Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Tali Nyawa


__ADS_3

Padang, Sumatera Barat ....


Dua keluarga telah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Dulunya sebelum BIM ada dan beroperasi, penerbangan di kota Padang, dilayani di Bandara Tabing atau disebut pangkalan udara Sutan Sjahrir yang berlokasi 9 km dari pusat kota.


Setelah pagi hari ketika mereka sarapan bersama, Anitha dan tuan Nan mengutarakan rencana bulan madu ke kota asal Anitha. Ke dua orang tua tuan Nan jadi berantusias ingin ikut. Sama seperti tuan Nan pada awalnya, ibu tuan Nan tak percaya jika Anitha memilih bulan madu ke kotanya.


Tiga hari mereka berada di sana. Mengunjungi tempat wisata mulai dari pantai sampai tempat cerita melegenda, jembatan Siti Nurbaya. Mereka juga pergi ke pelabuhan teluk bayur. Pelabuhan yang dulunya sangat terkenal.


Lalu mereka ke kebun teh solok dan ziarah ke makam ayahnya. Lama Anitha terpaku dan tertunduk pilu di makam ayahnya. Anitha begitu merindu ayahnya. Ibunya terlihat lebih tegar. Walau rindu di hati membuncah ketika tiba didekat makam. Perasaan ibu dan anak ini begitu dekat. Seolah mereka merasakan suami sekaligus ayah anaknya melihat mereka.


Tuan Nan dengan sabar memberi ruang bagi Anitha untuk menumpahkan rindunya.


"Ayah, aku membawa menantu baru ayah ke sini. Ayah jangan sedih lagi, aku selalu dibuat bahagia olehnya. Jikapun dia suatu saat menyakiti hatiku, aku akan memaafkannya. Karena dia juga hanya manusia biasa. Tak luput dari salah."


"Aku juga ingin mengenalkan mom dan daddyku pada ayah. Mereka sangat sayang padaku. Ayah juga jangan bersedih di sana ... aku akan menjaga istri tercinta ayah, ibu terkasihku ...." Tangis Anitha menemani kata-katanya.


Tuan Nan ikut berjongkok di samping Anitha. Ia dengan sabar merangkul. Memberi kekuatan untuk Anitha. Anitha menyeka air matanya. Telah jadi kebiasaan tuan Nan, membawa sebuah sapu tangan di jasnya. Kini walau tidak memakai jas, tuan Nan mengantongi sapu tangan tipis dan halus dalam saku celananya.


"Ayo kita pulang Kanda," pintanya pada tuan Nan dengan suara serak khas siap menangis. Mereka meninggalkan makam setelah tuan Nan memimpin membaca doa. Anitha sangat takjub pada suaminya. Dia tak menyangka tuan Nan begitu fasih dalam memimpin doa. Rasa cintanya semakin bertambah pada suaminya.


Tanpa ada tinggi hati dari keluarga suaminya, mereka mampir di rumah tua ibu Anitha. Rumah tempat Anitha dibesarkan. Rumah tempat Anitha dididik dan banyak menghabiskan waktu bersama ayah-ibunya.


Anitha dan ibunya dengan bijak hanya datang untuk berkunjung bukan untuk menginap. Bukan karena hanya kecil, namun lama tidak di tunggu membuat udara terasa pengap.


"Bolehkah ibu tidak ikut pulang dulu bersama kalian?" tanya ibu tiba-tiba saat mereka berada di belakang rumah ibu Anitha. Anitha memandang suaminya meminta pendapat. Anitha tidak bisa berpikir lebih. Anitha terkejut mendengar permintaan tiba-tiba ibunya.


"Ada apa Bu?" tanya tuan Nan lembut.


"Ibu merasa kasihan dengan rumah ini. Ibu ingin berbenah sementara waktu."


"Tetapi, Anitha akan tidak tenang jika ibu sendiri. Bagaimana kalau kami mencarikan seseorang yang bisa membantu dan menemani Ibu?" pinta tuan Nan lembut.


"Baiklah, ibu setuju."


"Tetapi Ibu janjikan kembali ke rumah kita di sana? Aku tak ingin jauh lagi dari Ibu." Jika tidak memikirkan perasaan ibunya yang terluka atau tersinggung, Anitha ingin meminta ibunya menjual dan meninggalkan kampung ini selamanya.


"Iya, tidak lama. Paling lama dua minggu."


"Dua minggu itu lama Ibu."

__ADS_1


Tuan Nan menggenggam pelan tangan Anitha, memberi kode agar Anitha tidak memaksakan kehendak. Anitha menatap pada suaminya. Pandangan dalam yang teduh dari mata tajam suaminya, menyadarkan Anitha. Pemikiran dia dan ibunya tetap berbeda.


"Maaf Ibu, jika aku terkesan egois," ucap sadar Anitha.


"Ibu paham, karena kau begitu sayang dan ingin membahagiakan ibu," ucap ibunya penuh pengertian dan penuh syukur. Ibunya bersyukur melihat menantunya yang begitu dewasa dalam berpikir dan bertindak.


"Ibu titip Anitha padamu ya Nak. Hanya dia sumber kehidupan ibu dan tali nyawa ibu," ucap ibunya pada tuan Nan. Mendung hitam seakan menggelayuti bola mata ibunya.


"Iya Bu. Dia juga tali nyawaku."


Tuan Nan tahu ajal di tangan Tuhan. Akan tetapi dia belum siap jika hidup tanpa Anitha. Saat Anitha koma dulu, dunia tuan Nan terasa runtuh karena takut kehilangan Anitha selamanya.


Akhirnya sang ibu tinggal. Peluk tangis tak bisa dihindari. Anitha lama menangis dalam dekapan ibunya. Anitha ingin tinggal dan tak kembali dulu ke Jakarta. Namun, dia tak boleh sesuka hatinya.


Kini statusnya seorang istri. Walau tuan Nan akan mengizinkan demi cintanya, tetapi Anitha tahu suaminya akan kesusahan tanpanya. Kehidupan dan segudang pekerjaan tuan Nan tak bisa ditinggal lama.


"Ibu benar tak apa tanpa kami beberapa hari?"


"Tak apa, jangan jadi beban. Ini keinginan ibu. Suamimu tidak mungkin ditinggal terlalu lama. Kamu juga sibuk."


"Baiklah, cepat kembali ya Bu." Anitha kembali mencium pipi ibunya.


***


Pagi yang cerah secerah suasana hati anak manusia yang selalu memadu kasih di malam hari ataupun pagi hari yang sejuk. Kedua insan ini tak pernah bosan dan lelah mereguk nikmatnya pengantin baru.


"Mau ke mana hmm?" Tuan Nan bertanya sambil menahan pinggang istrinya ketika merasakan pergerakan pada Anitha.


"Buatkan Kanda sarapan," jawab Anitha. Jika ditanya, dia sangat lelah. Tuan Nan hampir tak membiarkan dia alfa dalam mengabsen tubuh istrinya.


"Tak usah, biar ART saja."


"Tetapi, aku ingin memanjakan lidah Kanda dengan masakanku."


"Nanti saat hari-hari libur saja. Kanda tetap sayang dan cinta padamu. Cukup kanda dimanjakan dengan citarasa aroma tubuhmu. Lidah kanda juga sudah dimanjakan dengan menyentuh kulit halusmu." Tuan Nan memang berkata tidak tahu malu. Penuh rayuan, penuh cinta kasih. Semua dia padupadankan dan tuangkan dalam bentuk menyatukan keinginan yang minta dipuaskan.


"Hmmm, terserah Kanda." Anitha tak ingin berdebat. Bagaimana dia mau berdebat jika kekuatan dia luruh dibawah kekuatan dan kekuasaan suaminya yang menagih janjinya kembali.


"Aku tidak ke kantor ya Kanda. Aku lelah dan ingin mengisi daya menjelang Kanda pulang kantor," ucap Anitha dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Terserah saja. Perusahaan itu milik Dinda. Tak harus datang setiap haripun tak apa. Dinda enak, jadi komisaris. Tinggal minta kanda melaporkan."


"Hehehe tapi Kanda tidak lelahkan? Kalau lelah cari saja direktur lain untuk menjalankan perusahaan."


"Kenapa? Kamu tidak berambisi lagi jadi pengusaha besar?" tanya tuan Nan di belakang punggung polos Anitha.


"Sepertinya tidak Kanda, aku ingin fokus dengan Kanda dan anak kita nanti. Semoga kerja keras Kanda yang hampir setiap hari membuahkan hasil."


Kata-kata Anitha yang hangat menjadikan semangat baru bagi tuan Nan.


"Oke sayang, sekarang biar Kanda yang jalankan dulu. Nanti setelah stabil kita cari direktur utama pengganti Kanda."


"Terserah Kanda mana yang baik. Aku kini lebih fokus ingin jadi NYONYA CEO saja." Anitha mengalah. Dia ingin memberikan tuan Nan keturunan secepatnya. Anitha tak ingin stres seperti dengan Sahrul. walau pokok masalah stresnya berbeda.


"Kanda sangat senang. Jika begitu, bagaimana jika kita cari waktu. Kanda ingin mengajak kamu naik kapal pesiar seperti janji kanda padamu."


"Aku mau Kanda. Carilah kapan yang tidak menguras energi dan waktu Kanda."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bangun dulu. Temani kanda mandi dan sarapan. Nanti tidurnya di sambung lagi."


"Oke Bos Besar. Ayoo."


Orang kata, jiwa itu tak akan pernah puas dan terpuaskan. Ingin meminta lebih dan lebih lagi. Namun sepertinya tidak dengan Anitha Putri. Setelah pengakuan dia dapat dan rasa cinta yang besar dia terima dari orang yang kini juga dicintainya sepenuh hati. Dia tidak lagi berambisi akan uang dan jabatan.


Saat mereka turun dan di meja makan, sudah tersedia sarapan yang dipesan Anitha jika dia tidak turun di jam 6 pagi. Anitha menemani suaminya sarapan.


Anitha mengantar suaminya ke beranda depan. "Kanda berangkat ya sayang," ucapnya sambil mengecup bibir dan pipi Anitha.


"Hati-hati sayang. Cepat pulang ya."


"Ok sayang. Istirahat yang cukup. Nanti kanda akan mendapatkan dirimu lagi." Tuan Nan menggoda istrinya. Anitha tetap bersemu merah mengingat bagaimana suaminya selalu menaklukkan dirinya dan melekat hangat padanya.


Wajah bersemu merah ini yang sangat disukai tuan Nan. Wajah ini dulunya tak ada menghias Anitha selain karena rasa malu saat dia tak sengaja tertidur dan hanya memakai bathrobe.


Anitha melambaikan tangannya memberikan senyum indah. Akhirnya tuan Nan mendapatkan apa yang dia inginkan dulu.


Anitha masuk ke dalam, dan kembali ke kamar. Anitha memberi badannya istirahat yang banyak, setelah dia minum multivitamin. Dia kembali tertidur.


***/

__ADS_1


__ADS_2