Tiara : Queen Of Boulevar

Tiara : Queen Of Boulevar
#66 Tiara Cemburu


__ADS_3

Tiara menghabiskan segelas jus pahitnya lalu menetralkan rasa di mulutnya dengan air mineral yang di berikan oleh Varno padanya. Bukan hanya Tiara saja yang mendapatkan air tersebut melainkan semua dari mereka yang meminum jus pare.


Selain memberikan mereka hukuman, para anggota OSIS pun cukup berbaik hati menyiapkan penetral rasa lain seperti manisan yang dipesan dan dibawah oleh mereka dari kota H. Hal ini kemudian menimbulkan rasa iri dari murid yang datang tepat waktu kepada mereka yang mendapatkan hukuman.


"Ih enak banget ya jadi mereka yang kena hukuman." Keluh seorang siswi saat melihat bagaimana mereka menikmati manisan yang di bagikan oleh anggota OSIS.


"Iya. Aku jadi kepengen juga." Jawab yang lain sambil menelan air liurnya membayangkan betapa lezatnya manisan tersebut.


"Tau gini, mendingan tadi kita terlambat aja ya biar bisa dapat manisan." Sambung yang lain sedikit menyesal.


"Emangnya kamu mau minum jus pare?" Tanya seorang siswi pada temannya yang tengah merasa menyesal saat ini.


Temannya tersebut akhirnya terdiam sejenak mendengar pertanyaannya. Ia mulai berpikir. Memang benar ia merasa iri karena tidak mendapatkan manisan tapi di satu sisi dia pun tidak bisa jika jus pare adalah hukumannya.


"Iya sih." Gumamnya kecewa.


Terlepas dari mereka yang membicarakan rombongan yang mendapat hukuman, Tiara terlihat sedang asik mengobrol bersama teman-teman setendanya.


Sesekali ia tertawa lebar atas lelucon yang dibuat mereka sehingga kesan dingin dan ekspresi datar yang selama ini ditunjukan oleh Tiara, hilang dalam benak mereka.


Awalnya mereka kaget melihat sisi lain Tiara itu tak terkecuali Dewi yang sekelas dengannya. Namun setelah berada di dalam satu tenda ternyata Tiara menunjukkan sikap yang easy going pada mereka. Meskipun ia tidak banyak berbicara.


Tidak lama kemudian Alda dan Lia datang menghampiri Tiara. "Tiara kamu baik-baik aja?" Tanya mereka.


Tiara terkejut mendapati kedua sahabatnya itu menghampirinya. Karena fokus dengan hukumannya Tiara sama sekali melupakan keberadaan Alda dan Lia. Ia tidak tahu apakah mereka berdua berada di dalam rombongan yang sama dengannya atau tidak.


"Aku gak apa-apa kok." Jawab Tiara. "Terus Kalian?"


"Kami juga gak apa-apa kok. Tadinya aku hampir muntahin semua jusnya tapi karena keinget hukumannya di tambah, mau gak mau aku paksain." Lia memberitahu apa yang telah terjadi padanya.


"Aku juga. Tadinya aku udah ada rencana mau jatuhin gelasnya biar gak jadi minum. Tapi karena emak lampir itu bilang hukumannya menjadi dua kali lipat ya terpaksa deh.." lanjut Alda kemudian menghela nafas tidak berdaya.


Tiara tertawa lucu. Ia akhirnya menyadari bahwa kedua temannya pun berada di dalam kapal yang sama dengannya.


"Kita duduk di sebelah sana yuk." Alda mengajak Tiara dan Lia.


"Yuk." Jawab mereka kompak.

__ADS_1


Tiara melihat kelima teman setendanya lalu mengajak mereka untuk bergabung. Namun sayang mereka menolaknya karena ingin membiarkan ketiga sahabat itu memiliki sedikit waktu bersama.


"Ternyata Tiara bisa ketawa ngakak juga ya." Teresia mengatakan pendapatnya setelah melihat Tiara dan kedua sahabatnya pergi dari sana.


"Betul banget. Aku kira dia orangnya sombong dan gak asik." Jawab Fiona.


"Iya aku juga berpikir hal yang sama. Karena dia memecahkan rekor dengan nilai sempurna dia jadi sombong dan tidak mau berteman dengan yang lain. Ternyata tidak. Dia orangnya asik." Bila ikut mengutarakan pendapatnya.


"Dewi, kamu kan sekelas sama Tiara. Menurut kamu Tiara gimana orangnya?" Tanya Dea.


Dewi melebarkan kedua bola matanya karena Dea melemparkan pertanyaan padanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Menurutnya Tiara sama seperti yang kebanyakan orang-orang pikirkan. Dingin dan datar.


Sombong? Ia tidak tahu apakah Tiara sombong atau tidak. Karena ia tidak pernah melihat Tiara menunjukan sikap sombongnya di kelas.


Justru Tiara lebih banyak menunjukan sikap tenangnya bahkan menghargai mereka di dalam kelas. Meskipun ia mendapatkan nilai sempurna pada ujian masuk, Tiara tidak pernah serakah dan menganggap remeh mereka.


Contohnya saat guru melempar mereka dengan pertanyaan, meski Tiara mengetahui jawabannya ia malah memberikan kesempatan bagi mereka untuk menjawab. Jika mereka semua terdiam dan tidak bisa menjawab, Tiara kemudian menjawab.


Di dalam kelas Tiara selalu menjadi yang terakhir. Ia tidak pernah menyombongkan dirinya di depan mereka hanya karena memiliki gelar si pemecah rekor diatas rekor atau the next genius Boulevar dan lain sebagainya.


Itu yang di ketahui oleh Dewi mengenai Tiara. Dan satu hal lagi dimana ia mengetahui jika Luka secara diam-diam menyukai Tiara.


Disisi lain Tiara dan Alda fokus mendengar cerita Lia di sela-sela waktu. Terkadang mereka tertawa bersama. Lia bercerita mengenai perjalanannya selama di dalam bus hingga teman-teman setendanya. Terakhir tak lupa ia juga menceritakan bagaimana ia bisa sampai terlambat dan mendapat hukuman.


Beberapa waktu kemudian Tiara mencoba mencari lagi keberadaan Luka di posisi yang sama karena merindukannya. Bersyukur Luka masih berdiri disana bersama dengan Reno dan Saka.


Namun kali ini ada yang berbeda dari sebelumnya. Tiara dibuat terkejut ketika mendapati sosok Cassan berdiri bersama dengan ketiga cowok tersebut dan mereka terlihat sedang mengobrol.


Tiara tidak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh mereka namun ada rasa cemburu dalam dirinya ketika melihat Cassan berdiri berdampingan dengan Luka.


'Barusan juga tadi dia minta aku jadi pacarnya. Sekarang malah udah berdiri sama cewek lain.' Tiara membatin kesal dalam dirinya.


"Tiara, woy sadar..." Lia menggoyang-goyangkan badan Tiara berulangkali sehingga mengembalikan kesadarannya.


"Mmm?" Tiara menaikkan alisnya pada Lia kenapa ia menggoyangkan tubuhnya.


"Kamu bengong kenapa sih? Aku udah panggilin kamu dari tadi loh."

__ADS_1


"Oh gitu, aku gak apa-apa." Jawab Tiara sambil melirik pada Luka sebelum mengalihkan pandangannya ke Lia.


Alda menangkap gerak-gerik sahabatnya itu dan ikut terkejut mendapati hal yang sama. Namun ia mengerti Tiara pasti merasa cemburu karena Cassan si pecundang gila itu berdiri di dekat Luka dan mencoba untuk menggodanya.


"Ya ampun aku kira apaan. Lain kali jangan bengong kaya gitu kalau lagi di hutan. Entar cepat kesambet." Komentar Lia mengingatkan kembali Tiara.


Mendengar itu Tiara tersenyum lebar padanya namun tetap saja isi pikirannya tidak tenang dan masih tertuju pada Luka.


"Guys coba deh lihat. Cassan kayaknya dekat ya sama Luka, Reno dan Saka." Seorang siswi membuka opini diantara para teman-temannya.


"Mana mana?" Tanya seorang yang lain dengan rasa penasaran.


"Itu lihat disana." Siswi itu menunjuk kearah dimana ke empat orang itu berdiri.


"Senengnya jadi Cassan di kelilingi sama cowok-cowok tampan." Komentar seseorang lagi.


Mendengar komentar orang-orang itu kuping Alda memanas. Ia lalu bangkit dari sebuah batu yang dijadikannya tempat duduk dan pergi menemui ketiga cowok tersebut.


Dari kejauhan mata Cassan sudah menangkap keberadaan Alda berjalan menuju mereka. Dalam hatinya ia sama sekali tidak suka karena menurutnya Alda hanya akan menggangu rencananya saja.


Namun setelah berpikir-pikir, Cassan akhirnya tersenyum tipis. Ia kembali mengingat jawaban Lia dimana Lia sempat mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kedekatan khusus dengan Luka, Reno maupun Saka ketika ia merayu Lia agar mengajak ketiga cowok tersebut makan bersama.


"Hai Al." Cassan menyapa Alda sok akrab setelah jarak diantara mereka tinggal se meter saja. Ia yakin seratus persen jika kedatangan Alda tidak lain ya untuk bertemu dengannya.


Alda sama sekali tidak menjawab Cassan bahkan tidak rela untuk melihat wajahnya. Matanya hanya tertuju pada Luka dengan tajam membuat Luka, Reno bahkan Saka menjadi bertanya-tanya ada apa.


Cassan terkejut karena Alda mengabaikan dirinya. Meskipun ia sudah mengetahuinya jika Alda akan bersikap angkuh tapi ia sudah sangat yakin jika kedatangan Alda pasti untuknya.


"Huh..." Alda menghela nafas panjang. Ia ingin sekali memarahi Luka karena membuat Tiara kecewa dan cemburu namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ren, ini buat kamu." Alda memberikan sisa manisannya pada Reno.


"Serius!?" Tanya Reno tak menyangka.


"Iya cepetan ambil. Aku tahu dari dulu kamu suka manisan makanya aku sisain buat kamu." Ucap Tiara.


Luka dan Saka menjadi bengong. Mereka bertanya dalam hatinya masing-masing sejak kapan Reno suka dengan manisan. Dari dulu salah satu makanan yang paling di hindari Reno adalah manisan.

__ADS_1


Alda menarik tangan Reno dan menaruh manisan tersebut di telapak tangannya lalu memaksa Reno untuk menggenggam. "Ren, aku tahu kamu gak suka manisan tapi kalau kamu gak pura-pura terima manisannya, aku habisin si pecundang gila ini karena udah bikin Tiara cemburu.' Alda berbisik di kuping Reno.


Awalnya Reno tidak menyangka Alda sudah melupakan apa yang menjadi ketidak sukaannya. Namun karena Alda sudah menjelaskannya ia akhirnya berakting seolah-olah dia sangat menyukai manisan.


__ADS_2