Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Meminta Memajukan Hari


__ADS_3

Anitha terisak, merasa ketakutannya lenyap seketika. Emosi yang terlalu kuat dia pendam membuat dia jatuh meluruh ke lantai yang dilapisi karpet bebeludru tebal.


Tuan Nan telah berjongkok dihadapan Anitha. "Kanda ... maafi aku melakukan ini. Bukan niatku membuat malumu. Namun aku harus memastikan Kanda tidak membuat aku mati bunuh diri karena patah hati."


Nada penuh penyesalan, tetapi diucapkan oleh wajah manja dan kalimat terakhir yang terdengar lucu bagi sebagian keluarga. Membuat mereka tersenyum di tengah air mata yang mengalir melihat drama sebabak ujian cinta mereka.


Tuan Nan masih berjongkok, "Kanda tidak pernah menyalahkanmu. Dari semua yang ada di sini, kanda yang tahu apa yang Dinda rasa. Kanda memahamimu."


Tuan Nan mengambil sapu tangan dari jas hitam mahalnya. Dia mengusap pelan sisa air mata wanita yang dicintainya dan wanita yang juga sangat mencintainya. Anitha yang juga memakai gaun mahalnya, dengan rambut yang dibentuk setengah di sanggul kecil setengah tergerai dan diberi asesories mahal, menambah kecantikannya.


Anitha menatap tuan Nan. "Kanda, aku kesemutan dengan posisi duduk begini," ucapnya dengan nada manja. Kakinya memang merasa kebas.


Tuan Nan tersenyum hangat, membuat mereka juga terasa hangat melihat senyum tuan Nan, dipadu dengan wanita cantik di depannya yang kini terlihat begitu manja.


Ketika tuan Nan hendak memapahnya bangun, Anitha berkata, "Mom, maafi aku jika aku kekanakkan. Aku siap menerima hukuman dari Mom dan keluarga besar Mom."


Kembali terdengar tawa bagi keluarga tuan Nan yang paham bahasa Indonesia. Bagi yang baru dijelaskan apa ucapan Anitha, mereka tersenyum. Mereka tidak ada yang berpikir sempit. Apalagi melihat tuan Nan yang bereaksi berlebihan. Mereka tulus mendoakan kebahagiaan tuan Nan.


"Bagaimana aku bisa menghukummu sayang, jika kau tadi telah menghukum kami secara halus." Ibu tuan Nan berkata lembut. Dia meminta tuan Nan menegakkan Anitha.


Tuan Nan tidak tahan, dia memeluk erat Anitha. "Ini ujian terakhir ya sayang. Jantung kanda tidak kuat jika Dinda menguji seperti ini."


"Ini yang terakhir, aku juga mencintai Kanda. Bahkan sangat, aku tadinya takut jika Kanda tidak bisa melewati ini semua. Aku juga takut tanpa Kanda di sisiku. Tapi aku harus melakukan ini."


"Sudah, ayo perbaiki sedikit make-up Dinda yang terkena air mata. Kita lanjutkan acara ini."


Anitha berjalan hendak ke kamar, memperbaiki make-up. Dia melewati ayah tuan Nan. Anitha berhenti. "Daddy, maafkan aku ya. Apakah aku juga membuat Daddy sakit jantung?" tanya Anitha serius. Namun kata dan cara penyampaian terdengar menggelitik telinga.


"Untungnya Daddy rajin olahraga, dan mommymu juga selalu membuat Daddy sakit jantung. Jadi Daddy terbiasa." Ada yang tertawa ada yang tersenyum. Satu-satunya yang cemberut dan melayangkan pandangan tajam adalah ibu tuan Nan.


Tuan Nan mengikuti Anitha ke kamar. Tak ada yang bisa protes. Terdengar sedikit kasak-kusuk di keluarga Anitha yang masih menjunjung tinggi adat istiadat.

__ADS_1


Ibu Anitha dengan dalih pepatah meredakan kasak-kusuk tersebut.


"Sekarang begini saja Uda, di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung. Kita tidak di kampung, susah mau menegakkan adat di sini. Uda bisa lihatkan, bagaimana kesulitan anakku karena orang sekampung kita. Sahrul."


"Iya Uda paham," jawab abang ibu Anitha.


"Sekarang bagiku, cukup anakku cepat bisa menikah dan mendapatkan suami yang benar dengan tulus mencintainya. Bisa paham perasaannya." Ibu Anitha menjelaskan pada abangnya.


Ibunya bukan tidak membahas masalah lamaran ini pada Anitha. Anitha tidak perduli. Baginya ketika dia susah, dia tak pernah mengadu pada keluarga ayah-ibunya. Mereka juga hampir tak pernah peduli. Satu-satunya permintaan tolong Anitha saat dia menitipkan sesaat ibunya.


Anitha berkata pada ibunya. Ikuti saja apa yang sudah dia dan tuan Nan rencanakan.


Kilas balik ...


"Apa acara lamaranmu nanti kita tidak menegakkan adat kita sayang?" tanya ibu Anitha.


"Tak usahlah Bu. Pakai saja papatah, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung."


"Bu, karena selalu mendengar kata miring mereka, maka kini aku berdiri di sini. Bukan perkara mudah Bu untuk sampai di sini. Dulu pernikahan pertamaku sudah ikut adat, karena kita memang di bumi ranah minang. Tetapi sekarang aku jauh dari sana Bu, aku tak punya banyak waktu. Banyak yang harus aku urus untuk membangun perusahaan kita. Jika bukan karena idenya mommy Nansen, aku meniadakan lamaran ini. Aku berencana akad nikah saja dan langsung resepsi."


"Iyalah kalau katamu begitu."


"Sudahlah Bu jangan jadi pikiran, hidup kita bukan mereka yang atur."


"Iya, ibu ngikut kamu saja."


Cup, Anitha mengecup pipi ibunya. "Sekarang dukung aku saja Bu."


"Gak, kamu berat. Ibu sudah tidak kuat," kelakar ibunya.


"Pandai sekarang ya, godai anak perempuannya."

__ADS_1


***


Di kamar ... Anitha sedang duduk menghadap meja riasnya yang besar dan terkesan kuno dan unik.


"Dinda ...." panggil tuan Nan lembut. Dia berdiri di belakang Anitha dengan memasukan tangannya ke dua sisi kantong celananya. Bodi kokohnya terasa mengintimidasi bodi Anitha.


"Apa .... " jawab Anitha sambil menyapukan lembut spon bedak ke wajahnya.


"Bagaimana kalau kita menikah saja bulan depan?" ajak tuan Nan serius.


"Kenapa tiba-tiba semakin memajukan hari?" tanya Anitha. Kini dia berbalik dan duduk menghadap ke arah tuan Nan. Tuan Nan kembali mengambil posisi berjongkok di depan Anitha dengan menumpuhkan satu lututnya ke lantai.


Dia mengambil tangan Anitha dan mengecup satu punggung tangan Anitha. "Kanda tidak kuat lagi jauh darimu. Kanda takut kita khilaf. Kanda benar tak sanggup Dinda."


Mata tajamnya menghunus ke dalam bola mata Anitha. Anitha bisa melihat gairah yang besar, berusaha diredam calon suaminya. Tuan Nan tidak pernah merasa sebesar ini memendam hasratnya.


Jika tadi tangannya menggenggam kedua tangan Anitha. Kini tangan tersebut telah merengkuh pinggang Anitha.


"Dalam sebulan, apa persiapan bisa dilakukan?" kata Anitha memberikan angin segar.


"Bisa, biar Jeffy dan orang-orangnya yang urus. Nanti kita bicarakan. Sekarang kanda menunggu kesediaan Dinda."


"Aku juga sudah tak bisa jauh dari Kanda. Aku ingin Kanda temankan tidur tiap malam. Aku ingin di dalam dekapan hangat Kanda ketika lelah." Anitha berkata dengan senyum malu-malunya.


"Akhirnya wanita es ini mencairkan hatinya," batin tuan Nan.


Tuan Nan berdiri dan mengangkat pinggang Anitha kepelukannya. Bibir yang merekah seperti kelopak bunga mawar merah. Bibirnya merekah buah keterkejutan ditarik tuan Nan. Dia baru hendak memberikan kecupan hangatnya ke bibir Anitha.


"Eheemm, bisakah kalian menunda adegan yang membuat aku panas dingin?" ganggu Jeffy yang telah tegak di depan pintu kamar yang tidak di tutup.


"Ada apa?" tanya tuan Nan.

__ADS_1


***/


__ADS_2