
Sebulan setelah permintaan tuan Nan pada Anitha ....
Di sebuah butik ternama ....
"Hallo sayang, akhirnya kamu benar bisa menaklukkan hati Mas Nansen," ucap seorang wanita yang berpembawaan hangat. Melly Bhetriya adeknya Allea Bhetriya. Melly memeluk erat Anitha.
Mereka memang telah membuat temu janji. Ini kali pertama mereka kembali berjumpa setelah terakhir bertemu di rumah tuan Nan, awal dia datang pertama kali.
"Apa kabar Mbakku sayang?" sapa Anitha dengan muka bersinar cerah.
"Kabarku baik-baik saja. Kamu semakin cantik dan aduhai saja."
"Terima kasih Mbak, tapi jangan katakan karena uang tuan kaya itu," Anitha langsung menjelaskan. Dia tak ingin hatinya rusak karena kesalahan pahaman yang menurut sebagian orang hanya masalah sepele, namun besar bagi Anitha. Bagi ego Anitha.
Melly tertawa renyah. "Tidaklah sayang, Mbak sudah tahu apa yang terjadi padamu."
Memang Mbak tahu apa hmm, bukannya Mbak sibuk dengan bisnis Mbak melulu." Anitha melayangkan rasa tak percayanya.
"Hhehehe, kamu kenal pak Yudhis dari Batam?" tanya Melly dengan aura yang misterius.
"Yudhis Pranata?" Hanya nama itu yang terlintas oleh Anitha jika di Batam.
"Yups tepat sekali." Melly tersenyum semakin lebar.
"Memangnya apa hubungan Mbak dengan pak Yudhis?" tanya Anitha dengan mengerutkan dahinya.
"Teman," jawab Melly santai. Anitha tak percaya jika mereka hanya teman. Anitha tahu pak Yudhis masih sendiri. Dia pria lajang dan pria tanpa kekasih di Batam. Ya pak Yudhis adalah mantan bos Anitha di Batam.
Saraf otak Anitha langsung aktif, sel sarafnya langsung sambung menyambung dan membentuk sebuah ingatan. "Jangan bilang Mbak yang mengatur aku bertemu dengan Nansen waktu itu?" tuduhnya dengan lugas.
"Hahahaha, kamu memang sangat cepat tanggap ya sayang. Kamu sangat serasi dengan mantan abang iparku yang kurang tanggap itu. Mencari kamu saja dia tidak bisa." Melly tak bisa menahan ketawanya.
"Mbaaak ...." Anitha terperangah tak percaya. Matanya menuntut penjelasan.
"Iya, Mbak akan cerita. Namun sebaiknya kamu memilih desain baju pengantin kamu dulu bagaimana?"
"Nantilah itu Mbak, bukannya hari ini Mbak akan meluangkan banyak waktu kosong untukku?" Anitha tidak sabaran ingin tahu.
"Oke, Mbak cerita ....
Kilas balik ....
"Mell lagi apa?" tanya Yudhis malam hari. Dia berbaring dengan senyum di bibirnya.
"Biasalah, aku lagi di butik."
"Apa kau tak jenuh sibuk berkarir saja?"
"Apa bedamu, kau bahkan jauh lebih tua dariku?" Melly mengolok Yudhis.
Yudhis adalah kakak seniornya di masa kuliah. Mereka sangat dekat dan banyak yang menyangka mereka sepasang kekasih. Padahal mereka hanya berteman. Merasa saling cocok dalam banyak hal. Sifat mereka yang kurang suka berteman, lebih membuat mereka saling nyaman dalam berbagi.
__ADS_1
"Sekarang sedikit berbeda Mell," kata Yudhis.
"Ada apa?"
"Aku menyukai seorang wanita Mell. Dia sangat menarik."
"Aku sakit hati mendengarnya. Biasanya kau selalu mengatakan aku yang menarik," ucap Melly bercanda.
"Hahah, kau tetap yang paling menarik bagiku. Sayangnya kau tak mau membuka hatimu. Aku bosan menunggumu." Begitu santai pengucapannya.
"Jadi di mana kau mengenal wanita menarik selain aku?"
"Dia karyawan di kantorku."
"Apa sebegitu putus asanya kau, karena aku tolak sayang? Sehingga seorang direktur utama mencari karyawan biasa?" nada cemoohnya begitu kentara dilontarkan oleh Melly.
"Kau jangan salah Mell, dia bukan karyawan biasa. Jabatannya bagus di perusahaan ini. Dia cantik, pintar dan sangat kompeten dalam kerja, hanya satu sayangnya__"
"Sayangnya kau di tolaknya, hahaha," ucap Melly menyela. Melly menertawakan.
"Aku hanya masih menyimpan di hati saja. Bagaimana aku mau di tolak. Sayangnya dia dingin Mell. Tidak hanya padaku, tetapi sama semua lelaki di kantorku. Sama teman wanitapun hanya say hello. Aku bingung mau mendekatinya."
"Jadi kau meminta ilmu, cara menaklukkan wanita?"
"Tidak juga, aku hanya ingin berbagi cerita. Kamu saja tidak punya ilmu menaklukkan pria bagaimana mau aku tanya," kembali terdengar olokkan Yudhis pada Melly.
"Siapa namanya?" tanya Melly hanya sekedar ingin tahu.
"Tidak juga."
"Namanya Anitha, Anitha Putri." Yudhis meneruskan dengan menyebut nama lengkapnya. Seakan dengan menyebut nama lengkapnya, dia bisa melepaskan rindunya.
"Siapaaaa!!" Melly berteriak tak percaya.
"Kau tidak tulikan Mel dan aku tidak cukup pekak mendengar teriakanmu?" rutuk Yudhis.
"Aku terkejut jika dia orang yang sama." Melly akhirnya menetralkan suaranya.
"Apa maksudmu?"
Melly meminta Yudhis mendeskripsikan bagaimana Anitha. Melly sedikit yakin jika itu benar Anitha yang dia kenal. Walau ada sedikit berbedaan dari rambut dan bentuk tubuh. Namun bisa saja itu diubah dan berubah.
Melly meminta foto Anitha, membuat Yudhis semakin didera penasaran. Namun Yudhis tidak ada mempunyai fotonya. "Kau mengenalnya?"
"Mungkin. Jika memang dia, aku harap kau membunuh perasaanmu!" Melly meminta dengan tegas.
"Jelaskan, jangan buat aku bingung!"
Melly lalu menjelaskan dengan ringkas. Yudhis awalnya tetap berkeras mengungkapkan perasaannya.
"Tapi kini aku yang banyak waktu bersamanya. Aku bisa menjadi pemilik hatinya.
__ADS_1
"Cobalah, tapi jika memang dia, bersiaplah kau patah hati."
Seminggu setelah percakapan mereka, Yudhis mengirim foto Anitha. "Benar dia orang yang sama?"
Melly langsung menelfonnya. "Jadi dia kabur ke sana."
Melly menceritakan bagaimana keadaan mantan abang iparnya sekarang. Melly selalu di telfon oleh mbaknya yang memberi kabar bagaimana tuan Nan mencari Anitha.
"Aku mohon, bantu aku membuat mereka bertemu secara tidak langsung," ucap Melly penuh permintaan.
Melly bisa saja memberi tahu tuan Nan, tetapi Melly menginginkan secara alami pertemuan dia, sehingga keduanya bisa saling lomba maraton jantung.
"Aku yakin perasaanmu belum terlalu dalam, tapi perasaan mantan abang iparku sangat dalam. Anitha cinta satu-satunya, bahkan kakakku tidak mendapatkannya." Melly kembali meminta pengertian Yudhis.
Yudhis sebenarnya tidak peduli dengan perasaan tuan Nan, namun dia peduli dengan perasaan Melly. Tak pernah sepanjang mengenal Melly, dia meminta sepenuh hati seperti sekarang.
Perasaan Yudhis juga baru sebatas menyukai, namun pada Melly dia sudah taraf mencintai. Namun entah apa masalahnya, Melly dulu selalu menolak halus dirinya. Kini momen ini dia ingin menjadi keuntungan dipihaknya.
"Perasaanku memang belum dalam, tetapi aku telah berniat mendapatkan seperti dulu aku ingin mendapatkanmu." Yudhis memberi stimulus pada Melly.
"Bagaimana kalau kau berusaha mendapatkan aku lagi?" Melly tak bisa memikirkan kalimat lain untuk menyatukan tuan Nan dan Anitha. Yudhis cukup terperangah mendengar permintaan Melly. Stimulus dari Yudhis mendapat respon. Jauh di seberang sana, akhirnya Yudhis tersenyum penuh makna.
"Kenapa kau begitu memikirkan perasaan perasaan mantan abang iparmu? Apa kau menyukai dia?" Yudhis tetap tak tahan untuk tidak menuduh Melly.
"Kau jangan asal bicara. Aku tak pernah punya perasaan apapun padanya selain rasa sayang seperti abang sendiri. Walau dia tak pernah mencintai kakakku, dia tetap baik pada kakakku dan aku." Melly menjelaskan dengan tenang.
"Ohhh ...." kata Yudhis setengah percaya.
"Bahkan dia membantuku memberikan modal awal saat ingin membuka butik. Kaukan tahu, ibuku tak pernah setuju aku menggeluti dunia bisnis. Dia ingin aku menjadi seorang dokter spesialis." Melly berkata masih dengan tenang. Tak ada kemarahan dalam nadanya. Siapapun memang bisa salah sangka mendengar perkataan Melly yang terlalu membela tuan Nan.
"Begitu?" tanya Yudhis meminta keyakinan dari Melly.
"Iya, hanya begitu. Bagaimana? Apa kau bisa memenuhi permintaanku sekali ini?"
"Baiklah, tetapi kau harus belajar mencintaiku, karena aku masih mencintaimu."
"Hmm baru seminggu yang lalu kau menyatakan begitu menyukai Anitha." Sungut Melly.
"Aku mengatakan menyukai bukan mencintai!"
"Baiklah, aku akan pikirkan cara untuk menjumpai mereka secara alami."
"Yudhis juga pebisnis. Walau dia direktur utama di perusahaan itu, dia juga pemilik saham di perusahaan itu. Dia cukup tahu siapa Nansen Adreyan. Otak bisnisnya bekerja.
"Bagaimana kalau aku utus Anitha untuk mengajukan kerja sama dengan perusahaanku?"
"Kau licik juga ya? Kau dapat aku dan dapat kerja sama dengan mas Nansen sekalian."
"Demi masa depan kita juga."
"Oke aku setuju."
__ADS_1
***/