
Di rumah sakit lain, di kota yang sama ....
"Makanlah," ucap Harri memberi kantong plastik berisi makan siang.
"Iya. Terima kasih." Raya menerima bungkusan kantong plastik dari Harri. Raya membuka dan melihat satu nasi bungkus Padang dan roti serta susu cair kotak full cream.
"Berikan roti dan susu pada ibu. Dokter tidak mengizinkan ibu makan roti namun tidak nasi di luar pemberian rumah sakit."
Raya membuka roti dan memberikan susu kotak cair pada ibunya. "Di makan Bu."
"Kau juga harus minum!" tegas Harri. Harri membelikan banyak susu kotak tanpa komando Anitha dan tuan Nan. Hati kecilnya terbesit begitu saja melihat Raya yang jauh berubah. Badan Raya begitu kurus dan pucat.
"Terima kasih Kak." Raya memakai embel-embel kakak pada Harri.
"Jika ada perlu, aku menanti di luar." Tanpa menunggu jawaban Harri keluar dari ruangan inap.
Cahaya matahari sudah mulai condong ke barat. Menandakan hari semakin sore. Anitha, tuan Nan dan Jeffy telah memasuki parkiran rumah sakit. Jeffy telah meminta info pada Harri di mana ruang inap ibunya Sahrul.
Langkah-langkah mereka begitu ringan, seringan hati Anitha dan tuan Nan yang tidak banyak menemukan kendala.
Harri menunduk kecil ketika melihat mereka. Tuan Nan dan Anitha masuk ke ruangan. Setelah mengetuk pintu.
"Uni, bagaimana?" sambut Raya tak sabar ingin tahu. Anitha memberi senyum bahagianya. Raya cukup tanggap.
"Ohhh syukurlah, sekali lagi terima kasih Uni." Anitha mengangguk.
Anitha terus melangkah ke samping ranjang Ibu Marleni. Tuan Nan lebih memilih duduk di sofa. Baginya tidak ada urusan antara mereka.
"Anitha ...." panggil ibu Marleni lemah.
"Ibu, aku datang meminta maaf padamu. Apakah ibu bisa memaafkan aku?"
"Ibu yang meminta maaf padamu Nak. Selama ini ibu yang selalu menyiksamu baik langsung maupun tidak."
"Aku sudah memaafkan ibu dan semuanya." Anitha memeluk wanita lemah itu. Mereka saling berlomba membuang air mata.
Anitha duduk di samping ibu Marleni. Dia mengelus tangan ibu mantan suaminya. Dulu tangan itu hampir selalu memberi siksa pada Anitha. Anitha menceritakan bagaimana niat suaminya. Anitha juga meminta ibu Marleni semangat menjalani hari-harinya, menjelang suami dan orangnya selesai mengurus.
Anitha dan suaminya sepakat kembali besok pagi dengan Harri dan Jeffy. Nanti Jeffy dan beberapa pengacara akan kembali mengurus sesuai prosedur membebaskan Sahrul.
"Ibu, besok kami akan langsung terbang ke Jakarta. Nanti orang suamiku dan pengacara akan kembali ke sini. Perihal biaya rumah sakit ibu jangan pikirkan. Suamiku sudah mendeposit besar di sini. Jika kurang minta Raya menghubungi aku."
Wanita itu tak sanggup menjawab, air mata adalah jawaban penyesalan dan terima kasihnya.
Anitha juga meninggalkan sejumlah uang yang cukup besar untuk biaya hidup sementara mantan adik ipar dan ibunya.
"Uni, ini sangat banyak jumlahnya," ucap Raya saat menerima amplop.
__ADS_1
"Gunakan untuk biaya hidup sehari-hari. Aku dan suamiku akan memikirkan cara lain nanti. Sekarang kami fokus dulu mengurus udamu keluar dengan lebih cepat."
Raya memeluk erat Anitha. Rasa malu dan haru bersatu padu.
"Kami permisi ya. Simpanlah nomorku. Kabari apapun itu keadaannya. Jangan sungkan." Anitha kembali berucap.
Anitha pamit pada ibu Marleni. "Kami permisi Bu."
Tuan Nan hanya mengangguk kecil. Anitha perlahan meninggalkan ruangan itu. Tuan Nan merengkuh bahunya lembut. Menunjukan pada Raya dan Marleni jika dialah pemilik hati wanita cantik ini. Cantik wajah cantik hatinya.
"Sudah siap?" sambut Jeffy.
"Sudah ayo kita beristirahat di hotel sebentar. Malamnya istri cengengku ingin bernostalgia dengan masa gadisnya."
"Jangan memandai ya Kanda. Aku mana dikasih izin untuk keluar malam tanpa ayah dan ibuku."
"Hahaha, jadi kau dulu dikekang ya Tha?" cibir Jeffy puas.
"Sayangnya kau salah Jeff. Aku tak pernah merasa begitu. Aku terbiasa dari kecil tidak keluar malam. Aku ini gadis yang baik Jeff. Hahaha."
"Iya baik, baik dibunuh." Jeffy terus mengolok Anitha. Mereka telah berada di dalam mobil.
"Kau yang baiknya di bumi hanguskan Jeff. Kau itu hanya manusia monogami, cocoknya berkawan sama monokotil." Anitha tak mau kalah.
Pemandangan ini hampir sebulan lebih hilang. Tuan Nan hanya memejamkan mata menikmati argumen mereka berdua. Dia juga rindu melihat Anitha seperti anak kecil yang tidak boleh disentil sedikitpun.
"Kau bilang aku tumbuhan, pakai monokotil segala."
"Itu karena aku sibuk mengurus urusan kalian!" Jeffy paling kesal kalau sudah dikatakan tak berpasangan.
"Cieee, kami jadi alasan utamamu."
"Memang benarkan. Harri juga tak ada pasangan karena kalian selalu mengajak kami kemana saja." Jeffy masih tak mau kalah.
"Harri sebentar lagi punya pasangan, ya kan Harr?" Anitha menoleh belakang. Harri terbatuk kecil karena tersedak salivanya sendiri. Dia lagi asyik mendengar perdebatan Jeffy dan Anitha.
"Lihat itu, batuk kecilnya jawaban iya," ucap Anitha.
"Siapa?" tanya Jeffy.
"Halooo Jeff, kalau tanya itu yang jelas!" ejek Anitha.
"Siapa yang mau dengan Harri, sayang?" Akhirnya tuan Nan membuka mata dan terpancing ingin tahu.
"Ihhh mau tahu juga si tuan Tampan ini," ejek Anitha sambil memencet hidung tuan Nan.
"Bukan siapa yang mau sayang, tapi Harri yang mau, iya kan Har?"
__ADS_1
"Nyonya jangan ngarang ya." Harri yang merasa Anitha mengetahui sesuatu memanggil nyonya. Biasanya dia memanggil 'bu'.
"Harri naksir siapa Tha?"
"Iya, naksir siapa dia sayang?"
"RAHASIA." Anitha memutuskan tidak mengatakan melihat Harri mendelik tajam. Bukan karena Anitha takut. Dia hanya ingin membuat penasaran tuan Nan dan Jeffy.
"Apa maksud kau, dia naksir salah satu perawat di rumah sakit tadi?" tanya Jeffy.
"Aku mengantuk. Bangunkan aku jika sudah sampai." Anitha mengambil posisi menyandar pada bahu tuan Nan.
"Kau kira kau bisa tidur nyenyak Wanita Boneka?" ujar tuan Nan tak terima dengan rasa penasaran. Siapa yang membuat hati Harri bisa meleleh. Dia mengapit lembut leher istrinya.
"Ampun Tuan. Aku tidak berani memfitnah Harri lebih jauh. Hahahaha." Anitha menutupi instingnya.
"Dasar kau ya Tha, aku kira iya pula Harri pandai naksir sesorang." Jeffy merasa dikerjai.
"Emang jadi bodyguard tidak boleh menikah?" tanya Anitha seperti orang bodoh.
"Siapa bilang?" tanya tuan Nan.
"Keadaan yang katakan, melihat orang-orang kanda banyak yang single."
"Iya ya. Apa penyebab kalian berdua tidak punya istri ataupun hanya wanita?" tanya tuan Nan serius. Mendengar ucapan Anitha tadi hatinya tergelitik ingin tahu.
"Hmmm, manusia kaku ini malah ikut-ikutan." Jeffy bergumam kesal.
"Tetapi Anitha benar Jeff, kenapa kalian berdua tak ada pasangan. Apa aku terlalu banyak menyita waktu kalian?"
"Entah Nan. Kau pikir sendiri."
"Kalau kalah, begitu itu jawaban dia, Kanda." Anitha menyalahkan api kompor gas.
"Harri, kenapa kau masih sendiri?" tanya tuan Nan tanpa menolehkan kepala. Anitha menoleh dan memberi senyum misterius pada Harri.
"Karena saya belum menemukan yang cocok Pak."
"Alasan klise," jawab tuan Nan.
"Hmmm, sekarang saja kau bisa bilang alasan klise. Dulu kau juga sendiri. Ada Allea karena kau terpaksa saja." Sindiran Jeffy membuat tuan Nan tersenyum masam.
"Kau memang wanita hebat ya Tha. Bisa-bisanya kau mengganti topik pembicaraan," ucap Jeffy lagi menyerang Anitha.
"Jawab sajalah dengan benar dan jujur pertanyaan tuan Nan ...." Anitha tertawa puas.
"Kau bilang ujian kenaikan kelas anak SD!"
__ADS_1
"Pikirkan lagi, besok aku tanya. Aku mau tidur," senyum licik Anitha menghias bibirnya. Anitha memejamkan mata.
***/