
Seminggu setelah kepulangan tuan Nan dan Anitha dari rumah sakit, terapi untuk kaki tuan Nan mulai dijadwalkan. Selama itu juga Anitha selalu menemani dengan bahagia.
"Dinda besok pagi bisa pergi ke perusahaan tidak?" tanya Anitha meminta izin.
"Ada masalah?"
"Tidak, cuma sudah sebulan lebih kita tidak melihat dan memantau langsung Kanda."
"Iya, boleh."
"Kanda benar tidak apa ditinggal?"
"Tak apa, asal jangan ditinggal selamanya."
"Ihhh memanglah ya, sudah pandai sekarang."
"Berkat siapa. Ohh ya, minta temani Jeffy ya. Biar Harri yang di rumah. Kanda tidak mau orang lain yang sentuh-sentuh kalau kanda perlukan saat Dinda tak ada."
"Oke sayang, siap laksanakan." Satu kecupan manja mendarat dipipi suaminya.
"Perihal Ajeng bagaimana sayang?" tanya tuan Nan. Rencana tinggal rencana.
"Kalau Kanda setuju, dinda menunjukkan kekuasaan kita saja. Banyak yang lain mau kita urus sayang. Kita tidak sempat berlaku kekanakan seperti kemarin."
"Benar."
"Dinda pikir dia harus tahu siapa dinda. Suka tidak suka perusahaan itu punya dinda. Jika dia mau bekerja dengan baik kita kasih kesempatan. Jika mau dibantu, kita bantu."
"Hmm makin ok saja istri kanda. Itu lebih baik."
"Iya kemarin kita seperti banyak punya waktu luang. Namun sekarang tidak lagi. Dinda ingin lebih fokus pada kesehatan Kanda."
"Makasih sayang. Tetapi kanda juga lebih fokus mengisi perut ratamu dengan calon anak kita." Tuan Nan mengusap lembut perut Anitha. Tak ada keinginan bercanda atau menggoda Anitha.
"Iya, itu juga tentunya Kanda. Kita berusaha dan banyak berdoa. Kita sudah periksa sebelum tragedi kemarin. Dokter katakan, kita berdua tidak ada masalah."
"Semoga kita bisa dapat secepatnya, agar kedua orang tua kita bahagia."
"Aamiin. Iya Kanda."
"Kembali tentang perusahaan, apa Dinda setuju, jika perusahaan dinda di Singapura dialihkan sahamnya?"
"Boleh dinda tahu alasannya?"
"Kanda tidak ingin lagi Dinda terlalu sibuk. Ingin banyak waktu untuk kanda. Kanda juga tidak ingin pisah-pisah lagi seperti saat Dinda ke sana sendiri tanpa kanda punya waktu menemani."
"Ohhh karena itu. Jadi Kanda mau mematahkan impian aku? Dengan mematahkan sayap kecil aku?" ucap Anitha kecewa.
"Bukan begitu Dinda." Tuan Nan berkata dengan sabar.
"Apa yang bukan begitu?"
"Dinda tahu tidak? Saat timah panas itu menembus tubuh kanda, ketika rasa sakit menusuk dengan kuat, hanya Dinda yang terlintas. Kanda menyesal tak punya banyak waktu untuk bersama karena kesibukan kita masing-masing."
Tuan Nan berkata sambil mengusap lembut rambut Anitha. Anitha menyandar diri pada bahu tuan Nan.
"Kanda tidak memaksa, hanya mengutarakan sudut pandang kanda saja. Dinda boleh memutuskan sesuai isi hati Dinda saja. Setelah kanda sehat, kanda bisa mengimbangi langkahmu. Jadi jangan pikirkan hal itu."
Begitu lembut, penuh kesabaran dan mengesampingkan ego lelaki satu ini. Imam yang baik, suami yang sadar jika perempuan hanya dari tulang rusuk yang bengkok. Tidak ada pemaksaan, sehingga hati seorang wanita yang begitu keras kepala luluh hanya dalam hitungan menit.
Anitha sambil memeluk tuan Nan, berpikir dengan cepat. Meresapi ucapan tuan Nan, mengenang apa yang baru saja mereka lalui. Satu yang terlintas di benak Anitha. Bagaimanapun ada trauma masa lalu yang baru sembuh. Wajar sebagai insan biasa dia kembali membayangi pikirannya.
"Apa Kanda yakin dengan hati Kanda sendiri?" hanya kalimat itu yang terlintas.
"Begitulah Kanda. Tak ingin lagi rasanya hidup tanpa uang. Apalagi jika dinda punya anak. Bagaimana nasib anak dinda nanti, tanpa ibunya punya penghasilan dan ayahnya pergi dari sisi ibunya."
Membayangkan dirinya di posisi itu timbul kesedihannya. Air mata kembali mengalir perlahan dari pelupuk matanya.
Tuan Nan tidak melarang tangisan Anitha. Dia sudah sangat hapal perasaan Anitha terakhir-terakhir ini.
"Dinda benar, hati memang tidak ada yang tahu. Seribu kali kita berjanji kita bisa mungkir. Namun surat kuasa di atas hitam putih lebih kuat. Kanda punya solusi untuk hidup Dinda dan anak-anak kita kelak jika itu terjadi."
"Apa itu Kanda? Maafi dinda ya, bukan tidak percaya pada cinta Kanda."
"Kanda paham dan tahu betul perasaan hatimu yang pernah terluka dalam. Kanda akan alihkan semua aset atas namamu. Jika kanda menghianati Dinda, hidup kalian akan terjamin."
"Terima kasih Kanda. Tetapi tidak perlu sebegitunya. Rumah ini dan tabungan dinda sudah cukup menjadi modal. Dinda akan setuju pada Kanda. Dinda juga tak ingin jauh lagi dari Kanda."
"Jangan lakukan karena terpaksa. Kanda bisa mendampingi ke mana Dinda."
"Tidak. Kanda tidak memaksa tetapi meminta. Masa iya sebagai istri saleha dinda menolak?" Ucapan serius Anitha malahan menjadi ajang kemauan tuan Nan.
__ADS_1
"Iya benar. Sekarang kanda ingin meminta hak kanda apa dinda akan menolak?" bisik tuan Nan panas di telinga Anitha.
"Heran lihatnya tidak pernah puas menagih ya," ucap Anitha mencubit perut tuan Nan.
"Ayolah sayang, istri saleha tidak boleh menolakkan."
"Kita belum selesai membahas Ajeng dan pengalihan saham." Anitha mencari cara menggoda tuan Nan. Jika ditanya hatinya dia juga tidak pernah lelah ditagih tuan Nan. Dia selalu bersemangat karena merasa cinta tuan Nan lebih nyata.
"Kanda percaya Dinda bisa mengatasi soal Ajeng. Tentang pengalihan itu nanti saja, saat kanda sudah berjalan normal atau dinda sudah hamil. Itu tidak mendesak."
"Jadi apa yang mendesak sayang?" bisik Anitha yang telah merayap macam ular sawah ke badan mangsanya.
"Istri kanda semakin genit ya sejak suaminya tak berdaya?"
"Jangan banyak cerita sayang. Siapa guru besar yang mengajarkan hmm?"
"Maafi kanda sayang, mengambil kesempatan dalam derita kita."
Mereka tak bosan berlayar di lautan asmara. Memadu cinta kasih, menggapai kehangatan terdalam demi tujuan yang lebih besar, seorang keturunan Nansen Adreyan.
"Terima kasih sayang," kata inilah yang tak pernah lepas diucapkan tuan Nan setelah mendapatkan kepuasannya. Kata ini juga yang membuat seorang istri begitu merasa di hargai, dicinta dan dipuja dalam rumah tangganya.
Anitha masih menempel erat pada tuan Nan. Terlihat dengan penuh kasih sayang tuan Nan mengusap rambut Anitha. Satu tangannya dia gunakan untuk menyanggah kepalanya.
Tak ada bahasa verbal, hanya ada bahasa tubuh. Tuan Nan terus mengusap kepala Anitha. Anitha merasa sangat nyaman. Masih dengan memejamkan mata, Anitha menikmati elusan jari-jari tangan besar tuan Nan.
Tuan Nan membiarkan Anitha tertidur tanpa melepaskan diri dari tuan Nan. Lalu dengan hati-hati tuan Nan memutar posisi dan membaringkan Anitha di sampingnya. Anitha membuka mata merasakan ada pergerakan. Namun rasa lelah membuat dia kembali memejamkan mata dan mendapat kecupan hangat di pelipisnya.
Entah telah beberapa jam mereka berdua tertidur. Anitha tersentak dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 subuh.
"Kanda, bangun."
Tuan Nan dari dulu memang sangat tipis dalam tidurnya. "Hmmm, apa sudah jam mandi sayang?"
"Iya, ayo dinda bantu." Anitha bangkit dan mengambil handuk membalut tubuhnya. Anitha kembali membantu suaminya dan juga menutup tubuh tuan Nan dengan handuk.
Tuan Nan masih bisa berdiri dengan tongkat penyanggah. Namun untuk mandi Anitha tidak mau ambil resiko. Dia tetap menggunakan kursi roda demi keamanan.
Sejak tuan Nan lumpuh, mereka mencoba mandi dini hari untuk kesehatan sel-sel saraf dan kulit mereka. Ada tidaknya ritual hubungan suami-istri. Walau tetap ritual mandi dini hari masih sering berlandaskan karena malam-malam penuh cinta mereka.
***/
Seminggu setelah kepulangan tuan Nan dan Anitha dari rumah sakit, terapi untuk kaki tuan Nan mulai dijadwalkan. Selama itu juga Anitha selalu menemani dengan bahagia.
"Dinda besok pagi bisa pergi ke perusahaan tidak?" tanya Anitha meminta izin.
"Ada masalah?"
"Tidak, cuma sudah sebulan lebih kita tidak melihat dan memantau langsung Kanda."
"Iya, boleh."
"Kanda benar tidak apa ditinggal?"
"Tak apa, asal jangan ditinggal selamanya."
"Ihhh memanglah ya, sudah pandai sekarang."
"Berkat siapa. Ohh ya, minta temani Jeffy ya. Biar Harri yang di rumah. Kanda tidak mau orang lain yang sentuh-sentuh kalau kanda perlukan saat Dinda tak ada."
"Oke sayang, siap laksanakan." Satu kecupan manja mendarat dipipi suaminya.
"Perihal Ajeng bagaimana sayang?" tanya tuan Nan. Rencana tinggal rencana.
"Kalau Kanda setuju, dinda menunjukkan kekuasaan kita saja. Banyak yang lain mau kita urus sayang. Kita tidak sempat berlaku kekanakan seperti kemarin."
"Benar."
"Dinda pikir dia harus tahu siapa dinda. Suka tidak suka perusahaan itu punya dinda. Jika dia mau bekerja dengan baik kita kasih kesempatan. Jika mau dibantu, kita bantu."
"Hmm makin ok saja istri kanda. Itu lebih baik."
"Iya kemarin kita seperti banyak punya waktu luang. Namun sekarang tidak lagi. Dinda ingin lebih fokus pada kesehatan Kanda."
"Makasih sayang. Tetapi kanda juga lebih fokus mengisi perut ratamu dengan calon anak kita." Tuan Nan mengusap lembut perut Anitha. Tak ada keinginan bercanda atau menggoda Anitha.
"Iya, itu juga tentunya Kanda. Kita berusaha dan banyak berdoa. Kita sudah periksa sebelum tragedi kemarin. Dokter katakan, kita berdua tidak ada masalah."
"Semoga kita bisa dapat secepatnya, agar kedua orang tua kita bahagia."
"Aamiin. Iya Kanda."
__ADS_1
"Kembali tentang perusahaan, apa Dinda setuju, jika perusahaan dinda di Singapura dialihkan sahamnya?"
"Boleh dinda tahu alasannya?"
"Kanda tidak ingin lagi Dinda terlalu sibuk. Ingin banyak waktu untuk kanda. Kanda juga tidak ingin pisah-pisah lagi seperti saat Dinda ke sana sendiri tanpa kanda punya waktu menemani."
"Ohhh karena itu. Jadi Kanda mau mematahkan impian aku? Dengan mematahkan sayap kecil aku?" ucap Anitha kecewa.
"Bukan begitu Dinda." Tuan Nan berkata dengan sabar.
"Apa yang bukan begitu?"
"Dinda tahu tidak? Saat timah panas itu menembus tubuh kanda, ketika rasa sakit menusuk dengan kuat, hanya Dinda yang terlintas. Kanda menyesal tak punya banyak waktu untuk bersama karena kesibukan kita masing-masing."
Tuan Nan berkata sambil mengusap lembut rambut Anitha. Anitha menyandar diri pada bahu tuan Nan.
"Kanda tidak memaksa, hanya mengutarakan sudut pandang kanda saja. Dinda boleh memutuskan sesuai isi hati Dinda saja. Setelah kanda sehat, kanda bisa mengimbangi langkahmu. Jadi jangan pikirkan hal itu."
Begitu lembut, penuh kesabaran dan mengesampingkan ego lelaki satu ini. Imam yang baik, suami yang sadar jika perempuan hanya dari tulang rusuk yang bengkok. Tidak ada pemaksaan, sehingga hati seorang wanita yang begitu keras kepala luluh hanya dalam hitungan menit.
Anitha sambil memeluk tuan Nan, berpikir dengan cepat. Meresapi ucapan tuan Nan, mengenang apa yang baru saja mereka lalui. Satu yang terlintas di benak Anitha. Bagaimanapun ada trauma masa lalu yang baru sembuh. Wajar sebagai insan biasa dia kembali membayangi pikirannya.
"Apa Kanda yakin dengan hati Kanda sendiri?" hanya kalimat itu yang terlintas.
"Begitulah Kanda. Tak ingin lagi rasanya hidup tanpa uang. Apalagi jika dinda punya anak. Bagaimana nasib anak dinda nanti, tanpa ibunya punya penghasilan dan ayahnya pergi dari sisi ibunya."
Membayangkan dirinya di posisi itu timbul kesedihannya. Air mata kembali mengalir perlahan dari pelupuk matanya.
Tuan Nan tidak melarang tangisan Anitha. Dia sudah sangat hapal perasaan Anitha terakhir-terakhir ini.
"Dinda benar, hati memang tidak ada yang tahu. Seribu kali kita berjanji kita bisa mungkir. Namun surat kuasa di atas hitam putih lebih kuat. Kanda punya solusi untuk hidup Dinda dan anak-anak kita kelak jika itu terjadi."
"Apa itu Kanda? Maafi dinda ya, bukan tidak percaya pada cinta Kanda."
"Kanda paham dan tahu betul perasaan hatimu yang pernah terluka dalam. Kanda akan alihkan semua aset atas namamu. Jika kanda menghianati Dinda, hidup kalian akan terjamin."
"Terima kasih Kanda. Tetapi tidak perlu sebegitunya. Rumah ini dan tabungan dinda sudah cukup menjadi modal. Dinda akan setuju pada Kanda. Dinda juga tak ingin jauh lagi dari Kanda."
"Jangan lakukan karena terpaksa. Kanda bisa mendampingi ke mana Dinda."
"Tidak. Kanda tidak memaksa tetapi meminta. Masa iya sebagai istri saleha dinda menolak?" Ucapan serius Anitha malahan menjadi ajang kemauan tuan Nan.
"Iya benar. Sekarang kanda ingin meminta hak kanda apa dinda akan menolak?" bisik tuan Nan panas di telinga Anitha.
"Heran lihatnya tidak pernah puas menagih ya," ucap Anitha mencubit perut tuan Nan.
"Ayolah sayang, istri saleha tidak boleh menolakkan."
"Kita belum selesai membahas Ajeng dan pengalihan saham." Anitha mencari cara menggoda tuan Nan. Jika ditanya hatinya dia juga tidak pernah lelah ditagih tuan Nan. Dia selalu bersemangat karena merasa cinta tuan Nan lebih nyata.
"Kanda percaya Dinda bisa mengatasi soal Ajeng. Tentang pengalihan itu nanti saja, saat kanda sudah berjalan normal atau dinda sudah hamil. Itu tidak mendesak."
"Jadi apa yang mendesak sayang?" bisik Anitha yang telah merayap macam ular sawah ke badan mangsanya.
"Istri kanda semakin genit ya sejak suaminya tak berdaya?"
"Jangan banyak cerita sayang. Siapa guru besar yang mengajarkan hmm?"
"Maafi kanda sayang, mengambil kesempatan dalam derita kita."
Mereka tak bosan berlayar di lautan asmara. Memadu cinta kasih, menggapai kehangatan terdalam demi tujuan yang lebih besar, seorang keturunan Nansen Adreyan.
"Terima kasih sayang," kata inilah yang tak pernah lepas diucapkan tuan Nan setelah mendapatkan kepuasannya. Kata ini juga yang membuat seorang istri begitu merasa di hargai, dicinta dan dipuja dalam rumah tangganya.
Anitha masih menempel erat pada tuan Nan. Terlihat dengan penuh kasih sayang tuan Nan mengusap rambut Anitha. Satu tangannya dia gunakan untuk menyanggah kepalanya.
Tak ada bahasa verbal, hanya ada bahasa tubuh. Tuan Nan terus mengusap kepala Anitha. Anitha merasa sangat nyaman. Masih dengan memejamkan mata, Anitha menikmati elusan jari-jari tangan besar tuan Nan.
Tuan Nan membiarkan Anitha tertidur tanpa melepaskan diri dari tuan Nan. Lalu dengan hati-hati tuan Nan memutar posisi dan membaringkan Anitha di sampingnya. Anitha membuka mata merasakan ada pergerakan. Namun rasa lelah membuat dia kembali memejamkan mata dan mendapat kecupan hangat di pelipisnya.
Entah telah beberapa jam mereka berdua tertidur. Anitha tersentak dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 subuh.
"Kanda, bangun."
Tuan Nan dari dulu memang sangat tipis dalam tidurnya. "Hmmm, apa sudah jam mandi sayang?"
"Iya, ayo dinda bantu." Anitha bangkit dan mengambil handuk membalut tubuhnya. Anitha kembali membantu suaminya dan juga menutup tubuh tuan Nan dengan handuk.
Tuan Nan masih bisa berdiri dengan tongkat penyanggah. Namun untuk mandi Anitha tidak mau ambil resiko. Dia tetap menggunakan kursi roda demi keamanan.
Sejak tuan Nan lumpuh, mereka mencoba mandi dini hari untuk kesehatan sel-sel saraf dan kulit mereka. Ada tidaknya ritual hubungan suami-istri. Walau tetap ritual mandi dini hari masih sering berlandaskan karena malam-malam penuh cinta mereka.
__ADS_1
***/