Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Original Black Card


__ADS_3

Tuan Nan asyik menggoda Anitha, sementara Sahrul terlihat uring-uringan di kamar hotel. "Bagaimana bisa dia mengenal lelaki kaya itu. Aku sudah sangat membatasi pergerakannya baik dari dunia nyata maupun dunia maya!" geram Sahrul mengepalkan tangannya dan memukulkan pada satu telapak tangannya.


Sahrul begitu geram melihat Anitha yang dulu manja dan penurut menjadi kasar dan keras kepala. Sahrul memikirkan bagaimana cara bisa mendapatkan kembali Anitha.


Lama dia terduduk di tepi ranjang sambil meninju-ninju kecil telapak tangannya sendiri. Apalagi dia belum memperoleh kontak Anitha. Hatinya semakin tidak sabaran. Dia tidak mungkin meminta pada bosnya ataupun bos Anitha. Dia tidak ingin bosnya yang dari pusat tahu, bahwa Anitha adalah mantan istrinya yang belum bisa dikatakan mantan. Apalagi perpisahan mereka baru hitungan minggu.


Lama Sahrul memutar otak dan akhirnya dia mendapat satu alasan yang bagus untuk meminta nomor Anitha pada bosnya.


Di tengah dilema tersebut, nasib berpihak pada Sahrul. "Halo pak Sahrul, bisa ke kamar saya sebentar," ucap bos besarnya.


"Oke Pak, saya ke sana sekarang." Sahrul langsung bergerak ke kamar Bosnya.


Setelah mengetuk pintu, Sahrul masuk menemui bosnya. "Ada apa Pak?" kata Sahrul setelah dipersilahkan duduk.


"Saya dengan pak Dani harus kembali siang ini juga. Istri saya masuk rumah sakit. Kamu bisa menghandle urusan di sini. Nanti saya utus staf kantor untuk memperbantukan Bapak di sini," titah Pak Rudi, bos besar dari pusat.


"Ok Pak!" ucap Sahrul tegas. Sahrul memang bisa diandalkan urusan pekerjaan. Pak Rudi tidak terlalu ambil heran ketika utusan tuan Nan meminta Sahrul juga bergabung dalam urusan pembangunan gedung untuk anak perusahaan tuan Nan di Singapura. Baginya pasti tuan Nan sudah mencari tahu kredibilitas perusahaannya. Sahrul justru sempat merasa heran kenapa tuan Nan meminta jasa dari perusahaan Indonesia untuk pembangunan gedung di Singapura.


Tuan Nan telah mengatakan pada mereka, jika di kemudian hari ada yang tidak diinginkan dari kerja sama ini. Tuan Nan tidak perlu repot, dia langsung berurusan di negaranya sendiri. Perusahaan pusat dia di Indonesia. Alibi yang begitu sempurna dan sangat masuk akal.


Sahrul kembali ke kamarnya dengan senyum iblisnya. Dia merasa langkahnya sangat bebas tanpa ada bos besarnya. Dia berdendang dalam hati merayakan kesenangan yang ingin diraihnya.


"Tunggu saja istriku yang cantik, aku akan mendapatkan kau kembali dalam pelukanku!" gumamnya penuh tekad ketika sudah berada di kamarnya.


Di kamar Anitha ....


"Sore ini jadwal kau kosong, tetapi saya masih ada urusan di perusahaan cabang. Kamu boleh jalan-jalan jika kebosanan menghampirimu. Kamu bisa minta temani Jeffy atau hanya sekedar minta antar," ucap tuan Nan yang disambut Anitha dengan suka cita.


"Aku senang saja Tuan, aku akan lebih senang jika Tuan membayar gaji di depan." Anitha jelas menyindir tuannya jika dia tidak punya uang sepeserpun.


Tuan Nan tertawa mendengar sindiran Anitha, "Sini mendekat padaku," kata tuan Nan.


"Kenapa harus mendekat?" tanya Anitha tak bisa selalu langsung patuh jika diminta berdekatan.


"Kau jangan besar kepala sayang, aku sedang tidak ingin memangsamu. Ada pengetahuan baru yang ingin aku infokan. Biar otak cerdasmu itu bertambah cerdas," olok tuan Nan santai.


Anitha melihat tuan Nan mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan dua kartu satu berwarna hitam dan satu berwarna putih.




"Kamu mau pilih yang mana sayang?" ucap tuan Nan bersayang ria namun nadanya hanya penuh candaan. Sehingga Anitha terlihat tetap santai melihat candaan tuan Nansen. Namun, siapa yang tahu di hatinya.

__ADS_1


"Apa yang harus saya pilih tanpa tahu fungsi dari kegunaannya Tuan," jawab Anitha yang membuat tuan Nan tersenyum.


"Kau memang bukan wanita sembarang, kau tidak mau langsung memilih. Apa pengalaman salah memilihmu, membuat kau lebih hati-hati dalam pilihan?" begitu terdengar nada cemoohan tuan Nan.


"Baguslah jika kau paham Tuan, jadi aku tak perlu repot menjelaskan. Sekarang jelaskan apa dua kegunaan kartu itu ... tidak ... tidak ... lebih tepatnya fitur dari dua kartu itu," ucap Anitha.


"Kau tahu ini kartu apa?"


"Aku bukan wanita bodoh Tuan, aku bisa menebak itu kartu kreditmu. Namun aku tidak tahu mana yang lebih berfungsi untukku," jawab Anitha tersenyum lebar. Senyum yang sangat disukai tuan Nan.


"Pintar kamu sayang, ini yang hitam adalah kartu American Express Centurion Card atau lebih di kenal original black card," jelas tuan Nan sambil memegang kartu tersebut dengan mencapit di antara jari tengah dan telunjuknya.


"Ohhh .... yang satunya?"


"Stratus Reward Visa card!"


"Apa fitur dari si hitam?"


"Beberapa fitur yang ingin kau ketahui adalah akses pelayanan lounge 24 jam, kamar hotel gratis upgrade penerbangan dan kau bisa memiliki akses menutup toko ritel untuk kepentingan pribadimu," terang tuan Nan serius.


"Woow fantastis seperti novel yang aku baca!" teriak Anitha dengan takjub. Otaknya mulai membayangkan saat dia memakai kartu ini." Tuan Nansen merasa lucu melihat mimik Anitha yang nelangsa.


"Kau jangan terlalu berfikir untuk menggunakan sesuka hatimu sayang. Kau bisa tergadai kepadaku karena sepotong kartu yang bentuknya tidak berharga ini," canda tuan Nan.


"Kau harus tahu asal muasal bisa mempunyai kartu ini."


"Apa Tuan? kata Anitha sangat tertarik dengan pengetahuan baru soal kartu kredit tanpa batas. Anitha tak sadar dan duduk dihadapan tuan Nan begitu dekat karena memperhatikan kartu yang masih di capit oleh jari tangan indah tuan Nan. Tuan Nan berdebar melihat Anitha yang begitu dekat.


"Untuk bisa memilikinya seseorang harus sudah punya minimal kartu platinum dari American Express selama satu tahun. Jika dianggap layak baru diundang untuk mengajukannya. Biaya awal sekitar 10rb dolar AS dan biaya tahunan 5 ribu dolar AS. Jadi kau paham?"


"Paham Tuan. Aku bisa shoping dan menutup toko yang aku inginkan selama aku memakai kartumu. Aku benar Tuan?" ucap Anitha bergurau. Tuan Nan sangat gemas melihat Anitha mencandainya setelah panjang lebar dia menjelaskan.


"Ya lakukanlah jika itu kau inginkan," kata tuan Nan membalas candaan Anitha dengan serius.


"Untuk apa Tuan?"


"Untuk kesenanganmu atau hanya sekedar pengalamanmu. Jika kau ingin benar melakukan aku izinkan. Pakailah ini," kata tuan Nan mengambil tangan Anitha dan meletakkannya di telapak tangan Anitha. Anitha tak menolaknya.


"Lalu yang kartu putih?" tanya Anitha ingin tahu. "Jangan bilang kau ingin memiliki keduanya?" ucap tuan Nan masih asyik mengganggu Anitha


"Jika aku bilang ingin memiliki keduanya bagaimana Tuan?" kata Anitha pasang wajah serius.


"Bisa, ada syaratnya," kata tuan Nan juga pasang nada serius.

__ADS_1


"Apa syaratnya Tuan?" kata Anitha tak sempat berpikir panjang. Dia tak sadar jika tuan Nan akan mengerjai dirinya yang sedang serius ingin tahu fungsi kartu itu.


"Kau bisa jadi istri tercintaku. Maka aku akan berikan semua kepadamu," kata tuan Nan penuh kemenangan.


Jika biasanya Anitha akan marah jika mendengar gurauan ke arah sana. Kini Anitha tidak lagi. Bukan karena dia mulai menyukai tuan Nan. Namun karena dia sudah hapal kelakuan tuan Nan yang suka membuat emosi.


"Jika benar hanya itu syaratnya, aku mau Tuan," jawab Anitha serius. Tuan nan menelisik raut muka Anitha. Hanya tatapan serius yang dia dapati tanpa terselubung hal lain.


"Kenapa Tuan hanya memandangku, Tuan menyesal aku menyetujui syarat Tuan?" desak Anitha. Tiba-tiba timbul ide lain untuk memuluskan rencananya.


"Tidak, aku tidak menyesal jika untukmu. Aku hanya tidak percaya kau akan setuju secepat ini. Apa yang kau rencanakan Wanita Boneka?" ucap tuan Nan menyebut gelar pertama Anitha. Tuan Nansen sibuk mereka-reka apa yang dipikirkan oleh Anitha.


"Hahha kenapa aku mencium nada panik padamu Tuan?"


"Aku tidak panik. Jangan terus menggodaku Anitha. Aku bisa membuat kau menyesal di kamar ini?" ancam tuan Nan menakuti Anitha.


"Tuan tidak lupakan? Jangan pernah mengancamku. Tak ada yang aku takutkan Tuan. Selain aku tidak mendapatkan kartu black card itu Tuan," ucap Anitha tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah tuan Nan yang kesal.


"Jangan marah Tuan. Aku mengaku bersalah. Aku masih penasaran untuk apa kartu yang berwarna putih itu?" ucap Anitha serius ingin tahu.


"Cari tahu sendiri, aku mau ke kantor," ucap tuan Nan berniat meninggalkan Anitha. Tuan Nan berdiri begitupun Anitha yang masih memegang kartu kredit tuannya.


"Awwww ...." terdengar Anitha teriak. Tuan Nan membalikkan badannya dan hendak berlari mengejar Anitha. Namun yang dilakukan tuan Nan, kembali membalikkan badan dan menuju keluar. Anitha kembali mengerjai. Dia melihat Anitha tersenyum sambil memberinya kiss jarak jauh.


"Tuan, tunggu sebentar. Aku ingin tanya satu hal. Aku serius!" teriak Anitha memenuhi kamar mewah tersebut.


"Ada apa?" tuan Nan berhenti dan berbalik badan.


"Apakah waktu luangmu begitu banyak sebagai CEO besar?" Anitha bertanya penuh penasaran.


"Aku sudah kaya! Aku tidak diatur uangku. Aku yang mengatur uangku! Aku juga tidak diatur waktu, aku yang mengatur waktu! Ingat itu jika kau ingin jadi CEO suatu saat kelak!" Tuan Nan berlalu.


Saat dia sudah di luar kamar Anitha. Tuan Nan berpapasan dengan Jeffy yang baru kembali.


"Ada apa Nan? Wajahmu seperti sedang kesal? Aku lihat kau keluar dari kamar Anitha. Apa kau ditolak olehnya?" olok Jeffy menambah kesal tuan Nan.


"Aku doakan kau jatuh cinta pada gadis jahil seperti Anitha!!"


"Hahahah, apa kau siap dikerjainya Nansen Adreyan??" Jeffy sudah bisa menebak dan tuan Nan hanya melangkah ke kamar.


@@@


Hehehe tepat pula nemu gambar ini 😂

__ADS_1



__ADS_2