Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#33 Teman Masa Kecil


__ADS_3

Saka terdiam sesaat, melihat bagaimana semangatnya Lia dalam memperkenalkan dirinya. Lalu dengan senyum ramah di wajahnya Saka menerima sodoran tangan Lia.


"Gue Saka Marapati. Panggil aja Saka."


'Saka Marapati? Ahh nama yang indah seindah orangnya' Lia membatin.


Tiara dan Alda bisa menebaknya jika hati Lia sekarang sedang di tumbuhi bunga tujuh rupa.


"Oh iya, dia temen gue Luka Naga Wangsa. Panggil saja dia Luka." Lanjut Saka memperkenalkan Luka pada ketiga cewek di hadapannya itu.


Tiara mengangkat kedua bola matanya memandang Luka setelah mendengar Saka memperkenalkannya. Begitu juga sebaliknya Luka memandang Tiara penuh arti membuat Tiara gugup seketika.


Melihat Tiara memalingkan wajah darinya tepat setelah ia menatap matanya, Luka tersenyum senang dalam hati. Siapa yang dapat menyangka, dibalik wajah Tiara yang datar dan dingin ternyata dia seorang yang cukup pemalu.


"Oh iya aku ingat. Dia yang waktu itu pecahin rekor kan? Yang punya nilai 98." Tanya Lia.


"Iya tepat sekali." Jawab Saka bangga pada Luka sahabatnya itu.


"Dan dia..."


"Kenalin nama gue Reno Oktavian." Reno memotong perkataan Saka dan memperkenalkan namanya. Namun yang mengejutkan adalah Reno malah menyodorkan tangannya langsung pada Alda.

__ADS_1


Reno sengaja menyebut nama lengkapnya dengan nada sedikit menekan berharap Alda bisa mengingat sesuatu tentangnya. Ia sangat yakin sekarang jika Alda adalah teman semasa kecilnya dulu setelah melihatnya dari dekat.


Alda menatap kaget pada Reno yang menyodorkan tangan padanya. Ia bingung harus berbuat apa. Ini bukanlah perkenalan diantara keduanya saja melainkan perkenalan untuk keseluruhan. Kenapa juga Reno menyodorkan tangan langsung padanya.


'Tunggu tadi di bilang apa? Reno Oktavian? Itu kan...' Alda tersadar setelah beberapa saat.


Ia menatap Reno tak percaya. Pantas saja Alda merasa seperti telah bertemu dengan Reno sebelumnya ternyata Reno adalah teman semasa kecilnya sekaligus tetangganya dulu.


Alda kembali tersadar lalu dengan segera ia menggenggam tangan Reno. Alda tidak ingin suasana menjadi aneh dan hanya akan menimbulkan imajinasi di benak orang lain jika ia mengabaikan Reno lebih lama.


"Alda Violetta." Ucapannya memperkenalkan diri.


'Violetta. Bukannya terdengar sangat indah.' Lia membatin.


Tak hanya Lia, ketika pertama kali mendengar nama Alda di panggil saat absen, Tiara juga berpikir hal yang sama. 'Violetta' adalah nama yang indah.


Jauh dalam lubuk hatinya, Alda berharap Reno bisa mengenalinya juga sehingga ia sengaja menyebut nama panjangnya di hadapan Reno.


Reno mengembalikan tatapan Alda, ia sama sekali tidak tersenyum maupun terlihat kaget mendengar nama Alda. Karena ia terlihat biasa saja, Alda merasa sedikit kecewa.


'Jadi Reno udah lupa sama aku?' Alda membatin.

__ADS_1


Tiara tidak perlu memperkenalkan namanya lagi karena ia sudah di kenal se Boulevar High School.


Selama makan siang berlangsung hingga bel tanda masuk berbunyi kembali, Alda tidak bersuara sama sekali dan hanya tertunduk kecewa.


Bagaimana tidak kecewa, seseorang yang selama ini ia rindukan, seseorang yang sudah lama sekali ingin ia jumpai tidak mengenalnya lagi setelah berjumpa kembali.


Melihat Alda yang berubah diam sedari tadi membuat Tiara dan Lia hilang akal. Namun hal berbeda datang dari Reno. Ia terlihat sangat bahagia. Akhirnya semua keraguan dalam hatinya tentang siapa sebenarnya Alda telah hilang, lenyap bagaikan di telan bumi setelah mendengar nama Alda.


Reno mengingat kembali kejadian masa kecilnya bersama Alda dimana saat itu ia dan keluarganya hendak pindah dari kota E ke kota C.


Dua buah mobil sudah terparkir di depan rumah Reno. Satunya adalah mobil yang akan ditumpangi oleh Reno dan keluarganya sedangkan yang lainnya untuk mengangkut barang pindahan mereka.


Ketika para kenek dan supir sedang sibuk membantu mengeluarkan barang dari rumah, Reno Pergi menemui Alda di rumahnya untuk berpamitan. Kala itu Reno dan Alda masih berusia 8 tahun.


Mata Alda sudah terlihat sembab bahkan sebelum Reno berpamitan dengannya karena Alda sudah menangis sejak beberapa jam yang lalu.


Reno sama sekali tidak tega melihat Alda mengeluarkan air mata yang membasahi kedua pipinya itu lalu ia mencoba untuk menenangkan Alda.


Reno memeluk Alda, menepuk punggungnya perlahan-lahan layaknya orang tua yang sedang menidurkan bayi mereka.


"Vio aku janji saat nanti kita bertemu kembali, aku adalah orang pertama yang lebih dulu mengenal kamu." Reno berbisik ke telinga Alda.

__ADS_1


__ADS_2