Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Melarikan Diri


__ADS_3

Anitha kini telah berada di Singapore Changi Airport. Mereka akan melanjutkan perjalanan seperti yang sudah direncanakan dari awal. Mereka akan ke Malaysia. Kini mereka sudah berada di ruang tunggu bandara. Mereka duduk dengan tenang di bangku tunggu. Anitha berbisik meminta izin sebentar pada tuan Nan untuk ke toilet. Tuan Nan memberi anggukan kepalanya.


Anitha masuk ke toilet. Anitha menganti bajunya dan memakai syalnya sebagai tutup kepala. Anitha juga mengganti sepatunya dengan sepatu tak ber-hak. Anitha sudah merencanakan semuanya di dalam tas ajaibnya. Anitha bergerak cepat mengganti pakaiannya agar tak terlalu lama menyita waktu di toliet.


Tak bisa dielakkan jantungnya berdebar kencang. Dengan hati-hati dia melihat situasi dan menyelinap keluar toliet. Anitha meninggalkan tas ransel kecilnya dan mengganti hanya dengan tas kecil cantik. Dia menyandangkan tasnya bersilang di bahu. Dengan langkah tenang dia terus melangkah keluar dari ruang tunggu. Anitha terus berjalan dan akhirnya berlari setelah keluar dari ruang tunggu.


Anitha cepat menyetop taksi. Di dalam taksi dia menghubungi Sahrul. "Uda, aku melarikan diri dari tuan Nan. Apa yang harus aku lakukan?"


"Apaaa!!" terdengar teriakan terkejut Sahrul.


Anitha bertanya dengan berani. "Kenapa? Apa Uda akan mencampakkan aku sekali lagi?"


"Tidak, bukan itu maksud uda. Kenapa kau tiba-tiba nekat melarikan diri!"


"Tuan Nan akan menikahi aku Uda, aku ingin mendengar pendapatmu. Jika kau menolakku, maka aku akan kembali pada tuan Nan. Aku tak punya tempat bertenggang kini." Anitha menantang Sahrul.


"Jangan kembali! Uda hanya terkejut. Sekarang kamu di mana?" Sahrul memang tiba-tiba tidak rela Anitha dimiliki yang lain, walau tuan Nan sekalipun. Entah apa yang dipikirkannya.


"Aku masih di taksi. Namun kita tidak mungkin bertemu dulu Uda. Tuan Nan bisa saja mencurigaimu. Aku tak ingin Uda terlibat." Anitha hanya berpura berbaik hati.


"Kau benar. Apa kau ada rencana? Uda tidak ada rencana karena kau mendadak," kata Sahrul yang ikutan panik. Dia tak ingin tuan Nan mencurigainya, dia juga tak ingin Anitha dimiliki tuan Nan. Sifat egonya kembali mendominasi dirinya.


"Uda tenang saja, aku sudah mengaturnya. Namun aku tidak mempunyai banyak uang Uda."Anitha berkata bohong. Dia punya kartu black card yang diberi tuannya. Anitha berniat menarik tunai sekitar 20 juta. Dia sangat yakin tuannya tidak akan memblokir karena sudah melarikan diri dan memakai uangnya.


"Tenang saja. Nanti uda bantu kalau soal itu. Apa rencanamu?"


"Aku akan menyebrang ke Batam, Uda. Jika aku di sini. Biaya hidup akan sangat besar. Aku akan menunggu Uda di sana. Namun bisakah Uda nanti mencari cara menyusulku ke sana?"


"Iya, uda akan cari cara. Pergilah dulu. Kirimkan nomorkan rekening kamu. Nanti uda transfer untuk biaya di Batam menjelang uda menemuimu.


"Terima kasih Uda." jawab Anitha dengan nada sendu namun seringai liciknya hadir.


Jika Anitha sibuk dengan pelariannya, Tuan Nan terlihat tersenyum kecut. Setelah sekian menit Anitha tak juga menunjukkan batang hidungnya. Tuan Nan memerintahkan Harri menyusul ke toliet.


Saat Harri melihat seorang wanita keluar, Harri hanya menemukan toliet kosong tanpa melihat wanita yang dicintai bosnya.


"Kosong Tuan," lapor Harri.


"Ohhh." Hanya itu yang diucapkan tuan Nan.

__ADS_1


"Apa perlu di kejar Tuan?" tanya Harri dengan was-was. Bagaimanapun mereka telah lengah.


"Tak usah, santai saja dulu." Tak ada nada marah tuannya.


"Larilah dulu sepuasmu sayang! Aku sungguh tidak menyangka kau ahli dalam melarikan diri. Kau begitu berani sayang!" batinnya berkata antara rasa kagum dan kesal karena telah ditipu dengan wanita yang baru tadi malam mengajaknya menikah.


"Jeff, kau tahu apa yang di rencanakannya?" tanya tuan Nan.


"Aku tak tahu Nan. Aku saja terkejut dengan apa yang dilakukannya." Jeffy tidak berbohong. Jeffy tidak ada menerima sinyalpun dari Anitha. Padahal dia yang meminta bantuan semalam. Kini dia bergerak sendiri.


"Apa kau akan membatalkan keberangkatan ini, dan mencari wanita yang berani mempermainkan CEO besar?" olok Jeffy.


"Tidak, urusanku lebih penting. Kau sendiri saja yang mencari dan mengawasi dia. Aku yakin dia mencari mantan suaminya itu. Aku tak tahu alasannya apa."


Akhirnya Jeffy tetap tinggal di Singapura. Tuan Nan tetap meneruskan perjalanannya.


Jika Jeffy kembali mencari tahu keberadaan Anitha, Anitha kini sudah berada di feri Singapura-Batam. Anitha tidak berniat menunda lama di Singapore. Jeffy tidak pernah menyangka Anitha akan keluar dari Singapura. Jeffy hanya memata-matai mantan suami Anitha tanpa dia tahu, Anitha sudah bertolak keluar Singapura.


Sebelum meninggalkan Singapura, dia telah menggesek senilai 20 juta kurs negaranya. Diapun mengirim pesan singkat dari whatsapp. "Tuan jika kau percaya padaku, beri aku waktu untuk mengembalikan pinjaman ini padamu. Aku meminjam uangmu untuk bertahan hidup tanpamu. Jangan tunggu aku jangan cari aku, aku memutuskan mundur dari perjanjian Tuan dan nyonya. Terima kasih atas kebaikan Tuan selama ini."


Anitha mematikan ponselnya dan kembali membuang kartunya. Anitha akan berniat mengganti kartunya setiba di Batam.


Setiba di Batam, Anitha mencari hotel biasa. Dia keluar dan membeli kartu baru. Hanya Sahrul dan ibunya yang dia beri tahu. Ibunya sempat mencecarnya dengan banyak pertanyaan kenapa dia mengganti nomor ponselnya. Anitha hanya meminta pada ibunya, jika ada yang menanyakan dirinya, apapun dan siapapun, anggap ibu kehilangan dirinya.


Ibunya meminta dia kembali saja kerumahnya. Bagi Anitha tak ada jalan untuk kembali atau mundur. Dia bertekad untuk sukses dengan tangannya sendiri. Jika dia kembali dia merasa hidupnya akan kembali di titik nol. Anitha tidak mau itu terjadi. Sekali lagi ibunya mengalah dengan keputusannya.


Anitha hanya berniat sementara di hotel, dia mulai mencari kost.


Malam hari, saat Anitha mencari-cari lowongan pekerjaan. " Hallo, lagi apa?" tanya Sahrul.


"Lagi merindukanmu Uda," jawab Anitha menggombal.


"Hmmm, tumben kamu pandai menggombal. Dulu tak pernah uda mendengar ini darimu," Sahrul menyampaikan keheranannya.


"Uda tak suka pribadiku yang sekarang?"


"Uda justru suka. Hanya saja uda seakan tak mengenali dirimu."


"Kalau begitu kita buka lembaran baru Uda," tawar manis Anitha disambut baik oleh Sahrul.

__ADS_1


"Ya."


"Uda sudah transfer, cek ya."


"Ok makasih Uda."


"Sudah, anggaplah permintaan maaf dari uda."


Mereka hanya ngobrol ringan. Setelah sambungan diputus Anitha mengecek bankingnya, tertera nominal yang cukup besar. Selama menikah, Anitha tidak pernah mendapat uang sejumlah itu dari Sahrul. Seringai Anitha semakin lebar.


Di lain negara tuan Nan menghubungi Jeff, "Bagaimana Jeff?"


"Nihil masih Nan, tapi aku akan memantau Sahrul."


"Oklah, aku urus pekerjaanku dulu."


Jeffy ingin tahu rasa hati tuan Nan. "Kau tak gundah dia sendiri diluar sana?"


"Untuk sekarang tidak, karena dia sudah memegang uang tunai 20 juta dari kartu kreditku."


"Kau tidak memblokir kartunya?"


"Tidak Jeff, tak akan kulakukan."


"Kau tahu Nan, dia sekarang pasti sudah mengganti nomor ponselnya."


"Ohhh, aku belum tahu. Aku hanya membaca pesan whatsapp darinya tadi siang. Aku belum sempat menjawabnya."


"Nomornya sudah tidak aktif lagi, dia sudah menghapus registrasi kartunya. Dia juga pasti mengganti nomor Whatsapp-nya."


"Hahaaa, beraninya dia melakukan itu tanpa aku duga." Tuan Nan hanya bisa tertawa sumbang.


"Kau langsung kembali ke Indonesia atau balik ke Singapura?"


"Aku balik ke Indonesia setelah di sini selesai. Kau saja yang cari dia sampai dapat. Aku banyak urusan setelah pulang dari sini."


"Apa yang harus aku lakukan jika dia sudah aku temui? Apakah perlu aku seret pulang Nan?"


"Tidak perlu, beri dia waktu. Aku penasaran apa yang ingin dia lakukan dengan melarikan diri dariku."

__ADS_1


@@@


__ADS_2