Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Semua Ada Hikmahnya


__ADS_3

Anitha, tuan Nan dan Jeffy duduk-duduk di lobi hotel. Mereka ditemani minuman dan makanan ringan. Tuan Nan menceritakan semua apa yang terjadi.


"Kau masih Nansen yang keras kepala. Akukan sudah bilang selain urusan bisnis kau itu tidak bisa memprediksikan apapun." Jeffy merasa kecewa melihat tuan Nan yang tidak bisa memikirkan jauh sebelum melangkah dan menyakitkan Anitha.


"Aku mana tahu jika Mommy akan bersikap begitu. Biasanya Mommy tidak pandang bulu dalam hubungan sosial."


"Mana tahu apa tidak mau tahu he?" nada kesal Jeffy masih terasa.


"Sudah Jeff, jangan desak kakandaku, hatiku lagi berbunga-bunga sekarang. Jangan kau rusak taman bungaku dengan memarahi kekasihku ini," kata Anitha tak bercanda.


Jeffy dan tuan Nan saling pandang dengan heran. Jeffy berkata, "Kau tidak sedang kecewakan Tha?"


"Kecewa? Telingamu sudah dikorek belum seminggu ini?" ucap Anitha bercanda.


"Kenapa hatimu berbunga-bunga?" tanya tuan Nan.


"Duhh yang mesra Kanda, jangan kamu-kamu," kata Anitha protes. Tak ayal tuan Nan tertawa mendengar protes Anitha.


"Jangan bilang kamu yang mabuk cinta sekarang Tha?" tanya Jeffy curiga melihat senyum yang tak pudar di wajahnya.


"Aku memang lagi di mabuk cinta sama tuan datar yang rupawan ini, hahahah." Tawa berderai lagi-lagi lolos dari bibirnya. Sambil berkata, Anitha menowel-nowel pipi tuan Nan.


"Apa kau pandang menarik dari perkenalan dan penolakan tadi?" kata tuan Nan merasa ada yang aneh pada Anitha. Moodnya jadi tak bagus dan dia didera rasa tak enak hati pada Anitha.


"Kamu, Kau. Apa Kanda mau merusak hatiku dan membuat aku seperti singa yang lapar?" Anitha tidak suka kini di kau atau kamukan. Dia merasa tidak bisa bermanja pada tuan Nan, jika tuan Nan seperti jauh darinya.


"Intinya dia tidak terbiasa lagi kau keras atau dingin apalagi kaku! Itu sajapun perlu ada konsultan cinta!" Jika tadi Anitha yang kesal kini Jeffy juga ikut kesal.


Tuan Nan memandang Anitha, "Maafi Kanda sayang, semua karena Kanda merasa bersalah pada Dinda." Tuan Nan tak ingin Anitha jadi bad mood. Bisa parah jika sekarang Anitha jadi bad mood.


"Walau perutku sakit dan mual dengar panggilan kalian, namun aku setuju dengan Anitha. Aku jauh lebih senang melihat kalian akur begini. Jangan kalian anggap masalah ini sepele. Kalian harus lebih kuat membangun pondasi dalam hubungan kalian." Jeffy tak ingin tuan Nan ataupun Anitha tersakiti. Baginya tuan Nan dan Anitha menjadi prioritasnya.


"Apa yang membuat kau berubah Tha?" Jeffy masih saja penasaran.


"Kata-kata Kandaku ketika memperjuangkan cinta kami, begitu meresap ke jantungku. Aku tak menyangka, kekasihku ini bisa mengeluarkan kata yang membuat aku ingin secepatnya bisa menjadi istrinya. Aku takut tak bisa mendapatkan dia seutuhnya."


Ucapan Anitha yang terus-terang dan seperti lamaran di telinga tuan Nan bahkan Jeffy, membuat dua pria tampan itu hanya bisa menganga heran.


"Ehem ... eheem ... wajahnya kok pada tidak percaya. Dinda boleh melamar Kanda, maukah Kanda jadi suami dinda tanpa ada cinta wanita lain di hati Kanda."


"Uhuuk ... uhhukk ...." Kedua pria itu kembali terbatuk. Mereka seperti tersedak sesuatu.


Tuan Nan memegang dagu Anitha, "Dinda tidak ada niat lainkan SAYANG! Jangan katakan Dinda mau kabur lagi dari hidup kanda!" Anitha terenyuh, sikapnya yang kabur bertahun dulu meninggalkan bekas tersendiri di hati tuan Nan.


Cup ... satu kecupan ringan mendarat manis di bibir seksi tuan Nan. Membuat Jeffy dan tuan Nan melongo. Ini pertama kalinya mereka melakukannya, dan Anitha yang memulainya. Walau cuma berupa kecupan, cukup membuat dada keduanya berdebar.

__ADS_1


Tuan Nan bukan tak ingin selama ini berkontak lebih dengan Anitha. Dia menahan karena Anitha menjalani hubungan masih setengah hati dan atas dasar komitmen. Tuan Nan tak ingin Anitha menuduhnya hanya membutuhkan dirinya sebagai pemuas nafsu yang sering dilontarkan Anitha jika sudah berbicara ke hubungan yang serius.


Kini Anitha yang mengecupnya duluan. Cupp ... satu kecupan kembali mendarat membuat tuan Nan sadar sepenuhnya. Jeffy tak membuang wajahnya. Bagi dia sudah terbiasa melihat pasangan mengecup bibir kekasihnya, sewaktu menemani tuan Nan sekolah di Amerika. Jeffy hanya tak percaya jika tuan Nan bisa membeku hanya dengan kecupan ringan.


"Maafi aku Kanda. Percayalah sekali ini padaku. Aku tak akan lari darimu. Kita akan tetap bersama, walau mommy belum menyetujui atau bahkan tidak menyetujui, selagi bukan Kanda yang melepaskanku," ucap Anitha bersunguh-sungguh.


"Dinda serius?" Jika dulu tuan Nan yang sering marah karena Anitha meragukannya dan bertanya menggunakan kata 'serius'.


"Aku serius Kanda, Jeffy yang akan melenyapkanku jika aku kabur. Ya kan Jeff?"


Dasar Anitha, sedang serius dia masih punya kesempatan untuk menyindir Jeffy. Tuan Nan tak paham dan baru paham setelah mereka cerita, Jeffy mengancam akan melenyapkannya jika dia ingkar. Tuan Nan melotot tajam pada Jeffy, di balas Jeffy dengan mengusap dagunya.


"Berterima kasih pada Jeffy Kanda, jika bukan karena dia kita belum tentu bersama sekarang."


"Iya, kanda bukan tak berterima kasih padanya. Tak sangka saja dia berani mengancam Dinda."


"Itu karena dinda susah di atur kali, hehehe." Anitha hanya tertawa kecil.


"Wanitamu selalu bisa balas budi, bukan sepertimu selalu menyalahkan aku." Jeffy mulai kembali memanaskan suasana yang mulai dingin.


"Jeffy, jangan memancing singa jantanku mengamuk ya. Aku akan membiarkan dia kali ini untuk menerkammu dan memangsamu." Mereka tertawa lepas tanpa seperti ada beban.


"Kalau begitu, kau saja yang menggantikan aku Tha." Begitu penuh makna ucapan Jeffy.


"Jadi apa rencana kalian selanjutnya. Anitha sudah bisa fokus ke kariernya. Pendidikannya telah selesai." Jeffy memang seperti konsultan bagi hubungan mereka berdua.


"Aku kini ingin fokus untuk punya perusahaan sendiri. Aku akan membuat Mommy melihatku seutuhnya. Aku memang tak akan bisa merubah darah biasa menjadi darah biru, tapi aku bisa membuat orang biasa menjadi konglomerat di tanganku. Aku akan menaikkan kedudukanku dengan usahaku sendiri, dengan otakku sendiri!" Anitha begitu berapi-api untuk membuktikan siapa dirinya.


"Kalau kau tidak mau dibantu Nansen, mau berapa lama lagi kau buang usiamu untuk melangkah ke jenjang pernikahanmu, Tha."


"Duhhh yang ngomong saja lebih tua dari Kandaku." Jeffy hanya bisa memberengut kesal melihat yang di nasehatkan malah mengenakannya.


"Tenang saja Jeff, aku punya modal cukup besar kok. Walau bukan untuk membangun perusahaan multinational secara langsung.


"Dana dari mana?!" tuan Nan langsung bertanya tegas. Betapa takut dia ada lelaki lain yang mensuport Anitha.


"Tenang, bukan dari lelaki lain." Anitha bisa menebak ke mana isi hati tuan Nan.


"Lalu?" Jeffy yang bertanya. Dia tak kalah penasaran.


"Walau telat misiku berhasil Jeff, aku ingin menuntut tuan Nansen Adreyan dan nyonya Allea Bethrya. Aku masih menyimpan surat perjanjiannya. Apapun keadaannya karena kehadiran aku, nyonya elegant itu berhasil hidup dengan kekasihnya. Dan tuan tampan ini bukankah kini takluk di bawah pesonaku Jeff??"


"Hahahah, kau benar Tha. Aku mendukung. Mereka memang harus membayar janji mereka. Walau telat tapi kau yang membuat keadaan berubah." Jeffy berkata dengan tertawa-tawa.


"LICIK!" sungut tuan Nan.

__ADS_1


"Kekasih siapa? Kalau aku tidak licik, aku tak pantas bersanding dengan pebisnis ulung macam Kanda. Jangan Kanda bilang dalam bisnis kita tidak menggunakan akal licik? Licik bukan saja untuk yang berbau kejahatan. Berbau dapat uang banyak juga perlu akal licik. Benar bukan Tuan Nansen tercinta?"


Kata tercinta dulu dan sekarang sangat berbeda. Tuan Nan semakin hanyut dalam pusaran gelombang asmaranya.


"Hmmm kalian bagusnya ke kamar deh, mata aku sakit," usir Jeffy.


"Woooo, jiwa tunggal kau meronta yaa," Anitha makin mengganggu Jeffy.


"Jangan terlalu yakin jika aku tunggal," ucap Jeffy penuh arti.


"Apa kau punya selingkuhan Jeff?" Anitha semakin ingin tahu.


"Selingkuhan, sembarangan saja kau Tha."


"Kalau tak selingkuhan apa kau punya pacar? atau kau punya istri gelap."


"Mana ada istri gelap sayang, yang ada istri simpanan. Jeffy tak mungkin punya itu, karena istri sah saja dia tak punya," tuan Nan menatap tajam Jeffy. Jeffy tak peduli.


"Okelah, lanjutlah kalian. Aku ada perlu."


"Ke mana kau di malam yang semakin larut ini?"


"Apa kau ke klub malam Jeff? Jika iya ajak aku sekali-kali Jeff. Aku ingin lihat dan tahu bagaimana dunia malam itu?" kata Anitha memandang tuan Nan.


Jeffy meminta persetujuan tuan Nan. Tuan Nan mengangguk.


"Huraaa, ayo kita pergi."


"Ambil jaketmu dulu. Ayo Kanda temani."


"Ayo, nanti aku takut diculik dan ditarik ke salah satu kamar."


"Rugi orang culik wanita seperti kau Tha," olok Jeffy.


"Kau tunggu sebentar ya Jeff, ajak semua orang kita, agar mereka bisa rileks sejenak." Perintah tuan Nan. Tuan Nan dan Anitha bergerak mengambil jaket ke kamar.


Anitha telah mengambil jaketnya, begitu juga tuan Nan.


"Sayang, apa kau yakin mau ke bar malam?" tanya tuan Nan.


"Iya, apa Kanda menolak?" tanya Anitha mulai dengan wajah yang merenggut. Kode keras untuk tuan Nan tidak membatalkan persetujuannya.


"Tidak, ayo. Tuan Nan tak jadi menggoda kekasihnya.


***/

__ADS_1


__ADS_2