
Senin pagi di kantor ....
"Pagi Bu, ada yang bisa saya bantu?" sapa Ajeng dengan hormat. Walau nada bergurau terselip samar di dalamnya.
"Pagi Bu Ajeng. Apa anda bisa ke ruangan saya?" balas Anitha dengan nada juga bergurau.
"Mau saya buati teh hangat Bu?" lanjut Ajeng serius.
"Memangnya kau office girl ," umpat Anitha.
"Untuk menebus dosaku, aku rela." Ajeng tertawa.
"Asal jangan kau taruh racun di dalamnya."
"Mulutmu masih saja tajam!" sungut Ajeng.
Mereka kembali seperti masa lalu, namun lebih akrab, tanpa ada kesalahpahaman lagi.
"Oke, aku tunggu ya."
"Ya."
Tak butuh waktu lama Anitha menunggu, Ajeng datang menyusul. Ajeng hanya meminta office boy untuk membuat dua gelas teh hangat.
Ajeng tetap mengetuk pintu dan masuk saat terdengar suara mempersilakan.
"Mana Teh spesialku?" tanya Anitha bergurau.
"Aku meminta office boy. Aku takut perusahaanmu tercemar karena HRD ikut campur urusan teh dan kopi hitam."
"Aku bukan takut itu, aku takut kau dituduh menjilat aku," ucap Anitha terkekeh.
"Iya juga ya, secara aku sudah kasar padamu."
"Sudah jangan malu, anggap saja nostalgia paling berkesan kau bekerja di sini."
"Bagaimana?" tanya Ajeng tidak sabaran.
"Aku ingin memastikan sekali lagi. Kau yakin tidak membuka hatimu untuk yang lain?"
"Tidak!" tegas Ajeng.
"Tetapi yang aku tahu direktur utama sangat tampan. Apa kau belum berjumpa?"
"Sudah, aku akui dia tampan. Hatiku tidak berdebar dan bergetar. Aku saja juga tidak tahu dia sudah menikah atau belum."
"Kenapa tidak cari tahu?"
"Karena aku tidak tertarik. Kau jangan mengulur waktu. Apa dia menolakku?" tanya Ajeng.
"Tidak ...." Anitha menjelaskan apa yang terjadi.
"Kau serius An?"
"Pergilah lihat dia di penjara, dan temani calon mertuamu di rumah sakit."
"Tapi aku bekerja An."
"Kau lupa ini perusahaan siapa?" Anitha tak ada niat menyombongkan diri.
Ajeng paham. "Kau serius memberiku izin An?"
"Iya, berangkatlah besok pagi. Hari ini kau bereskan kerjaanmu."
"Ok, ok An. Akan aku selesaikan apa yang harus aku selesaikan. Terima kasih An__"
__ADS_1
Pintu terdengar di ketuk, office boy datang membawa dua cangkir teh hangat.
"Silahkan Bu," ucapnya sambil meletakan di depan Anitha dan Ajeng.
"Terima kasih," jawab Anitha.
Mereka melanjutkan obrolan yang sempat terputus. "Tetapi paling lambat hanya sampai minggu ya, dan paling cepat sampai bu Marleni keluar dari rumah sakit." Anitha memberi syarat.
"Kau sengajakan?" tanya Ajeng sedikit paham maksud Anitha.
"Iya, aku ingin kau merebut kembali simpati calon mertuamu. Saat sakit begini waktu yang tepat. Apalagi calon adik iparmu sangat lemah dan juga butuh perhatian dan bantuan. Soal Sahrul tidak perlu kau risaukan cintanya hanya untuk kita berdua. Namun kini untuk kau lebih besar dan dia selalu memikirkan kau sejak dalam penjara."
"Dunia ini aneh ya An ...."
"Bukan dunia yang aneh Jeng, tetapi isinya yang aneh. Seperti kita ini isi yang aneh." Mereka tertawa.
"Okelah An, aku kembali kerja ya."
"Sebentar lagi, kau habiskan dulu tehnya. Kau bilang gula itu gratis apa."
"Pantas kau sukses. Pelit tingkat atas."
"Jangan salah ya, waktu lebih berpihak padaku. Aku sukses karena hampir separuh besar bantuan mantan istri suamiku."
"Mantan istri? Ada ya di dunia mantan istri begini?"
"Aku sudah bilang isi dunia yang aneh. Aku juga dibantu suamiku. Memang aku membangun perusahaan ini sebelum menikah dengannya, jadi banyak yang menyangka ini uangku sendiri."
"Buah ketabahan dari kesengsaraanmu An."
"Itulah makanya aku berkeras mencoba menyadarkan kau. Hanya kau sahabatku__"
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk!" Pinta Anitha tegas.
"Masuk Pak, ada apa?" ucap Anitha formal, menuai senyum manis berganti dengan senyum kecutnya. Anitha tersenyum dalam hati.
"Selamat pagi Pak," sapa Ajeng hormat. Ajeng telah berdiri dari hadapan Anitha.
"Hmmm pagi. Apa saya mengganggu kalian berdua?" tuan Nan sengaja memakai kata 'kalian'. Itu sukses membuat kening Ajeng berkerut heran.
Ajeng cukup tahu pembawaan direktur utama yang kaku dan muka datarnya. Akan terapi, Ajeng tidak pernah melihat wajah kesal direktur utamanya.
"Saya permisi Bu," jawab Ajeng tidak enak hati. Pagi-pagi direktur utama telah melihat dia minum teh dan bersantai di ruang Anitha.
Ajeng masih berdiri dan Anitha kini ikut berdiri. Baru dua langkah dia melewati sofa tempat tuan Nan duduk Anitha memanggil. "Ajeng ...."
Ajeng berhenti dan membalikkan badan. "Ada apa Bu?"
"Panggil nama saja Jeng, jika kita berdua." Lagi-lagi Anitha menggoda tuan Nan. Sukses membuat bibir atas si rupawan ini melengkung ke bawah. Cemberut.
Ajeng semakin tidak enak. Ajeng tetap tidak peka. Jika Anitha sedang mengusili tuan Nan.
"Kau mengenal tuan Tampan inikan?" tanya Anitha lagi. Ajeng hanya mengangguk.
"Tetapi kau belum mengenal banyakkan?" Ajeng hanya menggeleng.
"Kenalkan Jeng, si rupawan kaku ini adalah suamiku." Anitha memberi senyum lebarnya.
Ajeng terkejut setengah mati. Ajeng benar tak menduga jika tuan Nansen Adreyan adalah suami Anitha. Ajeng kembali mengangguk kecil.
Waktu acara pernikahan hanya orang-orang tertentu yang diundang. Itu karena resepsi Anitha tidak terlalu terbuka dan dipublikasikan.
Tuan Nan hanya melirik tipis pada Ajeng. Tuan Nan memang selalu bersikap demikian pada banyak wanita.
__ADS_1
"Baiklah An, aku permisi. Saya permisi Pak." Ajeng tetap bersikap formal pada tuan Nan.
"Okelah, sampai nanti," jawab Anitha.
"Fiuhhh, bisa-bisanya Anitha dengan simuka datar itu." Ajeng berguman setelah mengembuskan napas lega. Dia kembali ke ruangannya.
Di dalam ruangan Anitha. "Ada apa Kanda menyusul?"
"Jeffy tidak ada. Kanda tak ingin risau memikirkanmu."
"Oww so sweat."
"Apa Dinda banyak urusan?"
"Tidak juga. Ada apa sayang?"
"Temani kanda menjumpai seseorang di luar kantor ya. Lalu temani kanda ke perusahaan kanda hari ini."
"Oke deh sayang. Ayo."
Tuan Nan merasa begitu tersanjung dan gemas dengan sikap Anitha yang penurut. Anitha hampir tak pernah membangkang dengan perkataan tuan Nan.
Pasangan rupawan ini saling beriringan. Harri masih menunggu di lobi kantor bersama dengan Helmi.
"Apa kabar Mi, lama tak jumpa ya."
"Kabar baik Bu."
"Ayo kita berangkat. Mereka telah menunggu."
***
"Aku mengirim uang lima juta untuk pembayaran hutang lamaku. Dan lima jutanya lagi uang tiket, ansuran permintaan maafan aku."
"Ada-ada kau An. Tetapi aku ucapkan terima kasih. Aku lagi tak memegang uang banyak."
"Oke, hati-hati besok di jalan. Kabari aku jika sudah sampai."
"Sudah sayang?"
"Sudah."
"Kalau sudah, ponselnya di matikan dan simpan. Tidak lucukan kalau nanti kanda cemburu sama ponsel."
"Bukannya dari awal Kanda memang sudah lucu?"
"Lucu. Kanda mencintai janda teraniaya."
"Olok saja terus."
"Maaf, bercanda."
"Maaf diterima."
"Jadi kita besok berobat?"
"Jadi. Hati dinda penasaran. Apa memang tak ada masalah tentang kandungan dinda."
"Okelah, besok kita ke dokter. Sekarang kita tidur ya. Malam ini Dinda, kanda bebas tugaskan."
"Terima kasih atas pengertian Tuan." Anitha mulai memejamkan mata. Punggungnya bersandar pada dada bidang suaminya. Rasa hangat kulit ke kulit membuat Anitha rileks dan dengan cepat berlayar di pulau impiannya.
Tuan Nan juga ikut menyusul ke pulau kapuk, karena panas tubuh Anitha yang merangsang sarafnya. Otaknya juga telah memerintahkan untuk tidur.
Satu tangan kokohnya menjadi bantal untuk kepala Anitha. Rambut istrinya yang harum menambah rileks saraf-sarafnya.
__ADS_1
***/