
Hampir 80 persen wanita yang baru melahirkan untuk pertama kali mengalami baby blues. Acapkali gejalanya tidak diketahui dan jika diketahui juga dianggap ringan. Padahal baby blues bisa berdampak negatif bagi ibu dan bayi.
Anitha mungkin salah satu dari wanita itu. Kini ia merasa lelah dan mudah sedih. Dia tidak menyadari jika dia sedang terkena syndrome baby blues. Anitha minim pengetahuan tentang pasca melahirkan.
Anitha tertidur dalam tangisnya. Dia menangis tanpa alasan jelas. Dia hanya tiba-tiba merasa sendiri dan tak berarti lagi.
Tuan Nan sempat masuk ke kamar Anitha. Ketika dia melihat tarikan napas Anitha yang teratur, tuan Nan tahu jika Anitha tertidur. Dia tak ingin mengganggu tidur Anitha.
Tuan Nan kembali ke ruang tengah. Bayinya masih tertidur pulas di kamar tamu bersama Narllye.
"Anitha lagi apa?" tanya ibu tuan Nan.
"Tidur dia Mom."
"Ohhh, biarlah dia istirahat dulu. Bayi kalian juga tidak rewel."
Tuan Nan mengambil ponselnya dan menanyakan urusan kantor pada Helmi. Helmi mengatakan semua masih aman dan terkendali Tuan Nan lega. Dia duduk mengobrol dengan ayahnya.
Tak terasa matahari semakin naik. Panggilan para ART untuk makan siang telah datang. Tuan Nan meminta Nova mengantarkan makan siang untuk Anitha. Dia dan keluarganya telah duduk di kursi meja makan.
Nova mengetuk pintu. Tak kunjung terdengar sahutan. Nova memutuskan membuka pintu perlahan.
Nova melihat Anitha tertidur. Dia meletakkan nampan berisi makan siang tersebut di atas meja sofa.
Nova tidak berani mengganggu Anitha. Dengan perlahan dia menutup pintu dan kembali ke dapur.
Tuan Nan melihat Nova menuju dapur. Dia tidak bertanya apapun. Tuan Nan meneruskan makannya.
Tak lama berselang, terdengar tangisan anaknya. Tuan Nan berniat untuk menuju kamar tamu. Namun di urungkannya ketika melihat Narllye telah keluar dan menggendong keponakannya.
Narllye menunjuk ke lantai atas dengan kode matanya. Tuan Nan mengangguk. Narllye menapaki tangga dengan hati-hati. Dia mengetuk pintu kamar kakak iparnya.
Tak menunggu jawaban, Narllye masuk dan menyerahkan bayi tersebut pada Anitha yang telah terjaga dan hanya duduk menyandar ke sandaran kepala ranjang.
"Dia sepertinya haus dan lapar." Narllye berkata lembut.
Anitha tersenyum tipis. Dia mengambil bayinya dari tangan Narllye.
"Aku tinggal ya, aku belum makan," ucap Narllye lembut. Anitha mengangguk.
Narllye meninggalkan Anitha dan bayinya. Anitha memberikan ASI pada si bayi. Walau si bayi masih perlu belajar untuk menghisap ASI ibunya. Dia mengelus wajah sang bayi. Kembali air mata meleleh, jatuh ke wajah mungil bayinya.
__ADS_1
Dia menyeka air matanya dengan cepat, ketika mendengar gagang pintu dibuka. Terlihat seraut wajah tampan dari ayah si bayi.
Tuan Nan langsung menuju ke arah Anitha dan anaknya terlihat masih gelagapan dalam menyesap ASI ibunya.
"Sekarang giliranmu yang berkuasa ya baby. Hanya dua tahun papa kasih kesenangan untuk menguasai mamamu," gurau tuan Nan. Anitha tak menanggapi. Sekali lagi itu luput dari tuan Nan. Dia terlalu bersuka cita memegang pipi gembul anaknya.
Anitha tidak kesulitan untuk menukar posisi bayinya yang lagi menyesap ASI. Terlihat bayinya mulai pulas dan tidak lagi menghisap ASI-nya.
Anitha meletakan buah hati mereka di tengah. Lalu dia mengambil posisi menyamping dan menepuk lembut paha anaknya yang terbalut kain bedung.
Tuan Nan sedikit merasa heran, melihat Anitha yang hanya diam. Dia mengira Anitha masih merasa lelah.
Dia turun dari sisi ranjang Anitha. Niatnya ingin ke ruang kerja, meninggalkan Anitha dan bayinya istirahat. Tuan Nan terkejut, tak sengaja melihat piring dan gelas yang diantar Nova masih utuh. Pertanda Anitha belum menyentuh sama sekali.
Dia berbalik dan menoleh pada Anitha. Terlihat tangan Anitha tidak lagi di paha bayi mereka. Anitha telah menyatukan telapak tangannya dan menjadikan bantal pada satu sisi kepalanya yang menghadap bayinya.
"Sayang, kenapa tidak makan?" tanyanya. Tuan Nan kembali ke sisi Anitha.
"Aku tidak lapar," kata Anitha pelan.
Tuan Nan merasa tidak enak hati ketika tiada nada manja ataupun nada mesra dari istrinya. Walau dia tidak menangkap kemarahan pada kata 'aku' yang digunakan Anitha.
"Ayo makan, kanda suapi ya."
Tuan Nan tidak menyerah begitu saja. Perlahan dia menarik bahu Anitha, sehingga terlentang. Tuan Nan menatap dalam pada Anitha. Namun bagi Anitha tatapan itu tajam dan menyimpan marah padanya. Anitha mengalami mood swing.
Anitha merasa hatinya tercabik-cabik. Dia merasa tidak di puja lagi oleh suaminya. Anitha menahan air matanya. Ego dirinya kembali menguasainya. Namun gagal, air matanya lolos dari bola matanya yang tiada semangat.
Tuan Nan semakin tercengang, tidak biasanya Anitha begini tanpa sebab yang jelas. Namun dia gagal mengorek informasi dari bibir indah istrinya. Anitha diam seribu bahasa. Tuan Nan juga tidak berhasil memaksa Anitha makan.
Tuan Nan hanya duduk di sofa kamarnya sambil memandang Anitha dan buah hatinya.
"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Baru kemarin aku melihat tawa dan candanya."
Anitha kembali terlelap bersama buah hatinya. Ketika waktu menunjukan pukul lima sore, tuan Nan terbangun dari tidurnya. Dia tertidur hanya bersandar pada tulang hastanya. Terdengar tangis bayinya. Tuan Nan bangkit dan mengangkat bayinya. Terasa bedung bayinya basah.
Tuan Nan tidak pandai menggantikan bedung bayinya. Dia hanya pandai memasang popok saja. Tuan Nan membedung sebisanya. Si bayi kembali tidur. Anitha telah memberi ASI lagi ketika tuan Nan tertidur.
Anitha tahu bayinya menangis. Namun dia tidak mempunyai tenaga lebih. Badannya terasa lemas. Kepalanya terasa berat. Dia merasa lapar, tetapi seleranya terasa padam.
Keringat dingin mulai terbit di punggungnya. "Kanda, tolong ambilkan aku minum." Suaranya begitu lemah dan bergetar.
__ADS_1
Tuan Nan meminta susu hangat pada Art-nya. Marta membuatkan segelas susu ibu menyusui yang telah di sediakan seminggu sebelum kelahiran.
Tuan Nan memberikan segelas air putih sebelum Marta mengantarkan pesanan tuan Nan. Tuan Nan meminta Marta membawa turun makanan yang tidak di sentuh oleh Anitha.
Tuan Nan meminta Marta membuatkan semangkuk sereal lengkap dengan buah blueberry, kiwi dan potongan pisang di atasnya.
Tuan Nan mau tidak mau harus memaksa melihat Anitha tak bertenaga. Tuan Nan menyuapi dengan sabar.
Di dapur ART berkata, "Ada apa dengan ibu sampai tidak menyentuh makanannya? Biasanya bu Anitha tak pernah menolak makan. Bahkan saat hamilnya." Nova menyampaikan keheranannya pada wanita yang mereka panggil bi Ria. Dia kepala dapur.
Ibu tuan Nan mendengar, dia berniat ingin meminta secangkir teh jahe hangat.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada wibawa dan penuh keanggunan. Nova mengatakan semuanya.
Setelah memesan, wanita anggun itu berbalik dan menuju lantai dua. Dia mengetuk pelan pintu kamar Anitha. Tuan Nan membukakan dan berkata, "Masuklah Mom. Ada apa Mom?"
"Anitha kenapa?" Beliau menuju Anitha.
"Kenapa sayang?" tanya ibu mertuanya. Beliau duduk di samping Anitha yang baru menyelesaikan makannya.
Anitha merasa seperti mendapat setetes embun di pagi hari. Hatinya tenang, apalagi ketika terasa usapan lembut di kepalanya.
"Tak ada Mom. Aku hanya merasa tak bersemangat dan tak berselera makan." Anitha jujur dengan apa yang dirasanya.
"Apa ada hal lain yang kau pikirkan Nak?"
"Tak ada Mom." Anitha tak berbohong. Tak ada yang dia pikirkan.
Akhirnya ibu tuan Nan hanya bisa menyarankan Anitha banyak istirahat. Dia melihat bedung yang berantakan membalut cucunya.
"Apakah kau yang membendungnya Nan?" tanya ibunya.
Tuan Nan tersenyum kecut dan mengedikkan alisnya. Ibunya tersenyum.
"Sini Mom ajari, agar kau bisa jadi ayah yang baik seperti daddymu."
"Memangnya daddy bisa saat mengurus aku lagi bayi?"
"Jangan salah kau Nan, daddymu sangat telaten merawatmu."
"Ohh," ucap Tuan Nan. Dia begitu fokus memperhatikan arahan ibunya.
__ADS_1
***/