Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Jatuh Hati Padamu


__ADS_3

Minggu pagi Anitha mendapat telepon. "Tha, hari ini uda tak jadi bisa menemuimu. Uda ada perlu. Besok siang uda jemput di kampus ya," ucap Sahrul membatalkan janjinya semalam.


Anitha yang merasa tak punya hak apapun hanya menjawab, "Baiklah Uda." Ada sedikit kekecewaan di hati Anitha.


Anitha akhirnya hanya membantu ibunya berbenah rumah. Dia mulai dari berbenah kamar yang sudah termasuk rapi dan bersih. Anitha hanya tukar-menukar posisi perabotan di dalam kamarnya.


***


Senin pagi ....


"Kuliah hari ini?" Sahrul mengirim pesan chat WhatsApp.


"Kuliah Uda."


"Sampai jam berapa nanti kuliahnya?"


"Jam 12 kurang sedikit."


"Oke nanti uda jemput."


"Ya," jawab Anitha singkat.


Siang ini Anitha telah bersiap untuk pergi dengan Sahrul. Anitha menanti menit demi menit, detik demi detik perkuliahan bubar.


Anitha merasa ponselnya bergetar. "Hai, uda menantimu di depan mini market Universitas," tulis chat WhatsApp.


"Ok, 10 menit lagi perkuliahan bubar Uda," Anitha membalas chat Sahrul. Dia tersenyum simpul sambil memperhatikan apa yang di infokan dosen.


"Siapa? Senang sekali terlihat," bisik Ajeng pelan.


"Teman," jawab Anitha singkat.


"Teman apa teman?"


"Serius teman," kata Anitha.


"Janji mau bertemu?" tanya Ajeng lagi.


"Iya, mau jalan-jalan saja. Kamu mau ikut?" tawar Anitha.


"Gaklah, aku ada kuliah tambahan. Kamu enak lulus kemaren. Aku ngulang," kata Ajeng. Dia masih masuk jam 1 siang. Ajeng memutuskan tidak pulang.


Anitha yang memang pulang lebih sering sendiri. Walau pun Ajeng tidak ada kuliah tambahan mereka hampir tak pernah bareng, kecuali jika ada tugas tambahan. Anitha sedang bersuka cita ingin menemui Sahrul.


"Aku duluan ya," pamit Anitha pada Ajeng.


"Ok."


Anitha pun melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Anitha terus melangkah dengan tenang. Dia menuju ke gerbang universitas.

__ADS_1


Dia baru hendak mengirim pesan WhatsApp pada Sahrul. Satu pesan sudah masuk ke ponselnya, "Uda di mobil hitam plat xxxx."


Anitha memperhatikan tiga mobil yang berwarna sama. Setelah dia menemukan plat mobil yang dimaksud, dia mendekati. Anitha mengetuk pintu kaca mobil dengan ragu-ragu.


Sahrul yang mendengar pintu kaca mobil diketuk, menolehkan kepala. Sahrul yang sedang merebahkan badan lalu bangkit dan membuka pintu mobil. Anitha mundur selangkah agar badannya tak tersenggol pintu mobil Sahrul yang sedang dibuka.


"Halo Tha, ayo masuk," Sahrul begitu perhatian mengantarkan Anitha dan membukakan pintu mobil.


"Terima kasih Uda," ucap Anitha sebelum Sahrul kembali memutar dan duduk dibelakang kemudi. Sahrul hanya memberikan anggukan kecil.


"Mau makan apa?" tawar Sahrul pada Anitha. Sahrul mulai melajukan mobil menuju pusat kota.


"Terserah Uda saja," jawab Anitha.


"Terserah tak ada jual Tha," gurau Sahrul.


"Kalau gitu Uda saja yang jual," gurau Anitha membalas.


Mereka memilih sebuah kafe yang tidak terlalu besar. Anitha hanya memesan semangkok soto medan dan segelas jus mangga, sedangkan Sahrul juga memesan soto medan dan segelas kopi.


Sejak saat itu Sahrul jadi sering menjemput Anitha di depan mini market. Sahrul tidak pernah mau menjemput di depan kampus langsung. Alasan dia segan dengan para teman Anitha. Walau bagi Anitha merasa tak masuk akal, karena cinta semua jadi masuk logika. Tanpa Anitha tahu Sahrul takut serobok dengan Ajeng yang satu kampus dengan Anitha. Hanya saja Sahrul tidak menyangka mereka saling mengenal.


Tak terasa sudah tiga bulan kedekatan mereka. Sahrul hampir tak pernah absen menjemput atau menyapa Anitha siang-malam.


Suatu sore saat Sahrul menjemput Anitha, Sahrul membawa Anitha di pantai padang. Mereka duduk di sebuah batu besar yang ada di pantai padang. Mereka melihat ombak yang berkejaran dan meninggalkan riak di pinggir pantai.


"Tha, ada yang mau uda katakan padamu," ucap Sahrul lembut.


"Kita sudah tiga bulan kenal. Semakin mengenalmu uda semakin menyukaimu. Uda jatuh hati padamu," ucap Sahrul penuh perasaan.


Anitha yang mendengar ucapan Sahrul, wajah putihnya menjadi bersemu merah. Dadanya berdebar jauh lebih kuat dari tadi. Seakan dia siap maraton 10 putaran lapangan bola basket. Anitha hanya tertunduk diam. Diam-diam tapi mau.


Sahrul bukan lagi remaja polos seperti Anitha. Sikap dan wajah Anitha yang memerah merupakan tanda baginya jika cinta dia tidak bertepuk sebelah tangan.


"Uda diterima?" ujar Sahrul tetap ingin kepastian. Anitha mengangguk kecil masih dengan kepala tertunduk. Sahrul tersenyum. Tidak sia-sia usahanya tiga bulan ini. Cintanya bersambut.


"Uda boleh manggil sayang sekarang?" goda dia langsung memanggil Anitha dengan panggilan sayang. Sahrul juga mengacak mesra rambut Anitha.


Anitha masih menjawab dengan anggukan kepala. Anitha merasa malu setengah mati. Malu tapi mau. Membuat Sahrul gemas melihat sikap malu-malu manjanya.


"Ok, kalau gitu ayo kita pulang. Sebentar lagi mau senja," ajak Sahrul.


"Ayo," ucap Anitha.


Sahrul selalu membukakan pintu mobil untuk Anitha. Anitha merasa, "kaulah bintang kaulah rembulan."


Setelah di dalam mobil, Sahrul belum ada tanda-tanda untuk memutar kunci kontak mobilnya. Masih memegang stir dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang sandaran jok di belakang kepala Anitha, Sahrul menatap Anitha dengan intens. Anitha yang sempat beradu pandang dengan Sahrul jadi salah tingkah. Sejak Sahrul mengungkapkan perasaan, hati Anitha jadi mudah berdebar.


"Sayang, jangan menunduk saja. Uda tak bisa melihat wajahmu," goda Sahrul yang baru beberapa jam lalu menjadi kekasihnya. Pipi Anitha terlihat semakin menjadi merah. Sahrul sangat menikmati pemandangan itu.

__ADS_1


Karena Anitha masih saja menunduk, membuat Sahrul semakin gemas. Bukan hanya gemas, jiwa lelakinya pun bangkit dekat orang yang di cintanya. Namun cinta dan nafsu hanya beda tipis. Sahrul menarik tangan yang di stir mobil, berpindah ke dagu Anitha. Dia menengadahkan dagu Anitha.


Anitha yang terkejut sedikit membuka bibirnya dan hanya mengikuti tarikan tangan Sahrul di dagunya. Sahrul masih melihat dalam, pada bola mata Anitha. Bibir Anita yang terbuka kecil ditambah muka Anitha yang merah padam membuat hasratnya datang. Sahrul perlahan mendekatkan wajahnya dan terus bergerak mendekati wajah Anitha. Saat dia ingin mengecup bibir Anitha, Anitha langsung menunduk dan alhasil Sahrul hanya bisa mengecup puncak kepalanya. Sahrul hanya tersenyum melihat kelakuan kekasihnya.


Sahrul tak ingin memaksa kekasih polosnya. "Kita pulang sayang?"


"Iya, pulang." Suara Anitha yang bergetar membuat senyum Sahrul tak ingin pergi dari bibirnya.


"Tapi uda masih merindukanmu," ucapnya menggoda Anitha.


"Aku juga Uda," Anitha menjawab dengan polos dan lugas. Sahrul ingin tergelak.


Setiba di rumah ....


"Sampai besok," ucap Sahrul.


"Sampai besok Uda." Anitha melangkah ke dalam rumah setelah Sahrul hilang dari peredaran.


Ibunya membukakan pintu, "Kenapa lama pulang Nak? Sudah mau senja loh."


"Maaf Bu, pergi sama Da Sahrul tadi," aku Anitha jujur.


"Ohh, kamu ada hubungan apa dengannya Nak?" tanya ibu.


"Tadi baru dia ungkapkan isi hatinya Bu," aku Anitha tetap jujur pada ibunya.


"Kamu terima?"


"Iya Bu."


"Ayahmu kurang suka jika kamu pacaran. Ibu minta jaga diri, jangan macam-macam dan selesaikan kuliahmu baik-baik Nak. Itu modal yang nyata untuk kamu yang bisa kami tinggalkan jika kami tidak ada.


"Iya Bu Anitha paham. Anitha janji akan tetap menomor satukan kuliah dan tidak akan macam-macam Bu. Percayalah."


"Ibu percaya padamu. Mandi sana, sudah mau magrib. Shalat."


Di kamar ... Anitha sangat berbunga-bunga. Sahrul cinta pertamanya. Anitha menghempaskan badan di ranjang. Serasa tidak puas hanya dengan jatuh bebas di ranjang, dia berguling-guling kembali seperti saat pertama Sahrul meneleponnya.


Setelah merasa puas, barulah dia mandi dan tak lama azan berkumandang, dia shalat dan lanjut mengaji. Dia mengaji sampai masuk shalat isya. Setelah shalat isya baru mereka makan malam dan bersenda gurau sebentar, jika Anitha tak ada tugas kampus.


Begitulah rutinitas keluarga Monsir As. Jam sepuluh paling lambat mereka sudah tidur. Mereka akan bangun jam 3 untuk tahajud dan tidur kembali sampai azan subuh memanggil.


Jika Anitha sudah tidur jam 9 atau 10 malam. Tidak dengan Sahrul, dia sering memadu kasihnya dengan Ajeng yang masih belum tahu jika Sahrul sudah mendua.


Anitha tidak diizinkan untuk keluar malam oleh ayahnya. Apapun alasannya. Anitha juga tidak diizinkan ikut kegiatan apapun di malam hari kecuali jika bersama ibu atau ayahnya.


Hal inilah menjadi sebuah kesempatan untuk Sahrul membagi waktu dengan kekasihnya. Walau dia sudah mengetahui jika Ajeng dan Anitha bersahabat, Sahrul masih menguasai Ajeng untuk tujuan berbeda. Ajeng yang entah tidak berdaya atau sekedar cinta buta hanya rela dimanfaatkan oleh Sahrul untuk nafsu iblis.


Sepenggal kenangan indah itu membawa Anitha akhirnya jatuh tertidur dan mulai berlayar dalam mimpi. Tanpa dia ketahui jika sahabatnya menderita lahir batin. Namun siapa yang mau disalahkan di sini, Ajeng yang tak berdaya? Anitha yang tiada mengetahui apapun? ataukah Sahrul yang mengendalikan mereka berdua?

__ADS_1


***


__ADS_2