Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Hukuman Untuk Nyonya Bangsawan


__ADS_3

"Mommy sudah merestuimu Nak," kata ibu tuan Nan.


"Ohh ya? Kapan tepatnya Nyonya merestui?" tanya Anitha tenang. Setenang permukaan laut yang dalam.


Kembali ibu tuan Nan merasa gelagapan. Dia tidak bisa menebak apa maksud Anitha atau kemana arah Anitha inginkan. Dia kembali mengingat kapan tepatnya dia memang merestui Anitha. Apa saat Anitha koma? Apa saat dia melihat anaknya hancur dalam perasaannya.


Ibu tuan Nan, memandang dalam Anitha. Jawaban apa yang harus dia beri. Jawaban apa yang diinginkan wanita yang tenang ini. Ketenangan Anitha justru membuat ibu tuan Nan berpikir keras. Dia tak ingin terbawa hanyut oleh pusaran air yang tak terlihat.


Anitha masih dengan tenang memandang calon ibu mertuanya.Tak ada niat mendesak, tak ada niat membutuhkan jawaban. Anitha hanya diam.


Tuan Nan semakin gelisah. Ayah tuan Nan saja tidak paham apa yang dipikir dan apa yang diinginkan calon menantunya. Adik tuan Nan semakin sangat menyukai Anitha. Baginya Anitha terlihat sangat menarik dengan sikap dan pandangannya yang tenang.


Jeffypun yang berada diruangan itu karena diminta tuan Nan mengantarkan baju ganti ibu Anitha dan dirinya. Tuan Nan sengaja menahan Jeffy karena dia butuh teman untuk minta pendapat. Teman untuk meluahkan kegelisahannya melihat sikap Anitha yang jauh lebih tenang sejak sadar dari komanya.


"Apa yang ingin Mommy beri jawaban?" Akhirnya tuan Nan memecah keheningan.


Ibunya melihat ke tuan Nan yang masih setia berdiri di tepi ranjang Anitha yang berseberangan dengan ibunya.


"Jawab saja dengan jujur Mom. Biar semua tidak berlarut." Ibunya menangkap nada memaafkan dari anaknya. Itu membuat beliau jauh lebih tenang.

__ADS_1


"Iya, melihat kau terbaring koma dan melihat Nansen hancur, membuat Mommy menyadari kesalahan Mommy. Tidak seharusnya Mommy melampiaskan rasa kecewa Mommy pada Nasen melaluimu yang tak tahu apa-apa." Akhirnya walau dengan perlahan dan terbata-bata serta masih menggunakan kata mommy ke badannya. Ibu tuan Nan bisa menyampaikan semuanya.


Namun ... Dhuaaarr .... masing-masing merasa bom meledak di telinga mereka. Ketika mendengar jawaban Anitha.


"Sayangnya saya menolak di kasihani Nyonya," ucap Anitha lembut. Ibu tuan Nan ternganga tak percaya melihat Anitha ternyata wanita yang jauh lebih sulit dari perkiraannya.


"Perlu Nyonya ketahui, saya dari dulu paling tidak bisa menerima untuk di kasihani. Walau nyawa saya taruhannya." Suara Anitha mendingin tanpa ada raut kemarahan dan kebenciannya.


"Nyonya tak perlu terlalu banyak berpikir. Saya tidak sedikitpun membenci Nyonya. Saya tidak menyalahkan atas apa yang telah Nyonya lakukan. Tapi berilah saya sedikit waktu."


"Wa_waktu?" tanya ibu tuan Nan dengan terbata.


"Baik, Mommy tidak akan melakukan itu." Anitha bisa melihat penyesalan dan kesedihan bercampur di mata ibu tuan Nan. Namun Anitha tak ingin memaafkan untuk saat ini. Anitha diam-diam tidak terima di tinggal pergi begitu saja tanpa kata oleh ibu tuan Nan.


Dalam diamnya, dalam senyumnya dan dalam cerianya, tanpa ada yang tahu, harga dirinya merasa hancur malam itu. Ibu tuan Nan begitu saja saat memperlakukan dia tidak adil. Meninggalkan dia tanpa kata pamit. Kerja kerasnya dan perjalanan panjangnya di hancurkan begitu saja, dengan kata tidak 'sepemahaman' hanya karena dia dari kalangan biasa. Kini Anitha memberi hukuman untuk nyonya bangsawan tersebut.


Keluarga tuan Nan akhirnya pamit setelah ibu tuan Nan memberi kecupan di dahi Anitha. Anitha tak menolak.


Kini tinggallah mereka berempat. Tuan Nan tak mengizinkan Jeffy kembali ke hotel. Dia meminta Jeffy menjaga di kamar inap ini.

__ADS_1


Saat tuan Nan dan Jeffy berada di meja makan, ibu Anitha datang mendekati anaknya.


"Kamu baik-baik sajakan sayang?" tanya ibunya dengan cemas.


"Aku baik Bu."


"Tak ada yang sakit Nak?" ibunya memandang ke kepala Anitha.


"Tubuhku tidak ada yang sakit Bu. Namun hatiku tak sebaik dulu."


"Kamu tidak boleh pendendam Nak, tidak baik," nasehat ibunya.


"Maaf Ibu, aku tidak bisa. Aku tidak mau lagi di tindas oleh siapapun. Aku tak ingin direndahkan oleh siapapun. Akan aku buktikan pada orang banyak, walau aku cuma anak ayah yang cuma pegawai rendah dan anak ibu dari janda pensiunan namun aku diberi otak yang bisa memutar balikkan keadaan.


Ibunya tak ingin mendebat atau mendesak anaknya. Dia tahu anaknya tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia mau. Selagi cara mendapatkannya benar, ibunya tetap mendukung anaknya.


Di meja makan ... tuan Nan dan Jeffy berkata pelan dan hampir berbisik.


"Apa yang diinginkan

__ADS_1


__ADS_2