
Monica terkejut melihat Tiara ada bersama Lia dan Alda. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Tiara yang sedari tadi berdiri di belakang kedua sahabatnya.
"Oh pantesan aja kalian gak hormat sama senior kalian ternyata ketuanya dia." Monica berubah dingin setelah melihat Tiara.
Lia dan Alda saling menatap kaget satu sama lain. 'Senior? Ketua? Terus apa hubungannya ini semua sama Tiara?' keduanya membatin.
"Aku ingetin kalian berdua ya, jangan pernah deh ketipu sama wajah polosnya ini orang. Tukang penggoda." Ucap Monica sembari memutar kedua bola matanya.
Lia dan Alda tidak tahu jika Monica adalah senior yang bermasalah dengan Tiara jadi ketika mendengar Monica mengatakan Tiara tukang penggoda, mereka menjadi geram sendiri.
"Memangnya kenapa kalau kami ketipu sama wajah polos Tiara? Apa hubungannya sama kamu?" Komentar Lia kesal melihat wajah Monica.
"Iya apa hubungannya sama kamu, kami ketipu atau enggak? Denger ya, kami minta maaf karena kami gak tahu kamu itu senior disini tapi tolong jangan asal ngomong soal Tiara." Sambung Alda.
Monica tidak percaya Lia dan Alda malah balik menyerangnya seperti itu. Dia hanya ingin memberitahu mereka siapa sebenarnya Tiara. Seharusnya mereka berterima kasih padanya dan bukan balik menyerang dirinya.
"Aku baru kali ini ketemu ada junior yang sama sekali gak menghormati seniornya." Sebuah suara terdengar di tengah ketegangan yang sedang berlangsung.
Lydia dan Susi berjalan menghampiri Monica yang sekarang sedang tersenyum lebar pada Tiara dan sahabat-sahabatnya.
Lydia mengenakan kacamata bulat dengan sebuah buku di tangannya membawa aura seorang kutu buku sedangkan Susi terlihat seperti anak orang kaya yang manja, suka menghabiskan uang untuk perawatan, polos namun lamban.
__ADS_1
Lydia menatap dingin pada tiara begitu juga sebaliknya Tiara menatap dingin pada Lydia. Tiara bisa merasakan perbedaan aura antara Lydia dengan Monica dan tidak begitu peduli pada Susi.
"Siapa nama kalian berdua?" Tanya Lydia pada Lia dan Alda. Ia tidak perlu menanyakan siapa Tiara karena ia sudah mengetahuinya.
"Maaf kak, aku gak tau siapa kakak tapi ini gak ada urusannya sama kakak." Ucap Alda mengabaikan pertanyaan Lydia.
Mendengar ucapan Alda, Lydia tersenyum dingin dan itu cukup membuat Lia gemetar ketakutan.
"Gak ada urusannya sama aku? Haha tentu ada. Sebagai seorang senior aku punya hak buat kasih pengertian sama junior yang gak tahu sopan santun." Jawab Lydia.
Lydia pintar. Ia tidak menggunakan Monica sebagai alasan melainkan menggunakan statusnya sebagai seorang senior untuk memberi pelajaran pada Tiara dan kedua sahabatnya. Namun kenyataan ia berdiri untuk membela Monica.
"Kalau kakak mau kasih pengertian soal senior-junior, kakak bisa lakukan itu nanti tapi tidak sekarang. Kita bisa cari waktu berempat. Kakak menjelaskan di depan dan kami bertiga akan dengerin penjelasan kakak layaknya seorang murid yang baik."
Perkataan Tiara bagaikan tamparan keras di pipi Lydia. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Tiara.
Dari perkataan Tiara tersebut, Lydia bisa mengartikan jika Tiara memperingatkan dirinya untuk tidak salah waktu dan tempat. Ia juga tidak ingin orang lain yang tidak ada hubungannya dengan permasalahan mereka ikut terlibat dalam perseteruan itu.
Lydia sendiri yang berkata ia berdiri sebagai seorang senior artinya ia tidak memiliki hubungan dengan Monica dan mereka bisa mencari waktu kosong untuk mendapat pengertian dari Lydia tentang sistem senior-junior setelah urusan mereka dengan Monica selesai.
Lydia dan Monica terdiam seribu bahasa sedangkan Susi sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia tidak memiliki ide apa yang membuat Lydia terdiam tidak berkata-kata lagi.
__ADS_1
Tiara mengajak Alda dan Lia kembali ke kamar mereka. Menurutnya tidak ada lagi yang perlu di bicarakan karena Lydia dan Monica sudah berdiri seperti patung hidup.
----
Di kamar 111 Tiara, Lia dan Alda keluar dari washroom bersama-sama. Mereka baru saja selesai membersihkan wajah juga menyikat gigi sebelum naik ke atas tempat tidur dan beristirahat.
"Kakak yang pake kacamata bulat tadi serem banget ya dia.. aku sampe gemetaran takut dimarahin karena kita gak ngehormatin mereka." Perkataan Lia memecahkan keheningan kamar.
"Aku pikir dia sahabatnya kakak yang kayak emak lampir tadi." Sambung Alda.
"Emang mereka bersahabat." Jawab Tiara sedang terlihat ribet mengganti pakaian yang dikenakannya tadi ke dalam baju tidur.
"Seriusan? Tapi tadi dia gak membela kakak itu. Kalau emang mereka sahabatan seharusnya kan dia membela?" Alda bertanya penasaran.
"Udahlah lupain aja. Tapi Tiara tadi itu kamu keren banget." Lanjut Alda.
"Bener. Aku sama Alda udah gak bisa jawab waktu kakak itu bilang mau kasih sedikit pengertian karena kita gak sopan sama senior." Sambung Lia.
"Iya terus Tiara jawab kayak gini, 'Kalau kakak mau kasih pengertian soal senior-junior, kakak bisa lakukan itu nanti tapi tidak sekarang. Kita bisa cari waktu berempat. Kakak menjelaskan di depan dan kami bertiga akan dengerin penjelasan kakak layaknya seorang murid yang baik'"
Alda mengikuti gaya dan cara bicaranya Tiara sehingga mengundang tawa pecah ketiganya karena terlihat begitu mirip.
__ADS_1