. Tak lupa ia mengejek Luka dengan menjulurkan lidah padanya.
"Haha 1-0." Teriak Tiara cukup keras sambil tertawa lucu karena berhasil mengerjai Luka.
Melihat bagaimana Tiara membohongi dirinya luka tersenyum lebar sedikit tertawa. Bagaimana bisa dia seimut itu pikir Luka.
'haha 1-0? Kali ini gue lepasin elu tapi tidak di lain waktu sayang.' Luka membatin.
Tadi ketika ia hendak kembali ke asrama, ia melihat senior dari kelas dua datang menemui tiara di kelas. Karena merasa terganggu, Luka terpaksa mengurungkan niatnya kembali ke asrama dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
-----
Setelah berputar beberapa kali mencari dimana letak ruang tata usaha, Tiara akhirnya menemukannya.
Ia mengetok pintu ruangan tersebut dan mendengar suara seorang perempuan dari dalam ruangan mengijinkannya masuk.Tiara lalu membuka pintu dan masuk ke dalamnya.
Tidak seperti ruangan tata usaha pada umumnya, Boulevar High School memiliki ruangan yang ditata seperti di bank-bank.
__ADS_1
Selain itu BHS juga memiliki empat bahkan lebih orang guru untuk mengurusi semua adminstrasi murid.
Tiara mengingat kembali saat Adrian mengatakan padanya bahwa ibu bernama Herlin memanggilnya. Diatas meja teller Tiara melihat nama Herlin tertera di urutan pertama.
"Permisi, apa ibu memanggil saya?" Tanya Tiara pada Herlin yang sedang sibuk mengurus beberapa dokumen di tangannya.
Herlin mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen tersebut dan menatap pada Tiara. "Apa kamu siswi bernama Tiara Queen A?" Tanya Herlin.
"Iya Bu, saya Tiara."
"Hmm.." Herlin meletakkan dokumen tersebut di atas meja. "Karena kamu mencetak rekor dan mendapat nilai sempurna, pihak Boulevar akan memberi beasiswa penuh selama satu tahun."
Kali ini Tiara sama sekali tidak terkejut. Ia sudah mendengar sebelumnya bahwa BHS akan memberi beasiswa untuk murid yang mendapat juara satu di kelas maupun juara umum.
Karena Tiara mendapat nilai sempurna saat tes, akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk memberinya beasiswa penuh selama satu tahun.
"Bu, apa beasiswanya bisa di cairkan dalam bentuk uang?"
Pertanyaan Tiara lantas membuat Herlin terkejut. 'Apa dia tidak menginginkan beasiswanya tapi uang?' Herlin membatin.
Selama bekerja sebagai tata usaha Boulevar, tidak pernah ada murid yang meminta beasiswanya dicairkan dalam bentuk uang ya meskipun Boulevar memperbolehkan.
Tetapi dilihat dari mahalnya biaya pendidikan BHS selama semester, tidak mungkin ada murid yang menolak beasiswa yang di berikan.
__ADS_1