Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Uang dan Kebahagiaan


__ADS_3

Anitha tak menyembunyikan kabar kehamilan dari mommy-nya. Malam hari, masih di bawah langit Singapura dan hotel biasa dia dan tuan Nan menginap, Anitha menelfon ibu mertuanya.


Anitha tidak mengalami kesulitan ataupun morning sickness. Semua seperti digantikan tuan Nan.


Pagi ini, para asisten rumah tangga tuan Nan menampilkan berbagai ekspresi, mulai dari yang merasa kasihan sampai ada yang menahan geli hatinya.


"Pagi tuan, pagi Bu," sapa asisten rumah tangga ketika melihat majikan mereka datang berbarengan ke meja makan. Mereka sangat salut melihat keduanya tidak pernah selisih paham.


"Pagi. Ayo kita sarapan," ajak tuan Nan. Memberi kerutan-kerutan heran di wajah asistennya. Ini kali pertama tuan Nan menyapa mengajak makan bersama, biasanya selalu majikan perempuannya.


"Ii__iya Pak, lanjut. Nanti kami menyusul," jawab Marta gugup. Anitha melemparkan senyum lucunya. Marta tersenyum kecut dengan Anitha.


Sejak Anitha kembali berdamai dengan Ajeng dan Sahrul. Anitha kembali menjadi pribadi hangat. Dia dekat dengan para asistennya terutama dengan Marta dan Nova. Mereka sangat menyayangi Anitha.


Tuan Nan menarik kursi untuk istrinya, dia selalu memperlakukan istrinya dengan penuh kasih. Melimpahkan perhatian-perhatian kecil. Tuan Nan menyusul duduk di samping istrinya.


Anitha membalas perhatian kecil suaminya dengan mengambilkan sepiring kecil roti sosis dan keju dan segelas susu putih hangat.


"Ini sayang," kata Anitha dibalas dengan kecupan sayang di pipinya.


Tuan Nan meneguk pelan susu putih hangatnya. Anitha juga meminum segelas susu hangatnya, namun yang diminum Anitha berbeda dari tuan Nan. Anitha meminum susu khusus ibu hamil.


Tuan Nan mengiris kecil roti sosis dengan telur dan kejunya. Dengan gaya elegant dia menyuap ke mulutnya. Baru satu potong irisan kecil dia telan masuk, tuan Nan merasa di balik-balik perut.


Dengan cepat dia pergi ke westafel dan mengeluarkan kembali susu yang baru beberapa dia teguk.


Anitha mengikuti tuan Nan dan memijit lembut tengkuk tuan Nan. Ini pagi ke lima tuan Nan tidak bisa menelan makanan seperti biasa. Hari pertama dan kedua Anitha mengira tuan Nan masuk Angin. Setelah di periksa oleh dokter pribadi mereka, tidak ada masalah apapun.


"Lihat Nak, papamu begitu setia dan sayang pada mama. Jika anak mama ini laki-laki, besok jadilah seperti papamu sayang. Baik dan tidak mata keranjang." Anitha selalu mengajak calon bayinya berbicara.


"Ayo sayang, kita ke kantor," ajak tuan Nan setelah Anitha menghabiskan sarapannya.


"Terus, Kanda tidak sarapan lagi?" tanya Anitha iba melihat suaminya.


"Tidak sayang. Kanda benar tak sanggup mencium semua aroma sarapan ini."


Anitha sudah meminta asisten rumah tangganya untuk mengganti-ganti menu, mulai dari buah salad sampai sereal. Bahkan yoghurt dan roti berlapis mentega almond juga tak bisa di telan oleh tuan Nan.


"Apa kita konsul ke dokter saja sayang? Dinda yakin Kanda menggantikan morning sickness dinda. Masalahnya dinda tidak merasa apapun."


"Tidak usahlah sayang. Kanda yakin juga seperti itu. Tak apa, kanda merasa bersyukur. Jadi Dinda tidak kekurangan nutrisi dan asupan gizi untuk anak kita."


"Iya, hanya dinda khawatir Kanda lemas. Pekerjaan Kanda sedang banyak-banyaknya pula."


"Kanda minum vitamin saja nanti. Makan siang hanya menu-menu tertentu yang membuat kanda mual."


"Okelah, ayo kita ke kantor."


***


Anitha memang mulai berkurang menangis karena rindu pada ibunya. Walau malam masih sering membuncah hatinya karena teringat dan begitu merindukan ibunya.

__ADS_1


"Bu, doakan aku dan calon cucu ibu baik-baik saja. Aku ingin ibu melihatku dari sana. Aku menahan tangisku bukan karena tak rindu lagi padamu, ibu. Namun aku tidak ingin cucu ibu menjadi cengeng." Anitha menghibur hatinya sendiri kala tuan Nan belum di sampingnya. Dia mengusap perutnya.


Tuan Nan memang agak terlambat pulang hari ini. Tuan Nan telah memberi kabar pada istrinya.


Pintu kamar diketuk, Anitha meminta masuk. Terlihat Nova datang membawa segelas susu hangat untuk Anitha.


Nova begitu perhatian pada Anitha. Jika tuan Nan belum pulang setelah jam makan malam, maka Nova atau Marta selalu menggantikan tuan Nan untuk membuatkan segelas susu buat Anitha. Tuan Nan tidak begitu mengizinkan, Anitha turun-naik tangga berulang kali.


"Nov, kamu sibuk?"


"Tidak Bu, ada apa?"


"Temani saya sampai tuan Nan pulang."


"Baik Bu." Nova meletakan nampan bekas membawa gelas berisi susu buat Anitha di meja sofa kamar Anitha.


Anitha sedang duduk melihat bintang-bintang dari balkon kamarnya.


"Maaf, apa Ibu merindukan orang tua Ibu?"


"Iya Nov, tetapi saya harus kuat. Harus ikhlas, agar ibu saya tidak kecewa pada saya."


"Aku salut pada Ibu," ucap Nova. Dia berdiri di belakang Anitha. Nova memijat bahu Anitha dengan lembut. Anitha menyukainya.


"Apa yang harus di salutkan Nov?"


"Banyak hal, satu diantaranya kebaikan Ibu dan tuan. Berkat Ibu dan tuan, keluarga saya bisa hidup layak."


Bagaimanapun, tak lekang dalam ingatannya ketika dia hidup apa adanya bukan ada apanya. Masih teringat terkadang ketika ayahnya mengatakan tidak ada uang jajan hari ini dan dia harus membawa bekal.


Tidak satu dua orang yang mengoloknya karena keadaannya. Anitha kecil telah bertekad sukses untuk merubah hidupnya dengan langkah awal, giat belajar dan gigih dalam suatu hal.


"Kamu tidak berpikir untuk menikah Nov?" tanya Anitha tiba-tiba.


"Belum Bu."


"Kenapa?"


"Adik-adik saya masih belum lepas Bu. setidaknya sampai selesai kuliah yang satu ini. Saya takut nanti dilarang suami bekerja."


"Itulah kodrat kita Nov, jika suami tidak izin kita tidak bisa melangkahinya. Nanti tidak ada berkah dalam hidup kita."


"Iya Bu. Itulah aku belum berniat. Aku selalu melihat Ibu, walau Ibu wanita karier, Ibu sangat patuh pada tuan."


"Alhamdulillah Nov. Saya mendapatkan suami yang mau mengerti keadaan saya."


"Iya, aku bahagia bekerja di sini Bu. Ibu dan tuan tidak pernah kami lihat bertengkar. Uang memang faktor segalanya ya Bu." Nova bukan bertanya tapi memberikan pernyataan. Anitha tersenyum lebar mendengar pernyataan Nova.


"Melihat Ibu, aku juga ingin punya suami banyak uang atau aku sendiri yang punya banyak uang Bu."


"Hahaha...." tawa Anitha lolos mendengar pernyataan polos Nova. Dia merasa bercermin dengan masa lalunya ketika berambisi soal uang dan kekuasaan karena dendamnya.

__ADS_1


"Kenapa Ibu tertawa?"


"Kamu mengingatkan masa lalu saya Nov. Namun ketahuilah, jika pemikiranmu itu salah!" tegas Anitha.


"Salah bagaimana Bu?"


"Uang tidak bisa membeli segalanya Nov. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Orang tua saya hanya pegawai rendah Nov dan ibu saya hanya ibu rumah tangga biasa. Kami memang tidak bisa membeli begitu saja apa yang kami inginkan. Namun saya juga tidak pernah melihat orang tua saya bertengkar Nov."


"Bisa begitu Bu?" tanya lugu Nova.


"Bisa. Dulu saya memang tidak paham Nov. Saya pikir uang segalanya. Ketika saya mempunyai uang sendiri, baru saya paham. Banyakpun uang jika hati kita masih saja sempit, semua akan membuat susah dan uang tidak bisa melapangkan hati kita."


"Hmmm," gumam Nova.


"Percayalah Nov, jangan pernah takut menikah karena seorang pria tidak punya uang. Tapi takutlah jika dia tidak bisa tanggung jawab karena dia malas berusaha."


"Begitu ya Bu."


"Kamu tahu Nov, dulu saya pernah katakan pada suami saya, 'Apa yang tidak bisa Tuan miliki dengan uang Tuan?'."


"Apa jawaban Tuan, Bu?"


"Cintamu! Begitu tuanmu menjawab Nov." Novi mendengar tawa renyah Anitha.


"Ternyata tuan sangat manis ya Bu."


"Iya sangat manis. Makanya, tidak bisa kita menilai sesuatu dari luarnya saja. Kita juga tidak bisa menyimpulkan sesuatu begitu saja. Walau kadang saya juga suka asal dan singkat saja dalam menyimpulkan Nov."


Kini Nova yang terkekeh. Anitha begitu gamblang dan santai mengakui kelemahannya. Tepat saat mereka terkekeh bersama, mobil tuan Nan telah memasuki pintu gerbang.


"Tuan sudah pulang. Aku ke bawah ya Bu," pamit Nova.


"Terima kasih ya Nov. Pijatan kamu enak. Saya merasa lebih rileks."


"Sama-sama Bu. Saya juga jadi rileks bertukar pikiran dengan Ibu. Kapan-kapan tuan Nan terlambat pulang, boleh saya ngomong sama Ibu lagi ya."


"Tidakpun telat, kamu juga sering ngajak saya ngomong." Anitha menggoda Nova.


"Yaa Ibu. Itukan ngomong yang lain." Nova kehabisan kata membalas gurauan Anitha.


"Iya paham. Boleh. Apapun itu bisa kamu bahas. Mana tahu saya bisa menjadi solusi masalahmu dan yang lain."


Nova meninggalkan kamar Anitha. Lalu tak lama terdengar suara tuan Nan mendekati kamar. Tuan Nan berselisih dengan Nova dan menjawab sapaan Nova. Ceklek ... terdengar pintu kamar dibuka.


"Maaf sayang, kanda terlambat pulang malam ini."


"Iya tak apa, tetapi kami tidak mau peluk ya ... sebelum Kanda membersihkan diri."


"Iya, kanda juga tidak mau memeluk kalian sebelum kanda mandi."


Tuan Nan menanggalkan pakaiannya dan menuju ke kamar mandi. Anitha mengambilkan piyama tidur dan pakaian dalam tuan Nan. Dia meletakan di tempat tidur, dan menanti dengan sabar.

__ADS_1


***/


__ADS_2